Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Aroma khas pembersih lantai langsung menyambut indra penciuman begitu pintu unit apartemen minimalis di kawasan Jakarta Pusat itu terbuka.
Setelah hampir satu minggu mendekam di bawah pengawasan ketat tim medis Adhitama Medical Center dan kenyamanan semu mansion mewah Devran, Alana akhirnya bisa bernapas lega.
Leo telah dinyatakan sembuh total. Dan bagi Alana, kesembuhan putranya adalah momentum paling sempurna untuk mengambil langkah tegas, keluar dari lingkaran posesif Devran Adhitama dan kembali ke kehidupan nyata mereka.
"Haaaah... akhirnya kita pulang ke markas kita, Mommy!"
Leo melompat kecil melewati ambang pintu, menyeret tas ransel kecilnya yang bergambar logo rekayasa robotik.
Meskipun tubuhnya baru saja pulih dari syok anemik, binar kecerdikan dan energi enerjik bocah lima tahun itu telah kembali seratus persen.
Alana tersenyum tulus, sesuatu yang jarang ia lakukan selama beberapa hari terakhir.
Ia melangkah masuk sembari mendorong koper abu-abu miliknya, lalu menutup kembali pintu kayu apartemennya rapat-rapat.
'Setidaknya di sini, Devran tidak bisa mendikte setiap embusan napas kami dengan dalih kontrak kerja,' batin Alana lega.
"Leo, langsung ganti bajumu dan taruh ranselmu di kamar, ya? Mommy akan membuatkan sup ayam hangat untukmu," ujar Alana sembari melepas sepatu hak rendahnya di dekat rak.
"Siap, Kapten Mommy! Tapi setelah itu aku boleh menyalakan server komputer utamaku, kan?"
"Aku harus memeriksa apakah ada pesan masuk dari forum peretas Swiss.."
Kalimat Leo mendadak terputus di tengah jalan. Langkah kaki mungilnya yang hendak menuju koridor kamar mendadak terkunci di atas karpet bulu ruang tamu.
Sepasang mata bulatnya melebar, menatap lurus ke arah sofa abu-abu berukuran sedang yang terletak di tengah ruangan kompak tersebut.
Alana yang menyadari keheningan mendadak dari anaknya langsung mengerutkan kening.
"Leo? Ada apa, Sayang? Kenapa berhenti..."
Pandangan Alana mengikuti arah mata Leo. Detik itu juga, seluruh pasokan udara di paru-paru Alana seolah tersedot habis. Jantungnya berdentang begitu keras hingga menimbulkan rasa ngilu di dadanya.
Di atas sofa kain miliknya yang sederhana, sesosok pria bertubuh tegap dan jangkung sedang duduk dengan posisi yang teramat santai. Devran Adhitama.
Pria itu telah menanggalkan jas formalnya, hanya mengenakan kemeja hitam melekat tubuh dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung rapi hingga siku.
Keberadaannya yang teramat dominan membuat ruang tamu apartemen Alana yang biasanya terasa pas, mendadak tampak begitu sempit dan menekan.
Lebih mengejutkannya lagi, di sela-sela jemari kekar pria itu, terdapat sebuah mainan robot lego rakitan edisi terbatas, benda kesayangan Leo yang paling berharga, yang sengaja ditinggalkan di apartemen ini sebelum mereka dibawa ke mansion.
"Struktur sendi robot ini agak longgar di bagian poros penggerak kiri, Leo," ucap Devran tanpa mendongak, suaranya yang berat dan bariton memecah keheningan ruangan dengan begitu tenang.
Jemarinya dengan cekatan memasang kembali satu part kecil lego hingga terdengar bunyi klik yang sempurna.
"Aku sudah menambahkan beberapa komponen titanium mikro dari labku untuk memperkuat fondasinya. Sekarang, robot ini bisa berdiri lebih stabil."
"D-Devran...?" Suara Alana bergetar hebat, perpaduan antara syok, tidak percaya, dan amarah yang mendadak membubung ke ubun-ubun.
"Bagaimana... bagaimana bisa kamu ada di dalam apartemenku?! Ini properti pribadi! Bagaimana kamu bisa masuk?!"
Devran perlahan meletakkan robot lego itu di atas meja kaca, lalu menegakkan tubuhnya.
Ia bersandarkan punggung sofa, menatap Alana dengan sepasang mata elangnya yang berkilat misterius, tatapan penuh rahasia dari seorang pria yang tahu 99, 99\% kebenaran namun memilih untuk menyimpan kartu as itu rapat-rahasia.
"Pertanyaanmu terlalu retoris, Alana," sahut Devran datar, seulas senyum tipis yang mematikan terukir di sudut bibirnya.
"Apakah kamu lupa siapa yang memiliki tiga puluh persen saham dari perusahaan pengembang komparatif yang membangun gedung apartemen ini?"
"Meminta kunci duplikat master dari manajemen lobi bawah hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik bagi Reno."
"Itu penyalahgunaan kekuasaan, Om seram! Dan itu ilegal!" Leo menimpali, melangkah maju dengan tangan yang berkacak pinggang di depan sofa, mencoba memasang wajah seseram ayahnya.
"Aku bisa menuntutmu atas pasal pelanggaran hak privasi!"
Devran menunduk, menatap putranya dengan binar bangga yang tidak bisa disembunyikan.
"Kamu bisa menuntutku kapan saja setelah kamu dewasa, Leo."
"Tapi untuk sekarang, darah yang mengalir di tubuhmu baru saja pulih karena pasokan darahku, jadi aku memiliki hak retensi darurat untuk memastikan lingkungan tempat tinggalmu cukup layak."
"Devran, cukup!" Alana berjalan cepat, memosisikan dirinya di antara Devran dan Leo, menatap pria itu dengan napas yang memburu.
"Leo sudah sembuh. Tugas pembongkaran tikus tanah seperti Siska juga sudah selesai. Dan aku membawa Leo pulang ke rumah kami yang sebenarnya!"
"Tolong, keluar dari sini dan kembalikan paspor kami!"
Devran bangkit berdiri dari sofa. Gerakan lambatnya membuat Alana secara refleks mundur satu langkah karena merasa terintimidasi oleh tinggi tubuh Devran yang menjulang.
"Rumah yang sebenarnya, Alana?" Devran mengulurkan tangannya, menyusuri sandaran sofa dengan jari-jarinya yang kokoh.
"Apartemen sekecil ini? Dengan sistem keamanan pintu digital generasi kedua yang bahkan bisa diretas oleh anak usia lima tahun dalam waktu semenit?"
"Kamu menyebut tempat tidak aman ini sebagai rumah untuk anakku?"
"Ini rumah kami sebelum kamu datang dan mengacaukan segalanya!" teriak Alana frustrasi, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya.
"Kamu tidak berhak mengatur di mana kami harus tinggal! Hubungan kita hanya sebatas desainer kontrak, Devran! Jangan melintasi batas!"
"Batas yang mana, Alana Kirana?" desis Devran, melangkah maju satu tapak besar hingga ia bisa mencium aroma lavender yang familier dari rambut Alana.
"Apakah batas kontrak kerja bernilai triliunan di Bali?"
"Ataukah batas malam di Swiss lima tahun lalu yang terus kamu sembunyikan dariku dengan rapi?"
Mendengar kata Swiss dan lima tahun lalu diucapkan secara berurutan dengan nada yang teramat menekan, mental Alana seketika mencelos.
Wajahnya yang semula kemerahan karena amarah, mendadak berubah menjadi pucat pasi dalam hitungan detik.
Ia menelan ludahnya dengan susah payah, matanya bergerak gelisah menatap ke arah lain.
:Apakah... apakah dia sudah tahu? Tidak, tidak mungkin. Jika dia tahu hasil laboratorium itu, dia pasti sudah mengamuk sejak di rumah sakit,' batin Alana mencoba menenangkan dirinya sendiri di tengah kepanikan yang mendera.
"A-Aku tidak mengerti apa maksudmu," ucap Alana terbata-bata, mencoba memasang topeng ketidaktahuan terbaiknya.
"Malam di Swiss itu... aku sudah bilang itu hanya kecelakaan bisnis."
"Kecelakaan bisnis yang menghasilkan seorang peretas jenius bergolongan darah rhesus negatif murni?" tanya Devran dengan nada sarkastik yang teramat tajam.
Pria itu menyipitkan matanya, mengamati setiap perubahan ekspresi mikro di wajah Alana dengan kepuasan tersendiri.
Sesuai rencananya, ia akan terus memainkan permainan pura-pura tidak tahu ini sampai Alana sendiri yang menyerah dan mengakui semuanya.
"Aku menahan paspormu bukan karena aku ingin menculikmu, Alana. Aku hanya tidak suka jika kepala desainer terbaikku mengabaikan tanggung jawabnya sebelum tenggat waktu proyek berakhir."
"Aku bisa bekerja dari jarak jauh! Teknologi sudah canggih!" sahut Alana, suaranya meninggi untuk menutupi ketakutannya yang makin membesar.
"Tidak di dalam kamus Adhitama Group," potong Devran mutlak.
"Besok pagi, sebuah mobil limosin pribadi akan menjemput kalian berdua di depan lobi apartemen ini tepat jam delapan."
"Kamu akan bekerja di kantor pusat bawah pengawasanku, dan Leo... aku sudah mendaftarkannya ke sekolah dasar internasional khusus anak berbakat milik yayasan Adhitama."
"Apa?! Kamu tidak bisa memutuskan sekolah Leo secara sepihak!" Alana memprotes keras, tangannya mengepal kuat.
"Aku bisa, Alana. Dan aku baru saja melakukannya," sahut Devran dingin namun penuh kemenangan.
Pria itu berjalan melewati Alana, berhenti sejenak di dekat Leo yang masih menatapnya dengan pandangan menyelidik.
Devran menepuk kepala Leo dengan lembut. "Robotmu sudah kuperbaiki, jagoan. Jaga itu baik-baik. Sampai bertemu besok pagi di kantor Papa."
Leo tertegun mendengar kata Papa yang diucapkan Devran dengan begitu tegas dan alami untuk pertama kalinya secara langsung di depannya.
Bocah itu tidak menjawab, hanya menatap punggung tegap ayahnya yang berjalan santai menuju pintu keluar apartemen.
Klik.
Pintu apartemen tertutup kembali, meninggalkan keheningan yang jauh lebih menakutkan bagi Alana.
Ia merosot duduk di atas lantai karpet, menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya yang gemetar hebat.
"Mommy..." Leo berjalan mendekat, memeluk leher ibunya dari belakang dengan erat.
"Om seram itu... dia sepertinya sudah tahu rahasia kita. Matanya tadi sama persis dengan mataku saat aku berhasil membongkar file rahasia milik orang lain."
Alana tidak menjawab, ia hanya mempererat dekapan putranya di tengah kegelapan ruang tamu, menyadari bahwa pelarian mereka dari sang penguasa Adhitama baru saja menemui jalan buntu yang paling sempurna.