"Kamu harus menikah dengannya Daren!" lantang suara nenek Lusi berkata pada cucunya itu.
"Aku tidak mau nek, Aku punya pilihan sendiri dan nenek tidak bisa semaunya mengatur hidupku!" suara Daren pun tak kalah lantangnya dari suara nenek Lusi.
"Baiklah kalau kamu tetap menolak menikah dengan Nadia. Sekarang nenek kasih kamu pilihan, Menikah dengan Nadia atau kamu tidak akan pernah mendapatkan warisan apapun dari nenek," suara nenek Lusi merendah tapi penuh penekanan membuat kuping Daren memerah mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.30 Rencana busuk dan umpan manis
Di dalam kamar tidurnya sana terlihat Elsa yang masih kesal mengingat perlakuan Daren padanya kemaren siang saat Dia berada di kantor Wijaya group.
"Sialan kamu Daren, bisa-bisanya kamu bersikap sejahat itu sama aku. Lihat saja nanti, aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku untuk mengemis cintaku lagi," ucap Elsa di depan cermin meja riasnya sambil menyeringai tajam menyimpan amarah yang makin membuncah di dadanya.
Pandangan Elsa beralih pada handphonenya yang Dia letakkan di atas tempat tidurnya "Aku harus hubungi Jo," Elsa seperti teringat akan seseorang kemudian dengan segera dia menyambar handphonenya yang tergeletak di atas tempat tidur itu dan dengan cekatan jari-jarinya mengetik sebuah nama dan menelponnya.
"Halo Jo, kamu ada di mana sekarang? Aku ada job buat kamu," ucap Elsa.
"Kebetulan saya masih ada di luar kota dan nanti malam baru kembali Non Elsa," jawab suara di seberang.
"Oke kalau begitu kita ketemuan nanti malam aku akan kirim lokasinya ke kamu," lanjut Elsa penuh semangat.
"Baik Non Elsa saya tunggu." Kemudian telepon ditutup dan pembicaraan mereka berdua pun di akhiri.
Sore menjelang malam Elsa bergegas mandi dan merapikan dirinya sebelum akhirnya dia berangkat pergi ke cafe untuk bertemu dengan seseorang yang sudah dia telpon tadi siang.
Di teras depan rumahnya terlihat sebuah taxi yang sudah menunggu Elsa, Taxi yang sebelumnya sudah Elsa pesan lewat aplikasi online.
Elsa bergegas masuk ke dalam taxi dan tak lama kemudian taxi itupun melaju dengan kencang menuju ke alamat cafe yang di minta Elsa.
Setelah beberapa menit di dalam taxi akhirnya Elsa pun sampai ke cafe yang dia tuju.
Elsa melangkahkan kakinya menuju ke pintu masuk cafe, Elsa terus berjalan mencari tempat duduk di sudut sendiri tempat yang aman untuk membicarakan sesuatu yang rahasia.
Elsa duduk di salah satu kursi yang sudah dia temukan "Permisi mbak, Mau pesan apa?" tanya seorang waiters dengan ramah yang datang menghampiri Elsa.
"Jus alpukat satu," ucap Elsa pada waiters itu.
"Baik, silahkan di tunggu mbak," kemudian waiters itupun melangkah pergi meninggalkan bangku tempat Elsa duduk.
Elsa sengaja memilih cafe yang jauh di sudut kota, Dia yang tampak frustasi itu sedang berbincang dengan Jo salah satu kenalan lamanya mantan informan pribadinya dulu. Elsa memberikan sejumlah uang tunai yang tersisa di dompetnya pada Jo untuk melaksanakan tugas yang dia berikan pada Jo.
Rencana Elsa sangat licik Dia tahu Nadia memiliki jadwal kontrol rutin dengan Dokter Adrian. Elsa menyuruh orang tersebut untuk membuntuti Nadia ke rumah sakit dan mengambil foto atau video dengan sudut pandang (angle) tertentu yang bisa membuat interaksi medis antara Adrian dan Nadia terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bermesraan atau berselingkuh.
"Kamu harus masuk ke dalam rumah sakit Medika agar kamu bisa dengan tepat mengambil foto keduanya," ucap Elsa setengah berbisik pada Jo.
"Oke saya paham maksud Non Elsa," kata Jo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Bagus, kalau begitu kamu harus kerjakan semuanya dengan rapi jangan sampai ada satu orangpun yang tahu," Elsa makin melirihkan suaranya takut ada orang-orang Daren di sekitar cafe tempat Elsa dan Jo bertemu.
"Baik, saya akan segera laksanakan. Non Elsa tunggu dengan tenang untuk kabar baiknya," ucap Jo meyakinkan Elsa.
"Ya. Aku tunggu kabar baiknya Jo," Elsa tersenyum di salah satu sudut bibirnya.
Kemudian laki-laki itupun keluar dari cafe tersebut dan siap untuk menjalankan misinya sementara Elsa masih duduk-duduk di dalam cafe itu sambil menikmati segelas minuman keras yang Dia pesan tadi.
Elsa memutar-mutar gelas anggurnya yang sudah habis itu dengan tangan kanannya sambil bermonolog " Kamu pasti akan sangat sakit hati dan hancur Daren jika foto-foto itu nanti aku kirimkan ke padamu, Dan...selanjutnya kamu akan mencari ku memohon padaku untuk kembali padamu lagi Hahahha.....," Elsa tertawa puas menantikan kehancuran Nadia yang sudah ada di depan matanya.
...----------------...
Sore harinya, Daren pulang ke rumah dengan membawakan buket bunga kesukaan Nadia dan beberapa camilan manis yang aman untuk alergi istrinya. Dia ingin terus mencoba meluluhkan hati Nadia.
Nadia menyambutnya dengan tatapan heran saat Daren menyerahkan bunga itu di kamar tidur mereka. "Untuk apa ini, Tuan Daren?" tanya Nadia lempeng. Daren berdeham canggung, "Hanya ingin membelinya saja. Kamar ini terlalu suram, butuh sedikit warna." Nadia hanya menggelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang makin hari makin aneh, tapi diam-diam dia menaruh bunga itu di vas meja.
"Em, Ini aku juga belikan beberapa camilan buat kamu," Daren menyodorkan paper bag yang cukup besar pada Nadia yang berisi beberapa toples makanan ringan.
Nadia menerima paper bag itu dari tangan Daren dengan wajah keheranan "Tapi saya tidak meminta untuk di belikan camilan Tuan," ucap Nadia pada Daren.
"Iya, Kamu memang tidak memintanya tapi aku yang belikan sendiri buat camilan kamu di kamar," ucap Daren sedikit kikuk.
"Hmm," Kemudian Nadia meletakkan paper bag itu diatas meja dan hendak melangkah mengambil jas kerja Daren yang tersampir begitu saja di sofa kamar tapi tiba-tiba kaki Nadia tersandung dan hampir menabrak Daren yang sedang berdiri membuka dasinya.
Daren membalikkan badannya dan dengan sigap menangkap tubuh Nadia yang limbung itu, Nadia sangat terkejut karena tidak mengira kalau akan terjatuh dan untungnya Daren menangkap dirinya dan untuk sesaat keduanya terdiam saling menatap dalam jarak wajah yang dekat sekali sampai tercium aroma napas keduanya karena saking dekatnya.
"Maaf Tuan, Kaki saya tadi tersandung," ucap Nadia yang buru-buru melepaskan tangan Daren dengan perlahan yang sedang memegangi tubuhnya dan Nadia kembali bersikap datar meski tadi sempat terjadi interaksi mata antara dirinya dan Daren.
"Ya, tidak apa-apa lain kali kamu harus hati-hati," Daren sedikit canggung dan merasa salah tingkah setelah kejadian tadi.
"Em, kamu duduk di sofa saja Nadia, tidak usah melakukan apapun," lanjut Daren pada Nadia.
"Saya cuma mau menaruh jas Tuan ke gantungan baju," kata Nadia sambil duduk di sofa.
"Biar aku saja yang melakukannya ya, Kamu duduk saja di sana dan makan camilannya," Daren melangkah mengambil paper bag dan mengeluarkan semua toples kue dari dalam paper bag itu dan menatanya diatas meja sofa tempat Nadia duduk.
Nadia memperhatikan Daren yang sedang menata kue-kue itu di atas meja sofa.
...----------------...
Keesokan harinya adalah jadwal kontrol terakhir kaki Nadia. Daren sebenarnya ingin mengantar lagi, namun pagi-pagi sekali ada rapat pemegang saham mendadak yang tidak bisa dia tinggalkan. Dengan berat hati, Daren membiarkan Nadia pergi ke rumah sakit diantar oleh sopir pribadi kepercayaannya.
"Maafkan aku Nadia, hari ini aku tidak bisa mengantar kamu kontrol ke rumah sakit karena ada jadwal meeting mendadak sekali," ucap Daren saat melihat Nadia bersiap-siap berangkat ke rumah sakit.
"Tidak apa-apa Tuan, Tuan urus saja pekerjaan Tuan, saya bisa berangkat sendiri naik taxi," kata Nadia pada Daren.
"Tidak Nadia, Kamu tidak boleh naik taxi. Aku sudah suruh sopir kepercayaanku untuk mengantar kamu ke rumah sakit, tolong kamu jangan naik taxi demi keamanan kamu dan janji aku pada Nenek untuk selalu menjaga kamu."
Karena Daren sudah menyebut Nenek Lusi, Nadia pun sudah tidak bisa menolak apalagi kali ini sepertinya Daren benar-benar mengkhawatirkan dirinya " Baiklah Tuan, Saya mau di antar sopir kepercayaan Tuan," ucap Nadia memutuskan untuk di antar sopir Daren.
Akhirnya Nadia pun pergi ke rumah sakit dengan di antar sopir kepercayaan Daren.
Di rumah sakit, proses pemeriksaan berjalan lancar. Dokter Adrian membantu Nadia berdiri untuk menguji kekuatan kakinya. Saat Nadia hampir kehilangan keseimbangan, Adrian dengan sigap menahan pundak dan pinggang Nadia agar tidak terjatuh. Momen kedekatan fisik yang tidak sengaja itu langsung dijepret oleh kamera tersembunyi anak buah Elsa dari balik celah pintu yang sedikit terbuka.
...----------------...
Di kantor Wijaya Group, Daren sedang memimpin rapat besar. Tiba-tiba, ponsel pribadinya bergetar berturut-turut di atas meja. Sebuah nomor tidak dikenal mengirimkan beberapa pesan gambar.
Daren membuka pesan tersebut dan langsung mematung. Wajahnya berubah menjadi sangat mengerikan, rahangnya mengeras, dan matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa. Foto-foto di layarnya memperlihatkan Nadia yang tampak seperti sedang dipeluk mesra oleh Dokter Adrian di ruang praktik. Di bawah foto itu ada teks provokatif "Istrimu ternyata lebih nyaman di pelukan dokter tampan daripada dengan suami yang kejam."
Daren yang langsung berdiri dari kursinya, memukul meja rapat dengan keras hingga membuat semua direksi terlonjak kaget. Tanpa memedulikan rapat yang belum selesai, Daren melangkah pergi dengan aura membunuh yang sangat pekat, langsung menuju rumah sakit untuk menuntut penjelasan.
🤦
be smart don't be stupid alias i d i o t🤭
ayo berfikir Darren istri mu sayang banget sama nenekmu harusnya kamu lebih pintar mengunakan nenekmu untuk mendekati istri mu
jadi bar" dikit nad jangn lembek yg bisanya cuma mewek doang