Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.
Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.
Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
Kepergian Rangga dari jajaran direksi PT Mahardika Megah meninggalkan riak kecil di kalangan korporat, namun dengan segera tenggelam oleh berita peluncuran proyek energi terbarukan di Makassar yang melesat tajam. Di bawah kepemimpinan Kinanti sebagai Direktur Operasional yang baru, ritme kerja perusahaan menjadi jauh lebih efisien. Pintu rahasia di balik lemari buku lantai tiga puluh dua kini lebih sering terbuka, bukan lagi untuk menyembunyikan kepanikan, melainkan sebagai jalur koordinasi cepat antara dua petinggi yang telah bertransformasi menjadi tim paling solid di Mahardika Tower.
Hari Jumat di minggu ketiga setelah insiden rapat umum itu ditutup dengan langit Jakarta yang luar biasa bersih. Sejak pagi, matahari bersinar cerah tanpa ada tanda-tanda kelembapan ekstrem ataupun awan kumulonimbus yang biasanya menjadi momok mengerikan bagi Arkan.
Pukul tujuh malam, suasana kantor sudah sepi. Kinanti baru saja merapikan draf laporan mingguan ketika pintu kayu geser di belakangnya terbuka.
Arkan melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan jas formalnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku. Penampilannya malam ini terlihat jauh lebih santai, namun aura ketampanan dan karismanya justru semakin menguar kuat. Di tangannya, ia memegang sebuah kunci mobil—bukan kunci sedan hitam yang biasa mereka gunakan, melainkan sebuah mobil konvertibel atap terbuka yang jarang ia keluarkan dari garasi rumah Menteng.
"Pekerjaanmu sudah selesai, Kinanti?" tanya Arkan, suara baritonnya yang berat memecah keheningan ruangan.
Kinanti mendongak, sedikit terkejut melihat penampilan bosnya. "Sudah, Pak. Semua berkas untuk hari Senin sudah saya selesaikan hari ini agar akhir pekan kita bersih."
Arkan mengangguk puas. Ia berjalan mendekat ke meja Kinanti, lalu meletakkan ponselnya yang menampilkan aplikasi ramalan cuaca. Di sana tertulis: Jakarta, Cerah Berawan. Kemungkinan Hujan: 0%.
"Saya rasa... malam ini adalah waktu yang tepat untuk memenuhi janji yang saya ketik di tabletmu saat kita terjebak badai di jalan tol," kata Arkan, matanya yang hijau zamrud menatap Kinanti dengan intensitas yang membuat jantung gadis itu langsung berdegup kencang.
Kinanti tertegun sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyuman manis terukir di wajahnya. "Makan malam tanpa harus melihat prediksi cuaca, Pak?"
"Secara teknis, kita tetap melihatnya," sahut Arkan dengan seringai tipis yang jarang ia perlihatkan. "Tapi malam ini, langit berpihak pada kita. Bersiaplah. Saya tunggu di basemen lima menit lagi."
Mobil konvertibel hitam itu membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai lengang dari kemacetan jam pulang kantor. Angin malam yang sejuk menerpa wajah Kinanti, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang sengaja ia urai malam ini. Di sebelahnya, Arkan menyetir dengan satu tangan di atas kemudi, tampak sangat menikmati momen langka di mana ia bisa berkendara di bawah langit terbuka tanpa ketakutan konstan akan jatuhnya rintik air dari langit.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Kinanti, suaranya sedikit meninggi agar terdengar di antara deru angin.
"Sebuah tempat di kawasan Jakarta Selatan. Kamu tidak perlu khawatir tentang menunya, saya sudah memesan seluruh tempat itu agar tidak ada gangguan," jawab Arkan misterius.
Tempat yang dimaksud Arkan ternyata adalah sebuah restoran rooftop tersembunyi di atas gedung butik tua di daerah Kebayoran Baru. Begitu mereka melangkah keluar dari lift, Kinanti langsung disambut oleh pemandangan hamparan lampu kota Jakarta (city lights) yang berpendar indah bak berlian yang terserak. Restoran itu bergaya industrial minimalis dengan jajaran lampu gantung kekuningan yang memberikan kesan hangat dan sangat romantis.
Sesuai kata Arkan, tidak ada pengunjung lain di sana malam ini. Hanya ada satu meja kayu panjang yang ditata rapi di dekat pagar kaca pembatas, menghadap langsung ke arah gedung-gedung pencakar langit.
"Silakan, Amalia-san," Arkan menarikkan kursi untuk Kinanti dengan etiket seorang gentleman sejati—sebuah gestur yang membuat Kinanti merasa dihargai bukan lagi sekadar sebagai bawahan, melainkan sebagai seorang wanita.
"Terima kasih, Pak Arkan," ucap Kinanti, wajahnya sedikit merona di bawah pendar lampu temaram.
Hidangan demi hidangan mulai disajikan oleh pelayan pribadi. Berbeda dari makan malam bisnis mereka yang biasanya kaku dan dipenuhi pembahasan target kuartalan, obrolan mereka malam ini mengalir dengan sangat santai. Mereka tertawa saat mengenang bagaimana canggungnya interogasi Eyang Widya, hingga kekonyolan Arkan yang terpaksa memakai sweter wanita kekecilan di rest area.
"Saya masih tidak percaya seorang Arkananta Mahardika bisa kalah telat oleh tali celana training karet," seloroh Kinanti sambil memotong steak daging sapinya.
Arkan terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menyesap minumannya. "Itu adalah momen paling tidak berdaya dalam hidup saya, Kinanti. Bahkan lebih memalukan daripada saat saya harus mengeong meminta susu bebas laktosa di mejamu."
Kinanti menghentikan gerakan pisaunya. Ia menatap Arkan yang kini tampak begitu lepas, tanpa beban topeng korporat yang biasa mengunci ekspresinya di kantor. Ada kehangatan yang mendalam di matanya.
"Tapi, Pak..." Kinanti menurunkan suaranya, beralih menatap hamparan lampu kota. "Perubahan proses transformasi Bapak di rest area malam itu... yang terjadi jauh lebih cepat dari biasanya. Apa Bapak merasakan ada sesuatu yang berbeda sejak saat itu?"
Arkan terdiam sejenak. Ia meletakkan gelasnya, lalu menatap telapak tangan manusianya sendiri. "Ya. Sejak hari itu, saya merasa ikatan kutukan ini tidak lagi terasa seperti rantai yang mencekik. Dulu, setiap kali mendung datang, dada saya akan terasa sangat sesak dan dipenuhi amarah. Tapi sekarang... rasanya jauh lebih tenang."
Arkan mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Kinanti. "Eyang Widya benar. Sumpah kuno itu mengunci ego saya. Selama bertahun-tahun, saya menganggap perubahan ini sebagai kelemahan terbesar yang harus saya sembunyikan dengan keangkuhan. Tapi sejak kamu masuk ke dalam lingkaran rahasia ini... kamu tidak melihat wujud kucing itu sebagai kelemahan. Kamu merawatnya dengan setara. Kamu melindunginya."
Kinanti merasakan dadanya bergemuruh oleh emosi yang membuncah. "Karena bagi saya, baik Pak Arkan yang berdiri memimpin rapat di depan para komisaris, maupun Pak Arkan yang meringkuk ketakutan di bawah kursi mobil saat badai... keduanya adalah orang yang sama. Orang yang memercayakan hidupnya kepada saya."
Arkan mengulurkan tangan kanannya melewati meja. Untuk pertama kalinya, jemari panjangnya yang hangat menggenggam punggung tangan Kinanti dengan lembut namun pasti. Sentuhan kulit mereka mengirimkan sengatan kehangatan yang magis, membuat suasana di atas rooftop itu mendadak menjadi sangat intim.
"Terima kasih, Kinanti," ucap Arkan, suaranya melembut, dipenuhi ketulusan yang mutlak. "Malam ini bukan hanya tentang merayakan kesuksesan proyek kita. Ini adalah awal dari janji saya... bahwa saya tidak akan membiarkanmu menghadapi takdir ini sendirian lagi."
Kinanti tidak menarik tangannya. Ia justru membalik telapak tangannya, membalas genggaman Arkan dengan erat. Di bawah langit Jakarta yang bersih tanpa setitik pun awan kelabu, retakan pada kutukan kuno Mahardika kembali melebar. Tanpa mereka sadari, energi magis yang selama ini mengunci jiwa Arkan perlahan-lahan mulai mencair, terkikis oleh kehadiran sebuah ketulusan tanpa syarat yang akhirnya menemukan jalannya pulang.
Namun, di tengah kedamaian malam itu, ponsel Arkan yang terletak di atas meja tiba-tiba bergetar nyaring. Sebuah nomor tidak dikenal memanggil, membawa sebuah pesan teks yang akan kembali menguji batas kekuatan mereka.