Layaknya residu yang menggumpal dan sudah mendangkal, sulit sekali untuk dibersihkan. Ingatan yang sangat membekas itu juga sulit sekali disingkirkan-tentang dia yang ternyata tereliminasi oleh waktu.
Arinta masih tak menyangka kejadian ini benar-benar menimpanya. Kejadian yang melemparnya kembali ke dua puluh tahun silam. Tahun dimana bibit-bibit kehancuran dari rasa damai dikeluarganya dimulai.
Kejadian yang entah bisa dibilang membawa berkah atau justru membawa bencana?
Mulai: 6 Juni 2026
Selesai:
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yopoyoi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Cerita Masa Lalu
Miza berdiri menyambut Arinta yang baru keluar dari ruangan setelah hampir setengah jam menunggu.
"Udah?" tanya Miza.
"Udah."
"Langsung aja?"
"Iya."
"Kamu nggak sakit, kan?" tanya Miza sambil memeriksa kening sang adik.
"Nggak, abang!"
Mereka akhirnya meninggalkan rumahsakit tanpa pembicaraan. Selama perjalanan pun hanya suara bising jalanan yang menghiasi keduanya.
Langit biru di atas pemakaman memancarkan keteduhan yang membuat keduanya seperti berada dibawah naungan besar, seolah ikut berduka atas kisah yang tertinggal di sana. Miza menggenggam tangan Arinta dengan lembut saat mereka berdiri di depan tiga batu nisan yang berjejer rapi. Di nisan tengah tertulis:
MAHANTA SAFARA 1987-1998
Arinta menunduk, bibirnya bergetar saat membaca nama saudara kembarnya yang kini hanya bisa dikenang, walaupun ini bukan cerita hidupnya, tapi rasa sakitnya nyata, entah karena apa. Di sebelahnya, nisan kedua dan ketiga menyebut nama orang tua mereka. Mereka telah pergi enam tahun lalu, enam tahun yang berlalu cukup cepat.
Angin dingin berembus, membawa bisikan dedaunan kering yang mengingatkan mereka akan suara langkah yang pernah berjalan berdampingan.
"Kenapa abang nggak pernah cerita soal penyebab kematian mereka? Kenapa cuma kabar buruk tanpa penjelasan yang Arinta terima?" Arinta membuka suara, pandangannya tetap tertuju pada tanah yang basah di bawah kakinya. "Kenapa abang nggak pernah kasih tahu Arinta semuanya? Apa seenggak penting itu peran Arinta di keluarga ini? Apa sebocah itu Arinta sampe nggak dikasih penjelasan sama sekali?" suara Arinta mulai bergetar menahan tangis.
Sepertinya diri Arinta tengah dirasuki oleh Arinta Syafira yang asli, pasalnya semua kalimat yang keluar itu diluar kendali.
Miza menarik napas dalam, merasa dadanya terhimpit oleh beban yang terlalu lama dipendam. "Abang nggak tahu harus mulai dari mana, Arinta. Waktu itu kamu masih kecil... Abang pikir, ngelindungin kamu itu cara yang terbaik. Abang udah cukup ngeliat kamu hampir stres waktu itu, abang nggak mau nambahin beban pikiran kamu."
Arinta menggeleng pelan, air mata mulai menetes satu-satu. "Diem bukan berarti Arinta bisa nerima semuanya. Arinta cuma nggak pernah berani nanya. Setiap kali Arinta mau nanya, Arinta udah ngerasain rasa sakit itu duluan... dan Arinta nggak mau tambah nyakitin abang."
Suasana hening, hanya suara dedaunan yang bergesekan terdengar seperti alunan melodi sedih.
"Sebenernya kejadian malem itu apa, Bang?" bisik Arinta. "Cerita ke Arinta, kali ini aja."
Miza menunduk, jemarinya meremas kunci mobil yang ada di sakunya, seolah benda kecil itu menyimpan semua kenangan buruk yang menghantuinya. "Maha... meninggal duluan. Sebulan sebelum mama sama papa. Kamu udah tau itu. Dia sakit, Arinta. Henti jantung... pas tengah malam, waktu itu dia ke kamar, kayak biasa, minta bacain cerita. Abang nggak sadar kalo malem itu dia bener-bener beda dari biasanya. Abang nggak sempet... abang nggak bisa selamatin dia."
Suara Miza pecah, dan Arinta memejamkan mata, merasakan kesedihan yang menyesakkan.
"Mama sama papa?"
"Truk itu... oleng. Nabrak mobil mereka sampe jatuh ke jurang. Nggak cuma mama, papa, tapi ada Mario juga disana. Rio berjuang mati-matian buat minta bantuan, sayangnya waktu itu tengah malem. Abang nggak bisa ngebayangin betapa shoknya Rio, pasti gelap, nggak ada orang, di dalem jurang pula. Malem itu Abang nyesel karena nggak buka ponsel sama sekali, abang malah nginep di rumah temen, jadi abang nggak tau apa-apa sama sekali pas Rio masuk rumahsakit. Sampe sehari setelahnya pun abang masih di rumah temen buat ngerjain tugas kuliah, kamu tau sendiri kuliah kedokteran kayak gimana, Ta. Tanpa tau kabar kalo mama papa udah nggak ada dan Rio masuk rumah sakit." tangisan Miza terdengar sangat pilu, sarat akan rasa sakit.
"Cuma Maria yang ada buat Rio. Ria yang nemenin Rio selama di rumah sakit. Waktu itu Ria masih tujuh belas tahun, ngurus ini itu sendiri. Sampe akhirnya kabar duka itu sampe juga di abang. Abang cuma fokus sama mama papa, nggak sadar kalo Rio juga butuh abang. Dan pas abang sadar, dia udah terlanjur pergi. Rio pergi dari rumah, Ria yang bilang kalo Rio dapet beasiswa buat kuliah di luar negeri, tapi Ria nggak bilang dimana, jadi abang bener-bener nggak bisa berhubungan sama dia."
"Nggak lama setelahnya. Ria juga pergi dari rumah. Abang pikir dia mau nyusul Rio, tapi ternyata, dia ke rumah om Bani. Ngebantu om Bani ngurus perusahaan papa."
"Sampe akhirnya, kemaren Rio pulang cuma buat nanyain keadaan kamu, Arinta. Itu pertama kalinya dia pulang setelah enam tahun. Dia juga nanyain Ria, tapi dia nggak nanya tentang kabar abang sama sekali. Dia benci sama abang, karena emang abang pantes buat dibenci!!" Miza meremas rambutnya frustasi dengan kenangan buruk yang terus menggerogotinya selama beberapa tahun terakhir.
Mereka saling merengkuh, membiarkan duka yang selama ini tersembunyi mengalir bebas di antara mereka. Kehilangan itu bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dihadapi bersama—sebagai keluarga yang masih ada untuk saling menguatkan.
Air mata mengalir deras di pipi Arinta, begitu juga Miza.
"Arinta kangen mereka, Bang. Arinta kangen banget..."
"Abang juga, Ta."
Miza seolah menjadi yang paling salah disini, sedangkan Arinta menjadi korban yang keberadaannya sama sekali tidak dipedulikan.
Semua terluka, tak terkecuali Mario dan Maria. Namun, kadar rasa sakitnya yang membedakan.
Miza, sang kakak tertua yang sedang sibuk-sibuknya sebagai seorang mahasiswa akhir kedokteran. Pikirannya hanya berfokus pada belajar dan belajar. Tanpa ia tahu kalau ada yang lebih membutuhkan bahu lebar itu untuk dijadikan sandaran.
Begitu juga Mario. Sosok laki-laki yang paling menderita. Emosinya masih terlalu labil, tapi untungnya semesta berpihak padanya. Yang pada akhirnya, ia memutuskan pergi menempuh pendidikan, bukan pergi mendahului takdir Tuhan.
"Mereka semua pergi gara-gara abang. Abang salah. Abang mau jadi Dokter, tapi abang malah jadi luka buat keluarga abang sendiri." suara serak Miza terdengar sangat menyayat hati, seakan ingin memberitahu pada semua orang betapa hancurnya ia.
"Arinta disini. Arinta sama abang. Arinta tau ini cuma salah paham. Arinta bisa bikin mereka balik lagi sama kita, kita bisa jelasin baik-baik ke mereka."
Tangisan Arinta tak kalah sendu. Kedua kakak-beradik itu seakan tengah membagi luka dengan rengkuhan yang tak juga kunjung lepas.
"Nggak bisa, Arinta. Nggak bisa. Ini emang salah abang, abang pantes buat dapetin ini."
"Abang.. Mama sama papa pasti nggak mau ngeliat abang kayak gini, apalagi sekarang lagi di rumah mereka."
Seolah tersadar dari lautan emosi, Miza melepas rengkuhannya dan menatap nisan kedua orangtuanya yang menghimpit makam Maha, adiknya.
"Semua kematian mereka, bertaut sama abang, Ta. Abang nggak bisa nggak ngerasa bersalah. Maha telat dibawa ke rumahsakit gara-gara abang."
"Cukup. Cukup abang nyalahin diri sendiri. Kita kesini buat ngejenguk mereka, bukan buat ngungkit luka lama."
Miza terdiam dengan tatapan sayu dan mata sembab. Masa lalu bukan untuk disesali, tapi untuk dijadikan pembelajaran. Pembelajaran bahwa, "Kepedulian sekecil apapun akan berdampak pada perubahan besar dimasa depan".
***