Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
" Buat tamu di depan tadi bu , kan dia minta makan dan minum " . Jawab pak Soni sembari menaruh piring dan gelas di atas nampan .
" Siapa pak tamu nya ? " . Bu Wati masih penasaran .
" Perempuan tadi bu , kan ibu juga ikut menemui " .
" Sebentar pak , kapan ibu menemui tamu bareng bapak ? , ibu dari kamar loh pak buat ganti baju , baju ibu sudah basah kuyup , ibu nggak kuat berlama - lama kedinginan " . Bu Wati mencekal lengan pak Soni yang hendak berjalan mengantar makanan ke depan .
DEGH !
" Ibu ngga bercanda kan ? " .
" Issh bapak ini kenapa ibu harus bercanda tho pak ? " .
Tanpa menjawab lagi pak Soni langsung berjalan menuju teras tapi tidak menjumpai siapapun yang berada di teras .
" Loh , kok nggak ada ? " .
" Bapak berhalusinasi mungkin pak , nggak ada siapa - siapa pak di teras , sudah malam pintu juga nggak di tutup sama bapak " . Bu Wati mengomel padahal dirinya tahu kalau seperti nya suami nya telah mengalami sesuatu seperti yang pernah juga di alami .
Sementara pak Soni merasa sedikit bergetar dalam diri nya , dengan cepat pak Soni buru - buru menutup pintu dan membawa kembali makanan di nampan ke dapur .
Bu Wati hanya menggelengkan kepala saja kemudian masuk ke kamar untuk berwudhu dan bersiap sholat isya' .
" Bu " . Pak Soni yang baru masuk kamar tampak lesu pada wajah nya .
" Iya pak " .
" Sudah masuk waktu isya' belum ya bu ? " .
" Seperti nya sudah pak , ibu juga sudah berwudhu menunggu bapak buat sholat berjamaah " .
" Ya wea bapak mau wudhu dulu " .
Beruntung nya di dalam kamar itu ada kamar mandi dan WC yang memudahkan bu Wati jika tidak berani keluar dari kamar di malam hari .
...*******...
Entah jam sudah jam berapa pak Soni masih saja terjaga . Sedari tadi sama sekali tidak bisa memejamkan mata nya karena teringat rentetan kejadian yang di alami nya .
Pak Soni merasa tidak tenang karena sudah di datangi arwah korban kecelakaan dan perempuan yang meminta makan . Pak Soni tahu resiko tinggal di rumah kosong apalagi di tengah hutan tapi mental nya belum lah kuat apalagi untuk menjaga bu Wati .
Baru satu kali melihat korban kecelakaan saja pikiran nya sudah tidak karuan . Pak Soni berusaha tegar dan tidak ketakutan karena tidak ingin bu Wati menjadi semakin gelisah .
Ketika pak Soni sudah bisa terlelap kini gantian bu Wati yang terbangun dan tidak bisa tidur lagi sampai menjelang waktu subuh .
" huh , kenapa harus terbangun malam - malam begini sih , ngawali tidur lagi jadi susah kan ? " . Bu Wati mengomeli diri nya sendiri karena menyesal sudah tertidur lebih awal .
" Lingsir wengi , Sepi durung bisa nendra
Kagodha mring wewayang , Ngerindhu ati
Kawitane , Mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane , Aku dhewe kang nemahi
Nandang branta , Kadung lara
Sambat , sambat sapa "
DEGH !
" Apa dia datang lagi ya ? " . Bu Wati ragu untuk turun dari kasur .
Bu Wati yakin kalau yang datang itu perempuan yang datang malam kemarin . Wajah nya memang tidak menyeramkan karena memiliki wujud seperti perempuan pada umum nya akan tetapi cukup pucat pada kulit wajah dan tangan nya .
Bu Wati turun dari kasur kemudian pelan - pelan berjalan pulang . Terdengar dengan jelas suara yang mendayu - dayu memenuhi seisi rumah .
Karena suara terdengar berasal dari dapur dan dentingan spatula dengan wajan seperti ada seseorang yang sedang menumis sesuatu .