Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Jejak di Balik Bayangan
Matahari sudah terbenam sepenuhnya, menggantikan langit dengan gelap yang dihiasi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Di dalam sebuah mobil hitam tua yang parkir jauh di seberang jalan dari rumah mewah Pak Hendro, Faris duduk santai di kursi pengemudi. Mesin mati, lampu dimatikan, hanya remang-remang lampu jalan yang menerangi sedikit bagian dalam mobil.
Di tangannya ada sebatang rokok yang sudah hampir habis, dihisap pelan dengan tenang. Matanya tidak pernah lepas dari gerbang tinggi rumah dua lantai itu. Dari sore tadi dia sudah di sini, menunggu dengan sabar, persis seperti kucing yang mengintai tikusnya. Bagi Faris, menunggu itu bukan beban, tapi bagian dari strategi. Orang seperti Pak Hendro tidak akan berbuat kotor di siang hari, dia butuh gelap untuk menyembunyikan sifat aslinya.
Pluk... Faris membuang sisa rokok keluar jendela, lalu langsung mengambil yang baru. cekrek! Bungkus terbuka, nyalain lagi cesss. Dia tau, malam ini bakal panjang.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tiba-tiba, gerbang besi itu terbuka perlahan. Sebuah mobil mewah warna hitam keluar pelan, berjalan perlahan sebelum akhirnya memacu laju ke arah selatan. Itu mobil Pak Hendro.
"Nah... baru mau mulai ternyata," gumam Faris pelan, senyum tipis terukir di bibirnya. Dia langsung nyalain mesin mobilnya, mengikuti dari jarak jauh, tidak terlalu dekat agar tidak ketahuan, tidak terlalu jauh agar tidak hilang jejak.
Perjalanan memakan waktu sekitar dua puluh menit, menjauhi pusat kota, masuk ke kawasan pinggiran yang bangunannya mulai jarang dan sepi. Di sini lampu jalan makin sedikit, suasananya makin sunyi dan mencekam. Pak Hendro memakirkan mobilnya di depan sebuah bangunan tua berukuran besar yang kelihatan seperti gudang bekas pabrik. Di depan sana sudah terparkir beberapa mobil dan motor lain, beberapa orang kelihatan berdiri mengawasi di luar.
Faris memakirkan mobilnya di balik tumpukan rimbun semak belukar agak jauh dari situ. Dia turun perlahan, menutup pintu tanpa bunyi sama sekali. Gerakannya luwes, tenang, menyatu dengan kegelapan malam. Dia berjalan merayap mendekati bangunan itu, memanfaatkan setiap tiang, setiap tumpukan barang, setiap bayangan yang ada sebagai pelindung.
Dari celah dinding papan yang agak longgar, Faris bisa melihat jelas ke dalam gudang itu. Di sana, Pak Hendro sedang berdiri di tengah, di kelilingi belasan orang berbadan besar. Dan yang paling menarik perhatian Faris... ada seorang pria berkulit gelap, berwajah sangar, bertato di sekujur lengan, duduk santai di kursi utama sambil memegang sebilah parang di pangkuannya. Itu Mang Kuncung, bos preman yang disebutkan Faris kemarin, orang yang memimpin penyerangan di pabrik.
"Kerjaanmu kemarin gagal total, Kuncung!" suara Pak Hendro terdengar tinggi dan marah, bergema di dalam gudang kosong itu. "Aku sudah bayar mahal, minta kerjain bersih, tapi apa? Anak buahmu pulang-pulang bawa luka semua, pabrik tetap aman, Viona makin curiga. Kamu mau bikin aku malu sama siapa?"
Mang Kuncung tertawa kasar, meludah ke lantai. "Tenang aja, Pak Hendro. Kecil begini aja marah. Kemarin itu cuma kecelakaan aja. Ada satu orang aneh yang jaga cewek itu, gerakannya licik banget. Tapi percaya deh, itu cuma satu orang doang. Kali ini saya bawa pasukan inti, bawa senjata lengkap, pasti beres tuntas. Besok malem, kita serang lagi, habisin semuanya, bakar kalau perlu, biar nggak ada jejak."
Pak Hendro berjalan mondar-mandir, tangannya berkepit di belakang badan. Wajahnya berubah sama sekali dari yang tadi siang di kantor. Tidak ada lagi senyum ramah, tidak ada lagi nada peduli. Yang ada hanyalah kebencian, keserakahan, dan kejam yang mendalam.
"Harus tuntas, Kuncung! Aku sudah tidak sabar lagi. Saham itu harus jatuh ke tanganku minggu ini juga. Kalau sampai gagal lagi, jangan harap kamu dapat sepeser pun uang dari aku. Malah aku pastikan kamu dan anak buahmu nggak bisa jalan lagi di kota ini. Ngerti?!" ancam Pak Hendro dingin.
"Siap, Pak! Besok malem, pabrik itu jadi debu, Viona nangis darah, beres!" jawab Mang Kuncung yakin banget sambil menepuk-nepuk bilah parangnya.
Di luar sana, di balik celah papan itu, Faris mengamati semuanya dengan tenang. Dia sudah merekam semuanya lewat alat kecil di saku bajunya. Suara, wajah, rencana, semuanya terekam jelas. Dia melihat bagaimana Pak Hendro mengeluarkan amplop tebal berisi uang dan menyerahkannya ke Mang Kuncung sebagai uang muka.
Faris menggeleng pelan dalam hati. "Dasar orang tua serakah. Mulutnya bilang teman setia, hatinya busuk kayak sampah. Nah... sekarang buktinya udah lengkap semua. Tinggal nunggu waktu yang pas buat mainkan kartunya."
Dia mundur perlahan, menjauh dari gudang itu tanpa menimbulkan sedikit pun suara, kembali menyatu dengan malam yang gelap. Hatinya tenang, karena dia tau... besok malam, dua kelompok penjahat ini bakal masuk ke dalam jebakan yang jauh lebih dahsyat daripada yang mereka rencanakan.