.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teh Pagi, Godaan Malas, dan Kabut Konspirasi
Sinar matahari pagi yang lembut menembus celah-celah tirai sutra di Paviliun Awan Tenang, memantulkan pendaran sejuk dari ranjang Giok Es Spiritual. Ji Huang perlahan membuka matanya. Regangan otot fanya pagi ini terasa jauh lebih ringan; sirkulasi Qi dari Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-3 mengalir tenang tanpa gejolak, selaras dengan keheningan bukit sunyi yang ditempatinya.
Krieeek...
Pintu kayu cendana terbuka dengan sangat halus. Xiao Mei melangkah masuk dengan gerakan anggun yang terlatih, membawa sebuah nampan perak besar. Rambut hitam panjangnya pagi ini dibiarkan terurai sebagian, membingkai wajah porselennya yang tampak segar. Aroma gurih dari bebek panggang madu yang mengepulkan uap hangat dan keharuman teh embun pagi seketika memenuhi seisi kamar.
Melihat Ji Huang sudah duduk bersandar dengan rambut acak-acakan namun memancarkan tatapan lempeng yang khas, pipi Xiao Mei mendadak merona merah muda. Aura santai namun dominan yang menguar dari pemuda di depannya selalu berhasil membuat detak jantung pelayan cantik itu sedikit berkejaran.
"Selamat pagi, Tuan Muda Ji Huang," ucap Xiao Mei dengan suara merdu bagai lentingan kecapi, seraya menata hidangan di atas meja giok di samping ranjang. "Saya telah menyiapkan bebek panggang dengan tingkat kematangan paling empuk sesuai selera Anda."
Ji Huang melirik nampan tersebut, lalu beralih menatap wajah menawan Xiao Mei dengan pandangan polos tanpa dosa.
"Xiao Mei," kata Ji Huang seraya menerima cangkir tehnya. "Pelayan secantik dirimu ini harusnya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur siang agar kulitmu tetap halus dan tidak cepat tua. Jika kamu terus bergerak seaktif dan serajin ini sejak subuh, energi fanya di dalam tubuhmu akan terkuras sia-sia hanya untuk urusan debu dan piring."
Pipi Xiao Mei semakin memerah mendengar godaan polos yang dibalut logika malas dari majikannya. Dia menundukkan kepala, menyembunyikan senyum malunya. "M-Melayani kenyamanan Tuan Muda adalah tugas utama saya."
Tepat saat Xiao Mei hendak menuangkan air hangat, tirai pintu disingkap dengan agak kasar. Ji Lan melangkah masuk ke dalam kamar. Gadis itu mengenakan jubah berburu hijau ketatnya, dengan keringat tipis yang membasahi pelipis dan leher jenjangnya akibat menyelesaikan latihan pedang pagi di halaman luar.
Melihat Ji Huang yang sudah memegang paha bebek panggang di atas ranjang mewah, sepasang alis tipis Ji Lan langsung bertaut jutek.
"Luar biasa," cibir Ji Lan, berjalan mendekat dengan tangan bersedekap. "Murid Inti Kehormatan klan utama ternyata sudah menyantap daging berat dan berminyak saat matahari bahkan belum naik satu jengkal. Apakah menu kultivasi harianmu memang hanya berkisar antara mengunyah dan mendengkur, Ji Huang?"
Ji Huang menelan kunyahan dagingnya dengan santai, lalu menatap sepupu cantiknya itu dengan tatapan lempeng tanpa beban.
"Sepupu jutek, aura pedangmu pagi ini terasa sangat tajam dan menusuk," goda Ji Huang dengan wajah polos yang menyebalkan. "Apakah gerakan pedangmu menggebu-gebu karena kamu sebenarnya sedang merindukan sup ayam ginseng seratus tahun milikmu yang sudah kutelan habis kemarin? Sayang sekali, koki di sini hanya membuatkan bebek pagi ini."
"Kamu...!" Ji Lan mendengus kesal, wajahnya yang putih bersih mendadak merona kemerahan karena kesal sekaligus gengsi yang terus-menerus digoda. Dia menghentakkan kaki kanannya ke lantai.
"Daripada kita berdebat soal sup," Ji Huang meletakkan sisa tulang bebeknya, lalu menatap Ji Lan dengan pandangan yang sedikit lebih fokus. "Bagaimana kabar Ayah di kota cabang? Apakah si tua tambun itu baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan blak-blakan tentang pamannya, ketegangan di wajah Ji Lan perlahan mereda. Sifat ketusnya melunak. "Paman Ji Tian baik-baik saja. Ayahku mengirim surat kecil tadi subuh. Paman hanya sedikit merajuk karena paviliun terasa sepi tanpa suara sandal kayumu. Dia sempat membakar panci dapur karena melamun memikirkanmu, tetapi sekarang dia sudah tenang setelah tahu kamu ditempatkan di tempat mewah."
Ji Huang mengangguk-angguk polos. "Baguslah. Nanti sore, suruh Xiao Mei mengirimkan beberapa kasur bulu angsa dan ranjang pengatur suhu dari gudang klan utama ini ke Kota Amerta lewat kurir kilat. Ayahku itu memiliki tubuh yang tambun, dia butuh kasur yang empuk agar bisa ikut menikmati ritual malas denganku dari jauh."
Ji Lan hanya bisa menghela napas pasrah mendengar betapa konsistennya jalan pikiran sepupunya ini.
Beberapa saat kemudian, Ji Huang memberi isyarat halus kepada Xiao Mei untuk keluar kamar mengambilkan beberapa buah segar. Begitu tirai tertutup dan menyisakan mereka berdua di dalam kamar, atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah menjadi serius.
Ji Lan melangkah mendekati ranjang Giok Es, merendahkan nada suaranya hingga nyaris berbisik. "Ji Huang, hentikan leluconmu sejenak. Ada hal genting yang harus kusampaikan padamu terkait surat rahasia dari ayahku."
Ji Huang tidak menjawab, dia hanya memiringkan kepalanya di atas bantal sutra, memberi tanda bahwa dia mendengarkan.
"Jangan pernah berpikir bahwa posisi Murid Inti Kehormatan dan Paviliun Awan Tenang ini adalah tanda bahwa kamu sudah aman," ucap Ji Lan dengan guratan kecemasan yang nyata di matanya. "Tetua Agung sama sekali tidak percaya bahwa kamu menghancurkan Batu Altar Leluhur karena 'bakat alami yang meluap'. Orang tua licik itu menduga kamu sedang menyembunyikan warisan teknik terlarang, atau dilindungi oleh kekuatan faksi pemberontak yang ingin menggulingkan kekuasaan pusat kota."
Ji Lan mengepalkan tangannya di atas meja giok. "Paviliun mewah yang sunyi ini... ini bukan hadiah. Ini adalah sangkar emas terselubung. Tetua Agung sengaja mengisolasimu di sini dan memberikan fasilitas tanpa batas agar kamu lengah, sementara jaringan mata-mata klan utama mengawasi setiap embusan napas dan gerakanmu selama dua puluh empat jam. Mereka hanya sedang menunggu waktu sampai kamu membuat satu kesalahan kecil untuk menjatuhkanmu dan merebut rahasiamu!"
Mendengar peringatan panjang lebar yang sarat akan intrik politik dan ancaman pembunuhan terselubung itu, ekspresi wajah Ji Huang tetap tidak berubah satu milimeter pun. Wajah fanya tetap lempeng, memancarkan kepolosan mutlak seorang mantan Dewa Pedang yang telah melewati ribuan tahun konspirasi kekaisaran atas.
Ji Huang menarik selimut sutra esnya kembali, memejamkan matanya dengan sangat santai, lalu menguap lebar hingga mengeluarkan air mata kecil di sudut matanya.
"Biarkan saja mereka mengawasi sepuasnya, Sepupu jutek," gumam Ji Huang dengan suara serak khas orang mengantuk. "Selama orang-orang tua itu terus mengirimkan bebek panggang madu yang lezat setiap pagi dan tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengetuk pintuku untuk merusak jam tidur siangku, mereka boleh menontonku sampai mata mereka keluar."
Ji Huang menepuk-nepuk sisi ranjang Giok Es-nya yang sejuk, lalu menatap Ji Lan yang sedang melotot gemas. "Daripada kamu memeras otak terlalu keras memikirkan konspirasi politik yang membosankan itu, lebih baik kamu kembali ke kamarmu dan tidur. Berpikir terlalu keras di usia muda hanya akan membuat rambut hitammu yang indah itu cepat rontok dan kusam. Sungguh sia-sia."
"Ji Huang!! Dasar bodoh yang tidak bisa diselamatkan!" Ji Lan menghentakkan kakinya dengan sangat kesal, wajahnya merah padam karena frustrasi menghadapi ketegaran mental sepupunya yang kelewat batas.
Dengan perasaan campur aduk antara gemas dan pasrah, Ji Lan berbalik dan menghentakkan langkahnya keluar dari kamar, menyadari bahwa mengkhawatirkan keselamatan seorang Ji Huang adalah hal paling sia-sia dan menguras energi di dunia ini.Sementara dari balik jendela, Ji Huang kembali memejamkan mata, bersiap tenggelam dalam tidur pagi yang damai di tengah kepungan mata-mata klan utama.