Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus laki-laki seperti Lindu
"Aku senang, tidak lama lagi kita akan benar-benar bersama. Tidak lama lagi aku akan melihatmu saat aku bangun tidur kau ada di sampingku." Ucap Lindu ketika dia dan Sekar bertemu sore itu di tempat biasa mereka sering bertemu.
Angin sore berembus pelan, membuat daun-daun jagung bergesekan menimbulkan suara gemerisik yang menenangkan. Cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyorot wajah Sekar yang tersipu malu mendengar ucapan calon suaminya itu.
"Aku juga senang, Mas." Jawab Sekar lirih sambil menundukkan pandangannya.
"Kadang aku masih seperti tidak percaya, sebentar lagi aku benar-benar akan menjadi istrimu."
Lindu tersenyum lalu menggenggam tangan Sekar perlahan.
"Aku sudah menunggu hari itu sejak lama." Sekar mengangkat wajahnya, menatap pria di depannya dengan mata berbinar.
"Kalau nanti sudah menikah, Mas jangan bosan denganku ya."
Lindu tertawa kecil.
"Bagaimana aku bisa bosan? Setiap hari melihatmu saja rasanya masih kurang."
Pipi Sekar semakin merah mendengar godaan itu. Ia lalu memukul pelan lengan Lindu.
"Mas ini suka menggoda."
"Karena aku bahagia." Ucap Lindu lembut.
"Aku juga bahagia, Mas. Tidak lama lagi aku akan menjadi istrimu." Ucap Sekar pelan.
Siapa yang tidak senang? Setelah hampir dua tahun menjalin hubungan, akhirnya kisah mereka akan menuju jenjang yang lebih serius. Semua penantian, doa, dan harapan perlahan mulai menjadi kenyataan.
Lindu menatap wajah Sekar dengan penuh kasih. Gadis itu selalu berhasil membuat hatinya tenang. Lindu merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.
"Sekar, aku begitu mencintaimu." Ucap Lindu tulus.
Sekar tersenyum haru. Matanya tampak berkaca-kaca mendengar ucapan itu.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Jawabnya lembut.
Tak lama kemudian, Lindu merentangkan tangannya lalu memeluk Sekar dengan hangat. Sekar membalas pelukan itu sambil menyandarkan kepalanya di dada pria yang sebentar lagi akan menjadi imamnya.
Angin sore berembus perlahan, menemani dua insan yang tengah dipenuhi rasa bahagia. Di antara hamparan ilalang yang bergoyang tertiup angin, mereka saling memeluk seolah enggan melepaskan satu sama lain.
"Aku janji akan selalu menjaga kamu." Bisik Lindu di telinga Sekar.
Sekar tersenyum kecil.
"Dan aku akan selalu menemani Mas, dalam keadaan apa pun."
"Lihat Sekar itu, sebentar lagi dia akan menjadi istri orang." Kata Bu Lastri sambil mengulek sambal di dapur sederhana rumah mereka.
Aroma asap kayu bakar memenuhi ruangan kecil yang mulai menghangat menjelang malam. Di sudut dapur, Wulan duduk di bangku kayu sambil memotong cabai dan tempe di atas talenan yang sudah tampak usang.
"Iya, Bu. Tidak lama lagi dia akan menikah dengan Lindu." Jawab Wulan pelan tanpa mengangkat wajahnya.
Bu Lastri menghentikan kegiatannya mengulek sambal. Wanita itu lalu menatap putrinya dengan tatapan penuh harap.
"Tapi kamu, sampai sekarang pacar saja nda punya. Kapan ibu bisa punya menantu seperti Lindu itu?" Tanyanya.
Wulan tersenyum kecil meski hatinya terasa tidak nyaman mendengar pertanyaan yang sama berulang kali.
"Wulan belum bertemu yang cocok, Bu."
"Belum cocok bagaimana? Umurmu itu sudah cukup untuk menikah." Bu Lastri kembali melanjutkan pekerjaannya, tetapi mulutnya terus berbicara.
"Ibu hanya ingin kamu dapat laki-laki baik, mapan, dan bertanggung jawab seperti Lindu. Jangan sampai kamu salah pilih."
Wulan terdiam. Pisau di tangannya terus bergerak memotong tempe tipis-tipis. Dia memahami kekhawatiran ibunya, tetapi baginya pernikahan bukan hanya soal cepat atau lambat.
Wulan ingin seseorang yang benar-benar tulus mencintainya, bukan sekadar pria yang dipandang sempurna oleh orang lain.
Suasana dapur kembali hening, hanya terdengar bunyi kayu terbakar dan suara ulekan sambal yang beradu pelan.
Wulan menghentikan gerak tangannya sejenak. Pisau yang tadi digunakan untuk memotong tempe kini hanya diam di atas talenan. Dia menunduk pelan sambil menarik napas panjang.
"Bukan gampang mencari laki-laki seperti Lindu, Bu." Ucap Wulan lirih.
"Makanya ibu bilang, jangan asal pilih. Kalau bisa dapat yang mapan, bertanggung jawab, dan sayang sama keluarga."
"Iya, Bu. Wulan mengerti."
"Ibu ini cuma ingin hidupmu enak nanti." Sambung Bu Lastri.
"Ibu tidak mau kamu susah. Lihat Sekar, sebentar lagi hidupnya terjamin. Lindu itu pekerja keras, keluarganya juga baik."
Wulan tersenyum tipis meski dalam hati ada rasa tidak nyaman. Seolah dirinya selalu dibandingkan dengan Sekar. Padahal dia juga ingin menemukan seseorang yang tepat, bukan sekadar cepat menikah.
"Tapi menikah itu bukan cuma soal mapan, Bu." Kata Wulan hati-hati.
"Kalau tidak cocok nanti malah susah."
Bu Lastri menghela napas panjang.
"Iya, ibu tahu. Tapi ibu cuma takut kamu terlalu lama sendiri."
Suasana dapur mendadak hening beberapa saat. Hanya suara ulekan sambal dan kayu bakar yang sesekali berbunyi pelan.
Wulan melanjutkan memotong tempe sambil tersenyum kecil.
"Kalau memang jodoh Wulan sudah dekat, nanti juga ketemu sendiri, Bu."
"Bu, tapi kalau laki-laki seperti Lindu soal itu, aku tidak bisa menjanjikannya, Bu." Kata Wulan pelan.
Dia menurunkan pandangannya ke talenan kayu di depannya. Dalam hati, dia tahu betul bahwa di desa kecil mereka akan sangat sulit menemukan pria seperti Lindu lagi. Karena, pria yang kaya dan mapan, ya hanya Lindu di desa itu.
Bu Lastri mendengus pelan sambil kembali mengulek sambal.
"Kalau tidak seperti Lindu ya percuma saja." Ucap Bu Lastri.
Belum sempat Wulan menjawab, Pak Wahdi masuk ke dapur sambil membawa beberapa potong kayu bakar. Pria paruh baya itu rupanya mendengar percakapan keduanya sejak tadi.
"Sudahlah Bu, jangan terus menyuruh dia menikah, apalagi untuk bertemu dengan pria seperti Lindu." Ujar Pak Wahdi santai sambil meletakkan kayu di dekat tungku.
"Jodoh itu di tangan Gusti Allah."
Bu Lastri langsung menoleh cepat pada suaminya.
"Alah... kalau seperti itu terus, lama-lama anakmu itu jadi perawan tua."
Pak Wahdi terkekeh kecil mendengar ucapan istrinya.
"Lho, Wulan masih muda, Bu. Baru juga umur segitu. Nda akan jadi perawan tua."
"Iya, tapi lihat teman-temannya. Sudah banyak yang menikah." Balas Bu Lastri cepat.
Wulan hanya diam sambil menata potongan tempe ke dalam piring. Dia sebenarnya lelah mendengar pembicaraan tentang pernikahan hampir setiap hari.
Namun, dia juga memahami ibunya. Bu Lastri hanya ingin anak perempuannya hidup berkecukupan dan memiliki suami yang mampu menjaganya.
Pak Wahdi kemudian duduk di kursi kayu dekat dapur.
"Yang penting Wulan bahagia. Percuma cepat menikah kalau akhirnya hidupnya susah."
Ucapan itu membuat Wulan tersenyum kecil.
Setidaknya masih ada ayahnya yang memahami perasaannya.
"Tapi, percuma juga menikah kalau asal. Hidup sudah susah ya jadi tambah susah!" Ucap Bu Lastri dengan nada tegas.
Pak Wahdi menghela napas pelan.
Dia tahu istrinya hanya khawatir pada masa depan Wulan. Di desa mereka, kehidupan memang tidak mudah. Banyak perempuan yang menikah muda, lalu hidup pas-pasan bersama suami yang penghasilannya tidak menentu.
"Ibu cuma tidak ingin Wulan hidup susah nanti seperti kita." Sambung Bu Lastri lagi.
"Kalau bisa dapat laki-laki mapan seperti Lindu, kenapa harus pilih yang biasa-biasa saja?" Wulan terdiam mendengar ucapan ibunya. Dia mengerti maksud Bu Lastri.
Lindu memang menjadi kebanggaan banyak orang di desa itu. Selain tampan dan sopan, pria itu juga berasal dari keluarga berada. Tidak heran jika banyak ibu-ibu diam-diam berharap anak gadis mereka mendapat pasangan seperti dirinya.
"Tapi Bu," kata Wulan pelan.
"Tidak semua orang seberuntung Sekar."
"Makanya berusaha. Jangan cuma diam di rumah terus." Katanya.
Pak Wahdi tersenyum tipis melihat wajah putrinya yang mulai murung.
"Sudahlah, jangan dibuat pusing. Rezeki, jodoh, sama umur itu sudah ada yang mengatur."
"Bapak mah selalu begitu." Gerutu Bu Lastri.