NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028: Faksi Internal

Keesokan harinya, nama Kiara tidak disebut di ruang istirahat dewan.

Justru karena tidak disebut, semua orang tahu rapat kecil itu tentang dirinya.

Hendra Hartono duduk di sofa panjang dengan kaki disilangkan. Bambang berdiri di dekat jendela, pura-pura melihat kota. Galang mondar-mandir dengan semangat yang terlalu besar untuk ruangan yang terlalu kecil. Beberapa pemegang saham keluarga dari cabang samping duduk di kursi lain, membawa kopi dan rasa tidak puas yang sudah lama menunggu nama untuk disalahkan.

"Kita harus realistis," kata Hendra.

Kalimat itu biasanya dipakai orang ketika ingin orang lain menyerah.

"Kiara memang pintar," lanjutnya. "Tapi pintar saja tidak cukup. Setelah Kusuma, pasar masih ragu. Cakra masuk dengan obligasi, iya, tapi kita tidak bisa terus berharap pada investor misterius."

Bambang menambahkan, "Nishikura menawarkan akses regional. Dana segar. Jaringan. Kalau Kiara menolak hanya karena urusan pribadi, siapa yang menanggung kerugian?"

"Kita semua," jawab Galang cepat.

Terlalu cepat.

Hendra meliriknya, tetapi membiarkan.

Galang akhirnya mendapatkan panggung yang ia suka. "Selama ini Kiara selalu diperlakukan seperti satu-satunya orang yang bisa menjalankan perusahaan. Padahal apa buktinya? Kusuma meledak, Cakra tiba-tiba masuk, sekarang Nishikura datang. Semua masalah selalu diselesaikan orang lain, tapi dia tetap dipuji."

Salah satu pemegang saham samping mengangguk pelan.

"Tapi Kiara masih CEO. Bu Agung juga belum tentu setuju kita menekan terlalu jauh."

Hendra tersenyum kecil.

"Bu Agung ingin perusahaan selamat. Kalau fakta menunjukkan Kiara menghambat kesempatan strategis, Bu Agung akan mendengar."

Galang duduk, tubuhnya condong ke depan.

"Kita bisa mendorong evaluasi manajemen."

Bambang menatapnya. "Jangan terlalu kasar."

"Bukan kasar. Legal. Kita pemegang saham. Kita berhak meminta penjelasan. Kita berhak mempertanyakan keputusan CEO yang menolak proposal bernilai besar tanpa membawa ke forum keluarga atau direksi."

Untuk sekali ini, Galang tidak sepenuhnya salah.

Itu yang membuatnya lebih berbahaya.

Hendra mengetuk meja.

"Kita mulai dengan surat permintaan klarifikasi. Tanda tangan beberapa cabang cukup untuk memberi tekanan. Kalau Kiara tetap menolak, kita dorong agenda khusus di rapat direksi atau komisaris. Tidak perlu bicara pergantian dulu. Cukup buat dia merasa sendirian."

Kata sendirian diucapkan ringan.

Seperti strategi.

Padahal bagi Kiara, itu akan menjadi udara yang semakin tipis.

Seorang pemegang saham dari cabang Solo mengangkat tangan ragu.

"Kalau ini terdengar seperti memaksa Kiara menikah, publik bisa menyerang kita."

Hendra tersenyum sabar, seolah sedang mengajar anak kecil.

"Karena itu jangan pernah tulis kata menikah. Tulis evaluasi kerja sama strategis. Tulis kebutuhan stabilitas manajemen. Tulis kekhawatiran pemegang saham atas penolakan sepihak terhadap investor potensial."

Bambang menambahkan, "Bahasa menentukan bentuk. Kalau kita menulis dengan benar, ini bukan tekanan keluarga. Ini tata kelola."

Galang menyeringai.

"Dan kalau Kiara marah, dia terlihat emosional."

Kalimat itu membuat beberapa orang tertawa kecil.

Tidak keras.

Cukup untuk menunjukkan bahwa mereka mengerti permainan itu.

Mereka tidak perlu mengalahkan Kiara dengan argumen terbaik. Mereka hanya perlu membuatnya terlihat seperti perempuan keras kepala yang membawa urusan rumah tangga ke meja perusahaan.

Dalam perusahaan keluarga, reputasi sering menjadi pasal tak tertulis yang lebih tajam daripada kontrak.

Di luar pintu, seorang staf muda yang lewat tanpa sengaja mendengar nama Nishikura dan segera mempercepat langkah. Dalam perusahaan keluarga, gosip tidak berjalan. Ia merambat lewat lift, pantry, grup pesan, dan tatapan yang sedikit terlalu lama.

Siang itu, kabar sampai ke Sinta.

Sore itu, kabar sampai ke Kiara.

Kiara tidak langsung masuk ke ruang istirahat dewan. Ia menunggu rapat kecil itu bubar, lalu memanggil Sinta ke kantornya.

"Siapa saja?" tanyanya.

Sinta membuka catatan. "Hendra, Bambang, Galang, dua pemegang saham cabang Solo, satu dari Surabaya, dan orang legal keluarga yang biasanya dekat dengan Pak Hendra."

Kiara menatap daftar itu.

Tidak mengejutkan.

Tetapi tetap menyakitkan.

"Mereka sudah bicara soal surat?"

"Kemungkinan. Belum masuk resmi."

"Kalau masuk, aku harus jawab dengan angka."

Kiara berdiri dan berjalan ke meja besar. Ia membuka laptop, lalu menampilkan struktur pemegang saham internal yang selama ini lebih sering dianggap urusan sekretariat keluarga.

Saham langsung keluarga inti.

Saham cabang samping.

Saham treasury.

Obligasi konversi Cakra yang belum berubah menjadi saham.

Porsi publik.

Angka-angka itu dulu tampak seperti struktur.

Malam itu, angka-angka itu tampak seperti pasukan yang belum jelas berpihak ke siapa.

"Kalau Hendra dan Bambang menyatukan cabang mereka," kata Kiara pelan, "mereka belum bisa mengganti aku langsung. Tapi bisa memaksa agenda. Bisa membuat Bu Agung melihatku sebagai sumber masalah. Bisa menekan Bimo dan Ratna."

"Bu Ratna sudah terpengaruh," kata Sinta hati-hati.

Kiara tidak membantah.

Ibunya tidak hanya terpengaruh. Ratna sudah melihat angka dalam proposal Nishikura seperti melihat kesempatan menghapus rasa malu akibat Arga. Dalam kepala Ratna, menukar pernikahan putrinya dengan akses konglomerat mungkin terdengar seperti pemulihan martabat.

Kiara hampir tertawa.

Martabat keluarga selalu mahal.

Yang membayarnya selalu orang lain.

Menjelang malam, gedung PT Hartono Group mulai kosong. Lampu beberapa lantai padam. Staf pulang. Suara lift semakin jarang.

Kiara masih duduk di kantor.

Di depannya, sebuah dokumen baru terbuka:

Analisis Struktur Saham dan Potensi Tekanan Pemegang Saham Keluarga.

Ia menulis sendiri karena tidak ingin semua orang tahu betapa tipisnya posisinya.

Jika cabang Hendra, Bambang, dan beberapa pemegang kecil bergabung, mereka bisa membentuk blok tekanan signifikan.

Jika Bu Agung memilih diam, tekanan itu bisa berubah menjadi agenda resmi.

Jika Ratna terus mendorong dari rumah, Bimo hampir pasti tidak akan berdiri tegak.

Jika Nishikura menawarkan dana dan reputasi global, sebagian orang akan menyebut penolakan Kiara sebagai ego.

Ia berhenti mengetik.

Kata ego menatapnya dari layar.

Ia membuka kembali proposal Nishikura dan mulai memberi warna pada bagian-bagian yang terasa berbahaya.

Kuning untuk klausul samar.

Merah untuk bagian yang menyentuh struktur keluarga.

Biru untuk janji dana yang tidak memiliki jadwal pencairan jelas.

Semakin lama ia membaca, semakin jelas pola itu. Proposal tersebut tidak pernah benar-benar memberi Hartono uang tanpa syarat. Semua angka besar diletakkan di depan, sementara kendali ditempatkan di belakang dengan kata-kata halus: koordinasi strategis, forum keluarga, komite integrasi, penyesuaian kepemimpinan.

Kiara tahu istilah-istilah itu.

Ia sering memakainya dalam rapat.

Bedanya, kali ini istilah itu diarahkan kepadanya.

Ia menulis catatan baru:

Risiko:

- Komite integrasi dapat menjadi pintu campur tangan operasional.

- Aliansi keluarga dapat dipakai sebagai syarat non-kontrak.

- Pemegang saham samping bisa memaksakan agenda dengan alasan fiduciary duty.

- Jika aku menolak tanpa dasar legal, mereka akan menyebutku emosional.

Poin terakhir membuat jarinya berhenti.

Emosional.

Kata itu selalu disiapkan untuk perempuan yang tidak patuh.

Selama dua tahun, keluarganya menyebut Arga egois karena tidak cukup membungkuk.

Sekarang mereka akan menyebut Kiara egois karena tidak cukup menyerahkan hidupnya.

Kiara menutup mata.

Ia ingin menelepon Sinta, tetapi Sinta sudah terlalu banyak membantu.

Ia ingin bicara dengan Bu Agung, tetapi Bu Agung akan bertanya lebih dulu berapa nilainya.

Ia ingin memarahi Ratna, tetapi Ratna akan menyebutnya anak tidak tahu terima kasih.

Nama terakhir di kepalanya datang tanpa diminta.

Arga.

Ia membuka ponsel.

Kontak itu masih tersimpan dengan nama yang pernah membuatnya malu saat panggilan darurat di Hotel Mulia:

Suamiku.

Jarinya berhenti di atas layar.

Ia ingat Arga di ballroom, menyerahkan Rp 130 miliar tanpa suara.

Ia ingat Arga di mobil, melindunginya dari peluru.

Ia ingat Arga di ruang kerja, berkata bahwa rahasianya bisa melukai orang lain.

Kiara tidak tahu apakah ia ingin jawaban, bantuan, atau hanya seseorang yang tidak akan menjualnya dengan kata strategi.

Jam di dinding melewati sebelas malam.

Di layar ponsel, nama Arga tetap menyala.

Kiara tidak menekan tombol panggil.

Belum.

Tetapi untuk pertama kalinya, diamnya bukan karena ia tidak membutuhkan siapa pun.

Diamnya karena ia takut mengakui siapa orang pertama yang ingin ia cari.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!