Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
skenario
Langit Jakarta sore itu tampak kelabu, memantulkan bayangan megah gedung pencakar langit Glowinc Group yang menjulang tinggi di kawasan bisnis utama. Mobil Alphard hitam yang membawaku perlahan memasuki gerbang utama perusahaan. Namun, pemandangan di depan lobi utama membuat kernyitan tipis muncul di keningku.
Puluhan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik tampak bergerombol memenuhi area depan gedung. Mikrofon, kamera televisi, serta lampu kilat menyala bertubi-tubi begitu mobil kami mendekati pintu masuk khusus eksekutif.
Berita penangkapan Aris Pratama atas kasus penipuan cek kosong dan skandal perselingkuhannya rupanya menyebar bagaikan api dalam sekam. Namun, yang paling diburu oleh para pemburu berita itu bukanlah Aris yang sudah mendekam di sel tahanan kepolisian, melainkan sosok rahasia yang menjadi pemicu kehancuran sang pengusaha: Larasati, perempuan muda berusia dua puluh tahun yang disebut-sebut sebagai istri siri dan wanita simpanan Aris.
Sopir mematikan mesin mobil tepat di depan lobi. Pengamanan ketat dari pihak internal perusahaan langsung membentuk pagar betis untuk melindungiku.
"Bu Tita, silakan lewat sini," suara Siska terdengar tenang namun siaga di sebelahku, membukakan pintu mobil.
Begitu aku melangkah keluar dari kabin mobil, puluhan sorot kamera dan suara teriakan wartawan langsung menghujani pendengaranku.
"Bu Tita! Mohon konfirmasinya, apakah benar suami Ibu menggunakan dana perusahaan untuk membiayai istri sirinya?!"
"Bagaimana tanggapan Ibu soal Larasati yang sedang hamil anak Aris Pratama?!"
"Apakah benar Ibu yang sengaja menjatuhkan bisnis Aris Kitchen karena cemburu?"
Aku tidak menghentikan langkahku sedetik pun. Wajahku tetap tenang, tanpa ekspresi, memancarkan aura dingin yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa segan. Aku tidak melontarkan sepatah kata pun untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan agresif itu. Aku terus berjalan dengan anggun di atas sepatu heels-nya yang mengetuk mantap lantai marmer lobi, dikawal ketat oleh jajaran sekuritas hingga masuk ke dalam lift pribadi khusus CEO menuju lantai paling atas.
Satu jam kemudian.
Aku duduk di balik meja kerja kayu mahoni yang luas di ruanganku yang mewah. Suasana di dalam ruangan terasa sangat senyap, kontras dengan kekacauan yang terjadi di luar gedung tadi. Di hadapanku terbentang beberapa dokumen laporan keuangan dan surat gugatan cerai yang akan segera diproses ke pengadilan.
Pintu ruangan diketuk tiga kali dengan sopan sebelum Siska melangkah masuk dengan membawa secangkir teh hijau hangat.
"Bagaimana situasi di luar, Siska?" tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tanganku.
Siska meletakkan cangkir teh tersebut di atas meja, lalu tersenyum tipis penuh kemenangan. "Situasi di bawah sudah beres, Bu Tita. Para wartawan itu akhirnya membubarkan diri dan mundur teratur setelah kepala satpam kita menyampaikan ultimatum keras sesuai instruksi dari divisi hukum."
Aku mengangkat sebelah alisku, menatap Siska. "Ultimatum seperti apa yang membuat sekumpulan hyena media itu kabur dalam waktu satu jam?"
"Kepala satpam kita menemui para pemimpin redaksi di lapangan dan menegaskan satu hal, Jika dalam waktu satu jam para wartawan tidak segera meninggalkan area Glowinc Group, seluruh saham dari perusahaan induk media mereka akan disenggol dan ditarik investasinya oleh holding kita," jawab Siska dengan nada datar yang teramat elegan.
Aku tersenyum simpul, menyesap teh hijauku perlahan. "Langkah yang sangat efektif. Kekuasaan dan modal memang selalu tahu cara menutup mulut orang-orang yang suka berisik."
Namun, sebelum Siska sempat melanjutkan laporannya mengenai perkembangan aset Aris, ekspresi di wajah asisten setia itu mendadak berubah.
Ada keraguan kecil, disusul oleh binar seringai penuh arti yang ditahannya.
Siska melangkah lebih dekat ke arah meja kerjaku, lalu membungkuk sedikit untuk membisikkan sesuatu tepat di dekat telingaku.
"Bu Tita... Ada satu kejutan kecil yang sepertinya cukup menarik untuk didengar sore ini," bisik Siska dengan nada suara rendah.
Aku meletakkan dokumen di tanganku, menatap mata Siska. "Kejutan apa, Siska? Jangan bertele-tele."
"Resepsionis di lantai bawah baru saja menghubungi saya lewat interkom," lanjut Siska, suaranya mengandung nada geli yang tertahan. "Seseorang datang mencari Ibu ke lantai eksekutif. Dan orang itu... tidak lain dan tidak bukan adalah Larasati."
Sebuah keheningan singkat tercipta di dalam ruangan kerjaku.
Nama itu mendarat di telingaku bagaikan alunan musik klasik yang mendahului babak penutup sebuah pertunjukan drama yang megah. Larasati gadis berusia dua puluh tahun yang beberapa jam lalu mengamuk dan menampar Aris di depan umum, kini dengan rasa percaya diri yang luar biasa datang mendatangi sarang singa.
"Larasati?" ulangku pelan, mengecap nama itu di ujung lidahku. "Perempuan muda yang tadi siang histeris di depan restoran karena sadar suaminya ternyata bangkrut?"
"Benar, Bu Tita," angguk Siska. "Menurut resepsionis, Larasati memaksa naik ke lantai atas dengan alasan dia membawa pesan penting tentang Aris Pratama, dan dia menuntut untuk bisa bertemu langsung dengan istri sah dari pria yang diakuinya sebagai suaminya itu."
Aku menyandarkan punggungku di kursi kerja kulit yang empuk. Sebuah senyuman miring yang dingin dan mematikan perlahan terukir di sudut bibirku.
Bagaimana bisa seorang perempuan berusia dua puluh tahun, yang baru saja ditipu mentah-mentah oleh seorang pria bangkrut dan kini berada di ambang kemiskinan, mendatangi CEO perusahaan raksasa yang menjadi korban utama dari pengkhianatan suaminya? Apakah dia datang untuk memohon belas kasihan? Atau justru datang dengan kebodohan khas anak muda yang merasa dirinya paling tersakiti?
Apa pun niat di balik kedatangannya, satu hal yang pasti Larasati sedang berjalan dengan sukarela masuk ke dalam mulut harimau.
Aku menatap Siska dengan pandangan penuh minat, lalu mengangguk pelan memberikan instruksi.
"Tentu saja..." gumamku, suaranya terdengar begitu lembut namun mengandung ancaman yang tak kasat mata. "Kita harus menyambut kedatangan tamu agung ini dengan tangan terbuka. Siska... silakan persilakan nyonya muda kesayangan suamiku itu masuk ke ruanganku sekarang."
Siska mengangguk tegas, lalu berbalik melangkah keluar untuk menjemput tamu yang tidak tahu diri itu.
Aku merapikan blazer kremku, menegakkan posisiku di balik meja kerja, dan menunggu pintu ruangan terbuka untuk menyaksikan sendiri apa gelagat bodoh yang akan dibawa oleh perempuan malang tersebut.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣