Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teringat gadis pujaan
Sella membuang napas kasar begitu pintu lift tertutup membawa Raffa pergi. Wajah manisnya langsung berubah dingin.
Tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dari dalam tas branded miliknya lalu menekan satu nama di layar.
Andreas.
Tak butuh waktu lama hingga panggilan itu tersambung.
“Halo?” suara berat Andreas terdengar dari seberang.
Seketika nada bicara Sella berubah lembut.
“Kamu lagi sibuk?”
“Ada meeting setengah jam lagi. Kenapa?”
Sella berjalan pelan menuju balkon lantai atas hotel sambil menyilangkan tangan di dada.
“Gak kenapa-napa. Kangen aja.”
Andreas terkekeh kecil pelan.
Jarang sekali Sella menghubunginya lebih dulu di jam kerja seperti ini.
“Kamu baik-baik aja kan?”
“Hm.”
"kayanya ada yang gak baik, nih?"
"enggak, baik kok. Emang ya, kangen ajah."
Namun sebenarnya mood wanita itu sedang buruk.
Raffa kembali bersikap dingin padanya pagi ini. Dan hal itu cukup membuat harga dirinya terusik.
Selama ini hampir semua pria mudah mendekatinya. Namun Raffa berbeda. Semakin ia mengejar, pria itu justru semakin menjaga jarak.
“Lunch nanti?” tanya Andreas lagi.
Sella terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil walau pria itu tidak bisa melihatnya.
“Oke.”
“Jam setengah dua belas?”
“Iya.”
Setelah panggilan selesai, Sella menatap layar ponselnya cukup lama.
Ia memang menyukai Andreas. Pria itu dewasa, mapan, tampan, dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Namun tetap saja… Ada bagian dalam dirinya yang merasa penasaran pada Raffa. Selain itu Raffa adalah seorang pebisnis muda, memiliki usaha sendiri dan terkenal kaya. Dan Sella paling tidak suka kalah.
...
Sementara itu…
Andreas menurunkan ponselnya pelan lalu menyandarkan tubuh ke kursi kerja. Senyum tipis sempat muncul di wajahnya.
Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia merasa nyaman dekat dengan seseorang lagi, setelah lama ia tak pernah berpacaran sejak calon istrinya meninggal akibat kecelakaan yang menimpa dirinya juga sang calon.
Dan Sella berhasil membuatnya perlahan membuka hati, baginya Sella baik dan lembut... Walau terkadang wanita itu terasa sulit ditebak.
Tok tok.
Pintu ruangannya diketuk pelan.
“Masuk.”
Seorang pegawai masuk membawa beberapa dokumen.
“Pak Andreas, berkas approval kredit sudah siap.”
“Taruh sini.”
Pria itu kembali fokus bekerja. Namun entah kenapa pagi ini wajah murung Shintia sempat terlintas di pikirannya.
Adiknya itu jelas sedang aneh sejak semalam. Andreas mengenal Shintia terlalu baik untuk tidak sadar.
Pasti ada sesuatu.
“Jangan-jangan…” gumamnya kecil.
Namun sebelum pikirannya berkembang lebih jauh, ponselnya kembali berbunyi.
Nama Sella muncul lagi.
Andreas langsung mengangkat.
“Kenapa?”
“Gak jadi lunch.”
Andreas mengernyit.
“Loh kenapa?”
“Aku ada meeting mendadak.”
Padahal jelas itu bohong.
Sella hanya tiba-tiba malas bertemu siapa pun setelah emosinya buruk karena Raffa.
“Oh.”
“Nanti malam aja ya.”
Andreas terdiam sesaat lalu mengangguk kecil walau lagi-lagi tak terlihat. “Iya udah.”
Panggilan terputus, Andreas memandang layar ponselnya cukup lama.
Ada sesuatu yang aneh. Namun ia memilih tidak terlalu memikirkannya.
***
Di rumah…
Shintia masih duduk memeluk lutut di sofa ruang keluarga sambil memandangi layar ponselnya. Mamanya beberapa kali memperhatikan putrinya dengan tatapan khawatir.
“Shintia.”
“Hm?”
“Kamu yakin gak mau cerita?”
Shintia tersenyum kecil dipaksakan.
“Beneran gapapa, Ma.”
Namun jelas wajahnya mengatakan sebaliknya. Matanya sembab, Bibirnya pucat. Dan sejak tadi gadis itu bahkan hampir tidak menyentuh sarapannya. Mamanya akhirnya duduk di samping putrinya pelan.
“Kalau ada yang bikin kamu sedih, jangan dipendem sendiri.”
Kalimat itu membuat hati Shintia makin sesak.
Karena sebenarnya… Ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa sesedih ini.
Baru dua hari.
Dan dua hari. Mana mungkin seseorang bisa masuk begitu cepat ke hidup orang lain?
Tapi Raffa berhasil.
Dan sekarang pria itu menghilang begitu saja tanpa kabar.
“Mama…” suara Shintia lirih.
“Iya?”
“Kalau… ada orang yang baru dikenal terus tiba-tiba pergi tidak ada kabar… itu normal gak sih kalau kita sedih kehilangan nya?”
Mamanya terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun wanita itu tersenyum lembut.
“Kalau orang itu berarti buat kamu, ya normal.”
Deg.
Jawaban itu membuat Shintia langsung menunduk cepat.
Berarti? Apa Raffa sudah berarti buat dirinya?
Padahal mereka bahkan belum punya hubungan apa-apa. Shintia menggigit bibir pelan.
“Kalau belum sempat bilang sesuatu gimana?”
“Kadang hidup memang gak kasih waktu.”
Kalimat sederhana itu justru membuat mata Shintia kembali panas. Karena sampai sekarang pesan terakhirnya hanya...
Raffa… itu bukan kamu kan?
Dan bahkan pesan itu pun belum dibaca.
***
Di perjalanan menuju rumah duka… Mobil hitam yang ditumpangi Raffa melaju pelan membelah jalan kota. Suasana di dalam mobil sunyi.
Aswin yang duduk di depan beberapa kali melirik kaca spion hati-hati.
Sedangkan Raffa hanya diam menatap ke luar jendela.
Wajahnya dingin, tatapannya kosong. Namun di tengah pikirannya yang kacau… tiba-tiba satu hal terlintas.
Shintia.
Entah kenapa mendadak ia teringat gadis itu, Mungkin karena pagi ini terlalu sunyi.
Atau karena biasanya setelah suasana berat seperti ini, ia ingin mendengar sesuatu yang ringan. Dan Shintia selalu berhasil membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
Raffa mengusap wajahnya pelan.
“Ponsel saya belum ditemukan?”
“Belum, Pak.”
Raffa mengangguk kecil.
Ia baru sadar… Ada satu orang yang mungkin mencoba menghubunginya sekarang.
Dan kalau benar, itu adalah Shintia… Gadis itu pasti panik.
Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu, dada Raffa terasa sedikit tidak nyaman karena memikirkan orang lain selain asistennya. Dan di perjalanan itu ia memikirkan satu kesempatan untuk mengawasi gadis itu diam-diam.
"Aswin..."
"iya pak,"
"saya, setelah ini ada urusan pribadi... Saya mau, kamu gantikan saya sementara di Hotel."
"loh tapi pak, bapak masih ada beberapa jadwal..."
"saya tidak perduli, intinya kamu harus seperti almarhum... Tau posisi saya, dan kamu harus mau mewakili saya."
Aswin tampak sedikit bingung mendengar ucapan atasannya barusan.
“Tapi Pak… kalau ada meeting penting...”
“Tunda kalau bisa. Kalau gak, kamu yang datang,” potong Raffa tenang namun tegas.
Aswin akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Pak.”
Raffa kembali menatap jalanan di luar kaca mobil beberapa detik sebelum akhirnya berbicara lagi.
“Satu hal lagi.”
“Iya Pak?”
“Saya mau kamu cari tahu seseorang.”
Aswin langsung menoleh sedikit.
“Siapa, Pak?”
“Shintia Almahira.”
Nama itu terdengar asing di telinga Aswin. Namun ia tetap fokus mendengar.
“Pantau dia di kampus nya. Jangan sampai dia sadar.”
Aswin makin heran, tapi tidak berani banyak bertanya.
“Baik, Pak.”
Raffa menghembuskan napas pelan.
Ia tidak tahu kenapa. Tapi setelah teringat kemungkinan Shintia panik mencarinya… tiba-tiba ia ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.
Dan setelah ...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄