Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.
Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.
Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.
Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.
Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG TAK TERHAPUS.
“Diah! Tunggu!”
Suara itu meledak di tengah keheningan lobi Artha Design yang megah. Suara yang dulu akrab, kini terdengar asing dan penuh keputusasaan. Ardiah membeku. Kakinya terasa seperti dipaku ke lantai marmer dingin. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Getaran di udara, aroma keringat bercampur parfum murahan, dan detak jantungnya yang tiba-tiba melonjak liar sudah cukup memberi tahu.
Ferdi.
Para resepsionis dan karyawan lain yang sedang lalu-lalang berhenti sejenak, menoleh dengan rasa penasaran. Tatapan mereka menusuk punggung Ardiah, membuat kulitnya merinding. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketenangannya, lalu berbalik perlahan.
Ferdi berdiri di dekat pintu masuk otomatis. Penampilannya jauh dari kata rapi. Kemejanya kusut, matanya cekung, dan ada bekas luka kecil di pelipisnya. Ia terlihat seperti pria yang telah kehilangan segalanya, termasuk harga dirinya.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Fer?” tanya Ardiah. Suaranya datar, namun tangannya gemetar hebat di sisi tubuhnya. Ia berusaha keras agar suaranya tidak terdengar bergetar di depan puluhan pasang mata yang mengamati.
Ferdi melangkah maju, mengabaikan tatapan tajam satpam yang mulai mendekat. “Aku harus bertemu denganmu, Diah. Aku... aku tidak bisa hidup seperti ini.”
“Kita sudah bercerai,” potong Ardiah tegas. Ia mengambil selangkah mundur, menciptakan jarak aman. “Tidak ada lagi ‘kita’. Pulanglah, Fer. Istrimu mungkin sedang mencarimu.”
Mention tentang istri baru membuat wajah Ferdi memerah karena marah dan malu. “Jangan bicara tentang dia! Pernikahan itu kesalahan! Ibu memaksaku! Aku tahu sekarang bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang tulus mencintaiku. Aku menyesal, Diah. Aku sangat menyesal.”
Ia meraih tangan Ardiah. Sentuhan itu membuat Ardiah tersentak kaget. Ia menarik tangannya dengan kasar, seolah-olah terbakar.
“Jangan sentuh aku!” seru Ardiah, suaranya naik satu oktaf. Panik mulai merayap naik ke tenggorokannya. Ia merasa terhina. Di tempat kerjanya, di depan rekan-rekan barunya, ia diperlakukan seperti barang milik pribadi yang bisa diambil kembali semaunya. “Kamu tidak punya hak untuk menyentuhku lagi. Kamu memilih mereka. Kamu memilih untuk menceraikanku. Sekarang terima konsekuensinya.”
“Tapi aku masih mencintaimu!” teriak Ferdi, air matanya mulai mengalir deras. Ia berlutut di tengah lobi, sebuah pemandangan dramatis yang membuat beberapa karyawan perempuan bersimpati, sementara yang lain merekam dengan ponsel mereka. “Kembalilah padaku, Diah. Tolong. Aku akan melawan Ibu. Aku janji.”
Ardiah merasa dunianya berputar. Malu. Marah. Sakit. Semua emosi itu bergolak menjadi satu. Ia ingin lari, namun kakinya lemas. Ia terjebak dalam mimpi buruk yang ia kira sudah berakhir.
“Berdiri, Tuan.”
Suara itu dingin, tajam, dan berwibawa. Suara yang membelah keributan seperti pedang.
Semua kepala menoleh ke arah tangga utama. Haikal Akram turun dengan langkah mantap. Jas hitamnya sempurna, wajahnya tanpa ekspresi, namun matanya menyala dengan kemarahan yang terkendali. Di belakangnya, Roni dan dua staf keamanan mengikuti dengan sigap.
Haikal berjalan langsung menuju Ferdi yang masih berlutut. Ia tidak membantu pria itu berdiri. Ia hanya menatapnya dari atas, dengan pandangan yang begitu merendahkan hingga Ferdi tampak kecil dan menyedihkan.
“Siapa Anda?” tanya Ferdi, suaranya parau.
“Saya Haikal Akram. CEO perusahaan ini,” jawab Haikal singkat. Ia kemudian menoleh ke Ardiah, memastikan wanita itu baik-baik saja. Tatapannya melembut sejenak, sebelum kembali dingin saat menghadap Ferdi lagi. “Dan Anda sedang mengganggu aset paling berharga saya.”
Ferdi mendongak, bingung. “Aset? Dia istri saya!”
“Dia mantan istri Anda,” koreksi Haikal tajam. Ia melangkah lebih dekat, hingga bayangannya menutupi tubuh Ferdi. “Dan saat ini, Nona Ardiah adalah karyawan di bawah perlindungan langsung saya. Perilaku Anda tidak hanya tidak sopan, tetapi juga merupakan gangguan terhadap operasional perusahaan. Jika Anda tidak berdiri dan pergi dalam lima detik, saya akan memanggil polisi atas tuduhan penganiayaan psikologis dan gangguan ketertiban umum.”
Ancaman itu diucapkan dengan tenang, tanpa nada tinggi, namun dampaknya menghancurkan. Ferdi menelan ludah, ketakutan melihat wibawa Haikal yang nyata. Ia menyadari bahwa pria di hadapannya bukan sekadar bos biasa. Haikal memiliki kekuasaan, uang, dan pengaruh yang tidak bisa ia lawan.
“Diah...” Ferdi menoleh pada Ardiah, matanya memohon. “Katakan sesuatu.”
Ardiah menatap Ferdi, lalu menatap Haikal. Untuk pertama kalinya, ia melihat Haikal bukan sebagai mantan adik tingkat yang menyebalkan, melainkan sebagai tembok kokoh yang melindunginya dari badai. Ada rasa lega yang aneh menjalar di dadanya, dicampur dengan kekaguman yang tidak ingin ia akui.
“Pergilah, Fer,” kata Ardiah lirih. Suaranya stabil kali ini. “Haikal benar. Kita sudah selesai. Jangan buat situasi ini semakin memalukan bagi kita berdua.”
Kalimat itu adalah pukulan terakhir bagi Ferdi. Bahunya merosot. Ia bangkit dengan susah payah, membersihkan debu dari celananya. Ia menatap Ardiah sekali lagi, dengan tatapan penuh penyesalan yang dalam, sebelum berbalik dan berjalan keluar dengan langkah gontai. Pintu kaca otomatis tertutup di belakangnya, memutus koneksi dengan masa lalu Ardiah secara fisik.
Lobi kembali hening. Namun, ketegangan belum sepenuhnya hilang. Ardiah masih berdiri di sana, napasnya tersengal-sengal. Ia merasa lemah. Lututnya gemetar.
Haikal berbalik menghadap Ardiah. Wajah seriusnya sedikit melunak. Ia melepas jasnya dan menyelipkannya di bahu Ardiah, menutupi tubuh wanita itu yang menggigil meski AC tidak terlalu dingin.
“Masuk ke kantor saya,” perintah Haikal lembut. “Roni, pastikan tidak ada rekaman video insiden ini yang beredar di media sosial. Gunakan jalur hukum jika perlu.”
“Siap, Pak,” jawab Roni sigap.
Ardiah menatap Haikal, bingung. “Kenapa... kenapa Anda melakukan itu? Anda tidak harus melindungi saya.”
Haikal menatap mata Ardiah dalam-dalam. Di sana, Ardiah melihat kilatan emosi yang kompleks. Bukan sekadar kasih sayang, tapi juga kepemilikan.
“Saya sudah bilang, Ardiah,” bisik Haikal, hanya untuk didengar oleh mereka berdua. “Di sini, Anda aman. Dan saya tidak suka melihat apa yang menjadi milik saya disakiti oleh orang lain.”
Kata 'milik saya' menggantung di udara, berat dan bermakna ganda. Apakah Haikal berbicara sebagai bos yang melindungi karyawannya? Atau sebagai pria yang mengklaim hati wanita di hadapannya?
Ardiah tidak menjawab. Ia hanya menarik jas Haikal lebih erat ke tubuhnya, merasakan hangatnya yang asing namun menenangkan. Ia mengikuti Haikal menuju lift, meninggalkan rasa malu di lobi, namun membawa serta pertanyaan besar di hatinya. Siapa sebenarnya Haikal Akram? Dan mengapa perlindungan ini terasa lebih menakutkan daripada ancaman Ferdi tadi?
Di dalam lift yang tertutup, Haikal menekan tombol lantai paling atas. Ia tidak menatap Ardiah, namun tangannya secara tidak sengaja menyentuh punggung tangan Ardiah. Sentuhan singkat itu mengirimkan arus listrik halus yang membuat Ardiah menahan napas. Permainan ini baru saja berubah aturan. Dan Ardiah tidak yakin apakah ia siap untuk memainkannya.
udah tak kasih kopi buat temen begadang...