[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Jejak yang Tak Lagi Hilang
Mobil Dania meluncur mulus membelah kawasan Sudirman. Di kanan kiri, gedung-gedung pencakar langit berbalut kaca memantulkan terik siang Jakarta, menyajikan pemandangan megah khas pusat kota yang sibuk.
Elleta menempelkan dahi ke jendela mobil, matanya tak berkedip menatap satu gedung dengan arsitektur paling unik yang menjulang tinggi, seolah puncaknya menembus awan.
“Gila... keren banget gedung ini,” puji Elleta spontan. “Ini kantornya Ben, Dan?”
Dania tertawa kecil sambil memutar kemudi dengan lihai. “Bukan, El. Ben itu kepala tim keuangan senior di sini. Gedung ini punya salah satu konglomerat muda paling berpengaruh di Indonesia. Tapi, ya, bisa punya posisi di perusahaan sekelas ini saja sudah pencapaian besar.”
Begitu turun dan melangkah masuk ke lobi, Elleta mendadak merasa ciut. Ruangan itu luas sekali, mirip lapangan bola, dengan lantai marmer super bersih yang bisa memantulkan bayangan. Ditambah lagi deretan petugas keamanan berseragam rapi yang berjaga sigap.
Mereka berjalan menuju lift khusus karyawan, lalu Dania menekan tombol angka 18.
“Lantai 18 itu pusatnya,” bisik Dania begitu lift meluncur naik dengan kecepatan tinggi yang hampir tak terasa di kaki.
Ting!
Pintu lift terbuka, menyemburkan aroma parfum mahal berpadu wangi citrus dan cendana yang menenangkan. Ruangan di lantai ini mengusung konsep terbuka minimalis, tapi kemewahannya terasa nyata di setiap detail furnitur.
“El, tunggu sini bentar, ya? Kamu duduk di sofa beludru biru itu dulu,” tunjuk Dania ke sudut ruangan. “Aku mau kasih kejutan ke Ben di ruangannya. Bentar banget, oke?”
“Oke, jangan lama-lama.”
Baru saja punggung Dania menghilang di belokan koridor, perut Elleta mendadak melilit. Efek kombinasi seblak super pedas dan es krim tadi siang rupanya mulai menuntut balas. Karena tidak enak mau bertanya pada karyawan yang kelihatan sangat serius menatap layar laptop, Elleta memilih mencari jalan sendiri.
Ia buru-buru menyusuri lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan abstrak berukuran besar. “Ah, untung ketemu,” desisnya lega begitu menangkap papan penunjuk toilet wanita di ujung lorong.
Setelah urusannya selesai, Elleta keluar dengan perasaan jauh lebih plong. Sambil berjalan kembali, ia merogoh tas tangan, berniat mengecek apakah ada pesan masuk dari Daniel. Matanya fokus menunduk, sementara jemarinya sibuk mengaduk-aduk isi tas yang penuh sesak oleh tisu, lip gloss, dan dompet.
“Di mana sih ponselnya...” gumamnya mulai panik.
Tepat saat ujung jarinya menyentuh layar ponsel, sebuah bayangan besar mendadak menghalang di depan. Elleta kehilangan momentum untuk mengerem langkahnya.
Bruk!
Ia menabrak sesuatu yang keras sangat keras, rasanya seperti menghantam tembok kokoh yang dilapisi kain mahal. Tubuh Elleta terhuyung ke belakang. Ia hampir saja jatuh telentang kalau tidak pintar-pintar menyeimbangkan kaki.
Ponselnya lolos dari genggaman dan mendarat di atas karpet tebal, sementara cangkir kopi yang dibawa pria di depannya terguncang hebat, menyiramkan cairan pekat ke kemeja putih bersih milik pria itu.
Cles!
“Aduh! Maaf, maaf banget! Aku bener-bener enggak sengaja!” seru Elleta panik.
Begitu mendongak, kata-katanya langsung tercekat di tenggorokan. Di hadapannya berdiri seorang pria yang luar biasa tinggi, Elleta memperkirakan tingginya sekitar 180 sentimeter lebih.
Pria itu memakai kemeja putih yang disetrika sangat rapi dengan jas senada yang disampirkan di lengan kiri, walau kini bagian dadanya sudah kotor oleh noda kopi yang melebar.
Elleta terpaku beberapa detik. Wajah pria itu... tampan dengan garis rahang tegas dan sepasang mata tajam yang seolah sanggup membaca ketakutan di dalam kepalanya. Pria ini memancarkan aura dominan yang kuat, sangat kontras dengan pembawaan santai cowok-cowok yang biasa ia temui di California.
“Maaf, aku bener-bener enggak lihat jalan karena sibuk cari ponsel,” ucap Elleta buru-buru menarik beberapa lembar tisu dari tasnya.
Karena terlalu panik dan merasa bersalah, secara refleks Elleta langsung mengulurkan tangan, mencoba mengusap noda kopi di dada kemeja pria itu. “Maaf... maaf banget...” Suara Elleta mulai bergetar.
Pria itu bergeming. Ia membiarkan tangan mungil Elleta bergerak panik di dadanya selama beberapa detik, sebelum akhirnya jemari besarnya bergerak mencengkeram pergelangan tangan Elleta. Gerakannya lembut, tetapi sangat bertenaga hingga membuat gerakan Elleta terkunci.
Elleta membeku. Tatapan mereka beradu di koridor lantai 18 yang mendadak sunyi. Elleta bisa menangkap kilatan aneh di mata pria itu, sebuah kombinasi antara keterkejutan, pengenalan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam yang tidak bisa ia tebak artinya.
“Enggak apa-apa,” suara pria itu terdengar berat, rendah, dan terkesan sangat tenang.
Pria itu menatap wajah Elleta lekat-lekat, menyusuri tiap jengkal dari dahi hingga ke bibir, seolah-olah sedang mencocokkan fitur wajah itu dengan sebuah ingatan lama di kepalanya.
Ekspresi wajahnya yang semula sedingin es, mendadak melunak diiringi sedikit kerutan di dahi, seolah ia baru saja melihat seseorang yang sudah lama hilang dari hidupnya.
Sadar posisinya terlalu intim, Elleta menarik tangannya perlahan dari genggaman pria itu. “Sekali lagi maaf ya,” desisnya canggung.
Pria itu tidak menjawab lagi. Ia hanya mengangguk tipis, lalu berjalan melewati Elleta dengan langkah lebar yang penuh wibawa.
Elleta berbalik, mematung menatap punggung tegap pria itu yang menghilang di balik pintu ganda dari kayu jati besar di ujung lorong. Siapa dia? Kenapa dia natap aku kayak gitu tadi? tanyanya dalam hati. Jantungnya masih berdegup liar karena malu sekaligus bingung.
...***...
Pria itu, Steve Athariz Danendra umur 33 tahun, melangkah masuk ke ruang kerjanya yang luas di sudut lantai 18. Ia meletakkan jasnya di sandaran kursi kebesaran, lalu mendudukkan diri. Alih-alih langsung menyentuh tumpukan berkas penting di atas meja, Steve memilih menyandarkan punggung, memejamkan mata sejenak sambil menghela napas panjang.
Tak lama, pintu ruangannya diketuk. Theo Sayudha, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaannya, melangkah masuk dengan ekspresi sigap.
“Pak Steve, jadwal rapat dengan investor Singapura sudah siap,” lapor Theo formal.
Steve membuka mata, menatap Theo dengan pandangan mengintimidasi. “Theo, panggil anak buahmu sekarang.”
Theo sedikit tersentak melihat gelagat bosnya yang mendadak serius. “Ada apa, Pak? Ada masalah dengan sistem keamanan gedung?”
“Gadis itu... apa orang-orangmu sudah memastikan kepulangannya ke Indonesia?” tanya Steve langsung pada intinya, mengabaikan laporan rapat.
Theo terdiam sejenak, lalu menghela napas pasrah. “Mohon sabar sedikit, Pak. Anak buah saya masih memantau manifes penerbangan di bandara. Kita semua tahu dia di California, tapi kepulangannya mungkin sengaja dirahasiakan oleh pihak keluarga. Beri saya waktu beberapa jam lagi untuk melacaknya.”
Steve mengepalkan tangan di atas meja kaca, membuat kemejanya yang bernoda kopi sedikit tertarik. “Dia sudah di sini, Theo. Aku baru saja berpapasan dengannya di lorong luar.”
Mata Theo membelalak kaget. “Maksud Bapak... Elleta? Dia ada di gedung ini?”
Steve tidak menjawab lagi. Keheningan itu sudah cukup menjadi penegasan bagi Theo.
“Baik, Pak. Kalau begitu saya akan langsung cari tahu sekarang juga,” sahut Theo tanggap. Ia menundukkan kepala sedikit, lalu berbalik mundur untuk keluar dari ruangan.
Setelah pintu tertutup rapat, Steve membuka laci meja pribadinya, laci terkunci yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil.
Foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak jauh saat ia melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri beberapa tahun lalu. Di dalam foto, seorang gadis remaja yang masih mengenakan seragam SMA tampak sedang tertawa lepas bersama teman-temannya. Wajahnya polos, ceria, dan sangat bersih.
Gadis di foto itu adalah Elleta.
“Kamu bukan lagi gadis kecil berseragam sekolah,” gumam Steve, jemarinya perlahan mengusap permukaan kaca yang membungkus foto tersebut.
“Kamu sudah tumbuh jadi wanita dewasa yang jauh lebih cantik.”
Steve meletakkan kembali foto itu ke tempat semula, lalu menguncinya. Ia berdiri, berjalan mendekati jendela besar yang menampilkan panorama gedung-gedung Jakarta. Di kepalanya, memori sentuhan tangan Elleta yang gemetar di dadanya tadi masih terasa begitu nyata.
Sebuah senyum tipis, dingin, sekaligus penuh obsesi terukir di sudut bibirnya.
“Selamat datang kembali ke duniamu yang sebenarnya, Elleta,” bisiknya lirih ke kaca jendela.
“Dan kali ini, aku enggak akan biarkan kamu lari lagi.”
Di luar sana, Elleta masih berjalan kembali menuju ruang tunggu, sama sekali tidak menyadari bahwa insiden tabrakan kopi tadi bukanlah sekadar kecelakaan biasa, melainkan awal dari jaring takdir yang siap mengurungnya rapat-rapat.