NovelToon NovelToon
Istri Kecil Juragan Tampan

Istri Kecil Juragan Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Romansa pedesaan / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

​“Jangan harap bisa pergi. Sekali kakimu menginjak rumah ini, selamanya kamu adalah milikku.”

Seorang Juragan yang mempunyai segalanya: kekuasaan, kekayaan, dan wibawa. Hanya satu yang tidak bisa ia miliki yaitu hati anak gadis dari salah satu pekerja buru pabrik miliknya.

​Ketika lamaran tulusnya dibalas penolakan, sang Juragan melepaskan topeng kesabarannya. Ia tidak butuh izin untuk memiliki apa yang ia mau. Jika dunia menyebutnya penculik, biarlah. Karena baginya, lebih baik melihat gadis pujaan menangis dalam pelukannya daripada melihat gadis itu tersenyum di pelukan pria lain.

​Satu janji suci telah terucap. Ijab kabul telah sah di mata agama. Namun, akankah gadis itu menyerahkan hatinya setelah sang Juragan "mencuri" kebebasannya? lalu bagaimana dengan gadis lain yang ingin menikah dengan sang Juragan tampan itu, akankah ia Terima atau membalaskan dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Godaan di Balik Pintu

Keduanya sampai di dalam kamar. Aditya segera mengunci pintu rapat-rapat, kemudian dengan langkah cepat mendorong Kinanti hingga tubuhnya menempel pada daun pintu.

HAP!

Tanpa sedikit pun merasa keberatan, Aditya tiba-tiba mengangkat Kinanti dalam gendongan koala, menempelkan seluruh tubuh sang istri ke belakang pintu.

"Mas?" Kinanti jelas terkejut dan waswas. Apalagi, tatapan Aditya kini tampak begitu lekat, memancarkan gairah yang membara.

*Ada apa dengan suamiku ini Tuhan?* batin Kinanti.

"Hmm?" gumam Aditya, suaranya memberat.

"Kamu kenapa? Turunkan aku. Cepatlah, siap-siap mandi sana," ujar Kinanti. Maniknya berlarian ke sana kemari, berusaha menghindari tatapan panas Aditya.

"Aduh!" Kinanti memekik pelan saat pantatnya tiba-tiba diremas oleh sang suami. Ia terbelalak kaget.

Pelaku, Aditya, justru menyeringai penuh arti. Jakunnya bergerak seperti menelan ludah, sementara mata tajamnya menghujam tepat di manik indah istrinya.

Tanpa basa-basi, mulut Aditya langsung menyambar bibir lembap Kinanti. Tanpa persiapan apa pun, Kinanti dibuat membelalak. Kedua tangannya meremas pundak keras suaminya.

Aditya tampak beringas, melahap bibir ranum Kinanti seolah itu adalah gulali yang sangat manis. Decakan ciuman mereka terdengar mengisi keheningan kamar. Kepala Aditya bergerak ke kanan-kiri, mencari posisi ciuman yang nyaman. Lumatan Aditya semakin menggebu-gebu, sementara kedua tangan besarnya perlahan menaik turunkan bokong sintal sang istri.

"Emmhh..." Desahan tertahan Kinanti mulai terdengar.

Tangannya ikut menjambak kecil rambut hitam legam milik Aditya. Sensasi gesekan aset mereka terasa geli dan memabukkan.

Aditya mengulangi ciuman itu beberapa kali sampai Kinanti memukuli pundaknya, pertanda ia mulai kehabisan napas.

"Hahh... haahhh..."

Pautan terlepas. Dada Kinanti kembang kempis setelah pagutan panas tadi. Gadis cantik itu menatap wajah sayu sang suami. Aditya sekilas menjilat bibir bawahnya, gerakan yang teramat sensual.

"Mas, kamu kenapa tiba-tiba?" Kinanti kesulitan berujar sebab ia masih rakus meraup udara.

Aditya menelan ludahnya sebelum menjawab. "Memangnya tidak boleh mencium istri sendiri, hmm?" bisiknya mesra tepat di depan telinga Kinanti.

Dengan nakalnya, juragan tampan itu meniup leher mulus Kinanti.

"Mmhhh!" Kinanti melenguh.

Menjauhkan wajah tampannya yang menggoda itu dari samping leher sang istri, Aditya kembali bersuara, "Jangankan mencium. Kita main sekarang juga, tidak ada yang melarang, gadis cantik..."

Ia menjilat leher mulus Kinanti dengan teramat sensual, membuat istrinya mendesah tak tertahankan.

"Masshh..." Kinanti menggigit bibir ranumnya guna menahan desahan. Kepalanya mendongak.

"...tidak ada yang melarang kita bercinta sekarang juga," lanjut Aditya dengan suara berat nan lembut, menyelesaikan kalimatnya yang menggantung.

DWARRR!

*Mampus!!!* batin Kinanti. Ia membelalak lebar.

Bahkan mungkin bola matanya bisa saja copot saking lebarnya ia terkejut. Namun, mimik wajah Kinanti itu justru semakin membangkitkan sisi liar Aditya. Pria itu membayangkan, akankah raut Kinanti akan selebar itu saat asetnya menerobos masuk dan dijepit kuat oleh aset milik sang istri? Aditya jadi tidak sabar.

GLEK!

Menelan ludahnya, Aditya semakin menekan tubuh Kinanti agar mendekat padanya.

"Sayang?" panggil Aditya.

Kinanti mengambil napas dalam-dalam setelah mendengar perkataan frontal suaminya barusan. Tanpa menjawab, gadis cantik itu hanya membalas tatapan membara suaminya.

"Sekarang saja, ya, Mas. Aku sudah tidak tahan," bisik Aditya, mengubah kalimatnya dari bahasa Jawa menjadi bahasa Indonesia agar Kinanti mengerti maksudnya.

DEG!!

*Ya Tuhan! Ja-jangan bilang...* batin Kinanti.

"Mas ingin kamu," ujar Aditya.

*Tuh kan!!!* batin Kinanti, menjerit dalam hati.

"Sekarang juga."

TOK! TOK! TOK!

Kinanti dan Aditya tersentak kaget bersamaan. Pintu yang menjadi sandaran Kinanti diketuk dari luar. Aditya lekas memejamkan matanya kuat-kuat.

*Lagi-lagi gagal!* batin Aditya frustrasi.

"Kinanti? Nak, ada tamu," panggil Bu Sarasvati.

Sang empunya nama membasahi bibirnya yang tiba-tiba kering. Ia menelan ludah gugup, lalu mencoba menyahuti ibu mertuanya.

Aditya menahan pantat Kinanti yang masih dalam gendongannya. Kaki panjangnya melangkah mundur agar suara sang istri nanti tidak terlalu dekat dari arah pintu.

"Iya, Bu. Kinanti ke sana," sahut Kinanti, sedikit takut, sebab netra tajam sang suami masih menghujam padanya.

"Ya sudah kalau begitu. Jangan lama-lama, ya, Nak."

"Iya, Bu," jawab Kinanti.

Setelah mendengar langkah kaki Bu Sarasvati menjauh, Aditya langsung menyambar bibir sang istri. Kinanti mengalungkan kedua tangannya mesra, kepalanya ikut serta ke kanan kiri, mengikuti bagaimana Aditya menciumnya dengan menggebu-gebu.

"Ahhh!" Kinanti terkesiap saat cuping telinganya digigit gemas oleh sang suami.

"Sayanghh..." lenguh Aditya.

"Maashh—" desah Kinanti.

"Tidak usah keluar kamar, ya. Temani Mas saja di sini," ucap Aditya.

DEG!

"Mas! Mas, hentikan! Geli ahh!" desah Kinanti. Tangannya mendorong dada bidang Aditya ketika jilatan lidah panas suaminya semakin tak terkendali. Bahkan, dada atas Kinanti sudah basah oleh ulah suaminya.

"Tidak usah keluar," ucap Aditya. Napas keduanya berderu bersahutan.

"Ada tamu di depan. Lebih baik Mas mandi dulu, habis itu susul aku temui tamunya ke depan," bujuk Kinanti dengan nada lembut. Tangannya pun ikut terampil membelai rahang tegas suaminya.

"Sayang..." panggil Aditya.

"Kenapa buru-buru? Masih banyak waktu nanti malam, Mas-ku Sayang," bisik Kinanti seraya menyelipkan panggilan goda untuk sang suami agar tidak merajuk.

Dan benar saja, setelah dipanggil seperti itu, Aditya tampak senang. Binar matanya yang redup tadi kini kembali berbinar.

"Sudah berani memanggil Mas Sayang?" balas Aditya juga berbisik mesra tepat di depan bibir seksi Kinanti.

"Suka?" tanya Kinanti.

Aditya tersenyum lebar, dan itu membuatnya terlihat sangat tampan. Kinanti juga jadi merasa tak ingin keluar kamar, namun ini masih sore. Lagipula, masih banyak tamu dan kerabat di rumahnya. Ia malu jika sampai kegaduhan mereka terdengar.

"Mas suka, sangat suka. Sering-sering panggil begitu, ya, gadis cantik," ucap Aditya.

CUP!

Leher Kinanti dikecup Aditya.

"Sudah, ya. Lepaskan dulu. Aku mau menemui tamunya. Mas mandi, gih," ucap Kinanti lembut.

"Temani," rengek Aditya.

"Ke mana?!" tanya Kinanti.

"Mandi," goda Aditya, kini sudah tersenyum nakal.

Kinanti ikut tersenyum menggoda. "Kalau tidak kutemani sekarang, nanti malam tidak jadi, dong, Mas?"

Binar bening mata Kinanti menyorot penuh arti. Aditya langsung paham arah pembicaraan Kinanti, dan seketika menyeringai.

"Kamu tidak akan ingkar, kan, Sayang?" Suara berat Aditya yang memabukkan itu berhasil membuat Kinanti merasa panas dingin.

"Tidak akan, Mas," ucap Kinanti.

CUP!

Aditya mengecup sebelah pipi Kinanti sebelum menurunkan tubuh molek itu.

"Mas harap Ibu, Ayah, dan Byan segera pulang ke rumah malam ini," ucap Aditya.

Kinanti menatap wajah tampan suaminya dengan bingung.

"Biar tidak ada yang mengganggu ketuk-ketuk pintu lagi," tambah Aditya.

Kekeh Kinanti tak bisa dibendung lagi. "Sudah tidak tahan, ya, Mas?" ucap Kinanti.

"Benar-benar, Sayang. Pistol Mas sudah tegang," ucap Aditya blak-blakan.

Kinanti segera melepaskan diri sebelum benar-benar diterkam oleh singa kelaparan ini.

"Nanti malam. Sekarang Mas mandi, ya. Nanti dimarahi Ibu, lho, kalau Mas tidak mandi-mandi," pinta Kinanti sambil mengambil pakaian yang lebih sopan.

"Oke, Sayang," sahut Aditya lembut. Akhirnya, ia melepaskan mangsa yang sudah dinanti-nantikan itu.

MUACH!

Kinanti menyempatkan mencium mesra pipi suaminya, kakinya sedikit menjinjit guna mencapai pipi itu. Dengan senyuman manis, Kinanti membuka pintu kamar lalu keluar dari sana.

"Jangan tunda-tunda lagi, Mas. Segera mandi!" ucap Kinanti sebelum benar-benar keluar kamar.

CEKLEK!

*Sialan! Padahal tinggal rayu sedikit lagi akan belah duren! Gagal lagi!* batin Aditya. Ia mengusap kesal rambut hitam tebalnya. Ia geram.

"Sabar. Tunggu nanti malam," gumamnya penuh tekad. Ia tak akan membiarkan Kinanti lolos nanti malam.

"Apa pun alasanmu nanti, kamu tidak bisa lari dari kamar ini, Sayang," tekad Aditya.

Bersambung__

_____

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!