Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Dansa yang Berakhir dengan Tawuran
Malam ini, langit Jakarta seolah-olah ditaburi berlian, namun suasana di dalam gedung Grand Ballroom jauh lebih gemerlap. Ini adalah acara "Malam Persaudaraan", sebuah jamuan diplomatik yang dihadiri oleh para penguasa bayangan, pejabat tinggi, dan pengusaha yang kekayaannya sanggup membeli sebuah pulau. Sesuai janji Leon, Ailen tidak perlu lagi berpura-pura menjadi Alexandra yang kaku. Namun, Leon tidak menyangka bahwa memberi kebebasan penuh pada Ailen di acara formal adalah sebuah keputusan yang akan ia sesali sekaligus ia banggakan selamanya.
Leon keluar dari mobil Rolls-Royce-nya dengan setelan tuksedo berwarna biru gelap yang sangat elegan. Namun, semua mata tertuju pada gadis di sampingnya. Ailen mengenakan gaun malam berwarna emas yang berkilau setiap kali terkena cahaya lampu kristal. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan bunga melati kecil yang memberikan aroma tradisional di tengah parfum mahal yang menyesakkan. Dan yang paling luar biasa—sesuai permintaan Ailen—ia mengenakan sandal jepit emas yang dibuat khusus oleh pengrajin perhiasan terbaik Leon. Sandal itu bertahtakan swarovski kecil di bagian talinya, membuatnya tampak mewah sekaligus konyol secara bersamaan.
"Mas Leon, ini kalau saya jalan bunyinya pletok-pletok nggak apa-apa ya? Takutnya dikira ada bebek masuk ke pesta," bisik Ailen sambil membetulkan posisi sandalnya.
"Ailen, kau tampak cantik. Abaikan suaranya. Ingat, kau adalah tunanganku. Siapa pun yang berani mengomentari sandalmu akan berurusan dengan laras senapan Marco di luar," jawab Leon sambil menawarkan lengannya dengan sangat sopan.
Begitu mereka masuk, musik waltz yang lembut mengalun. Pasangan-pasangan berdansa dengan gerakan yang sangat halus, seolah-olah mereka sedang melayang di atas lantai marmer. Leon membawa Ailen ke tengah lantai dansa.
"Mas, saya nggak bisa dansa kayak begini. Saya bisanya joget pargoy atau goyang ubur-ubur," Ailen mulai panik saat Leon meletakkan tangan di pinggangnya.
"Ikuti saja langkahku. Tatap mataku, jangan tatap kakimu," perintah Leon lembut.
Ailen mencoba. Awalnya, semuanya berjalan lancar. Leon memutar tubuh Ailen dengan sangat ahli. Namun, masalah muncul saat seorang pria bertubuh tambun, Baron Van Houtten—seorang pedagang berlian yang sombong—sengaja menyenggol bahu Leon saat mereka berpapasan di lantai dansa.
"Ah, Vancort. Aku tidak tahu kau sekarang membawa gadis desa dengan alas kaki kamar mandi ke acara sesakral ini," sindir Baron dengan suara yang cukup keras hingga beberapa pasangan berhenti berdansa.
Leon menegang. Matanya berkilat tajam, siap untuk memberikan balasan yang mematikan. Namun, sebelum Leon sempat bicara, Ailen sudah mengambil tindakan.
"Lho, Om Gendut! Ini bukan alas kaki kamar mandi, ini investasi masa depan!" seru Ailen sambil mengangkat satu kakinya ke udara, memamerkan sandal emasnya tepat di depan hidung Baron. "Ini emas murni lho, Om. Lebih berkilau dari kepala Om yang botak itu!"
Beberapa tamu menahan tawa. Baron merah padam. "Lancang sekali kau! Kau tahu siapa aku?!"
"Tahu kok! Om itu yang tadi di meja prasmanan ngambil rendang sampai lima potong tapi nggak bagi-bagi kan? Saya liat lho, Om nyembunyiin satu potong di balik serbet. Malu ih, udah kaya tapi masih nyolong rendang," lanjut Ailen tanpa ampun.
Baron Van Houtten merasa harga dirinya jatuh ke titik terendah. Ia memberi kode pada tiga pengawal pribadinya yang bertubuh raksasa untuk mendekat. "Usir gadis gila ini dari sini!"
Situasi berubah dalam sekejap. Musik waltz berhenti mendadak, digantikan oleh ketegangan yang mencekam. Leon menarik Ailen ke belakang punggungnya.
"Siapa pun yang menyentuh tunanganku, tidak akan keluar dari gedung ini dengan anggota tubuh yang lengkap," desis Leon, suaranya rendah namun penuh ancaman yang nyata.
Namun, pengawal Baron sudah telanjur emosi. Salah satu dari mereka mencoba mencengkeram tangan Ailen. Dengan refleks yang sudah terlatih dari sesi "Cacing Kepanasan", Ailen tidak tinggal diam. Ia melepas salah satu sandal emasnya dan menggunakannya sebagai senjata.
PLAKK!
Sandal emas itu mendarat tepat di pipi sang pengawal. Suaranya sangat nyaring, seolah-olah ada daging mentah yang dihantamkan ke papan kayu. Pengawal itu terhuyung, kaget karena dihantam benda yang sangat keras (karena sandal itu memang terbuat dari lempengan emas padat).
"HIYAT! JURUS SENDAL KERAMAT!" teriak Ailen.
Keributan pecah. Pengawal-pengawal Baron lainnya mulai menyerbu. Leon melepaskan pukulan beruntun yang menjatuhkan dua orang sekaligus. Namun, tamu-tamu lain yang merupakan sekutu Baron juga mulai ikut campur. Beberapa mafia dari keluarga saingan melihat ini sebagai kesempatan untuk menjatuhkan Leon.
Dalam hitungan detik, pesta dansa yang anggun itu berubah menjadi tawuran masal. Kursi-kursi diterbangkan, botol sampanye pecah di mana-mana, dan gaun-gaun mewah mulai robek terkena baku hantam.
Ailen tidak tinggal diam. Ia menaiki meja prasmanan panjang. Di sana, ia menemukan senjata pamungkasnya: nampan berisi sup asparagus yang masih panas dan semangkuk besar sambal matah.
"Mas Leon, nunduk!" teriak Ailen.
Ailen menyiramkan sup asparagus itu ke arah kerumunan pengawal yang sedang mengeroyok Marco (yang baru saja masuk ke ruangan). Saat mereka sibuk mengusap wajah yang terkena sup, Ailen melemparkan sambal matah tepat ke arah mata mereka.
"RASAKAN PEDASNYA KEADILAN!"
"AAARRGGHHH! MATAKU! PEDAS!" teriak para mafia itu.
Leon, di tengah kekacauan itu, justru merasa sangat terhibur. Ia melihat Ailen yang sekarang sedang memegang kaki kalkun raksasa dan menggunakannya untuk memukul kepala siapa pun yang mencoba mendekati meja prasmanan. Gerakan Ailen sangat tidak teratur, liar, dan benar-benar efektif. Ia melompat dari meja ke meja dengan daster... eh, gaun emasnya yang berkibar, sambil terus berteriak memberikan komando perang yang tidak jelas.
"SERANG BAGIAN KETIAKNYA, MAS MARCO! DIA BELUM PAKE DEODORAN!"
Tawuran itu berlangsung selama hampir lima belas menit. Ruangan yang tadinya indah kini tampak seperti kapal pecah. Pecahan piring berserakan di atas lantai marmer, meja-meja terbalik, dan banyak tamu elit yang kini pingsan dengan noda sup di baju mereka.
Leon berdiri di tengah ruangan, merapikan sedikit kerah tuksedonya yang hanya bergeser satu milimeter. Di sampingnya, Ailen berdiri dengan napas terengah-engah, masih memegang kaki kalkun di satu tangan dan sandal emas satunya di tangan lain. Rambutnya sudah benar-benar berantakan, melati-melatinya sudah rontok, namun matanya bersinar penuh kemenangan.
"Mas... kita menang?" tanya Ailen sambil menyeka keringat di keningnya.
Leon melihat ke sekeliling. Baron Van Houtten sudah pingsan karena terkena lemparan kue tart oleh Ailen di awal tawuran tadi. Musuh-musuh lainnya sudah tidak berdaya di lantai.
"Ya, Ailen. Kita menang telak," jawab Leon sambil tersenyum tipis.
Tiba-tiba, pintu besar ballroom terbuka kembali. Pasukan polisi elit masuk ke dalam ruangan karena mendapat laporan kerusuhan. Namun, Leon tetap tenang. Ia adalah orang yang membiayai sebagian besar kampanye kepala polisi di kota ini.
"Tuan Vancort! Apa yang terjadi di sini?" tanya komisaris polisi yang baru masuk, matanya terbelalak melihat kehancuran di depannya.
Leon merangkul pundak Ailen yang masih membawa kaki kalkun. "Hanya sedikit perbedaan pendapat mengenai menu makan malam, Komisaris. Baron Van Houtten tampaknya terlalu bersemangat saat mencoba sup asparagusnya hingga ia terpeleset dan menghancurkan meja."
Ailen mengangguk cepat. "Iya Pak Polisi! Licin banget lantainya, mungkin pelayan di sini kebanyakan pake sabun colek."
Komisaris itu menatap Baron yang wajahnya penuh dengan krim kue tart, lalu menatap Leon. Ia tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia lebih memilih untuk menutup mata. "Baiklah... sepertinya ini murni kecelakaan. Silakan Anda pulang terlebih dahulu, Tuan Vancort. Kami yang akan membereskan sisa... menu makan malam ini."
Di luar gedung, udara malam terasa sangat segar. Leon membawa Ailen menuju mobil. Marco mengikuti di belakang dengan wajah yang penuh lebam namun tetap terlihat bangga.
"Mas Leon... maaf ya," ucap Ailen pelan saat mereka sudah duduk di kursi belakang mobil yang nyaman. "Pesta dansanya jadi berantakan gara-gara saya. Gaunnya juga robek dikit di bagian bawah."
Leon menatap Ailen. Ia mengambil sandal emas Ailen yang masih digenggam gadis itu, lalu ia sendiri yang memasangkannya kembali ke kaki Ailen yang kotor karena debu lantai.
"Jangan minta maaf. Malam ini adalah malam paling menghibur yang pernah aku alami dalam sepuluh tahun terakhir," kata Leon tulus. "Melihatmu memukul kepala pengawal Baron dengan kaki kalkun adalah mahakarya seni yang jauh lebih indah daripada dansa waltz mana pun."
Ailen tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya di bahu Leon. "Tapi sandal saya jadi lecet, Mas. Emasnya ada yang bopeng."
"Besok aku buatkan yang baru. Dan kita akan memesan kaki kalkun yang lebih besar untuk berjaga-jaga," canda Leon.
Ailen tertawa renyah. "Mas Leon udah mulai pinter bercanda ya. Fix, Mas udah ketularan virus semprul saya."
Mobil melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai sepi. Di dalam keheningan malam itu, Leon menyadari satu hal. Dunia bawah tanah mungkin akan selalu penuh dengan tawuran dan kekerasan, tapi selama ia memiliki Ailen yang siap menyerang musuh dengan sandal emas dan sambal matah, ia tidak perlu takut pada apa pun.
"Ailen?"
"Ya, Mas?"
"Lain kali, jika ada tawuran lagi... pastikan kau tidak membuang sambal matahnya semua. Aku ingin mencicipinya sedikit untuk nasi goreng kita nanti."
"Siap, Bos! Nanti saya simpen satu toples di balik gaun!"
Dan di bawah naungan bintang-bintang, sang Iblis Mafia dan Gadis Semprul itu tertawa bersama, merayakan sebuah malam di mana kehancuran terasa jauh lebih manis daripada kesempurnaan.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍