Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
“Inara!”
Seketika Inara dan yang lainnya menoleh ke arah sumber suara. Reno berdiri tak jauh dari meja mereka dengan wajah merah padam, tatapannya penuh emosi seperti baru saja memergoki sesuatu yang sangat tidak ingin ia lihat.
Tanpa menunggu siapa pun bicara, langkah panjang Reno langsung menghampiri mereka hingga berhenti tepat di depan Inara.
“Jadi ini yang kamu lakukan setelah satu minggu gak ada kabar?” ucapnya dengan nada tinggi tanpa berusaha meredam amarahnya sedikit pun.
Alis Inara langsung mengerut bingung. “Apa maksud kamu, Mas?”
“Apa kamu mau terus bersikap polos dan pura-pura gak ngerti?” Reno balas bertanya tajam. Tatapannya sempat melirik Altaf dan Baba, tetapi hanya sekilas sebelum kembali fokus pada Inara.
Barulah Inara memahami arah tuduhan Reno. Ia menarik napas pelan, berniat menjelaskan semuanya baik-baik. Namun Reno kembali memotong sebelum ia sempat membuka suara.
“Kalau memang udah bosan sama hubungan ini, bilang aja langsung.”
Kalimat itu membuat Inara perlahan berdiri dari kursinya.
“Aku bosan?” ulangnya pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Kamu yakin lagi ngomong sama aku?”
Reno tertawa pendek tanpa humor. “Inara, aku tahu selama ini kamu cuma main-main sama aku dan Zidan,” ucapnya penuh tuduhan. “Empat tahun hubungan ini cuma jadi batu loncatan buat kamu, kan?”
Dada Inara langsung terasa sesak. Tuduhan itu terlalu menusuk sampai beberapa detik ia bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Batu loncatan? Untuk apa?
Selama ini ia bertahan mati-matian demi hubungan mereka, bahkan terus mencoba menerima semua luka yang Reno berikan hanya karena ia masih percaya mereka bisa jadi keluarga yang utuh.
“Aku pikir satu minggu ini kamu bakal introspeksi diri,” lanjut Reno lagi, “tapi ternyata malah cari laki-laki baru.”
Mendengar itu, Inara justru tertawa hambar. Ia merasa lucu sekali dengan tuduhan itu.
Satu minggu terakhir ia hampir hancur sendirian, merasa bersalah atas sesuatu yang bahkan belum tentu ia lakukan. Ia masih berharap Reno atau Zidan datang mencarinya, meminta ia pulang tanpa harus terus menjadi pihak yang mengalah. Tapi sekarang, setelah akhirnya bertemu lagi, tuduhan pertama yang ia dapat justru seperti ini.
“Semua gak seperti yang kamu pikirin,” ucap Inara pelan sambil menahan emosinya.
“Alasan klasik,” sahut Reno cepat.
Tatapan Inara perlahan berubah lelah. “Terserah kamu aja, Mas,” katanya pada akhirnya. “Karena selama ini kamu juga gak pernah benar-benar mau dengerin aku.”
Nada suaranya tidak tinggi ataupun marah. Justru terlalu tenang sampai membuat Reno sedikit tersentak.
Entah kenapa, sikap Inara yang kali ini memilih diam jauh lebih membuatnya gelisah dibanding saat wanita itu menangis atau membela diri seperti biasanya. Ada rasa takut yang tiba-tiba muncul di dalam hati Reno. Karena orang bilang, saat seorang perempuan sudah berhenti menjelaskan dan memilih mengatakan terserah, itu artinya ia mulai lelah.
“Hanya itu yang mau kamu bilang?” tanya Reno lagi, kali ini nadanya sedikit melemah tanpa ia sadari.
Sedangkan di sisi lain, Altaf dan Baba yang sejak tadi hanya menjadi penonton akhirnya saling berpandangan.
Baba bahkan sampai mengernyit bingung melihat Reno yang terus memojokkan Inara.
“Om,” celetuknya polos, “kalau perempuan udah bilang terserah itu tandanya udah sedih banget. Masa Om gak ngerti?”
Ucapan itu langsung membuat Reno menoleh tajam ke arah Baba. “Kamu anak kecil bisa diam gak?”
Baba langsung mendengus kecil, tetapi sebelum ia sempat membalas, Altaf lebih dulu membuka suara.
“Anda perlu marah sama anak kecil?” tanyanya tenang, tetapi sorot matanya tajam.
Seketika Reno baru benar-benar memperhatikan lelaki yang sejak tadi duduk sambil menatapnya dengan tenang. Rahangnya langsung mengeras pelan, ia mengenal pria tersebut, Altaf Darmawan.
Dulu mereka sempat bersekolah di tempat yang sama sejak SMP dan dikenal sebagai dua orang yang selalu bersaing. Bukan hanya soal prestasi, tetapi juga popularitas. Ke mana pun mereka pergi, nama keduanya hampir selalu dibanding-bandingkan.
Dan sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu di usia yang sama-sama menginjak tiga puluh tahun, Reno tidak menyangka akan kembali bertemu dengannya dalam situasi seperti ini.
“Altaf?”
Altaf menyandarkan tubuhnya santai lalu menarik tipis sudut bibirnya. “Syukur kalau masih ingat,” ucapnya datar. “Jadi mungkin kamu juga bisa berhenti bikin keributan. Banyak orang lihat.”
Reno akhirnya membuang napas kasar. Ia tidak berniat meladeni Altaf lebih jauh. Fokusnya kembali tertuju pada Inara yang berdiri di hadapannya.
"Jadi kamu kenal sama dia?" tanyanya dengan rahang mengeras. "Dan ini alasan kamu?"
Kening Inara langsung berkerut. "Mas, aku makin gak paham sama apa yang kamu tuduhkan." Suaranya mulai terdengar lelah. "Aku dan Pak Altaf gak seperti yang kamu pikirkan."
Reno tertawa pendek tanpa humor. "Apa aku harus percaya begitu aja?"
Inara menatap Reno beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan. "Terserah, Mas. Selama ini kamu juga gak pernah benar-benar percaya sama aku lagi." Ia tersenyum hambar. "Apa kamu gak capek?"
Kalimat itu membuat Reno langsung menatap Inara tajam.
"Jadi benar?" tanyanya pelan namun penuh tekanan. "Kamu udah gak mau memperjuangkan hubungan ini? Kita tinggal beberapa minggu lagi buat nikah, Inara."
"Mas," sahut Inara lirih, "hubungan itu dijalanin dua orang, bukan satu orang doang." Matanya mulai memanas. "Kalau cuma satu orang yang terus berjuang, buat apa?"
Reno langsung menggeleng pelan. "Kamu ngomong kayak gini seolah-olah aku yang gak mau lanjutin hubungan kita."
"Bukankah memang begitu?" balas Inara tanpa lagi menahan diri.
"Inara, bisa gak kamu—"
"Cukup, Mas."
Untuk pertama kalinya, Inara memotong ucapan Reno tanpa ragu. Dadanya terasa sesak. Selama satu minggu ini ia terus memendam semuanya sendiri sampai rasanya hampir gila. Dan sekarang, setelah akhirnya bertemu lagi dengan Reno, yang ia dapat justru tuduhan tanpa jeda.
Inara lelah. Ia benar-benar lelah.
"Apa kamu pernah ada di pihakku?" tanya Inara dengan suara bergetar. "Selama ini kamu selalu bela mantan istrimu."
Reno langsung mengernyit. "Jangan mulai lagi soal Zoya."
"Tapi memang itu kenyataannya!" balas Inara spontan. "Saat Zoya sedih, saat dia merasa tertekan, saat dia nangis, kamu selalu ada di sisinya. Tapi aku?" Inara tertawa hambar sambil menunjuk dirinya sendiri. "Aku selalu jadi orang yang disalahkan."
Suasana di sekitar meja mulai terasa menegang.