Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue keluar
Pamungkas mendobrak pintu markas geng Cobra dengan keras. Semua anak buahnya menatap waspada kearah sng ketua yang datang penuh dengan amarah.
" Di mana Gama ?" Serunya dengan suara menggelegar.
" Dia di belakang Kas, tolong kendalikan emosimu. Gue nggak mau persahabatan kita hancur karena masalah yang sebenarnya sumbernya dari loe sendiri " Robert mencoba meredakan amarah Pamungkas.
" Gue bukan orang gila yang bertindak semena-mena " Robert menghela nafas.
Tanpa menunggu lama Pamungkas menuju area belakang markas. Tempat di mana hanya inti dari Cobra saja yang biasanya di ijinkan masuk.
" Brukkk..!" Semua terjingkat. Pamungkas meluapkan amarahnya dengan menendang meja yang ada di hadapan Gama.
" Tenang Kas. Kita bisa selesain kekacauan ini. Jangan pakai emosi " William mendekat dan merangkulkan tangannya di bahu Pamungkas.
" Dia adik brengsek. Loe semua tau itu. Setidaknya kalian ijin gue dulu kalau mau mengusiknya."
" Bukankah selama ini loe fine-fine aja kita mengusiknya, bahkan loe suka kalau kita membuat hidupnya tidak tenang " Gama terlihat tidak mau di salahkan.
" Gam.. Please !" Robert menatap Gama, seolah memberi isyarat agar tak memperkeruh suasana.
" Apa gue salah, dia bahkan pernah minta gue buat mencoba melecehkan Queen lalu sekarang dia sok-sokan ngebelain adik tirinya itu. Dan nyalahin gue karena sudah mengusik adiknya cuma gara-gara dia dalam perlindungan the king. Mlempem amat nyali lho " Hampir saja satu bogem mentah mendarat di muka Gama. Beruntung William sigap.
" Gam.. Loe baru balik. Dan loe nggak tau apa yang terjadi selama dua tahun lebih loe tinggalin kita semua. Gue maklum kalau masih bersikap begitu ke Queen. Yang gue nggak maklum adalah kelancangan loe, loe ingat prinsip kita sedari awal kan dan itu prinsip loe yang buat. Apa-apa harus satu komando dari leader kita. Gue tanya sama loe, apa tadi Pamungkas minta loe lakuin itu ?" Gama terdiam.
" Dan kalian " Willian menunjuk empat rekan mereka yang duduk bersama Gama.
" Kalian sudah tau faktanya tapi, kenapa kalian milih diam saat Gama mengusik Queen ?"
" Harusnya kalian bisa memberi tau Gama." Empat orang itu terdiam.
" Loe belum tau kenapa gue berubah kan ?"
" Dan loe mau tau kenapa gue jadi mlempem begini ?" Imbuh Pamungkas sembari menepuk pipi Gama pelan.
" Buka telinga loe lebar-lebar "
" Jika Sheeva bilang kalian sudah salah membully orang itu memang benar. Gue selama ini keliru. Terlalu percaya omongan nyokap gue. Bukan mama Maharani yang sudah merebut bokap gue. Faktanya nyokap gue yang udah merebut bokap dari mama Maharani."
" Nyokap gue adalah perempuan paling menjijikan di dunia ini. Dia tau bokap gue punya istri tapi, dia rela menjebak bokap gue demi bisa menjadi istri bokap gue. Bahkan dia rela mengumbar..." pamungkas tertunduk. Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Willian sigap mengusap bahu Pamungkas. Dia paling tau betapa hancurnya Pamungkas waktu pertama kali mengetahui Fakta ini . William juga yang menyarankan agar Pamungkas pindah ke Harapan Bangsa agar bisa lebih dekat dengan Sheeva.
" Bertahun-tahun gue nyakitin adik gue sendiri. Gue berasa abang paling bodoh. Gue diam aja melihat dia di hina, di singkirkan, bahkan di rampas apa yang menjadi hak nya " Suara Pamungkas bergetar.
" Dia sendirian, kesepian bahkan ketakutan. Tapi gue sebagai abangnya acuh. Gue menutup mata sama penderitaannya." Tanpa di sadari air mata Pamungkas luruh.
" Loe tau kenapa gue milih keluar rumah ?" Gama mengeleng.
" Gue malu.."
" Rumah dan seluruh harta yang gue dan keluarga gue nikmati itu milik Sheeva. Hasil kerja keras mama Maharani yang di rampas oleh nyokap gue "
" Gue sampai sekarang jujur masih tidak punya muka di hadapan Sheeva. Gue masuk harapan bangsa karena gue ingin dekat sama adik gue, meskipun gue tau ini sudah sangat terlambat dan belum tentu Sheeva mau menerima gue sebagai abangnya "
" Jadi kalau loe masih nganggep gue mlempem dan tidak setangguh dulu lagi, fine. Gue siap mundur sebagai leader kalian "
" Kas jangan aneh-aneh loe " William tak suka dengan niatan Pamungkas.
" Gue emang udah lama ngerasa nggak pantes mimpin kalian. Gue juga udah lama ngerasa sebagian dari kalian sudah tidak suka gue ada di posisi sekarang ini."
" Nggak ada yang gitu Kas. Kita masih nyaman sama kepemimpinan loe " Giliran Robert yang berbicara.
" Apa loe yakin mereka masih begitu ?" Pamungkas menatap 4 orang anggotanya yang ada di belakang Gama.
" Gue seolah harimau yang kehilangan taringnya. Posisi gue memang leader tapi, kalian bertindak sudah di luar kendali gue. Suka ambil keputusan tanpa bertanya sama gue. Bukan hanya masalah Sheeva hari ini. Kalian berkali-kali menerima tantangan balapan tanpa konfirmasi sama gue. Dan ujungnya selalu membahayakan anak Cobra yang lain. Gue mundur karena gue merasa sudah tidak memimpin kalian dengan baik. Silahkan kalian cari penganti gue yang kalian rasa pantas."
" Kas loe jangan aneh aneh deh. Gue tau loe kecewa tapi, jangan ambil keputusan gegabah begini dong " Ucap William.
" Sudah sejak lama gue mikir ini Wil. Gue merasa Cobra sudah bukan lagi rumah yang bisa benar-benar gue singgahi dengan nyaman."
" Sorry gue nggak lagi bisa sama kalian "
" Kas apaan sih loe " Rio yang sedari tadi diam angkat bicara.
" Loe ingat kan Cobra ini kita bangun bersama. Kita jaga sudah hampir 5 tahun ini. Sekarang loe mau ninggalin kita begitu saja. "
" Nggak bisa gitu Kas, apa artinya Cobra tanpa loe."
" Kan masih banyak yang jauh lebih potensial memimpin kalian ketimbang gue"
" Udah..nggak ada cerita cobra ganti leader. Loe tetap leader kita. " Ucap Robert.
" Sorry Bert gue tetap akan mundur "
" Gue pamit. Sampaikan ke yang lain gue mundur dari Cobra "
" Kas udah gila loe ya " William masih berusaha menahan Pamungkas.
" Biarin aja, emang dia udah nggak layak jadi leader kita kok " Ucap Gama dengan pongahnya.
" Diem bisa nggak loe Gam !" Hampir saja Robert menghantam Gama dengan kursi plastik yang dia duduki. Untuk di tahan Pamungkas.
" Jangan berantem karena gue. Tolong jaga Cobra tetap solid. Benar kata Gama, gue nggak layak menjadi pemimpin kalian."
Pamungkas memilih keluar dari markas utama Cobra. Dia tatap sekali tempat yang dia beli dari hasil menang balap motor itu.
Keputusannya sudah bulat, dia keluar dari Cobra. Namun dia tidak mengambil kembali tempat yang kini menjadi markas bagi gang motor bentukannya itu.
" Pamungkas keluar itu " Ucap Rama yang sedang memantau bersama antoni dan Faris.
" Lusuh amat ya mukanya."
" Ehg buset ada apa itu ?" Ucap Faris yang melihat anak-anak Cobra keluar dan mengerubungi Pamungkas.
" Kita pantau saja. Ingat pesan Kai, kita baru boleh bergerak sekiranya kondisinya tidak aman buat Pamungkas.
" Egh..bujuk, kenapa pada Nangis itu ?"
" Kayaknya Pamungkas mundur dari Cobra deh " Ucap Antoni.
" Pusing kali dia, sejak Gama balik makin banyak aja masalah sama Gang lain. "
" Yang gue dengar juga gitu sih, bahkan ada anak Cobra yang masih koma lho di rumah sakit. Gara-gara di keroyok sama anak motor lain yang temannya di di bikin bonyok sama Gama "
" Udah bagus itu manusia ngilang, malah balik lagi "
" KIta balik ke markas Ris. Kayaknya aman kalau pamungkas kita tinggalin."
" Ya udah hayo. Egh ini ada chat dari bos Kay katanya kita di suruh ke tempat nyonya bos, bantu selesaiin packing barang "
" Ya udah langsung ke sana aja "
terlalu berat beban hidup sheeva..