NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:418
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

​Awalnya, kisah ini adalah tentang janji dua hati untuk membangun masa depan yang indah bersama. Namun takdir berputar kejam ketika rahasia dan ambisi besar keluarga mulai terungkap. Kini, perjuangan mereka berubah arah. Di persimpangan jalan yang perih, Brant dan Luca dipaksa mempertaruhkan perasaan dan kisah cinta mereka demi melindungi keluarga masing-masing. Ketika kesetiaan diuji, akankah cinta mereka bertahan, atau justru menjadi korban yang paling tragis?



#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Siap tidak siap, Luca harus melangkah masuk ke dalam babak baru kehidupannya. Sisi manja yang biasanya mendominasi dirinya perlahan terkikis, kini dipaksa luruh oleh karna keadaan. Tidak ada lagi ruang untuk merengek atau bersikap rewel, karena sosok kekasih yang paling memahaminya, sosok tempatnya bersandar—Kak Brant—kini telah pergi dari jangkauan. Luca tahu ia harus kuat, meskipun hatinya hancur lebur tanpa kehadirannya lagi.

Hari ini, kekuatan itu benar- benar diuji. Sejak bangun tidur, kepala Luca terasa pening. Suhu tubuhnya naik drastis. Namun luca sengaja menyembunyikan kondisinya.

​Cekrek! Cekrek!

​"Oke, perfect! Sesi terakhir selesai!" seru fotografer utama dari balik kameranya. "Terima kasih semuanya, kerja bagus hari ini!"

​Luca menurunkan posisinya dari atas set panggung mini. Begitu lampu kilat studio dimatikan, senyum manis dan ceria yang sejak pagi dipajangnya di depan kamera langsung memudar seketika, menyisakan gurat kelelahan dan rona merah samar di pipinya akibat demam.

​"Makasih ya, Kak. Makasih semuanya," ucap Luca santai sembari membungkuk sopan kepada para kru dan tim kreatif yang langsung sibuk merapikan peralatan.

​Citra, yang sejak awal setia menemani di sudut studio, langsung melangkah mendekat sambil menyodorkan sebotol air mineral. Tak sengaja ia menyentuh tangan Luca ." Astaga, Luca! Tangamu panas banget. Kamu sakit, ca?

Luca hanya tersenyum tipis, mencoba untuk bersikap biasa saja. Cuma demam kak. sudah minum obat juga tadi. Aku nggak apa-apa."

Citra menatapnya dengan cemas. "Kamu selalu melakukan yang terbaik. Profesionalisme kamu hari ini patut diacungi jempol."

"Makasih, Kak Citra. Pujian Kakak bikin aku lebih semangat."

​"Oh ya, setelah ini mau langsung pulang ke rumah, Ca? Biar di anterin," tawar Citra sembari melirik jam tangannya.

​"Nggak usah, Kak. Aku mau pesan mobil online aja. Ada keperluan mau ketemu teman dulu sebentar," tolak Luca halus. Ia terpaksa berbohong karena saat ini ia hanya ingin menyendiri, tanpa interupsi dari siapa pun yang mengenalnya.

​"Oh, begitu? Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Jangan pulang terlalu larut," pesan Citra mengingatkan, yang langsung diangguki patuh oleh Luca.

Mobil pesanan Luca membelah jalanan kota, mengantarnya menuju sebuah tempat yang tidak terlalu sunyi, namun juga tidak terlalu ramai. Luca turun di gerbang sebuah kawasan yang pernah mengukir memori paling indah dalam hidupnya: kampus mereka.

​Langkah kakinya membawa Luca berjalan menyusuri koridor hingga berhenti di tepi lapangan basket. Tubuhnya yang demam di paksa berjalan. Di sana, beberapa mahasiswa masih tampak asyik bermain, sementara yang lain hanya duduk santai di undakan tribun semen sembari mengobrol ringan.

​Luca mengambil tempat duduk di sudut tribun yang agak temaram—tempat biasa. Tempat di mana ia pertama kali memperhatikan Brant, tempat di mana ia sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu pria itu selesai latihan, dan tempat di mana mereka pernah nekat datang larut malam hanya untuk menghabiskan waktu berdua.

​Malam semakin beranjak gelap. Di atas sana, pekatnya langit menyembunyikan bulan dan bintang, menyisakan embusan angin dingin yang menusuk kulit. Angin malam itu seolah membawa kembali seluruh runtunan kenangan manis ke dalam benak Luca, berputar bak rol film yang merobek pertahanan hatinya.

​Pertahanannya runtuh. Luca tidak bisa lagi mengabaikan rasa rindu yang teramat pekat pada Brant. Setetes demi setetes, air matanya jatuh tanpa bisa dibendung, membasahi pipinya.

​"Sebenarnya... aku tidak sekuat itu, Kak," bisik Luca lirih pada angin malam, suaranya bergetar menahan sesak di dada.

​Perlahan, atmosfer di sekitar lapangan mulai sunyi. Satu per satu mahasiswa yang bermain basket telah membubarkan diri dan pulang. Luca tersentak kecil, menyadari dirinya telah terbawa terlalu jauh oleh arus kenangan masa lalu. Ia segera beranjak dari tribun, menghapus sisa air mata di pipinya.

​Meski hatinya masih enggan meninggalkan tempat penuh memori itu, malam dingin memaksa Luca untuk melangkah ke luar dari area kampus.

​Luca berjalan perlahan menyusuri trotoar hingga langkahnya terhenti di depan sebuah kedai boba langganannya yang masih buka. Ia memesan satu cup large boba dengan full topping—menu favorit yang selalu dibelikan Brant untuk membujuknya setiap kali ia merajuk.

​Luca menerima pesanan itu, menyedotnya perlahan sembari melanjutkan langkah kaki. Ia merasa sangat senang saat meminumnya, bukan karena kelezatan rasa boba tersebut, melainkan karena setiap sesapan itu membangkitkan kembali kehangatan kenangan tentang Brant di sisinya. Hangatnya kenangan itu terasa kontras dengan tubuhnya yang menggigil akibat demam.Setidaknya cukup menjadi penawar sementara bagi hatinya yang sedang sekarat, sebelum ia kembali ke rumah dan menghadapi realitas esok hari.

Di belahan bumi lain, atmosfer di ruang kerja utama kantor pusat London terasa begitu mencekam. Amarah Brant berada di titik didih tertinggi setelah menerima telepon dari ibunya pagi ini. Nyonya Sofia mengabarkan bahwa Tuan Lodrik telah pergi dari rumah mereka di London, memilih kembali ke Indonesia. Kenyataan itu membuat batin Brant kian bergejolak gelap.

​Brak!

​Brant menghempaskan dokumen di tangannya ke atas meja marmer, menatap tajam ke arah Leo dan seorang pria paruh baya berkacamata yang duduk di hadapannya. Pria itu adalah Mr. Robert, kepala penasihat hukum senior Willey Group pusat London.

​"Apa maksudnya tidak bisa?" desis Brant, suaranya rendah namun sarat akan ancaman berbahaya. "Gue adalah pewaris sah di sini. Kenapa memutus kontrak kerja sama dengan satu Brand Ambassador saja harus serumit ini?"

​Mr. Robert menghela napas pelan, membenarkan letak kacamata bingkai tebalnya sebelum menjawab dengan tenang dan profesional. "Secara hukum korporasi, kita tidak bisa membatalkan kontrak itu begitu saja secara sepihak, Sir. Kontrak promosi dengan bintang produk di Indonesia itu dilindungi oleh klausul penalti yang sangat kuat. Jika kita memutuskannya tanpa alasan pembenaran hukum yang sah, Willey Group justru bisa dituntut balik atas pencemaran nama baik dan wanprestasi. Hal itu justru akan membuat saham kita semakin merosot karena sentimen negatif pasar."

​Brant mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. "Gue nggak peduli. Lini bisnis kosmetik itu harus lumpuh minggu ini juga."

​Leo yang sejak tadi menyimak jalannya diskusi, mencoba mengajukan alternatif lain dengan sangat hati-hati. "Brant... sebenarnya kita punya jalan lain yang lebih aman. Kita bisa fokus pada pemutusan jalur pasokan bahan baku dari vendor utama di Eropa. Tanpa bahan baku, produksi kosmetik itu akan terhenti dengan sendirinya tanpa harus menyentuh atau mengusik pihak Brand Ambassador. Itu jauh lebih aman secara hukum."

​Namun, batin Brant yang sudah telanjur dikuasai amarah menolak opsi tersebut. Di matanya, mematikan ikon utama produk adalah cara tercepat dan paling mematikan untuk menjatuhkan mental lawan. "Kelamaan, Leo. Kalau cuma pasokan bahan baku, papa gue bisa dengan mudah mencari vendor lokal lain di Asia menggunakan sisa dana modalnya."

​Brant mengalihkan pandangan tajamnya kembali pada Mr. Robert. "Gunakan cara lain. Sistem apa pun di perusahaan ini, pasti punya celah. Temukan celah hukum untuk menjatuhkan kontrak itu tanpa membuat pusat terlihat bersalah."

​Mr. Robert terdiam beberapa saat, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja sebelum sebuah senyum tipis profesional terbit di wajah seniornya.

​"Jika Anda bersikeras, Sir... ada satu taktik sistem internal yang bisa kita gunakan secara legal," ujar Mr. Robert formal. "Kita bisa memerintahkan tim audit pusat untuk meninjau ulang (compliance review) terhadap berkas kontrak baru yang ditandatangani. Alasan profesionalnya jelas: ada indikasi kuat ketidaksesuaian prosedur administratif dan pembengkakan anggaran bonus royalti tembus target yang diatur secara sepihak oleh Tuan Lodrik dan Junior, tanpa adanya persetujuan tertulis dari dewan direksi kantor pusat London."

​Mendengar itu, kilat dingin langsung terpancar di sepasang mata Brant. "Lalu, apa dampaknya?"

​"Secara sistem hukum, selama proses audit investigasi ini berjalan, kantor pusat memiliki hak mutlak untuk membekukan seluruh anggaran pemasaran, menangguhkan kegiatan promosi sang Brand Ambassador, dan yang paling fatal... kita berhak melakukan kebijakan Clawback," jelas Mr. Robert gamblang. "Artinya, kita bisa menuntut pengembalian dana penuh atas seluruh uang DP dan bonus yang sudah terlanjur ditransfer ke rekening agensi bintang tersebut, di situ karena dana itu dinilai tidak sah secara hukum. "

"Apakah kita hanya akan mendapatkan pengembalian dana itu?" Tanya Brant

"Tentunya Ini akan menjadi masalah besar, sir. Sang bintang pasti akan kecewa dan memilih untuk mundur. Dan dampak untuk penjualan produknya akan turun drastis. Karna selama ini bintang dari brand produk itulah, kunci keuntungan terbesar dari Junior," jelas Mr. Robert

​Leo seketika menegang di kursinya. Pikirannya mendadak melayang memikirkan nasib sang bintang, yang tidak tahu apa-apa namun harus menjadi korban dari perang berdarah ini. Leo menatap Brant, berharap bos mudanya itu akan berpikir ulang.

Namun, ​Brant justru menyandarkan punggungnya ke kursi dengan senyum kepuasan yang dingin. Sisi egois dan amarahnya telah menang sepenuhnya.

​"Sempurna," ucap Brant kejam, tanpa keraguan sedikit pun. "Tarik kembali semua uang itu. Kirim surat tuntutannya sore ini juga ke manajemen di Indonesia. Berikan mereka waktu yang singkat untuk mengembalikan uangnya, atau seret agensi dan bintang itu ke jalur hukum atas tuduhan penggelapan dana korporasi. Biarkan mereka hancur bersama Junior."

Malam ini, atmosfer hangat menyelimuti The Rake, sebuah bar bir lokal yang tersembunyi di area Borough Market, London. Alunan musik jaz yang mengalir santai beradu dengan riuh rendah pengunjung, sangat kontras dengan hawa dingin yang menusuk di luar sana.

​Di salah satu sudut meja kayu yang temaram, Brant duduk berhadapan dengan Leo. Dua gelas bir berbusa tebal tersaji di depan mereka.

Leo masih setengah tidak percaya bosnya sengaja membawanya ke sini setelah tidak sengaja mendengar kejutan ulang tahun kecil-kecilan dari rekan kerja di kantor tadi pagi.

​"Brant, jujur... saya benar-benar tidak menyangka Anda akan mengajak saya ke tempat seperti ini," ucap Leo, tersenyum sungkan dengan mata yang memancarkan rasa haru. "Terima kasih banyak."

​Brant menyesap birnya pelan, lalu menatap asisten pribadinya dengan sorot mata yang jauh lebih lunak dari biasanya. "Gue yang harusnya bilang terima kasih, Leo. Selama setahun terakhir yang kacau ini, lu orang sudah setia berdiri di belakang gue. Loyalitas lu di perusahaan... gue sangat menghargainya."

​Leo sempat tertegun. Kalimat yang keluar dari bibir Brant terdengar dingin khas karakternya, namun getaran ketulusan di dalamnya begitu nyata. "Sudah kewajiban saya, Brant. Saya juga merasa sangat nyaman bekerja mendampingi Anda selama ini."

​"Gue sadar," Brant menyandarkan punggungnya, menatap lekat sepasang mata Leo. "Lu bahkan sekarang jadi orang yang paling banyak tahu tentang hidup gue. Tempat gue menumpahkan semua kekacauan ini. Jujur, di situasi yang penuh duri kayak sekarang... gue bener-bener butuh lu."

​Mendengar penuturan itu, jantung Leo tiba-tiba berdegup dengan ritme yang tidak biasa. Tatapan Brant malam ini terasa begitu mengunci dan dalam. Ada sebuah kenyamanan aneh yang mendadak menyusup di antara mereka—sebuah rasa hangat yang terasa begitu intim namun membingungkan. Leo buru-buru mengalihkan pandangannya ke gelas bir, mencoba mengusir debaran misterius yang tidak bisa ia definisikan itu.

​Brant berdeham ringan, memecah kecanggungan instan itu sembari kembali ke mode profesional. "Bagaimana perkembangan di Indonesia?"

​Leo berdeham, mencoba menstabilkan suaranya. "Semuanya sesuai rencana, Brant. Surat tuntutan pembekuan rekening operasional agensi dan kebijakan Clawback sudah resmi diterima oleh manajemen di sana. Mereka tidak punya celah hukum. Sekarang kita tinggal menunggu kabar pengembalian dana itu."

​Brant mendengus puas, tersenyum dingin. "Bagus. Biar mereka tahu taruhannya kalau berani bermain-main dengan aset keluarga gue." Pria itu mengangkat gelas birnya, mengajak Leo berdenting, merayakan kemenangan manis yang ia kira telah menyelamatkan martabat ibunya.

Sementara itu, Luca baru saja terduduk lemas di lantai kamarnya, ia dihantam dua badai besar sekaligus di hari yang sama.

​Luca baru saja selesai berbicara dengan Citra yang sedang panik lewat panggilan telepon. Di tangan kanannya, ponsel kembali bergetar hebat menampilkan pesan Citra. Surat tuntutan hukum dari Willey Group London resmi masuk, membekukan finansial mereka. Luca dituduh menerima dana ilegal dan diancam penjara jika tidak mengembalikan seluruh uang DP dalam waktu singkat.

​Namun, air mata Luca malam ini bukan karena ancaman itu.

​Pandangannya terpaku pada selembar kertas di tangan kirinya yang gemetar hebat—surat medis dari laci meja rias yang tak sengaja ia temukan. Di sana, tertera nama Ibu Lana dengan vonis kejam: Kanker Serviks Stadium Akhir.

​Dada Luca terasa sesak luar biasa. Kebohongan ibunya tentang pengobatan sakitnya selama ini ternyata adalah perjuangan untuk mengobati penyakit yang parah.

​Sambil meremas kertas medis itu di dadanya, Luca meringkuk dan terisak hebat dalam sunyi. Ia kehilangan Kak Brant, pekerjaannya sedang terancam, dan kini di ambang kehilangan ibunya. Luca meratapi takdirnya yang mendadak berubah menjadi neraka—tanpa pernah tahu bahwa sosok yang menandatangani perintah kehancuran finansialnya adalah pria yang masih, dan paling ia cintai di London.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!