JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Aroma kopi hitam dan wangi kardus-kardus logistik baru memenuhi udara di dalam ruko jastip berlantai dua milik Haura pagi itu. Sinar matahari pukul sepuluh menyelinap masuk melalui pintu kaca depan, menerangi area lobi yang biasanya sibuk dengan aktivitas pengepakan barang. Namun, pagi ini suasana ruko terasa sedikit berbeda. Ada gaung tawa renyah yang berulang kali terdengar dari arah meja kerja utama di sudut ruangan.
Haura duduk di kursi kerjanya, melemparkan pulpen di tangannya sambil menyandarkan punggung dengan ekspresi wajah yang tampak jauh lebih lepas dan rileks dibandingkan malam sebelumnya. Di hadapannya, duduk seorang pria bertubuh tegap dengan setelan kemeja kasual yang rapi. Di samping pria itu, ada Emilia—sahabat sekaligus manajer operasional jastip Haura—yang juga ikut tertawa lebar sampai memegangi perutnya.
Pria itu adalah Arjuna, teman lama mereka berdua sejak zaman putih abu-abu di SMA.
"Gila, Jun! Kamu nggak berubah ya dari dulu, masih aja suka ngingat kejadian memalukan itu!" seru Haura di sela tawanya, matanya menyipit jenaka menatap Arjuna. rona merah alami di pipinya membuat sisa-sisa pucat akibat sakit lambung semalam hilang tak berbekas.
Arjuna terkekeh, membenarkan posisi jam tangannya sebelum menatap Haura dengan pandangan hangat yang sarat akan kenangan masa lalu. "Ya lagian gimana nggak diingat, Ra? Zaman SMA dulu kan kamu itu terkenal sebagai cewek paling jaim se-angkatan. Tapi gara-gara dihukum keliling lapangan karena telat, high heels KW yang kamu pakai diam-diam itu patah di depan anak-anak anak futsal. Sampai sekarang kalau aku ingat mukamu yang merah menahan malu itu, rasanya masih lucu banget."
"Heh, Arjuna! Jangan buka kartu dong! Itu kan rahasia masa lalu," protes Haura sambil mengerucutkan bibirnya, sebuah gestur manja yang sangat jarang ia perlihatkan di depan para karyawannya.
"Tapi jujur ya, Jun," Emilia ikut menimpali, menyenggol bahu Arjuna dengan akrab. "Si Haura ini sekarang udah jadi bos besar, makin judes kalau di ruko. Cuma kamu aja emang yang bisa bikin dia ketawa lepas begini dari tadi."
Arjuna tersenyum miring, menatap Haura dengan intensitas yang sedikit berbeda, lebih dalam dan penuh arti. "Bisa aja kamu, Mil. Aku kan cuma kangen sama Haura yang dulu. Kebetulan lagi ada proyek di dekat daerah sini, jadi sekalian mampir buat mastiin apakah Ratu Jastip kita ini masih segalak dulu."
"Nggak, sekarang aku udah jauh lebih ramah tahu," canda Haura yang langsung disambut tawa kompak oleh Arjuna dan Emilia.
Tepat saat tawa ketiganya kembali menggema, bunyi derit pintu kaca ruko yang dibuka dengan sentakan kasar memutus aliran obrolan di sudut meja tersebut.
Marco melangkah masuk terlebih dahulu, diikuti oleh Arlo yang berjalan di belakangnya sambil menyandang tas ransel. Keduanya baru saja menyelesaikan kuis pagi di kampus DKV mereka yang menguras otak. Marco yang hanya mengenakan kaos hitam polos dengan jaket bomber longgar dan celana kargo gelap itu mendadak menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan.
Sepasang mata tajam milik Marco langsung mengunci pemandangan di sudut ruko. Tatapannya beralih dari sosok pria asing berpakaian necis yang duduk terlalu dekat dengan meja kerja Haura, menuju ke arah wajah Haura yang sisa tawanya masih melengkung indah di bibirnya—bibir yang beberapa jam lalu baru saja ia lumat habis di teras mansion.
Atmosfer di dalam ruko mendadak turun beberapa derajat. Arlo yang berada di belakang Marco ikut menghentikan langkahnya, menatap punggung tegap temannya yang mendadak menegang kaku. Begitu Arlo melihat ke arah meja tantenya, mata Arlo langsung membelalak horor. Waduh, ada badai petir susulan nih, batin Arlo cemas.
"Eh, Arlo, Marco? Udah pulang kuisnya?" sapa Emilia, menjadi orang pertama yang menyadari kedatangan kedua anak magang tersebut.
Haura menghentikan tawanya seketika begitu mendengar nama Marco disebut. Ia mendongak, dan sedetik kemudian matanya bertemu dengan tatapan mata cokelat gelap Marco yang terasa begitu dingin, menusuk, dan dipenuhi oleh aura dominasi yang pekat. Haura berdehem pelan, mendadak merasa canggung karena teringat obrolan teks gila mereka tengah malam tadi.
"Iya, Mbak Emilia. Baru selesai," jawab Arlo memecah keheningan dengan suara yang agak dipaksakan, mencoba mencairkan ketegangan.
Arjuna menoleh ke arah Marco dan Arlo, menatap kedua anak muda itu dengan pandangan menilai yang khas dari seorang pria mapan berusia matang. "Siapa, Ra? Karyawan baru kamu?" tanya Arjuna santai pada Haura, nada suaranya terdengar sangat kasual seolah keberadaan Marco tidak lebih dari sekadar pelengkap ruangan.
Sebelum Haura sempat menjawab, Marco sudah melangkah maju. Langkah kakinya terdengar berat dan sengaja ditegaskan di atas lantai ruko. Ia berjalan mendekati meja, mengabaikan keberadaan Arjuna sepenuhnya, lalu menaruh tas ranselnya di atas meja packing dengan suara debuman yang agak keras.
"Siang, Tan," sapa Marco, suaranya terdengar sangat berat, rendah, dan serak. Ia berdiri tegak di dekat kursi Haura, dengan jarak yang sengaja dibuat sangat dekat, seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya di depan pria asing itu.
Haura mendongak, menatap wajah tampan Marco yang kini sedang mengeras menahan emosi yang tersembunyi dengan rapi. "Siang, Marco. Kamu... gimana kuisnya?" tanya Haura, berusaha bersikap seprofesional mungkin di depan teman lamanya.
"Lancar. Nggak ada yang susah kalau otaknya dipake," sahut Marco dingin, matanya kini perlahan beralih menatap Arjuna dari atas ke bawah dengan pandangan menantang yang sangat kentara. Tidak ada sedikit pun rasa hormat khas anak magang di dalam tatapannya.
Arjuna yang merasakan intimidasi terang-terangan dari anak muda di depannya itu mulai mengernyitkan kening tersinggung. Ia menegakkan punggungnya, mencoba mengimbangi tinggi tubuh Marco yang menjulang tinggi di dekat meja. "Kamu... Marco ya? Anak magang di sini?" tanya Arjuna dengan nada merendahkan yang halus.
Marco menaikkan sebelah alisnya, seulas senyum miring yang tipis dan sinis terukir di sudut bibirnya. "Gue asisten pribadinya Tante Haura di ruko ini. Ada urusan apa ya, Om, datang jam kerja begini? Ruko ini tempat bisnis, bukan tempat reuni buat nyari perhatian."
Uhuk! Arlo yang sedang meminum air mineral di sudut ruko langsung tersedak mendengar kelancangan mulut temannya yang tidak punya filter itu. Sementara Emilia melotot kaget, menatap tidak percaya pada keberanian Marco.
"Marco! Jaga bicara kamu!" tegur Haura cepat, wajahnya memerah karena malu sekaligus panik melihat sifat brat Marco yang mendadak kumat di depan Arjuna. "Arjuna ini teman lama SMA aku, dia cuma mampir sebentar."
"Oh, teman lama?" desis Marco, suaranya terdengar makin rendah, ia memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, bertumpu pada kedua tangannya yang kekar. Pandangannya mengunci mata Haura, mengabaikan Arjuna yang wajahnya sudah mulai mengetat menahan amarah. "Gue kira tadi siapa, Tan. Habisnya dari luar kedengeran ketawanya renyah banget. Padahal semalam aja ada yang nangis-nangis kelabakan gara-gara lipstiknya berantakan di teras rumah orang."
DEG. Haura menahan napasnya, matanya membelalak horor menatap Marco. Kalimat sindiran Marco yang membawa-bawa kejadian "semalam di teras" dan "lipstik berantakan" benar-benar sebuah serangan jantung dadakan bagi Haura. Ia tahu Marco sedang cemburu buta, tapi ia tidak menyangka bocah berumur dua puluh tahun ini akan seneat ini melempar kode rahasia di depan teman dan sahabatnya.
Arjuna yang tidak mengerti konteks kalimat tersebut memandang bergantian antara Haura dan Marco dengan dahi berkerut curiga. "Maksud kamu apa ya, anak muda? Bicara yang sopan sama Haura. Dia itu bos kamu."
"Gue tahu dia bos gue, Om. Dan gue tahu persis apa yang bos gue butuhin daripada orang luar yang cuma datang modal cerita masa lalu," balas Marco pedas, tatapannya beralih kembali ke Arjuna dengan kilatan mata yang tajam bagai predator yang siap menerkam mangsya. "Mendingan Om pulang sekarang deh. Tante Haura masih banyak urusan logistik jastip yang harus diselesaikan sama gue. Berdua. Di lantai atas."
"Marco!!" pekik Haura, wajahnya sudah matang sempurna seperti kepiting rebus. Ia berdiri dari kursinya dengan sentakan keras, menunjuk ke arah ruang packing belakang. "Kamu masuk ke dalam sekarang! Arlo, bawa temen kamu ini dari sini sebelum saya potong gaji kalian berdua!"
Arlo dengan sigap langsung berlari maju, menarik lengan jaket Marco dengan panik. "Ayo, Co, ayo! Gila lo ya, pengen mati muda apa gimana! Ayo ikut gue ke belakang!"
Marco tidak langsung bergerak. Ia membiarkan Arlo menarik tubuhnya mundur beberapa langkah, namun matanya tetap menatap Haura dengan pandangan posesif yang membakar, sebelum akhirnya beralih memberikan pandangan meremehkan terakhir pada Arjuna.
"Gue tunggu di belakang, Haura. Jangan kelamaan ngobrolnya, gue nggak suka nunggu," ucap Marco santai, menjatuhkan panggilan 'Tante' dan langsung menyebut namanya secara langsung di depan Arjuna, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah lebar-lebar menuju ruang belakang bersama Arlo.
Pintu pembatas belakang tertutup dengan debuman halus, meninggalkan ruang tengah ruko dalam keheningan yang luar biasa canggung. Arjuna mengepalkan tangannya di atas paha, wajahnya mengeras menahan emosi. "Ra... siapa sebenarnya cowok itu? Kurang ajar sekali dia. Kenapa kamu membiarkan anak magang selancang itu bicara sama kamu?"
Haura hanya bisa mengembuskan napas panjang yang bergetar, meraba ulu hatinya yang mendadak kembali berdegup kencang bukan karena sakit, melainkan karena getaran gila yang baru saja disulut oleh kecemburuan brutal si berandalan tengil bernama Marco Permana.
***
Minta tolong bintang 5 dong kak hehe. sama like+komen yaww
semangattt