Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Kebenaran yang Menghancurkan dan Hukuman
Malam berganti pagi, namun ketenangan di kediaman Argantha tidak berarti hal yang sama bagi mereka yang berada di luar sana. Di kediaman keluarga Lavian, suasana sudah berubah menjadi neraka yang sunyi dan mencekam sejak kemarin sore. Pasukan elit Davian telah mengepung rumah itu rapat-rapat, memblokir semua jalan keluar, memutus semua sambungan telepon dan komunikasi, seolah mengurung mereka di dalam penjara besar yang mewah itu. Tuan Haris Lavian dan Selvi hanya bisa mondar-mandir dengan wajah pucat dan keringat dingin yang terus mengalir, menunggu kedatangan sang pembawa maut yang pasti akan datang menjemput mereka.
Pagi itu, tepat saat matahari mulai naik tinggi, konvoi mobil hitam besar melaju masuk ke gerbang kediaman Lavian yang kini terbuka lebar tanpa hambatan. Davian turun dari mobil dengan langkah tegap, wajahnya sedingin es, matanya tanpa ekspresi namun memancarkan ancaman kematian yang nyata. Dia tidak membawa Grey bersamanya; dia membiarkan istrinya beristirahat dengan tenang di rumah, jauh dari pemandangan menjijikkan ini. Hari ini adalah hari pembalasan, hari di mana semua kebusukan dan kepahitan akan dibongkar habis sampai ke akar-akarnya.
Di belakang Davian, berjalan beberapa orang anak buahnya yang membawa serta seorang pria paruh baya yang terlihat lusuh, ketakutan, dan penuh memar, serta membawa tumpukan dokumen, rekaman, dan bukti-bukti nyata yang dikumpulkan oleh jaringan intelijen Davian yang luas dan tak terkalahkan.
Saat Davian melangkah masuk ke ruang tamu besar itu, Haris dan Selvi langsung berlutut di lantai, gemetar hebat, wajah mereka pucat pasi seperti mayat hidup. Selvi berusaha merangkak mendekat, menangis dan memohon belas kasihan dengan wajah dibuat-buat.
"Tuan Argantha! Ampunkan kami! Kami tidak bermaksud buruk! Semua ini kesalahpahaman! Kami tidak tahu menahu soal serangan di Maladewa itu—"
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Selvi, bukan dari Davian, melainkan dari salah satu anak buahnya yang berdiri di samping. Davian sendiri hanya menatap mereka dengan pandangan jijik, seolah mereka bukan manusia, melainkan kotoran yang menempel di sepatunya. Dia berjalan perlahan mendekati mereka, lalu berdiri diam di tengah ruangan, menatap tajam ke arah Haris Lavian yang terlihat sangat kurus, pucat, dan tampak semakin tua dan lemah belakangan ini.
"Kalian memohon ampun? Setelah kalian berani menjual istriku ke musuhku? Setelah kalian berani berusaha membunuhku dan istrinya di tempat yang seharusnya menjadi tempat istirahat kami? Kalian pikir ampun masih ada untuk sampah seperti kalian?" suara Davian rendah namun menggelegar, membuat dinding-dinding ruangan itu seolah bergetar.
Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat. Salah satu anak buahnya maju ke depan, meletakkan semua bukti di atas meja kaca yang dulu pernah dia gunakan untuk menumpahkan kebencian pada Grey.
"Tapi aku tidak datang ke sini hanya untuk membunuh kalian, Haris Lavian. Kematian terlalu murah untuk kalian. Aku datang ke sini untuk membongkar semua kebusukan yang selama ini tersembunyi di balik topeng wanita jahat ini. Aku ingin kau tahu, Haris… betapa bodohnya kau selama ini. Betapa butanya kau pada kebenaran, hanya karena kau terlalu membenci anakmu sendiri dan terlalu memuja ular berbisa ini."
Davian memberi isyarat lagi, dan pria lusuh yang dibawanya itu didorong maju ke depan. Itu adalah mantan sopir lama keluarga itu, seseorang yang tahu segalanya namun selama ini dibungkam oleh uang Selvi.
"Bicarakan," perintah Davian dingin.
Pria itu menelan ludah, menatap Selvi yang menatapnya dengan mata melotot penuh ancaman, tapi di hadapan Davian, ancaman Selvi tidak ada artinya. Dengan suara gemetar, dia mulai berbicara, membongkar satu per satu rahasia gelap yang selama ini tersimpan rapat.
"Tuan Haris… Nyonya Selvi… dia tidak pernah mencintai Anda. Sejak awal dia menikah dengan Anda, dia hanya mengincar kekayaan dan jabatan Anda. Selama bertahun-tahun, dia memiliki kekasih rahasia… pria lain yang tinggal di luar kota, bahkan di kota ini juga ada tempat persembunyian mereka. Setiap kali Anda pergi dinas atau keluar kota, pria itu masuk ke sini, ke kamar Anda…"
Haris Lavian terbelalak, mulutnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Dia menatap Selvi dengan pandangan tidak percaya, sementara wajah Selvi kini berubah menjadi merah padam karena marah dan panik, topeng manisnya sudah runtuh sepenuhnya.
"BOHONG! SEMUA BOHONG!" teriak Selvi histeris.
"Diam!" bentak Davian tajam, lalu memberi isyarat agar pembongkaran berlanjut.
"Dan yang lebih parah, Tuan…" lanjut pria itu lagi, suaranya semakin tegas karena tahu nyawanya bergantung pada kejujurannya. "Obat-obatan yang selalu Nyonya berikan pada Anda setiap malam, yang dia katakan obat penambah stamina atau obat kesehatan… itu semua racun halus, campuran obat halusinasi dan zat berbahaya yang perlahan merusak organ tubuh Anda, membuat Anda semakin lemah, sering sakit-sakitan, pelupa, dan mudah dikendalikan. Itulah sebabnya Anda tidak pernah mengingat apa pun yang terjadi saat malam, itulah sebabnya Anda tidak pernah mengajak Nyonya berhubungan intim selama bertahun-tahun… bukan karena Anda sudah tua atau sakit, tapi karena obat itu membuat Anda tidak sadar dan tidak berdaya setiap malam, sementara dia bersenang-senang dengan pria lain di samping Anda, bahkan di depan mata Anda yang sudah tak sadarkan diri."
Dunia Haris Lavian seolah runtuh seketika. Dia terhuyung mundur, kakinya lemas hingga dia jatuh berlutut di lantai. Air mata kebingungan dan rasa sakit mulai menggenang di matanya. Dia menatap Selvi, wanita yang dia cintai, wanita yang dia percaya sepenuhnya, wanita yang dia jadikan tuan di rumahnya… ternyata selama ini sedang perlahan membunuhnya, sedang meracuninya, sedang mengkhianatinya dengan pria lain, tepat di bawah atap rumahnya sendiri.
"Tidak… tidak mungkin… Selvi… katakan itu tidak benar… katakan padaku…" gumam Haris lirih, suaranya pecah.
Namun kebenaran yang lebih fatal dan lebih mengerikan masih menunggu. Davian melangkah maju, meletakkan foto-foto dan akta kelahiran di atas meja, bukti yang tak terbantahkan.
"Masih ada lagi, Haris. Kau belum tahu semuanya. Kau tahu anak-anak Selvi? Anak-anak yang selama ini kau anggap anakmu sendiri, yang kau sayangi, yang kau beri kekayaan, yang kau prioritaskan di atas Grey? Mereka bukan darah dagingmu. Mereka adalah anak-anak hasil perselingkuhannya dengan pria lain itu. Selama bertahun-tahun, kau membesarkan, merawat, dan memberikan hartamu pada anak-anak orang lain, sementara anak kandungmu sendiri kau sia-siakan, kau sakiti, kau tuduh kotor, dan kau coba jual demi uang."
Davian berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap masuk, menghancurkan jiwa pria tua itu berkeping-keping.
"Dan kau tahu apa yang dia lakukan pada Grey? Kau tahu kenapa dia begitu membenci Grey? Kenapa dia begitu ingin menyingkirkan atau menghancurkan Grey? Karena Grey adalah bukti keberadaan ibunya, wanita yang sebenarnya kau cintai dulu. Selvi takut Grey akan mengambil haknya. Dia yang menanamkan kebencian di hatimu. Dia yang mengubah kenangan indahmu menjadi kebencian. Dia yang memanipulasi semua situasi agar kau membenci anakmu sendiri. Foto-foto yang dia gunakan untuk menuduh Grey murahan? Dia yang menyebarkannya, dia yang mengaturnya. Dan rencana menjual Grey pada pria tua menjijikkan itu? Itu murni ide jahatnya, agar dia bisa mendapatkan uang besar sekaligus menyingkirkan anak kandungmu selamanya."
Davian menunjuk ke arah Selvi yang kini sudah duduk terkulai di lantai, wajahnya pucat dan matanya penuh kepanikan karena semua kedoknya terbongkar habis.
"Selama ini kau hidup dalam kebohongan, Haris Lavian. Kau membenci anakmu yang murni dan tulus hanya karena kata-kata ular berbisa ini. Kau membiarkan dirimu dibunuh perlahan. Kau membiarkan hartamu diambil orang lain. Kau membiarkan kehormatanmu diinjak-injak. Dan yang paling menyedihkan… kau baru tahu semua ini sekarang, saat semuanya sudah terlambat."
Kecewa, marah, rasa sakit, rasa malu, dan penyesalan yang mendalam menghantam dada Haris Lavian sekaligus. Semua kebencian yang dulu dia miliki untuk Grey seketika berubah menjadi rasa bersalah yang menghancurkan. Semua cinta yang dia berikan pada Selvi berubah menjadi rasa jijik dan kebencian yang membakar jiwanya. Dia sadar betapa bodohnya dia. Dia sadar betapa jahatnya dia pada anak kandungnya sendiri. Dia sadar bahwa dia telah kehilangan segalanya: kehormatannya, kesehatannya, kekayaannya, dan yang paling penting… putrinya yang dulu selalu berusaha mencintainya meski disakiti.
"AAAAAAARRRRGGHHHH!!!!"
Haris Lavis berteriak sekuat tenaga, teriakan kepedihan yang mendalam, lalu dadanya terasa sesak luar biasa. Dia memegangi dadanya dengan kedua tangan, wajahnya berubah menjadi merah padam, matanya melotot menatap Selvi yang sedang mencoba bangkit dan lari tapi ditahan oleh anak buah Davian.
"KAU IBLIS! KAU IBLIS BETULAN! AKU SUDAH BODOH SEKALI… AKU SUDAH MEMBUNUH ANAKKU SENDIRI DEMI WANITA JAHAT SEPERTIMU…" jerit Haris terbata-bata, air mata penyesalan mengalir deras membasahi wajahnya yang tua dan keriput. "GREY… MAAF KAN AYAH, NAK… MAAF KAN AYAH… AYAH BODOH SEKALI… AYAH BUTA… AYAH TIDAK TAHU APA-APA…"
Tiba-tiba, tubuh Haris Lavian menegang kaku. Matanya terbalik ke atas, mulutnya mengeluarkan buih putih sedikit demi sedikit, dan tubuhnya yang kurus itu jatuh terguling ke samping dengan keras.
"TUAN HARIS!" teriak beberapa pelayan yang masih ada di situ.
Davian hanya diam, menatap dingin. Dia tahu racun yang diminum Haris selama bertahun-tahun telah merusak organ tubuhnya, dan guncangan hebat ini adalah pemicu terakhirnya.
Pria itu dibawa keluar dengan tergesa-gesa untuk dibawa ke rumah sakit, namun dokter yang dipanggil segera menyatakan kondisinya sangat kritis. Dia mengalami serangan jantung hebat dan stroke berat akibat tekanan batin yang luar biasa tinggi. Dia masih hidup, namun lumpuh total, tidak bisa berbicara, tidak bisa bergerak, hanya bisa berkedip dan menangis diam-diam menyesali seumur hidup kebodohannya dan kejahatannya pada putrinya. Dia jatuh sakit parah, tersiksa oleh rasa bersalah yang tak akan pernah hilang sampai napas terakhirnya.
Dan untuk Selvi? Davian tidak akan membunuhnya secepat itu. Itu terlalu mudah. Dia menyerahkan wanita itu pada nasib yang jauh lebih buruk. Dia membongkar semua kejahatan Selvi ke seluruh publik, ke seluruh keluarga besar, ke semua rekan bisnis. Selvi dicampakkan, kehilangan segalanya: kekayaan, kedudukan, kehormatan, anak-anak yang ternyata bukan anak Haris pun tidak diakui dan dibuang. Kekasih rahasianya yang ternyata hanya memanfaatkannya juga lari meninggalkannya saat kekayaan itu hilang. Selvi diasingkan, hidup dalam kemiskinan, dicemooh semua orang, dan menderita rasa bersalah serta rasa malu yang selamanya akan menghantuinya. Dia hidup, tapi seperti mayat hidup yang terus dihantui oleh dosa-dosanya yang tak terhitung jumlahnya.
Hukuman telah dijatuhkan. Kebenaran telah terungkap. Kebohongan telah runtuh.
Sore itu, saat Davian pulang ke rumah dan menceritakan semua kejadian itu pada Grey, wanita itu hanya diam menunduk, air mata mengalir perlahan. Dia sedih bukan karena nasib ayahnya, tapi karena rasa kasihan dan rasa sakit melihat ayahnya yang hancur karena kebohongan, dan rasa lega yang pahit karena akhirnya ayahnya tahu kebenaran, meski sudah terlambat.
"Dia menderita lebih dari kematian, Grey," bisik Davian pelan, memeluk bahu istrinya erat. "Dia hidup dengan penyesalan selamanya. Itu adalah hukuman terbesar baginya. Dan wanita jahat itu… dia akan membayar mahal setiap tetes air matamu yang dulu dia buat."
Grey mengangguk pelan, bersandar di dada suaminya. "Aku tidak membenci ayahku lagi, Davian. Aku hanya kasihan. Dia adalah korban kebohongan juga. Tapi semuanya sudah berakhir, kan? Kebohongan itu sudah hilang. Dan aku punya kau. Hanya kau."
"Ya, Sayang. Semuanya sudah berakhir. Mulai sekarang, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kebohongan, tidak ada lagi bahaya yang datang dari mereka. Kita bebas. Kita hanya punya satu sama lain. Dan tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita."
Di luar sana, di rumah sakit yang dingin dan sepi, Haris Lavian terbaring diam di atas kasur rumah sakit, tubuhnya lumpuh, mulutnya terkunci rapat. Di dalam hatinya yang masih sadar, dia terus berteriak meminta maaf pada putrinya, terus menyesali setiap detik kejahatannya, dan terus berharap agar Tuhan memberinya kesempatan sekali saja untuk melihat wajah Grey dan meminta maaf dengan benar sebelum dia mati. Tapi kesempatan itu tidak akan pernah datang. Dia harus hidup dengan rasa sakit itu sampai akhir hayatnya.
Dan bagi Selvi? Dia kini mengerti artinya neraka di dunia. Davian Argantha benar-benar menepati janjinya: mereka yang menyakiti wanitanya akan hidup dalam kehancuran abadi.
(Lanjut ke Bab 16)