"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 // MBKCM
Aroma segar kelopak mawar dan daun krisan yang baru dipotong memenuhi udara lantai satu ruko Twin's Florist. Saskia, dengan celemek kain melingkari pinggangnya, sejak tadi sibuk memotong duri-duri mawar merah menggunakan gunting khusus. Gerakan tangannya mendadak terhenti ketika matanya teralih pada sebuah karangan bunga papan berukuran sangat besar yang berdiri megah di dekat pintu kaca ruko.
Saskia meletakkan guntingnya, lalu berjalan mendekati karya seni tersebut sembari berdecak kagum. "Wah... karangan bunga ini besar sekali, Kia! Desainnya mewah banget. Mau dibawa ke mana karangan bunga sebesar ini?"
Kiana yang sedang duduk di kursi kayu sembari merapikan sisa-sisa pita satin mendongak, lalu tersenyum tipis. "Itu untuk acara pembukaan mall baru di pusat kota, Sas. Katanya mall paling megah yang baru selesai dibangun tahun ini. Sebentar lagi juga diambil sama orangnya."
"Mall baru?" Mata Saskia seketika berbinar cerah. Dia langsung berjalan mendekati Kiana dengan wajah antusias. "Wah! Kalau mall baru dibuka begitu, pasti banyak diskon besar-besaran, deh! Kamu nggak mau belanja, Ki? Mumpung aku disini bisa menemanimu. Kita bisa beli baju-baju bayi yang gemas untuk si kembar di perutmu itu."
Kiana terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya, tangannya secara refleks mengusap perutnya yang kian membuncit. "Hmm... boleh juga, ayuk. Tapi kita harus tunggu Rio datang dulu ya. Aku nggak bisa tutup toko begitu saja siang ini, karena masih banyak pelanggan yang mau ambil pesanan bunga mereka."
Rio adalah pekerja Kiana yang di rekrut 1 bulan lalu, saat pesanan Twin's florist mulai melonjak.
Saskia menepuk jidatnya pelan. "Oh iya, aku sampai lupa kalau hari ini pesananmu lagi padat. Rio jam berapa datangnya hari ini?"
"Rio kan masih kuliah, Sas. Biasanya kalau hari biasa dia datang pukul satu siang setelah kelasnya selesai. Tapi kalau dia lagi tidak ada kelas atau dosennya berhalangan hadir, dia pasti datang pagi-pagi untuk bantu-bantu di sini," jelas Kiana tentang pekerja paruh waktunya yang sangat rajin itu.
Belum sempat Saskia membalas, suara deru mesin mobil terdengar berhenti tepat di depan ruko mereka. Sebuah mobil pick up terbuka terparkir di sana. Dua orang pria turun dari mobil dan mengetuk pintu kaca ruko.
"Permisi, Mbak Kiana. Kami dari pihak panitia acara mall, mau mengambil rangkaian bunga papan besar yang dipesan kemarin," ujar salah satu petugas pick-up dengan sopan dari ambang pintu.
"Oh iya, Pak. Silakan masuk, karangan bunganya sudah siap dan sudah selesai dicek semua," sahut Kiana ramah.
Saskia dan Kiana memperhatikan dengan saksama saat kedua petugas itu dengan sangat hati-hati mengangkat karangan bunga papan berukuran raksasa tersebut keluar ruko dan menaikkannya ke atas bak mobil pick up. Karangan bunga yang membawa nama toko mereka di sudut karangannya, Twin's Florist, kini bergerak membelah jalanan Bandung menuju pusat kemegahan di tengah kota.
.
.
Beberapa saat kemudian, di pusat kota Bandung, atmosfer kemegahan begitu terasa di area luar pusat perbelanjaan baru yang siap diresmikan. Balon-balon besar berlogo Arkatama Group melayang di udara, dan karpet merah panjang telah membentang dari lobi utama hingga ke pinggir jalan.
Sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti tepat di depan lobi. Pintu belakang terbuka, menampilkan sosok Ardan Arkatama yang turun dengan setelan jas formal bernilai ratusan juta rupiah yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Di belakangnya, Bimo turun dengan sigap sembari membawa beberapa berkas dokumen penting.
Suasana sangat ramai oleh jajaran direksi, investor, dan para tamu undangan penting. Namun, sebelum langkah kakinya melangkah masuk lebih jauh ke dalam gedung megah tersebut, langkah Ardan mendadak terhenti kaku di anak tangga pertama.
Sepasang mata elang milik sang CEO terfokus, terkunci lurus pada barisan karangan bunga ucapan selamat yang berjejer rapi di sepanjang lobi. Di antara puluhan karangan bunga megah dari para pejabat dan pengusaha kaya, ada satu karangan bunga papan yang menarik perhatian Ardan. Rangkaian bunganya sangat indah dan rapi, namun bukan itu yang membuat jantung Ardan berdesir aneh, melainkan sebuah tulisan nama kecil toko di bagian pojok bawah karangan bunga tersebut Twin's Florist.
Membaca kata twin, sebuah hantaman memori mendadak menyerang isi kepala Ardan dengan sangat telak. Bayangan tentang malam penuh dosa lima bulan lalu, tangisan histeris seorang wanita, dan ingatan tentang kehamilan Kiana Mahira yang mengandung bayi kembar seketika berputar bagai kaset rusak di otaknya.
Ardan mematung selama beberapa detik, rahangnya mengetat kuat menahan gejolak aneh di dalam dadanya. Suasana ramai di sekelilingnya seolah mendadak senyap.
"Pak Ardan? Ada apa, Pak? Kenapa berhenti?" tanya Bimo yang menyadari perubahan raut wajah bosnya yang mendadak menegang.
Ardan tidak langsung menjawab. Dia mengembuskan napas pendek yang terdengar sangat berat, lalu tanpa sadar sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir tipisnya. "Bimo... apa kamu pernah mendengar kabar tentang... Kiana Mahira?"
Bimo seketika tertegun mendengarnya. Dia menatap Ardan dengan dahi berkerut heran, tidak menyangka nama wanita yang sudah dibuang itu akan kembali diucapkan oleh bosnya di tengah acara penting seperti ini.
"Tidak, Pak. Saya sama sekali belum mendengar kabar terbaru tentang Kiana," jawab Bimo jujur dengan nada suara yang sangat berhati-hati. "Lagipula... Pak, bukankah Anda sendiri yang waktu itu mengatakan dengan sangat tegas bahwa Anda tidak ingin melihat wajahnya lagi dan tidak peduli di mana dia berada?"
Ardan terdiam, matanya masih menatap tajam tulisan Twin's Florist di karangan bunga itu, seolah mencoba mencari jawaban dari sebuah teka-teki.
Melihat keterdiaman Ardan yang tidak biasa, Bimo berdeham pelan lalu menawarkan bantuan. "Em... apa perlu saya menyuruh tim intelijen kita untuk mencari tahu dan melacak keberadaan Kiana sekarang, Pak? Setahu saya dia ada di kota ini kan, Pak?"
Mendengar tawaran Bimo, keangkuhan dan ego tinggi di dalam diri Ardan Arkatama mendadak kembali bergejolak. Dia mengingat kembali dokumen medis kemandulan yang selama bertahun-tahun ini dia agung-agungkan. Ego setinggi gedung pencakar langit milik Arkatama Group yang tertanam di dalam jiwanya seketika menolak untuk terlihat lemah atau peduli pada wanita yang dianggapnya telah berkhianat.
Ardan memalingkan wajahnya dari karangan bunga itu, kembali menatap lurus ke depan dengan sorot mata yang kembali dingin, datar, dan tak tersentuh.
"Tidak perlu," sergah Ardan dengan nada suara baritonnya yang ketus dan penuh penekanan. "Jangan membuang-buang waktu perusahaan hanya untuk mencari tahu tentang wanita seperti dia. Urus saja persiapan pemotongan pita di dalam."
"Baik, Pak. Dimengerti," sahut Bimo sembari menundukkan kepalanya hormat.
Ardan kembali melangkah dengan tegap dan penuh wibawa membelah kerumunan para pejabat, mencoba mengubur dalam-dalam rasa penasaran dan getaran aneh di hatinya. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya yang paling gelap, nama Twin's Florist dan bayangan anak kembar Kiana telah berhasil menanam sebuah benih keraguan yang mulai mengusik ketenangan jiwanya hari ini.