Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gosip
Rani masih membolak-balik badannya kesana kemari.
Matanya masih segar padahal ini sudah pukul 2 dini hari.
Suara hewan malam saling bersahut-sahutan diluar kamarnya.
Lagi-lagi Rani terbayang kejadian di pinggir hutan.
Suara itu menyuruhnya putus dengan Andrean.
Entah apa maksudnya, Rani tak paham.
Bagaimana dia tahu jika dirinya dan Andre sedang menjalin hubungan? Padahal keduanya menjalin hubungan sembunyi-sembunyi.
Berbagai pertanyaan menari dibenak Rani.
Tak...
Tak...
Jendela kamarnya dilempari batu dari luar hingga membuat Rani terperanjat kaget.
"Ran..."
"Rani... buka... Ini aku Andre" panggilan suara berupa bisikan tepat dibawah jendala kamar Rani.
Rani bergegas mengintip melalui celah kayu.
Segera ia membukakan jendela kamar begitu ia melihat kekasihnya.
"Mas... ngapain disini malam-malam?" bisik Rani takut jika orang dirumahnya bangun.
"Mas kangen kamu... mas masuk ya...."
"Eh jangan! Kalau orang-orang lihat, kita bisa digrebek" tukan Rani melarang.
"Nggak ada yang lihat. Ini jam tidur... Ayolah Ran, mas kangen berat ini" Andre terus memaksa masuk sehingga Rani akhirnya mengizinkan.
Rani menutup jendela kamar sambil melihat situasi.
Andre langsung menyerang bibir Rani dan memberikan ciuman yang terkesan tergesa.
Laki-laki itu juga meloloskan daster tidur Rani.
Kebiasaan Rani jika tidur adalah dia tidak memakai br* sehingga Andre hanya perlu melepas penutup segitiga saja.
"Aku kangen kamu..." Andre terus berbisik ditelinga Rani dan sesekali menjilatnya hingga membuat Rani merinding dan terpancing.
Tanpa pemanasan, Andre telah memasuki milik Rani dan membuat perempuan itu menahan jeritannya.
Mereka tidak 'bermain' diranjang Rani karena khawatir akan menimbulkan suara gaduh dari decitan ranjang besi tersebut.
Andre terus memacu miliknya dan sesekali bibirnya bermain pada puncak dada Rani.
"Punya kamu enak Ran... Mas suka..."
"Hmmmpppttt...." Rani menahan suaranya agar tidak menjerit begitu Andre menekan lebih dalam miliknya.
Jari-jarinya mengisi helai rambut Andre kala gelombang itu datang.
Andre terkulai lemas diatas tubuh Rani yang basah oleh keringat.
Pelan, Andre mencabut miliknya.
"Banyak Ran... kamu nggak punya tisu?" tanya Andre dalam nada rendah.
Rani yang masih terkulai lemas hanya menggeleng.
Andre m*r*mas dada Rani yang menantang keatas dan mengecupnya.
"Maaf udah bikin kamu capek... Sakit?" Andre membelai kepala Rani dan mengelap keringat didahi perempuan itu.
Rani menggeleng lemah.
"Mas dari mana? Kok ada bau alkohol?" tanya Rani yang telah meletakkan kepalanya diatas pangkuan Andre yang duduk bersandar disisi ranjang.
"Nanti mas cerita... Sekarang mas pulang dulu... Keburu subuh dan orang-orang sudah bangun...." ujar Andre yang meletakkan kepala Rani dilantai dan dialas daster miliknya sebagai pengganti bantal. Rani masih polos tanpa sehelai benang di badannya.
Andre telah kembali mengenakan celana jeans miliknya dan sedikit merapikan penampilan di cermin.
Tak menunggu persetujuan Rani, laki-laki itu telah keluar dari kamar Rani melalui jendela.
Rani yang cemas bergegas berdiri dengan hanya menutup badan seadanya.
Kepalanya menoleh kesegala arah guna melihat situasi.
Dan setelah dirasa aman, Rani kembali menutup jendela kamarnya.
Tanpa disadari oleh Rani, ada sepasang mata merah yang memperhatikan dari balik pohon.
Tatapannya tajam dan terarah.
Giginya bergemertak kuat.
Senyum misterius tersungging di bibirnya.
Rani kembali mengenakan dasternya lalu membersihkan sisa-sisa percintaan singkat itu.
Hati Rani sedikit mencelos karena Andre seperti menganggapnya sebagai perempuan nakal yang habis dipakai lalu ditinggal begitu saja.
Tangan Rani berhenti mengelap lantai. Pikirannya kembali pada kalimat si nenek tua di pinggir hutan.
Lampu kamar Rani kemudian meredup hingga membuatnya takut.
Lagi, suara bisikan itu muncul mengisi kamarnya.
"Segera putus dengan Andrean! Dia bukan pria baik!"
Suara serak khas nenek-nenek berkata yang sama dengan tadi.
"Siapa kamu? Dan kenapa memintaku putus dengan Andre?" sahut Rani.
"Kamu akan menyesalinya nanti... Dia bukan pria baik!" ucap suara itu diiringi tawa yang menyeramkan.
Rani ketakutan. Dan tak lama, lampu kamarnya pecah dengan sendirinya dan membuat Rani terpekik.
Rani berlari keatas ranjang lalu meringkuk dibalik selimutnya.
"Ran... Rani..."
"Kamu kenapa?" suara Rahman dan Sukma mengetuk-ngetuk dari luar kamar Rani.
Mereka terkejut mendengar teriakan putri sulungnya.
Bagas yang turut terbangun lalu mulai mendobrak pintu karena Rani tak kunjung membukakan pintu.
"Mbak... kamu kenapa?" Bagas berlari menghampiri Rani disusul kedua orangtuanya.
"Aaa...... jangan mendekat! Pergi...! Pergi!!" seru Rani berteriak mengusir dalam keadaan kamar yang gelap.
"Rani... ini ibu... kamu kenapa ndok?" kata bu Sukma mengarahkan senter dari ponselnya kepada Rani.
Rani perlahan membuka selimutnya dan memperhatikan sekeliling.
Sosok itu telah hilang dan menyisakan ketakutan di kepala Rani.
"Ibu... Tadi ada nenek-nenek di pojok sana... Dia menakutkan...." ucap Rani menunjuk sudut kamarnya.
Ibu menoleh melihat sekeliling bahkan ayah dan Bagas membuka jendela kamar Rani guna melihat seseorang yang Rani bicarakan barusan.
"Tidak ada siapa-siapa Ran... Kamu ngelindur nggak? Atau mimpi" ucap Rahman, ayahnya.
Rani melihat sekeliling dan menyadari jika tidak ada sosok selain keluarganya.
Nafasnya memburu.
"Cuci muka sana.. Jangan tidur lagi, udah subuh...." ucap ibu Sukma, kepalanya menengadah melihat lampu kamar "Nanti siang ayah ganti lampunya" ucapnya pada pak Rahman
"Rani tidur sebentar lagi ya bu... Tadi malam Rani susah tidur..." ujar Rani yang mulai merebahkan dirinya.
"Ya sudah... Nanti ibu bangunkan... ayo yah, kita keluar..." ajak ibu Sukma pada suaminya.
Bagas yang sejak tadi merasa aneh masih berdiri di dekat jendela kamar.
"Bagas...! Ngapain kamu disana...? Ayo, biarkan mbak mu istirahat sebentar" tegur ibu Sukma pada putra bungsunya.
Meski merasa ada yang janggal, tapi Bagas tidak berani menceritakan kecurigaannya pada kedua orangtuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari-hari berlalu, Rani bekerja seperti biasa.
Sejak malam itu, suara aneh itu tidak lagi muncul.
Rani juga mengupayakan pulang tepat waktu agar tidak lagi kemalaman karena ia harus melewati hutan angker itu sebagai jalan utama menuju rumahnya.
Hubungan Rani dan Andre masih rahasia keduanya. Rani pun dalam beberapa hari terakhir berusaha menghindari Andre bahkan ketika beberapa staf memintanya keruangan Andre, Rani beralasan ia sedang sibuk mengerjakan hal lain.
Sejak pagi, Rani merasakan sesuatu yang tidak enak pada perutnya.
Beberapa kali ia muntah dan lemas.
"Eh... dengar-dengar, pak Andrean akan menikah dengan Meri, putri juragan Kardi" ucap seseorang yang Rani hafal suaranya adalah Lusi.
"Oh ya... Kok bisa? Kayaknya mereka nggak pernah terlihat bersama selama ini... Atau jangan-jangan mereka pacaran diam-diam biar surprise" timpal Desi, rekan kerja Lusi.
"Kayaknya nggak deh... Aku pernah mergokin mereka keluar hotel waktu aku ke kota bareng mas ku... Eh...eh... aku juga dengar gosip kalau Meri itu hamidun... makanya pernikahan mereka terkesan dadakan" seru Lusi lagi dengan nada rendah.
"Serius kamu Lusi...?" tanya Desi kaget.
Lusi mendekatkan kepalanya kepada Desi "Tapi aku juga pernah dengar suara rintihan di ruang kerja pak Andre baru-baru ini... Awalnya aku pikir itu suara hantu atau semacamnya, tapi kalau dipikir-pikir, mana ada hantu sore-sore. Mana ada des*han lagi..." ucap Lusi.
"Serius?" lagi Desi terkejut akan pernyataan Lusi.
"Wah harus dilaporkan kalau gitu... mana boleh main 'kuda-kudaan' di kantor... Inikan area kerja, tempat kita cari nafkah... ishh....!!" kesal Desi.
"Sstttt.... jangan kencang-kencang ngomongnya... Aku takut didengar orang lain, bisa kacau nanti..."
Tak tahan, Rani keluar dari bilik toilet dan membuat dua perempuan yang asik bergosip terkejut bukan main.
"Rani... sejak kapan kamu didalam?" tanya Lusi basa-basi.
"Sejak tadi mbak..." sahut Rani berusaha sopan.
"Ohh... ya udah, kami duluan..."Lusi menarik lengan Desi yang terbengong sangking terkejutnya.
Rani menghela nafas kasar.
Tangannya mengepal kuat.
Bukan karena cerita Lusi mengenai kejadian diruangan Andre melainkan cerita tentang laki-laki itu yang akan menikah dengan Meri.
Hati Rani sakit dan terbakar cemburu.
Dia harus menanyakan hal ini langsung kepada Andre nanti tapi ia bingung bagaimana caranya mengajak bicara Andre tanpa kegiatan panas yang biasa mereka lakukan.
bersambung...