Keana Elvaretta percaya bahwa pisau bedah di tangannya bisa mengungkap kebenaran yang disembunyikan mayat, namun ia gagal mengungkap isi hati suaminya sendiri, Ghazali Mahendra. Menikah karena sebuah wasiat dan paksaan keadaan, Keana harus menerima kenyataan pahit bahwa ranjang pengantinnya hanyalah medan perang emosional yang dingin.Bagi Ghazali, seorang Jaksa Penuntut Umum yang ambisius dan memuja kesempurnaan, Keana hanyalah wanita "berbau formalin" yang merusak citra idealnya.
Di siang hari, mereka adalah rekan profesional yang bersinergi memecahkan kasus hukum dan forensik, namun di malam hari, mereka hanyalah dua orang asing yang berbagi luka di bawah satu selimut. Saat rahasia besar mulai terkuak dari sebuah meja otopsi, Keana menyadari bahwa dirinya selama ini hanyalah 'alamat yang salah' untuk cinta yang dikirimkan Ghazali. Mampukah Keana bertahan saat luka yang ia bedah setiap hari ternyata adalah hatinya sendiri?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Makan Malam Keluarga yang Hancur
Borgol baja yang mengunci kedua pergelangan tanganku ini menyerap suhu dingin dari pendingin ruangan mobil lapis baja milik Bareskrim. Besi padat itu menggesek kulitku, menciptakan ruam kemerahan yang terasa berdenyut setiap kali roda mobil menghantam lubang di jalanan aspal ibu kota yang basah.
Darah dari luka sayatan di bahuku telah mengering, mengubah sebagian kemeja flanel hitamku menjadi kaku dan menempel pada kulit robek di bawahnya layaknya plester yang ditarik paksa. Telapak kakiku yang telanjang berdenyut ngilu, dipenuhi serpihan kaca kecil yang belum sempat kucabut sejak insiden penghancuran laboratorium kaca di rumah sakit tadi.
Bagi seorang tersangka biasa, penderitaan fisik ini seharusnya cukup untuk menghancurkan kewarasan. Namun, rasa sakit di sekujur tubuhku sama sekali tidak mampu mengalihkan pikiranku dari pria yang kutinggalkan di ruang ICU. Jantungku masih tertinggal di sana, di samping monitor EKG yang menjeritkan nada flatline saat ia mencoba bertahan dari racun Asam Hidrofluorik.
Mobil taktis itu berhenti dengan sedikit sentakan. Pintu belakang dibuka dari luar oleh dua petugas paramiliter bersenjata laras panjang.
"Turun, Dokter," perintah salah satu dari mereka tanpa intonasi.
Aku melangkah turun, menjejakkan kakiku yang telanjang dan kotor ke atas lantai beton area parkir basement Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) Trunojoyo.
Aku mempersiapkan mentalku untuk digiring menuju sel tahanan bawah tanah yang lembap, pengap, dan berbau pesing. Namun, petugas itu justru mengarahkanku ke sebuah lift khusus bertanda 'Akses VIP Eksekutif'.
"Kita mau ke mana?" tanyaku dengan suara serak, mataku memicing curiga. "Ruang interogasi tahanan ada di blok barat."
"Kami hanya mengikuti perintah atasan, Dokter. Anda dijadwalkan untuk sesi konfrontasi (konfrontir) silang dengan pihak pelapor sebelum BAP resmi dibuat," jawab petugas itu kaku.
Lift bergerak naik dengan kecepatan tinggi, membawa kami ke lantai enam—area yang biasanya dikhususkan untuk pertemuan tingkat tinggi para perwira atau mediasi kasus-kasus kelas kakap (white-collar crime).
Pintu lift terbuka. Aku digiring menyusuri koridor berlantai karpet tebal yang meredam suara langkah kaki, lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu mahoni ganda yang megah. Salah satu petugas mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di balik pintu itu seketika membuat napasku tercekat di kerongkongan. Rasa mual yang luar biasa hebat memukul lambungku.
Ini bukan ruang interogasi. Ini adalah sebuah lounge eksekutif mewah yang telah disulap menjadi ruang makan privat. Sebuah lampu gantung kristal berpijar hangat di tengah ruangan. Di bawahnya, terdapat sebuah meja makan panjang berbahan kayu jati yang telah ditata dengan taplak linen putih, piring-piring porselen berles emas, dan deretan gelas kristal.
Di ujung meja, duduklah Nyonya Ratna Mahendra. Ibu mertuaku itu mengenakan gaun sutra berwarna burgundy gelap dan kalung mutiara yang melingkar sempurna di lehernya yang mulai berkerut. Di sebelah kanannya, Maia Anindita duduk menyilangkan kaki jenjangnya, memutar-mutar gelas berisi wine merah di tangannya dengan keanggunan iblis.
Di sudut ruangan, dua orang penyidik senior berdiri dengan sikap santai, sementara beberapa kotak makanan dari restoran bintang lima berserakan rapi di meja saji di belakang mereka.
"Ah, tamu kehormatan kita akhirnya tiba," Nyonya Ratna meletakkan pisau dan garpu peraknya dengan gerakan lambat yang sangat terukur. Suaranya mengalun lembut, namun setiap silabelnya meneteskan racun. "Masuklah, Keana. Jangan berdiri di ambang pintu seperti pengemis. Lantai karpet ini jauh lebih bersih daripada kamar mayatmu."
Petugas di belakangku mendorong punggungku perlahan, memaksaku masuk.
Aku berdiri di ujung meja yang berlawanan, menatap kedua wanita itu dengan pandangan menguliti. Penampilanku yang acak-acakan, bertelanjang kaki, dengan jas lab putih yang kotor dan berdarah, menciptakan kontras yang sangat brutal dengan kemewahan aristokrat yang mereka pertontonkan.
"Apa-apaan ini?" desisku dingin, mengalihkan pandangan ke arah penyidik senior di sudut ruangan. "Apakah standar operasional prosedur Bareskrim sekarang mencakup membiarkan tersangka pembunuhan berencana mengadakan pesta makan malam di gedung kepolisian?"
Maia tertawa renyah, sebuah suara yang membuat bulu kudukku berdiri serentak. Ia meletakkan gelas wine-nya dan menopang dagu dengan punggung tangannya.
"Jangan kaku begitu, Dokter Keana. Ini adalah prosedur konfrontir resmi," ucap Maia dengan senyum beracunnya. "Hanya saja, karena Nyonya Ratna adalah 'Justice Collaborator' yang secara sukarela menyerahkan diri dan membongkar 'kejahatanmu', pihak kepolisian memberikan sedikit kelonggaran fasilitas."
"Fasilitas untuk menyiksa psikologisku sebelum interogasi resmi, maksudmu?" aku membalas tatapan Maia tanpa berkedip.
"Duduklah, Keana," Nyonya Ratna menunjuk kursi kosong di hadapanku menggunakan ujung pisau peraknya. "Ibu sengaja memesan sushi dan daging Wagyu A5 ini. Anggap saja ini adalah makan malam keluarga kita yang sempat tertunda. Makan malam perpisahan sebelum kau menghabiskan sisa hidupmu mengunyah nasi keras di penjara wanita Pondok Bambu."
Aku tidak bergerak satu milimeter pun. Kedua tanganku yang diborgol terkepal kuat di depan perutku. "Aku lebih suka menelan formalin murni daripada harus berbagi satu meja dengan dua orang pembunuh bayaran."
"Jaga mulutmu, tersangka!" tegur salah satu penyidik senior dengan suara mengancam.
"Kau yang harusnya menjaga mulutmu!"
Sebuah suara bariton yang berat, serak, dan penuh dengan amarah yang menggelegar tiba-tiba membelah ruangan, datang dari arah koridor di belakangku.
Semua orang di ruangan itu tersentak. Aku menoleh dengan cepat.
Ghazali Mahendra berdiri di ambang pintu.
Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Ia tidak mengenakan setelan jasnya, melainkan hanya mengenakan kemeja rumah sakit berwarna biru pudar dan celana bahan yang kedodoran. Lengan kanannya dibalut perban yang lebih tebal dari sebelumnya, disangga oleh arm-sling hitam. Keringat dingin membasahi dahinya yang pucat, dan di sampingnya, seorang perawat pria berdiri dengan wajah ketakutan, memegang tiang infus portabel yang masih terhubung ke punggung tangan kiri Ghazali.
Di belakang Ghazali, Komisaris Herman dan pengacara Leo Sastra berdiri bersiaga layaknya dua ekor serigala pelindung.
"Ghazali..." bisikku, air mata yang sejak tadi kutahan nyaris tumpah. Lututku seketika terasa lemas melihatnya hidup dan mampu berdiri.
Pria itu telah melewati henti jantung keduanya dan memaksa dirinya bangkit dari ranjang ICU hanya beberapa jam setelah disadarkan.
"Bagaimana bisa dia ada di sini?!" Nyonya Ratna memekik, wajah pualamnya seketika retak oleh kepanikan. Ia berdiri dari kursinya hingga serbet linennya jatuh ke lantai. "Dia seharusnya berada di bawah pengawasan ketat Propam di rumah sakit!"
"Status penahanan saya telah ditangguhkan sementara atas perintah langsung Jaksa Agung, Ibu," Ghazali melangkah masuk, menyeret tiang infusnya sendiri setelah mengusir perawat itu dengan isyarat kepala. Suaranya terdengar luar biasa dingin dan sarat akan otoritas absolut. "Saya datang sebagai dominus litis dan sebagai suami dari wanita yang sedang kalian lecehkan ini."
Ghazali berjalan melewatiku. Saat bahu kami bersisian, ia menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di telingaku dengan suara yang hanya bisa kudengar. "Maaf membuatmu menunggu lama, Istriku."
Sentuhan emosional sesaat itu menancapkan pilar kekuatan baru di dalam dadaku. Aku menegakkan tulang punggungku, melangkah menyusulnya, dan kami berdua berdiri berdampingan di seberang meja mahoni tersebut, menghadapi ibu mertuaku dan mantan kekasih suamiku.
Dua luka, kini bersatu di bawah satu atap yang sama.
Ghazali menarik kursi dengan tangan kirinya, lalu menatap makanan mewah yang tersaji di atas meja dengan pandangan muak.
"Makan malam keluarga, Ibu bilang?" Ghazali terkekeh sinis, sebuah tawa yang kosong dan menyakitkan. "Sangat puitis. Ibu membunuh ayah dari ayahku, meracuni pelayan yang merawatku sejak kecil, lalu menjebak istriku dan menuduhnya sebagai pembunuh bayaran. Dan sekarang, Ibu mengundang kami untuk makan Wagyu? Coba beri tahu saya, pasal KUHP mana yang membenarkan sosiopati tingkat akut ini?"
"Aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu dari penyihir itu, Ghazali!" Nyonya Ratna menunjuk tepat ke wajahku dengan jari telunjuknya yang bergetar. "Dia telah mencuci otakmu! Dia merusak reputasimu di ruang sidang! Dia mencuri tulang kakekmu untuk memeras kita!"
"Dia tidak mencuri apa pun!" bentak Ghazali, memukul meja kayu itu dengan tangan kirinya hingga beberapa gelas kristal berdenting keras. "Keana mengambil sisa bukti yang gagal Ibu musnahkan! Bukti yang menunjukkan bahwa Ibu dan pelacur di sebelah Ibu ini menaburkan Digitalis ke dalam teh Kakek!"
"Bukti?" Maia akhirnya bersuara. Wanita itu menyandarkan punggungnya ke kursi, sama sekali tidak terpengaruh oleh amarah Ghazali. Ia melipat tangannya di dada, memancarkan aura kemenangan yang menjijikkan. "Oh, maksudmu selembar kertas hasil print-out dari mesin laboratorium yang sudah dihancurkan itu?"
Maia menatapku dengan tatapan meremehkan. "Kudengar kau sempat membuat sedikit keributan di lobi rumah sakit sebelum ditangkap, Dokter Keana. Mengirimkan soft-file ke server cloud Kementerian Kesehatan? Manuver yang cerdas untuk seorang dokter, tapi sangat bodoh untuk seorang ahli forensik."
"Bodoh katamu?" balasku dingin, melangkah maju mendekati meja. Borgol di tanganku bergemerincing.
"Ya, bodoh," Maia tersenyum lebar. "Kau mungkin jago membedah mayat, tapi kau tidak mengerti asas Exclusionary Rule dalam hukum pembuktian pidana. File digital yang kau unggah itu tidak memiliki Berita Acara Penyitaan (BAP). Tulang yang kau patahkan itu tidak memiliki chain of custody yang dilegalisir oleh penyidik. Dalam hukum, apa yang kau miliki itu adalah Fruit of the Poisonous Tree—buah dari pohon yang beracun."
Maia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berkilat penuh kemenangan. "Hakim akan menolak alat buktimu mentah-mentah. File digital itu hanya akan menjadi sampah cyber. Sementara itu, pengakuan bersalah Nyonya Ratna yang ditandatangani di atas materai, dilengkapi dengan kuitansi transfer uang senilai sepuluh miliar rupiah ke rekening lepas pantai (offshore) yang sudah kurekayasa seolah-olah mengalir ke rekening amal milikmu... itu adalah bukti materiil yang sempurna. Kau tamat, Dokter."
Ruangan itu hening sejenak. Nyonya Ratna tersenyum tipis, menikmati setiap detik kehancuranku yang dinarasikan oleh pengacaranya.
Namun, alih-alih panik atau menangis, aku membiarkan sudut bibirku tertarik ke atas, membentuk sebuah seringai yang jauh lebih dingin dan mematikan dari senyum Maia.
Aku menoleh ke arah Ghazali. Suamiku itu hanya diam, menatap Maia dengan tatapan kosong, persis seperti predator yang sedang membiarkan mangsanya masuk lebih dalam ke dalam perangkap.
"Kau benar, Maia," ucapku santai. Suaraku tidak bergetar sedikit pun. Aku menatap mata wanita iblis itu lurus-lurus. "Dalam doktrin hukum pidana formal, hasil spektrometri massa dari tulang yang kuambil tanpa surat perintah itu mungkin akan ditolak oleh majelis hakim."
Maia mengangkat satu alisnya, tampak sedikit terganggu dengan ketenanganku.
"Tapi sebagai seorang ilmuwan forensik," aku melanjutkan, berjalan memutari sisi meja hingga jarakku dengan Maia hanya tersisa satu meter. Penyidik di sudut ruangan bersiap maju, namun Leo Sastra menahan mereka dengan tatapan peringatan. "Aku tidak pernah hanya bergantung pada satu jenis sampel biologis. Kau pikir aku mempertaruhkan nyawaku dan nyawa suamiku di bunker bawah tanah itu hanya untuk sepotong tulang paha?"
Senyum Maia seketika luntur. Matanya menyipit penuh kecurigaan. "Apa maksudmu?"
"Prinsip Pertukaran Locard (Locard's Exchange Principle)," aku mendiktekan teori dasar kriminologi itu dengan artikulasi tajam layaknya seorang dosen yang sedang menguji mahasiswa bodoh. "Setiap kontak selalu meninggalkan jejak. Pelaku membawa sesuatu dari TKP, dan pelaku meninggalkan sesuatu di TKP."
Aku mencondongkan tubuhku ke arah Maia, membiarkan wajah kami berdekatan. "Dua bulan yang lalu, saat kau panik karena Digoxin yang kau berikan pada Bi Inah bekerja terlalu lambat, kau menggunakan tanganmu sendiri untuk membekap mulut dan hidung wanita tua itu hingga ia tewas karena asfiksia mekanik."
Wajah Maia seketika memucat. Otot di lehernya menegang. Nyonya Ratna yang duduk di sebelahnya menahan napas.
"Bi Inah meronta," bisikku, suaraku mengudara seperti desisan racun di telinga Maia. "Wanita tua yang malang itu mencakar pergelangan tanganmu. Dia membawa sisa sel epidermis dan minyak esensial dari parfum mawar hibrida mahalnya itu di bawah kuku jarinya. Dan malam tadi, sebelum polisi menghancurkan laboratoriumku, mesin GC-MS telah mengekstraksi dan membaca DNA biologis serta profil kimiawi parfum itu."
"I-itu tidak mungkin!" Maia berdiri dengan mendadak, kursinya terdorong ke belakang dengan suara berderit kasar. Tangan wanita itu gemetar. "Kalian membual! Jenazahnya sudah tertimbun tanah selama dua bulan!"
"Lilin mayat (Adipocere), Maia. Kelembapan tanah justru mengawetkan kuku dan luka petechiae di lehernya dengan sangat sempurna," Ghazali akhirnya bersuara. Baritonnya menggelegar, sarat akan kepuasan yang luar biasa. Suamiku itu menatap mantan kekasihnya dengan pandangan merendahkan yang setara dengan menatap seonggok sampah.
"Dan berbeda dengan tulang Kakek yang kami ambil sendiri," Ghazali melangkah maju, meletakkan tangan kirinya di pundakku, "pembongkaran makam Bi Inah pagi tadi dilakukan secara resmi. Dilengkapi dengan Surat Perintah Penggeledahan dari Pengadilan Negeri, disaksikan oleh keluarga korban, dan dikawal oleh tim forensik Pusdokkes Polri."
Bibir Maia bergetar hebat. Ia melirik panik ke arah Nyonya Ratna yang kini mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.
"Hasil laboratorium kuku Bi Inah itu memiliki chain of custody yang absolut, Maia," Ghazali memberikan pukulan mematikannya. "Bukti itu sah. Legal. Dan cukup untuk mengirimmu ke regu tembak atas tuduhan pembunuhan berencana."
Duniaku yang sejak tadi malam dipenuhi oleh kegelapan, rasa sakit, dan darah, akhirnya melihat secercah fajar kemenangan. Kepanikan yang terpampang di wajah Maia dan Nyonya Ratna adalah bayaran setimpal untuk setiap detik penderitaan yang kami alami di bunker beracun itu.
"Kalian menjebakku!" Maia berteriak histeris, menunjuk ke arahku dan Ghazali secara bergantian. "Ini semua konspirasi! Kalian meretas billboard itu untuk menggiring opini agar polisi mau membongkar makam pelayan sialan itu!"
"Menjebakmu?" Aku tertawa getir, mengangkat kedua pergelangan tanganku yang diborgol ke depan wajahnya. "Kau yang meracuni orang-orang yang tidak bersalah. Kau yang mencoba membunuh asistenku dengan Potassium Chloride. Kau yang menyemprotkan gas Sevoflurane di bunker bawah tanah itu hingga suamiku nyaris mati karena asam korosif! Jangan berani-berani memposisikan dirimu sebagai korban di sini, Maia Anindita!"
Emosiku meledak. Luka di bahuku kembali berdenyut perih, seolah mengingatkanku bahwa rasa sakit ini nyata.
Tiba-tiba, pintu ruang eksekutif itu kembali terbuka. Kali ini, bukan penyidik biasa yang masuk, melainkan Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri yang dikawal oleh empat anggota Provost.
"Nyonya Ratna Mahendra. Saudari Maia Anindita," Jenderal bintang satu itu melangkah tegas mendekati meja makan. Wajahnya keras tanpa kompromi. "Berdasarkan hasil temuan terbaru dari Pusat Laboratorium Forensik Polri dan pengembangan alat bukti dari makam korban Inah Susanti, kami memiliki bukti permulaan yang cukup untuk mengubah status Anda berdua."
Jenderal itu menoleh ke arah dua penyidik di sudut ruangan. "Tahan mereka berdua. Status mereka resmi menjadi tersangka utama tindak pidana pembunuhan berencana dan manipulasi alat bukti hukum."
"Tunggu! Anda tidak bisa melakukan ini!" Nyonya Ratna berteriak histeris saat seorang anggota Provost meraih lengannya secara paksa. "Saya adalah istri dari pendiri yayasan ini! Saya menyumbang miliaran rupiah untuk institusi kalian! Ghazali! Tolong Ibumu!"
Ghazali berdiri mematung. Matanya yang gelap menatap ibunya sendiri yang meronta-ronta di tangan polisi. Ada raut kepedihan yang melintas singkat di wajahnya—rasa sakit dari seorang anak yang harus melihat kehancuran ibu kandungnya sendiri. Namun, keadilan tidak mengenal silsilah darah.
"Saya sudah tidak memiliki ibu, Nyonya Ratna," jawab Ghazali dengan suara rendah yang sangat dingin. "Ibu saya mati bersama Kakek di hari Ibu memberikan racun itu kepadanya."
"Ghazali! Kau anak durhaka!" raung Nyonya Ratna saat ia ditarik keluar dari ruangan.
Sementara itu, Maia Anindita menatap kosong ke arah borgol besi yang kini dipasangkan ke pergelangan tangannya. Mahkota kesombongannya telah hancur lebur. Wanita yang selalu mengandalkan parfum mawar dan celah hukum itu akhirnya dikalahkan oleh sisa kotoran di bawah kuku seorang pelayan.
Saat Maia digiring melewati kami, ia menghentikan langkahnya sejenak. Ia menatapku dengan mata yang memerah karena kebencian murni.
"Kau mungkin menang hari ini, Dokter Keana," desis Maia, napasnya memburu. "Tapi jangan pernah berpikir ranjang pernikahanmu akan damai. Darah kakeknya, pengkhianatan ibunya... luka itu tidak akan pernah bisa dijahit oleh pisau bedahmu. Kau hanya akan berbagi ranjang dengan seorang pria yang jiwanya sudah hancur."
"Bawa dia pergi," perintah Komisaris Herman tegas.
Petugas menarik Maia keluar dari ruangan. Pintu kayu mahoni itu tertutup, menyisakan keheningan yang tebal dan memabukkan di dalam lounge VIP tersebut.
Petugas kepolisian yang tadi memborgolku dengan segera membuka kunci borgol di pergelangan tanganku. Besi dingin itu jatuh berdenting ke lantai karpet.
Bebas. Tanganku akhirnya bebas.
"Dokter Keana, atas nama institusi kepolisian, kami memohon maaf atas penangkapan yang keliru ini," ucap Jenderal Dirtipidum tersebut dengan nada menyesal. "Status tersangka Anda telah dicabut. Anda bebas."
Aku tidak menjawab. Mataku langsung beralih mencari sosok Ghazali.
Pria itu berdiri di dekat meja makan. Begitu pintu ruangan ditutup dan para pejabat polisi itu keluar untuk mengurus administrasi, topeng kekuatan yang sejak tadi ia pertahankan akhirnya hancur.
Tubuh tegap Ghazali mendadak limbung. Tiang infus portabel yang ia pegang terlepas dan jatuh berdebam. Ia mencengkeram tepi meja mahoni itu, terengah-engah mencari oksigen, sementara darah segar mulai merembes kembali menembus perban putih di tangan kanannya.
"Ghazali!"
Aku berteriak histeris, berlari menerjang jarak di antara kami, dan menangkap tubuhnya tepat sebelum ia ambruk ke lantai. Lututku menghantam lantai karpet dengan keras saat aku menahan bobot tubuhnya.
"Mas... Mas, kau harus kembali ke ICU!" isakku, memeluk dada kirinya yang tidak terluka. Air mataku membasahi kemeja rumah sakitnya. "Kau memaksakan dirimu! Jantungmu belum stabil!"
Ghazali menyandarkan kepalanya di bahuku. Napasnya panas dan tersengal. Namun, di tengah penderitaan fisiknya yang luar biasa, ia memaksakan sebuah senyuman tipis. Lengan kirinya melingkar di punggungku, merengkuhku dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Biarkan... biarkan aku memelukmu sebentar saja, Istriku," bisiknya parau di ceruk leherku. Aroma keringat dingin dan obat-obatannya berbaur dengan wangi sabun antiseptikku. "Makan malam keluarganya sudah hancur berantakan... tapi rasanya... ini adalah makan malam terbaik sepanjang hidupku."
Aku menangis tersedu-sedu, mengeratkan pelukanku pada lehernya. Di ruang VIP yang berbau makanan mewah dan pengkhianatan ini, kami berdua berlutut di lantai bagaikan dua prajurit yang baru saja selamat dari kiamat.
Kata-kata kutukan Maia masih terngiang di kepalaku. Kau hanya akan berbagi ranjang dengan seorang pria yang jiwanya sudah hancur.
Wanita iblis itu mungkin benar. Jiwa suamiku memang hancur lebur. Keluarganya hancur. Masa lalunya adalah sebuah mimpi buruk. Namun saat aku merasakan detak jantung Ghazali yang rapuh berdebar menempel di dadaku, aku menyadari satu hal yang tak terbantahkan.
Aku adalah seorang dokter spesialis forensik. Menyembuhkan luka adalah keahlianku, dan aku akan menghabiskan seluruh sisa hidupku untuk memastikan bahwa tidak ada lagi bau kematian yang berani menyentuh pria yang berada di pelukanku malam ini.
Ranjang kami mungkin bermula dari dua luka yang dalam, namun mulai besok pagi, aku yang akan menjahit luka itu menggunakan benang cinta yang akhirnya menemukan alamat yang benar.
baca part ini aku merinding
nunggu update selanjutnya kak😍