NovelToon NovelToon
Aku Diculik Mafia Tampan

Aku Diculik Mafia Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan

Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.

Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.

Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.

Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.

Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.

Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wajah yang Sama

Bab 18 – Wajah yang Sama

Alya menatap foto tua itu dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya tak lepas dari setiap detail di sana.

Wanita muda yang tersenyum di foto itu… jelas sekali adalah ibunya. Wajah lembut, senyum manis, dan mata yang sama persis. Hanya saja di foto itu ibunya tampak jauh lebih muda, rambutnya panjang terurai, dan terlihat sangat bahagia sedang menggendong seorang bayi di pelukannya.

Namun yang membuat bulu kuduk Alya meremang adalah sosok pria yang berdiri di samping ibunya itu.

Setengah bagian wajah pria itu memang robek dan hilang dimakan waktu, tapi bagian yang tersisa… bentuk rahang yang tegas, garis alis yang tajam, dan bentuk hidung yang mancung…

Sangat mirip.

Sangat mirip dengan Kael.

Alya mundur satu langkah kecil, kakinya terasa berat.

“Tidak… ini tidak mungkin…” bisiknya pelan.

Kael mengambil foto itu kembali dari tangan Alya dengan gerakan cepat. Ia menatapnya dengan wajah datar dan dingin.

“Itu bukan aku.”

“AKU TAU!” bentak Alya cepat, suaranya sedikit bergetar. “Aku tahu itu bukan kamu sekarang! Maksudku… pria di foto itu! Dia mirip banget sama kamu!”

Riko yang berdiri tidak jauh dari situ ikut mendekat dan melihat foto itu. Wajahnya langsung berubah tegang dan kaget.

“Tuan…” panggilnya pelan.

Kael menoleh. “Katakan apa yang kau lihat.”

Riko ragu-ragu beberapa detik, tapi akhirnya memberanikan diri.

“Pria ini… Tuan, dia sangat mirip dengan Tuan Besar Lorenzo saat masih muda dulu. Sangat mirip.”

Tuan Besar.

Dua kata itu meluncur dari mulut Riko bagaikan petir di siang bolong bagi Alya.

Ayah Kael.

Dunia Alya seakan berputar kencang lagi. Kepalanya pusing.

“Jadi… kalau itu benar ayahmu…” Alya menatap Kael tak percaya, “…berarti kemungkinan omongan Darius itu benar? Aku…”

Kael menggenggam foto itu semakin erat hingga kertasnya sedikit berkerut. Rahangnya mengeras.

“Belum tentu. Itu belum bukti sah.”

“TAPI MIRIP SEKALI! MATA, HIDUNG, BENTUK WAJAHNYA SAMA KAYAK KAMU!” seru Alya tak terima.

“Banyak orang di dunia ini yang wajahnya mirip,” jawab Kael santai namun penuh penyangkalan.

“Kamu sedang menyangkal kenyataan! Kamu takut!” tuduh Alya.

Kael menatap tajam ke mata gadis itu.

“Aku tidak takut. Aku sedang berpikir jernih. Bedanya.”

Alya terdiam. Ia tahu pria ini memang selalu terlihat tenang dan terkendali di luar, tapi gerakan rahangnya yang menegang itu pertanda kalau pikirannya sedang kacau balau.

Kael memasukkan foto itu ke dalam saku jasnya dengan hati-hati.

“Kita pulang dulu. Ke mansion.”

“Aku belum selesai! Kita harus cari tahu sekarang juga!”

“Kau akan cari tahu dan dapat jawabannya… tapi di tempat yang aman.”

“AKU MAU CARI IBUKU SEKARANG JUGA!”

Kael melangkah mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.

“DAN AKU MAU KAU MASIH HIDUP SAMPAI BESOK PAGI,” ucapnya tegas dan rendah.

Nada suaranya yang berat dan penuh otoritas itu membuat Alya seketika kehilangan kata-kata. Ia membenci saat pria ini bicara masuk akal dan benar.

 

Perjalanan pulang di dalam mobil terasa jauh lebih sunyi dan mencekam dari biasanya.

Alya duduk memeluk kedua kakinya, menatap kosong ke luar jendela yang gelap. Pikirannya penuh dengan tanda tanya.

Di sampingnya, Kael duduk tegak. Luka di lengan kirinya yang tadi dibalut seadanya kini terlihat mulai basah lagi oleh darah yang merembes keluar.

Alya melirik sekilas, lalu melirik lagi. Akhirnya ia tidak tahan.

“Kamu berdarah lagi.”

“Hanya lecet kecil,” jawab Kael singkat tanpa menoleh.

“Kamu selalu bilang begitu setiap kali terluka.”

“Karena memang selalu benar.”

Alya mendengus kesal mendengar jawaban sok kuat itu.

Diam beberapa saat. Tiba-tiba Alya meraih kotak P3K kecil yang ada di laci penyimpanan mobil.

Kael menoleh heran. “Apa yang kau lakukan?”

“Menyelamatkan nyawa orang keras kepala sebelum dia mati kehabisan darah,” jawab Alya ketus sambil membuka kotak itu.

“Aku tidak butuh diobati.”

“Aku juga nggak butuh diculik dan dibawa ke dunia gila kamu dulu, tapi lihat kita sekarang kan? Kita di sini,” balas Alya cepat.

Riko yang duduk di kursi depan sampai harus menggigit bibir bawahnya keras-keras menahan tawa mendengar percakapan mereka. Nona Alya memang satu-satunya orang yang berani melawan Tuan Kael.

Kael akhirnya diam dan membiarkan Alya membuka perban lama di lengannya.

Alya membersihkan luka sayatan itu dengan kapas dan cairan antiseptik dengan hati-hati, meski wajahnya manyun.

Wajah Alya sangat dekat sekali dengan lengan Kael. Hawa tubuhnya terasa hangat.

Kael justru menatap wajah samping gadis itu tanpa berkedip sama sekali. Tatapannya lembut, berbeda dengan biasanya.

“Kenapa lihat aku begitu?” gerutu Alya tanpa menoleh.

“Kau cantik saat sedang marah atau serius,” jawab Kael pelan.

“TUTUP MULUT!”

“Kau cantik juga saat menyuruhku diam,” goda Kael lagi.

Alya sengaja menarik perban dan mengencangkan balutannya agak sedikit keras.

“Aww!” Kael sedikit meringis kesakitan.

“Itu namanya balas dendam,” kata Alya puas.

“Itu namanya perawatan paksa,” balas Kael sambil tersenyum tipis.

 

Sesampainya di mansion, Kael langsung membawa Alya masuk ke ruang kerja pribadinya. Ruangan yang luas, megah, penuh rak buku tinggi menjulang, dan dinding yang dipenuhi layar monitor keamanan dan data.

Kael meletakkan foto tua itu tepat di tengah meja kerjanya yang besar.

“Aku akan cari kebenarannya malam ini juga. Tidak akan ada lagi rahasia.”

Alya berdiri di samping meja dengan tangan disilangkan di dada.

“Aku ikut.”

“Tidak. Ini urusan rahasia.”

“Aku bosan dilarang-larang terus! Aku juga korban dalam cerita ini!”

“Aku bosan juga mendengar kau keras kepala,” balas Kael.

“Berarti kita impas. Jadi aku ikut,” kata Alya sambil tersenyum menang.

Kael menatapnya lama… sangat lama. Akhirnya ia menghela napas pendek dan duduk di kursi kerjanya.

“Baiklah. Boleh ikut. Tapi syaratnya satu: duduk manis dan diam. Jangan banyak komentar.”

Alya tersenyum lebar penuh kemenangan.

“Aku menang!”

“Jangan biasakan menang terus, nanti manja,” gumam Kael.

Kael menyalakan salah satu monitor besar di depannya dan melakukan panggilan video.

Beberapa detik kemudian, wajah seorang pria tua berkacamata tebal dan berjas putih muncul di layar.

“Dokter Arman,” sapa Kael tegas. “Aku butuh bantuanmu. Aku butuh tes DNA dilakukan secepat mungkin. Sangat mendesak.”

Alya yang sedang duduk di ujung meja langsung tersentak kaget.

“TES DNA?!”

Kael tak menghiraukan teriakannya, ia tetap menatap lurus ke layar.

“Sampelnya antara aku… dan gadis di sebelahku ini, Alya.”

Napas Alya tercekat di tenggorokan. Jantungnya berdegup kencang sekali.

Dokter di layar mengangguk cepat.

“Baik, Tuan Kael. Bawa sampelnya malam ini juga ke klinik rahasia kita. Hasil awal bisa keluar besok sore.”

Panggilan terputus.

Alya menatap Kael tak percaya.

“Kamu… kamu serius mau lakukan tes itu?”

“Ya.”

“Kenapa?! Kenapa harus sekarang?!” tanya Alya gemetar.

Kael berdiri dari kursinya dan perlahan berjalan mendekat ke arah Alya yang masih duduk di tepi meja.

Suara langkah sepatunya terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

Ia berhenti tepat di hadapan Alya, di antara kedua kaki gadis itu, membuat jarak mereka sangat dekat.

“Karena…” Kael berbicara pelan, suaranya berat dan dalam, “…aku ingin tahu kepastiannya. Apakah aku harus berhenti menginginkanmu. Apakah aku harus berhenti mencintaimu karena kita terlarang.”

DUG!

Jantung Alya seakan mau meledak keluar dari rongga dada.

“Kael…”

Kael mengangkat dagu Alya perlahan dengan ibu jarinya, memaksa gadis itu menatap matanya.

Mata gelap itu tampak penuh dengan obsesi, cinta, tapi juga konflik batin yang luar biasa.

“Dan jujur saja… aku sangat benci kalau jawabannya ternyata ‘iya’ dan kita memang saudara.”

Napas Alya terasa hangat dan memburu.

Suasana di ruangan itu menjadi sangat tegang dan romantis sekaligus. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter saja.

Terlalu dekat.

Alya tak bergerak. Ia terpaku.

Kael perlahan mulai menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya—

BRAAAAKK!!!

Pintu kayu besar ruang kerja itu terbuka hebat hingga menghantam dinding!

Mereka berdua kaget dan menoleh cepat.

Di ambang pintu, berdiri sosok pria tua berwajah keras dan garang. Itu ayah Kael, Tuan Besar Lorenzo. Wajahnya tampak sangat murka dan merah padam.

“Aku tahu kau membawa gadis itu kembali ke sini, Kael!” teriaknya keras.

Tatapan marah itu kemudian jatuh dan tertuju pada benda di atas meja.

Foto tua itu.

Mata pria tua itu membelalak lebar melihat foto itu. Wajahnya yang tadi merah padam seketika berubah pucat pasi… untuk pertama kalinya.

Tangan pria tua itu gemetar.

“Itu… foto itu dari mana kau dapatkan?!”

1
Erna sujana Erna sujana
lanjut Thor,suka dgn CRT nya
wiwi: tunggu update bsok yah kak😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!