Calypsa, seorang freelance video editor biasa di siang hari dan editor video deep web khusus geng mafia untuk menghikangkan bukti di malam hari. Ia ketahuan oleh clientnya, Cyrus ketua geng terbesar di Aethelgard. Namun, Cyrus bukan melenyapkannya, terapi merekrutnua untuk sebuah misi. Misi untuk membalas dendam kematian kakak laki-lakinya sekaligus misi cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amila FM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cyrus
Di depannya berdiri seseorang yang wajahnya baru saja dia lihat di layar monitor laptopnya, Cyrus, dengan rahang tegas dan tajam, mata coklat tua, rambut pendek hitam yang berantakan. Sosok aslinya lebih tampan daripada foto itu berdiri di hadapan Calypsa.
Cyrus mengenakan kemeja hitam lengan panjang yang dilipat hingga siku, celana hitam, dan sepatu kulit yang berkilat meski malam ini hujan turun cukup deras. Bahunya yang lebar menutupi sebagian besar bingkai pintu, membuat koridor sempit di depan rumah kontrakan Calypsa terasa semakin pengap. Di belakangnya, dua pria berpostur besar berdiri diam seperti patung, wajah mereka kosong dan tangan mereka terselip di dalam jaket masing-masing.
Calypsa tidak bergerak. Kakinya terasa disemen ke lantai.
"Kamu tidak mengundangku masuk?" ujar Cyrus, suaranya rendah dan tenang, tidak ada nada ancaman di sana. Justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Calypsa meremang lebih dari ancaman sekalipun.
Calypsa menelan ludah keras. Otaknya yang biasanya bekerja cepat mendadak berhenti berfungsi. Selama dua tahun ia bekerja di dunia bawah tanah digital Aethelgard, ia selalu berhasil menjaga jarak antara dirinya dan para klien. Tidak ada yang pernah tahu wajahnya. Tidak ada yang pernah mengetuk pintu kontrakannya yang terletak di sudut paling ujung gang Westhallow, jauh dari jangkauan kamera umum.
Sampai malam ini.
Calypsa melangkah mundur satu langkah, memberi ruang bagi Cyrus untuk masuk. Ia tidak punya pilihan lain. Menolak pria dengan dua bodyguard di belakangnya di tengah malam buta adalah keputusan paling bodoh yang bisa ia ambil.
Cyrus masuk tanpa permisi lebih lanjut. Kedua bodyguard-nya tetap berdiri di luar, namun salah satu dari mereka menutup pintu dari sisi luar. Calypsa mendapati dirinya terkunci di dalam rumahnya sendiri bersama ketua mafia terbesar di Aethelgard.
Cyrus berjalan perlahan mengelilingi ruang kerja Calypsa yang sempit. Matanya menyapu tiga monitor yang masih menyala, tumpukan hard disk eksternal yang tersusun rapi di rak kayu, kabel-kabel yang diikat dengan pengikat plastik berwarna hitam, serta satu cangkir kopi yang sudah dingin di sudut meja. Ekspresinya tidak berubah, tapi Calypsa bisa merasakan bahwa pria itu sedang mencatat setiap detail ruangan ini ke dalam kepalanya.
"Lebih rapi dari yang aku bayangkan." gumam Cyrus, lebih ke diri sendiri daripada kepada Calypsa.
Calypsa memilih diam, berdiri di dekat pintu dapur dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya. Ia menghitung jarak antara dirinya dan pintu belakang. Terlalu jauh. Dan terlalu bodoh untuk dicoba.
Cyrus akhirnya berhenti di depan monitor utama. Di layar itu masih terbuka file video yang sudah ia selesaikan, lengkap dengan layer-layer editing yang ia susun selama berjam-jam. Cyrus menundukkan kepala sedikit, mengamati tampilan software editing tersebut dengan tatapan yang membuat Calypsa merasa seperti semua kerja kerasnya sedang dibedah satu per satu.
"Kamu pakai frame-by-frame AI inpainting." bukan pertanyaan, melainkan pernyataan. Cyrus berbalik menghadap Calypsa. "Siapa yang mengajarimu?"
Calypsa mengerutkan dahi tipis-tipis, tidak menduga pertanyaan itu yang keluar pertama. "Otodidak."
Cyrus menatapnya selama beberapa detik tanpa berkedip. Calypsa menahan diri agar tidak memalingkan wajah karena tatapan itu terasa seperti sorotan lampu penyidik yang menelanjangi setiap kebohongan yang pernah ia ucapkan dalam hidupnya.
"Kamu tahu kenapa aku di sini." Cyrus akhirnya berkata.
"Security sistem laptopku lupa aku nyalakan." jawab Calypsa datar.
Sudut bibir Cyrus bergerak hampir tidak terlihat. Bukan senyum sepenuhnya, lebih kepada pengakuan singkat atas kejujuran yang tidak ia duga dari wanita di hadapannya. "Kelalaian yang mahal."
"Saya tahu." Calypsa menunduk sebentar, menahan tarikan napas panjang yang ingin sekali ia lepaskan. "Jadi, apa yang akan Anda lakukan sekarang?"
Cyrus tidak langsung menjawab. Ia menarik kursi kerja Calypsa tanpa permisi dan duduk di sana dengan santai, satu tangannya bertumpu di lutut dan matanya tetap terpaku pada Calypsa. Ia terlihat sangat tidak asing di ruangan ini, padahal baru beberapa menit yang lalu ia belum pernah menginjakkan kaki ke sini. Ada sesuatu yang sangat mengganggu dari ketenangan itu.
"Pekerjaan yang kamu kerjakan untuk kami malam ini adalah yang terbaik yang pernah kami terima dari siapapun." ujar Cyrus. "Tidak ada celah. Tidak ada artefak visual. Tidak ada satu piksel pun yang mencurigakan." ia berhenti sejenak. "Hampir."
Hampir.
Calypsa merasakan perutnya turun tiba-tiba. Cyrus mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan layarnya kepada Calypsa dari jarak yang cukup dekat sehingga ia harus melangkah maju dua langkah untuk melihatnya. Di layar itu adalah tangkapan layar dari video yang sudah ia kira sempurna, diperbesar pada satu titik di sudut bawah kanan, tepat di permukaan jam tangan mewah milik Cyrus yang tertangkap kamera dari sudut yang sangat tidak terduga.
Di pantulan kecil yang hampir tidak terlihat oleh mata biasa itu, ada bayangan layar monitor dan siluet seseorang yang sedang duduk di depannya.
Calypsa.
"Resolusi kamera CCTV di lorong itu ternyata lebih tinggi dari spesifikasi yang dicantumkan klienmu di brief." ujar Cyrus dengan nada yang tetap datar. "Kesalahan informasi dari pihak mereka. Bukan kamu."
Calypsa menatap layar itu dan merasakan dingin yang menjalar dari ujung jari hingga ke tengkuk lehernya. Selama dua tahun ia tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun. Dan satu malam dengan satu ketidakakuratan data dari klien, seluruh identitasnya terancam.
"Tapi itu sudah cukup bagiku untuk menemukanmu." lanjut Cyrus, menarik kembali ponselnya dan memasukkannya ke saku kemeja. "Aku menggunakan sistem facial reconstruction dari bayangan itu. Butuh dua jam."
Calypsa tidak berkata apa-apa. Dua jam. Hanya dua jam bagi pria ini untuk menemukan wajah yang selama ini ia jaga dengan sangat ketat.
"Jadi kamu di sini untuk membungkam saya." suara Calypsa keluar lebih stabil dari yang ia perkirakan.
Cyrus memiringkan kepalanya sedikit. "Kalau itu tujuanku, aku tidak perlu repot-repot mengetuk pintu."
Calypsa mengakui logika itu dalam diam.
Cyrus berdiri dari kursi, tinggi badannya yang menjulang kembali memenuhi ruangan sempit itu. Ia berjalan mendekati Calypsa perlahan, berhenti pada jarak yang cukup jauh untuk tidak terasa mengancam secara fisik, namun cukup dekat untuk membuat Calypsa sangat sadar akan kehadirannya.
"Aku butuh seseorang sepertimu bekerja secara eksklusif untuk geng kami." ujarnya. "Bukan lagi sebagai kontraktor lepas dari deep web. Tapi sebagai bagian langsung dari operasional kami."
Calypsa mengangkat matanya, menatap langsung wajah Cyrus untuk pertama kalinya dengan tatapan yang tidak melarikan diri. "Itu bukan tawaran. Itu perintah."
"Kamu cerdas." jawab Cyrus singkat, tanpa nada mengejek.
Calypsa menarik napas perlahan. Pikirannya berputar dengan cepat, menimbang semua kemungkinan yang ada. Ia bisa menolak dan berakhir dengan cara yang tidak ingin ia bayangkan. Ia bisa pura-pura setuju lalu kabur, tapi dengan sistem pelacakan yang bisa menemukan bayangannya di pantulan jam tangan dalam dua jam, kemungkinan berhasil nyaris nol. Atau ia bisa menerima, dan menggunakan posisi ini untuk menemukan apa yang selama ini ia cari.
Tato ular di pergelangan tangan kiri Cyrus.
Tato yang sama persis dengan yang ada di tangan kiri kakaknya, Apo.
Tato yang sama dengan yang terlihat samar-samar di tangan seorang pria yang berusaha menyelamatkan Apo dua tahun lalu di malam penyerangan itu.
Selama ini Calypsa mencari identitas pria penolong itu di antara ribuan file deep web yang melintas di mejanya. Dan malam ini, jawaban itu berdiri di depannya dengan kemeja hitam dan mata coklat tua yang dingin.
Apakah Cyrus adalah pria itu? Atau ia hanya satu dari banyak anggota geng kakaknya yang mengenakan tato yang sama?
Calypsa membutuhkan waktu di dalam lingkaran itu. Ia membutuhkan akses. Dan Cyrus baru saja menawarkan keduanya dengan cara yang tidak ia duga.
"Baik." ujar Calypsa akhirnya, suaranya tetap rata. "Tapi ada syaratnya."
Alis Cyrus terangkat tipis, pertanda pertama bahwa pria itu sedikit terkejut.
"Saya tetap bekerja dari jarak jauh. Tidak ada yang tahu wajah saya. Identitas Silent Queen tidak berubah."
Calypsa menatap Cyrus langsung. "Dan saya tidak memegang senjata."
Keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Suara hujan di luar semakin keras, mengetuk kaca jendela kecil di samping meja kerja Calypsa dengan ritme yang tidak teratur.
Cyrus mengangguk sekali, singkat dan tegas. "Disetujui."
Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. Tangannya menyentuh gagang pintu, lalu ia berhenti tanpa berbalik.
"Besok malam, seseorang akan menghubungimu melalui jalur baru. Ikuti instruksinya." ujar Cyrus. Lalu ia membuka pintu dan melangkah keluar, hilang ke dalam malam yang basah bersama kedua bayangannya seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi.
Calypsa berdiri diam di tengah ruangannya sendiri selama hampir satu menit penuh setelah suara langkah kaki itu menghilang.
Kemudian ia duduk di kursi kerjanya yang masih hangat karena baru saja diduduki Cyrus, menatap tiga layar yang masih menyala, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Calypsa merasa sesuatu yang aneh bersarang di dadanya.
Bukan ketakutan.
Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari itu.
Harapan.