NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat

Obrolan semalam berakhir begitu saja dengan ucapan selamat malam. Tidak ada enggak pantas lebih lanjut, belum ada yang berani untuk melangkah melebihi batas aman. Membuat keduanya berada dalam area abu-abu yang canggung.

Aiena sengaja berangkat lebih awal agar tidak bertemu dengan Shane di lift yang akan membuat suasana lebih canggung. Namun hari itu mereka memiliki jadwal rapat evaluasi bulanan dimana Aiena harus hadir untuk mewakili divisi pemasaran digital. Sedangkan Shane sebagai pemimpin rapat seperti biasa.

Sepuluh menit sebelum rapat dimulai, Aiena sudah duduk manis di kursinya. Pura-pura sibuk dengan laptop di hadapannya agar jika Shane datang mereka tidak perlu bertemu pandang dan menghasilkan interaksi yang canggung.

Akhirnya ketika suara Shane yang berbincang dengan karyawan lain terdengar mendekat, jantung Aiena berkhianat. Ia tetap menunduk, pura-pura memeriksa koneksi internet pada laptopnya. 

Shane melangkah masuk dengan aura otoritas yang biasanya, namun ada kekakuan yang tidak biasa pada bahunya. Pria itu meletakkan laptopnya di meja pimpinan rapat yang berada di ujung depan, tak jauh dari tempat Aiena duduk.

“Selamat pagi semua. Bisa kita mulai?” sapa Shane, suaranya terdengar datar, namun bagi Aiena, ada getaran sisa percakapan semalam yang masih tertinggal di sana.

“Pagi, Pak,” sahut para peserta rapat hampir serempak.

Aiena terpaksa mendongak sedikit saat rapat dimulai. Bagaimanapun ia harus bersikap profesional dan tetap memperhatikan Shane yang sedang mempresentasikan grafik pencapaian kuartal terakhir, tangannya bergerak lincah menunjuk layar proyektor. 

Biasanya, Shane akan melemparkan senyum tipis atau setidaknya kontak mata singkat kepada Aiena saat membahas strategi pemasaran, namun kali ini pria itu justru memandang tirai jendela polos di belakang Aiena.

Setiap kali pandangan mereka hampir bersinggungan, salah satu dari mereka akan segera mengalihkan fokus. Aiena mendadak mencatat sesuatu yang tidak penting di laptopnya, sementara Shane mendadak membetulkan letak kacamatanya. 

“Na, bagaimana progres iklan untuk produk baru kita?” tanya Shane tiba-tiba. Ia menyebutkan nama itu, Na, panggilan yang semalam terasa begitu hangat di telinga, namun kini terdengar begitu formal di ruang rapat.

Aiena berdehem kecil, mencoba menjernihkan suaranya yang mendadak kering. “Sudah masuk tahap finalisasi, Shane... maksud saya, Pak Shane. Tim kami sedang optimasi pada algoritma media sosial.”

Wanita itu merutuki dirinya sendiri karena hampir memanggilnya dengan nama saja di depan manajer lain. Shane hanya mengangguk singkat, matanya kembali tertuju pada layar laptopnya tanpa berkomentar lebih lanjut. Percakapan mereka semalam tentang rasa sayang yang terselip, tentang kejujuran perasaan itu kini terasa seperti mimpi di tengah kerasnya realitas kantor pagi ini. 

Rasa menggantung itu mencekik Aiena. Di satu sisi, ia tahu segalanya telah berubah, tapi tak ada satupun dari mereka yang berani melangkah melewati garis canggung tersebut.

****

Setelah rapat selesai dan para peserta rapat meninggalkan ruangan, Aiena sengaja melambatkan gerakannya, pura-pura kesulitan memasukkan kabel laptop ke dalam tasnya, berharap Shane akan pergi lebih dulu. Namun ketika ia akhirnya berdiri dan melangkah menuju pintu, ia mendapati sosok tinggi itu masih berdiri di sana, menyandarkan bahunya pada bingkai pintu dengan tangan yang terselip di saku celana.

Jantung Aiena berdegup kencang saat langkahnya semakin dekat. Ia menunduk, mencoba melewati Shane dengan gumaman permisi yang lirih. Tapi tepat saat ia berada di samping pria itu, Shane bergerak, bukan untuk menghalangi jalan, melainkan mencondongkan tubuhnya hingga bibirnya berada sangat dekat dengan telinga Aiena.

“Lain kali, jangan pakai baju putih lagi,” bisik Shane, suaranya rendah dan serak, mengirimkan getaran aneh ke seluruh saraf Aiena.

Aiena membeku. Ia tidak berani menoleh, hanya bisa menatap ujung sepatunya sendiri. “Kenapa?”

“Terlalu menerawang di bawah lampu dan cahaya matahari dari jendela. Kamu membuatku sulit fokus sepanjang rapat tadi.”

Mata Aiena membelalak. Secara refleks, ia melirik ke bagian depan kemeja yang dikenakannya. Ia baru menyadari bahwa kemeja putih berbahan sifon yang ia kenakan hari ini tampak semi-transparan, memperlihatkan bayangan lekuk tubuh dan pakaian dalamnya dengan cukup jelas jika dilihat di bawah cahaya.

Rasa panas yang menyengat langsung menjalar dari leher hingga ke seluruh wajahnya. Ia merasa malu setengah mati, seolah-olah seluruh peserta rapat tadi telah melihat apa yang dilihat Shane. Dengan gerakan panik, ia menarik tas laptopnya ke depan dada, berusaha menutupi bagian depannya.

“Maaf... Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak sadar,” ucapnya dengan suara yang bergetar karena rasa malu yang luar biasa. Merasa sangat bodoh dan tidak profesional.

Shane menjauhkan wajahnya, namun matanya masih menatap Aiena dengan intensitas yang sulit dibaca, antara rasa frustasi dan protektif yang bercampur menjadi satu. 

“Nggak perlu minta maaf, tapi jangan buat orang lihat apa yang nggak seharusnya boleh mereka lihat. Tutupi pakai kardigan atau jaket sana.”

Tanpa berani menatap wajah Shane lagi, Aiena mengangguk cepat dan hampir berlari keluar dari ruangan itu. Aiena merasa dunianya seolah runtuh karena rasa malu akibat keteledorannya itu.

***

1
Wid Sity
waw gercep, langsung melamar 😍
Wid Sity
tiba-tiba jadi merakyat
Wid Sity
pacarannya lama banget, gak putus2
Wid Sity
si Haze mah seenak jidat di rumah Aiena, gak ada etika
Wid Sity
yang penting enak. Gak peduli tempatnya mewah atau estitik atau viral
Wid Sity
ambigu banget bang, Aiena jadi salah paham
Wid Sity
Haze gak jelas banget. Apa2 diatur, jam pulang diatur, pakaian diatur, makanan pun diatur
Wid Sity
kalo jumlah menunya banyak juga membingungkan, saking banyaknya bingung pilih menu apa
Wid Sity
eaaa, ngobrol apa tu
Wid Sity
pantesan gerak-geriknya Shane aneh
Quoari: Iya, mengganggu konsentrasi
total 1 replies
Wid Sity
ngakak banget salah nyebut panggilan 🤣
Quoari: Untung yang lain nggak ngeh
total 1 replies
Wid Sity
ternyata matanya Shane plus
Quoari: Minus
total 1 replies
Wid Sity
ternyata Shane grogi juga
Quoari: Iya, setelah semalam keceplosan
total 1 replies
Wid Sity
Halah, ngeles aja pak
Quoari: Masih malu malu dia 🤭
total 1 replies
Wid Sity
aw, jadi tersipu malu 🤭
Wid Sity
kayaknya takut dilacak oleh Shane, makanya menghilang dan ganti nomer
Quoari: Iya, melarikan diri dari shane
total 1 replies
Wid Sity
harusnya lega dong. Ini kenapa perasaanmya jadi kosong, jangan2 Aiena masokis ya
Quoari: Karena udah lama sama haze, udah sayanf sbenernya
total 1 replies
Wid Sity
kalian kepo ya kalo ada orang berantem
Quoari: Iya, apalagi bosnya sendiri yang berantem
total 1 replies
Quoari
Memang segitu redflagnya
Quoari
Makanya Aiena nurut biar cepet
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!