NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Tara baru saja hendak memasak saat terdengar sapaan dari luar rumah. Tara berjalan menuju pintu dan membukanya. Seorang kurir makanan berdiri di sana.

“Atas nama Mbak Tara?”

Tara mengangguk.

“Ini ada pesanan makanan, Mbak. Sudah dibayar.”

Tara mengangguk lagi dan menerima bungkusan makanan dari tangan kurir. Setelahnya, kurir itu pergi.

Tara menatap lama bungkusan di tangannya. Ia tidak memesan makanan dengan plastik bening yang bertuliskan brand makanan cukup terkenal di kota itu.

Tara menutup pintu. Membawa bungkusan plastik itu dan meletakkannya di atas meja makan. Tangannya meraih ponsel untuk menelepon seseorang.

“Halo, Dev.”

“Iya, Ra.” Devan berkata pelan. Terdengar suara berisik di ujung sana.

“Kamu lagi ngajar, ya?”

“Iya.”

“Eum, kamu kirimin aku makanan …” Tara menyebut nama brand tersebut.

“Enggak. Aku masih di kelas sejak dua jam yang lalu.”

Tara mengernyitkan dahi. “Oh. Maaf, deh ganggu. Mungkin dari Abang. Ya udah aku tutup teleponnya.”

Tanpa menunggu jawaban Devan, Tara mengakhiri panggilan. Ia menatap bungkusan makanan itu.

“Dari siapa?” gumamnya pelan.

Ponselnya berbunyi satu kali. Tara melihat pesan masuk. Matanya membelalak saat pesan itu terbaca.

David [Makanannya udah kamu terima, Tara? Semoga suka, ya.]

Tara tak membalas pesan itu. Ia justru meletakkan ponselnya di atas meja.

“Makanan ini dari David?” Tara tertegun sejenak.

Ponselnya kembali berbunyi. Tara melirik dan menghela napas. Nama Devan tertera jelas di layar.

“Ha-halo, Dev?” Tara berdehem pelan. Ia sudah siap dengan segala pertanyaan yang akan Devan lontarkan perkara makanan itu.

“Siapa yang ngirimin kamu makanan, Ra? Haris?”

“Iya, Dev. Ternyata Abang. Dia nggak sempat beliin aku makanan karena kesiangan bangunnya.”

“Oh ya? Tapi barusan aku chat Haris. Dia bilang nggak kirim makanan buat kamu.”

Tara menelan ludah. Sial. Devan lebih cepat bergerak bertanya langsung pada Haris. Sementara ia sendiri belum menghubungi Haris sama sekali.

“Tara?”

“Y-ya?” Tara duduk lemas di kursi.

“Jawab jujur. Siapa yang ngirim makanan itu? Bukan aku atau Haris. Terus siapa? Siapa yang lagi deketin kamu, Ra?”

Tara terdiam sesaat.

“Jawab, Tara.”

“Aku nggak tahu.” Tara memilih jalan aman. Tak mungkin ia menjawab David lah orangnya.

“Bohong. Bilang ke aku, siapa yang lagi deket sama kamu, Ra. Kita belum resmi cerai, ya. Kamu masih istriku, ingat? Jadi, bilang ke aku. Siapa dia?”

Tara menarik napas, menenangkan diri. “Cuma gara-gara makanan aja kamu mencurigaiku, Dev? Aku nggak lagi dekat sama siapapun. Aku juga nggak tahu siapa yang kirim. Nggak ada tulisan apapun di dalam plastiknya.”

“Hmm. Oke kalau kamu nggak mau jujur.”

Panggilan tiba-tiba dimatikan oleh Devan. Tara menatap layar ponselnya dengan raut bingung. Ia menatap kembali makanan di atas meja yang belum tersentuh.

Perutnya berbunyi tanda ia sudah sangat lapar. Ia juga belum memasak.

“Bodo amat lah. Aku lapar. Makan aja dulu.” Tara membuka bungkusan makanan dan mulai mengeluarkan isinya.

Sementara itu, Devan yang duduk di ruangannya mulai berpikir keras. Siapa yang tengah mendekati istrinya?

Hanya satu nama yang ada di kepala Devan saat ini. Tapi, ia ragu. Setahu Devan, Tara tak pernah berkomunikasi dengan lelaki itu sejak lelaki itu mengundurkan diri jadi karyawannya dulu. Tapi tidak ada nama lain. Tara tak pernah dekat lelaki manapun. Kecuali lelaki itu.

David.

Mantan kekasih Tara waktu SMA.

Lelaki yang sempat membuatnya cemburu karena pernah berciuman dengan sang istri di toko miliknya.

***

“Dev?”

Tara membeliakkan matanya saat mendapati Devan berdiri di depan pintu rumahnya saat ia membuka pintu. Devan menatapnya tanpa kedip.

“Mau kemana?” tanya Devan datar.

“Mau ke luar. Beli makan,” jawab Tara.

“Nggak dibeliin makan lagi sama pengirim makanan tadi siang?” sindir Devan.

Tara mendengkus. “Nggak.”

“Ya udah ayo aku temenin beli makan. Aku juga belum makan.”

Tara menatap. “Sejak kapan kamu berdiri di depan pintu?”

“Nggak tahu.”

“Kenapa nggak ngehubungin aku dulu kalau mau datang?”

“Kenapa?” Devan menyeringai,” Takut kalau aku tahu siapa yang lagi deketin kamu?”

Tara menghela napas. “Nggak ada yang lagi deketin aku, Dev.”

Devan tersenyum sinis. “Kamu pikir aku percaya sama kamu?”

Tara menaikkan satu alisnya. “Kamu tahu aku lagi bohong atau enggak.”

Devan masih menatap Tara sebelum menghela napas panjang.

“Ya udah yuk. Mau makan apa?”

“Aku mau beli makan di depan gang aja.”

Devan mengangguk. “Ya udah yuk.”

“Aku nggak ngajak kamu, Dev.”

Devan mengerutkan dahinya. “Tapi aku juga lapar, Tara. Aku masih suamimu, ingat? Jadi, nurut sama suami. Ayo.” Devan meraih tangan Tara untuk digenggam.

Tara meliriknya sebentar dan melepaskannya. “Nggak perlu pegangan. Jalannya nggak ramai.”

Tara melangkah lebih dulu. Devan tersenyum tipis dan menyusul langkah Tara.

“Mesranya suami istri ini. Jalan berduaan. Padahal nikah udah lama. Rahasianya apa, nih Tara?”

Pertanyaan itu terlontar dari salah satu tetangga Tara yang melihat Tara dan Devan berjalan bersisian.

Tara tersenyum, tak menjawab. Ia terus berjalan. Devan pun sama. Ia hanya melirik acuh dan kembali melihat Tara di sisinya.

“Kenapa nggak dijawab, Ra?”

“Apanya?”

“Pertanyaan dari tetangga tadi.”

“Nggak penting. Toh nanti dia juga tahu kalau pasangan mesra ini akan cerai.” Tara menekankan kalimatnya sambil melirik Devan sekilas.

Devan terdiam. Setelah membeli makanan, keduanya kembali ke rumah Tara. Devan membawa makanan yang mereka bungkus karena Tara enggan bertemu dengan orang-orang yang mengenalnya. Tempat makan yang ia tuju ada di depan gang. Hampir semua orang yang berada di sekitar gang itu mengenalnya. Dan Tara sedang malas menyapa ataupun disapa para tetangganya.

“Lo ngapain di rumah gue, Dev? Numpang makan?”

Sebuah suara berat nan dingin terdengar. Tara dan Devan yang sedang menikmati makanan mereka di meja makan serempak menoleh.

“Abang?”

Haris menoleh pada Tara, meminta penjelasan tanpa suara mengapa Devan berada di rumahnya malam ini.

“Gue laper. Tadi gue datang, Tara pas keluar mau beli makan. Ya udah sekalian aja,” jawab Devan santai.

“Abang beli makan sekalian, nggak? Mau aku beliin?” Tara bertanya sembari menatap Haris yang terlihat tidak suka akan kehadiran Devan.

Haris menggeleng. “Abang belum lapar. Kalau sudah selesai, suruh Devan pulang. Ini bukan rumahnya. Jangan lama-lama disini.”

Setelah mengatakan itu, Haris pergi dari ruang makan. Tara menatap Devan yang terlihat santai walau disindir Haris.

“Kalaupun aku mau nginep juga sah-sah aja. Ya kan, Ra? Kita masih suami istri,” gumam Devan.

“Kenapa nggak nyahut gitu tadi di depan Abang?“

“Takut dihajar. Bagaimanapun juga, dia Abangmu, Ra. Aku masih menghormatinya.”

Tara menggeleng pelan.

“Abang bener. Setelah selesai, kamu boleh pulang. Aku juga mau istirahat.”

“Ngopi aja yuk, Ra. Di tempat kopi yang kamu pinginin itu. Sekarang udah ada di kota ini. Baru opening hari ini.” Devan menatap Tara penuh harap.

Tara menggeleng. “Nggak. Aku mau tidur.”

“Bohong. Kamu pasti mau telponan kan sama lelaki yang deketin kamu itu? Mau sleep call-an ‘kan?”

“Dari tadi bahas lelaki itu. Lelaki itu. Lelaki siapa sih yang kamu maksud?”

Devan menatap lekat mata Tara sebelum mengucap satu kata.

“David.”

Bersambung…

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!