NovelToon NovelToon
Hanya Cinta Yang Bisa

Hanya Cinta Yang Bisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:616
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kado Pernikahan

Balai Desa yang tadinya kotor oleh caci maki, kini disulap secara darurat. Sebuah meja kayu panjang ditutupi kain taplak putih yang sudah menguning di sudutnya. Seorang penghulu desa yang dibangunkan paksa dari tidurnya duduk dengan wajah mengantuk namun tegang.

Helen berdiri mematung. Pakaiannya yang kotor oleh debu jalanan dan air parit menjadi saksi bisu betapa hinanya pernikahan ini. Tidak ada kebaya putih sutra, tidak ada riasan mewah, tidak ada aroma melati yang mengharumkan ruangan. Yang ada hanyalah bau keringat amarah warga dan aroma minyak tanah dari obor yang masih menyala di luar.

"Ario Diangga bin Baskoro Diangga..." suara penghulu itu bergetar.

Ario menatap Helen. Wanita itu tampak seperti boneka porselen yang retak, tatapannya kosong menatap lantai semen. Hati Ario perih. Ia ingin berteriak bahwa ini salah, namun ia tahu, jika ia menolak, nyawa Helen tidak akan sampai ke fajar esok.

"Saya terima nikah dan kawinnya..."

Kata-kata sakral itu meluncur dari bibir Ario dalam satu tarikan napas. Begitu berat, begitu penuh beban sejarah. Bagi Ario, ini bukan sekadar janji di hadapan Tuhan, tapi pengabdian total untuk melindungi satu-satunya warisan musuh bebuyutannya yang kini ia cintai dengan cara yang rumit.

"Sah?"

"Sah!" teriak warga, termasuk Bu Endang yang paling keras suaranya.

Saat ia diminta menandatangani buku nikah yang lusuh itu, tangan Helen gemetar hebat. Ia menatap nama "Ario Diangga" di samping namanya. Pria asing yang menemukannya di emperan toko, pria yang membenci ayahnya, kini adalah suaminya. Pria yang membuat jantungnya berdebar kencang di lantai dansa, kini telah terikat selamanya dengannya dalam sebuah upacara yang lebih mirip hukuman gantung daripada pernikahan.

Begitu tanda tangan bubuh, orang-orang suruhan Beatrix yang tadinya memprovokasi massa mendadak menghilang di balik kegelapan malam, persis seperti bayangan yang kembali ke dalam tanah setelah tugasnya selesai.

****

Setelah massa membubarkan diri dengan kepuasan semu, Ario dan Helen dilepaskan kembali ke rumah tua itu. Warga memberikan waktu bagi mereka untuk "beristirahat", yang sebenarnya adalah pengasingan dalam status baru mereka.

Di dalam rumah yang berantakan, Helen duduk di tepi tempat tidur yang sprei-nya sudah sobek. Ia menatap cincin emas tipis yang dipaksakan melingkar di jarinya—cincin darurat milik istri Pak Lurah yang dipinjamkan.

"Helen..." panggil Ario lembut. Ia mencoba mendekat, namun Helen tersentak mundur.

"Jangan," bisik Helen, suaranya pecah. "Jangan dekati aku dulu."

"Aku terpaksa melakukannya, Helen. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kita menolak," Ario mencoba menjelaskan, suaranya serak karena emosi.

Helen mendongak, matanya yang sembab menatap Ario dengan tatapan yang sulit diartikan. "Rasanya tadi sore aku baru saja kehilangan ayahku. Kemudian aku diusir dari rumahku. Dan malam ini... aku sudah menjadi istri dari pria yang menyimpan dendam pada keluargaku. Hidupku benar-benar seperti komedi bagi Tante Beatrix, bukan?"

Ario berlutut di depan Helen, namun ia tidak menyentuhnya. "Aku suamimu sekarang, Helen. Secara hukum, secara agama. Dan aku bersumpah, demi nyawa ayahku, aku akan membayarnya. Aku akan melindungimu dari wanita ular itu."

Helen tertawa getir, sebuah tawa yang berakhir dengan isak tangis. "Suami? Kita bahkan tidak saling mengenal nama tengah masing-masing dua minggu yang lalu, Ario. Jantungku berdebar setiap kau dekat, tapi aku tidak tahu apakah itu cinta atau rasa takut karena aku tidak punya pilihan lain."

Ario hanya bisa terdiam. Ia merasakan hal yang sama—sebuah getaran hebat setiap kali menatap mata Helen, namun ia juga dihantui oleh rasa bersalah karena ia merasa telah "mencuri" Helen dari hidupnya yang seharusnya.

****

Di Jakarta, fajar menyingsing dengan berita kemenangan bagi Beatrix. Di atas meja kerjanya yang baru, sebuah laporan lengkap mengenai pernikahan dadakan itu sudah tersaji.

Beatrix tertawa kecil, sebuah tawa yang elegan namun menusuk. Ia mengambil sebuah sapu tangan sutra dan menyeka sudut matanya yang kering.

"Pernikahan yang manis," gumam Beatrix. Ia beralih ke sekretaris barunya, seorang wanita Belanda yang dingin. "Kirimkan hadiah pernikahan untuk mereka. Sekarang

Beberapa jam kemudian, saat Ario dan Helen masih terjebak dalam kecanggungan di Bogor, sebuah mobil kurir mewah datang ke depan rumah tua itu. Kurir itu menyerahkan sebuah amplop hitam tebal dengan logo emas bertuliskan "Van Amgard".

Ario membukanya dengan waspada. Di dalamnya terdapat dua lembar tiket pesawat kelas satu dan sebuah surat pendek yang ditulis dengan tulisan tangan Beatrix yang meliuk-liuk tajam.

"Untuk pasangan pengantin baru yang penuh gairah. Karena kalian sudah sangat tidak sabar untuk 'bersatu' hingga harus melakukannya di desa terpencil, aku memberikan kalian hadiah yang layak. Tiket bulan madu ke Aruba. Nikmatilah matahari Karibia dan lupakanlah Jakarta. Jangan kembali sebelum kalian benar-benar puas."

— Beatrix van Amgard.

Helen membaca surat itu dan seketika wajahnya pucat pasi. "Aruba? Itu di ujung dunia, Ario! Itu sangat jauh dari Indonesia!"

Ario meremas tiket itu hingga hancur di tangannya. "Dia ingin kita pergi. Dia ingin menjauhkan kita dari perusahaan, dari hukum, dan dari semua bukti yang kita miliki. Jika kita pergi ke Aruba, dia punya waktu berbulan-bulan untuk menghancurkan bisnisku secara total dan mengonsolidasikan kekuasaannya tanpa gangguan."

"Tapi jika kita tidak pergi, dia akan menggunakan kasus 'pencurian' itu untuk menangkapku!" Helen mulai panik. "Ario, dia menyudutkan kita. Dia ingin kita terasing di pulau terpencil sementara dia berpesta di atas bangkai Kusuma Group!"

****

Ario menatap tiket-tiket itu. Pikirannya bekerja cepat seperti mesin yang berpacu. Ia tahu ini adalah "pengasingan emas". Beatrix ingin mereka menghilang secara halus. Jika mereka menolak hadiah ini, Beatrix punya alasan untuk kembali menggerakkan massa atau polisi untuk menghabisi mereka.

"Dia pikir dia sangat pintar," desis Ario, matanya berkilat penuh amarah yang terkendali. "Dia mengira dengan mengirim kita ke Aruba, kita akan sibuk bercinta di bawah pohon sementara dia merampok kita."

Ario memegang bahu Helen, kali ini dengan paksa agar wanita itu menatapnya. "Helen, dengarkan aku. Kita akan menerima tiket ini. Kita akan pergi."

"Apa?! Kau gila?!" Helen berteriak. "Kau mau menyerah begitu saja?!"

"Bukan menyerah," potong Ario tegas. "Kita akan berpura-pura masuk ke dalam skenarionya. Kita akan berangkat ke Aruba, tapi aku akan memastikan bahwa saat kita berada di sana, perlawanan kita justru akan lebih besar dari sini. Aku punya koneksi internasional yang tidak dia ketahui. Dan di sana, jauh dari mata-matanya di Jakarta, kita bisa merancang kehancurannya tanpa dia sadari."

Helen menatap Ario, mencoba mencari keyakinan di balik mata hitam pria itu. Di jarinya, cincin emas murah itu terasa berat. Ia kini terikat pada pria ini—suaminya yang misterius, yang kini menjadi partner dalam kejahatan dan keadilan sekaligus.

"Kau benar-benar yakin?" tanya Helen ragu.

"Aku suamimu," Ario menekankan kata itu, memberikan bobot pada status baru mereka. "Percayalah padaku sekali lagi."

Helen mengangguk pelan. Di luar, langit Bogor mulai gelap kembali, namun kali ini ada rencana yang lebih besar dari sekadar pelarian. Mereka akan terbang menuju matahari Karibia, membawa dendam yang membara di dalam koper mereka.

Sementara di menara Van Amgard, Beatrix berdiri memandang cakrawala, tersenyum lebar. Ia merasa telah memenangkan permainan catur ini. Ia telah membuang ratu dan pion lawannya ke ujung dunia. Namun ia lupa satu hal: di pulau terpencil, seekor singa yang terluka bisa berubah menjadi pemangsa yang paling mematikan.

"Selamat menikmati madu yang pahit, Helen," bisik Beatrix pada angin malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!