Bertahan atau melangkah pergi?
Memberi pertolongan atau malah menyudutkan?
Banyak hal yang harus di mengerti dengan meluaskan pendengaran ataupun penglihatan. Agar mempercayai tidak mendapat balasan dari seorang penghianatan-- yang tersembunyi di balik kesalahannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00^07
Seorang gadis cantik yang sangat muak dengan tingkah sikap pemuda yang begitu berani mengajaknya berkencan. Dan bodohnya, gadis itu sangat antusias menerimanya tanpa memikirkan apa resikonya. Hingga rasa tidak suka melihatnya bersama orang lain terus bermunculan memenuhi ruang sukma. Mungkin, itu salah satu alasan tingkah sang gadis begitu bengis kepada siapapun.
Mengangguk kecil tanpa menghentikan kaki jenjangnya yang melangkah pelan, dengan kedua tangan bersedekap dada. Membiarkan semilir angin menerpa wajah gadis itu, Yuna.
Netra mata yang melihat ke depan kini perlahan mengikuti arah pandang beberapa murid di sekitarnya. Di mana seorang pemuda yang tengah bersama tuan putri, ampuh membuat Yuna tersenyum kecut. Meniup udara.
"Seakrab itukah mereka berdua?" Gumam Yuna untuk dirinya sendiri.
"Apa dia sengaja mencari perhatian Anrey?"
Satu kalimat yang masuk ke pendengaran Yuna, refleks menoleh ke sumber suara. Segerombolan murid perempuan yang mulai membuat karangan palsu.
"Seharusnya dia sadar diri, dia siapa Anrey siapa." Sahut murid lainnya.
"Benar sekali, jikapun dia kekasih Anrey, dia sangat tidak pantas sama sekali."
Seketika Yuna tersenyum masam, berjalan mendekat menghampiri segerombolan murid perempuan itu.
"Lebih baik mencari perhatian ketimbang membicarakan orang lain di belakang. Itu jauh lebih buruk sekali." Timpal Yuna yang tidak ada takut-takutnya. Karena Yuna sangat sadar, tidak ada yang sanggup mengalahkannya saat beradu argumen dengan gadis itu.
"Ada apa dengan mu? Kenapa kau senang sekali ikut campur urusan orang lain." Tanggap salah satu gadis yang terlihat sangat berani melawan Yuna. Dia, Austyn.
Singkat cerita, Austyn yang sangat dikenal akan kenakalannya. Karena senang sekali merundung murid-murid lemah atau adik tingkahnya, dengan alasan yang tidak masuk akal. Dan banyak murid menadai juga, jika Austyn bersikap seperti itu hanya sebuah pelampiasan sesaat. Tetapi, hal itu tidak baik sama sekali. Apalagi, jika harus menarik seseorang ke dalam jurang yang dia gali sendiri.
"Kau yang harus sadar diri, dirimu siapa dan Anrey siapa." Sangat rendah, tapi begitu tajam di pendengaran Austyn. Kalimat itu terlontar dari mulut Yuna.
"Dan satu lagi, jikapun dia kekasih Destan, dia sangat pantas dengan Anrey. Tapi tidak dengan dirimu." Imbuh Yuna dengan senyum masamnya.
"Kau__"
"Berhentilah merendahkan orang lain jika kau tidak ingin direndahkan." Cepat Yuna penuh peringatan.
Sebentar melihat Austyn, sebelum membalikkan tubuhnya untuk mengarahkan pandangan mata tepat di mana Anrey bersama seorang gadis yang sangat-sangat familiar di kedua manik matanya. Saat itu juga, sorot mata sendu milik Anrey beremu dengan milik Yuna.
Mengangguk samar, sebelum melangkah pergi dari tempatnya berdiri, hanya tidak ingin menambah rasa tidak suka dalam diri.
Dan tanpa Yuna sadari sepasang mata milik seseorang yang berdiri tidak jauh dari keberadaan Yuna. Hanya bisa diam, melihat dua insan yang berdiri di pinggir lapangan. Kini orang itu memilih untuk mengikuti kemana perginya Yuna, karena ingin mengucap 'maaf' akan perkataannya kemarin.
Benar-benar mengganggu.
"Sesulit itukah, mengakui, 'jika dia milikku.'" Gumam orang itu dengan kening sesekali mengerut samar, tanpa menghentikan langkah kakinya.
Hingga, di belokan lorong kelas, tubuh orang itu spotan tersenak kaget akan Yuna yang entah sejak kapan berdiri bersandar pada dinding itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya orang itu sangat refleks. Sembari mengelus dadanya, walau sesaat.
"Berhentilah mengikutiku." Pinta Yuna dengan geram. Merubah posisi berdiri menjadi berhadapan dengan orang itu. Aldi.
Ya Aldi, pemuda dermawan yang sulit menyimpan dendam kepada siapapun. Terutama para kaum hawa, apalagi gadis yang berhadapan langsung dengan Aldi saat ini.
"Kau sadar?" Sekilas Aldi menaikan alisnya.
Diam tidak memberi tanggapan, Yuna memilih memutar tumit untuk melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti. Mengabaikan Aldi yang kini mulai menjajarkan langkahnya, berjalan beriringan dengan Yuna.
Meniup udara untuk memberanikan diri. Sebelum bicara. "Maaf,"
Masih diam, Yuna tidak membuka suara yang membuat Aldi melanjutkan kembali perkataannya, tanpa peduli jika Yuna tidak mendengarnya dengan seksama.
"Seharusnya aku tidak mengatakan hal buruk kemarin." Sambung Aldi.
"Tapi__" seketika Aldi menoleh ke samping untuk melihat wajah Yuna, tanpa menghentikan langkah kakinya. "Bukankah perkataan mu tidak benar sama sekali?"
"Dari mana bisa kau jauh lebih dewasa dariku? Aku lahir lebih dulu darimu, jadi_"
"Jadi apa, hah?" Cepat Yuna sembari membalas tatapan Aldi.
Benar, Yuna sangat menakutkan saat menahan api yang sudah mendidih di dalam raga gadis itu.
"Tidak bisakah kau bersikap sopan sedikit saja padaku?" Balas Aldi, yang menampilkan senyum simpulnya.
"Karena jika dilihat dari usia, umur mu berada di bawah ku. Dan aku lebih tua darimu dua tahun. Kau yang terlalu cepat masuk sekolah." Tambah Aldi dengan sangat hati-hati, karena tidak ingin membuat suasana hati Yuna semakin buruk.
"Jika merendahkan tidak melukai perasaan, bolehkah aku mengatakannya?" Timpal Yuna, tersenyum miring melihat raut wajah Aldi.
Spontan berdehem, sebentar melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sepertinya aku harus menemui guru bimbingan konseling."
Tanpa menunggu tanggapan dari Yuna, kini Aldi melangkah lebih dulu. Sebentar melihat Yuna dengan berjalan mundur, sembari menampilkan senyum khasnya. Ampuh membuat Yuna merasa mual sendiri. Ingin rasanya memukul wajah Aldi.
...ʚɞ...
Menghabiskan waktu luang dengan melakukan hal yang bermanfaat suatu hal kebiasan positif bagi pemuda tampan penuh pujian, akan kebaikan maupun tutur kata yang sopan saat bicara kepada lawan bicaranya.
Menampilkan senyum menawan dengan sinar cahaya di wajahnya yang sanggup membuat banyak para kaum hawa terpesona. Apalagi, sedikit keringat di kening pemuda itu semakin membuat auranya terpancar sangat jelas. Jika, dia orang yang di incar banyak orang, tapi untuk di dapatkan.
Dia, Anrey. Memiliki kesenangan merebut bola basket di tangan lawan, tapi bukan berarti, Anrey mengambil hak milik orang lain. Contoh, kekasih temannya sendiri. Anrey tidak akan pernah melakukan kekonyolan seperti itu.
Lebih baik sendiri dari pada memiliki kekasih hasil merebut.
Terus mengejar di mana bola basket yang tengah di oper kesana kemari, hingga kini tiba di tangan kekar Anrey. Tersenyum kecil pada pemuda di depan matanya yang terlihat sangat ingin mengambil alih bola itu.
"Kau menginginkannya?" Goda Anrey, sembari menaikan sekilas alisnya yang tidak begitu tebal itu.
"Kau ingin bertaruh dengan ku?" Tawaran menarik yang tidak akan membuat Destan tertarik. Karena, ujung-unjungnya pasti seorang perempuan yang akan dijadikan sebagai jaminan. Anrey sangat tidak menyukai hal seperti itu.
"Naikkan nilai mu, agar gadis itu tidak lagi merendahkan mu saat kau menggodanya." Tanggap Anrey dengan senyum jahil.
Melempar bola di tangannya ke arah ring basket. Akan tetapi, bola itu tidak masuk hingga tanpa sengaja di pukul oleh salah satu temannya di sana. Sampai bola itu melayang mengarah ke pinggir lapangan.
Tanpa diinginkan, bola itu mendarat sangat santai di kepala seorang gadis yang tengah berjalan di pinggir lapangan dengan beberapa buku tulis dalam dekapannya. Membuat semua pasang mata di sana menampilkan raut wajah yang sangat beragam.
"Auw__" Ringis gadis itu, tidak lagi peduli akan buku-buku yang telah berserakan di sekitar kakinya. Karena kepalanya benar-benar merasa pusing saat ini.
"Kau tidak apa-apa?"
Suara familiar membuat kepala gadis itu sedikit mendongak untuk melihat Anrey yang telah berdiri di hadapannya dengan rasa bersalah memenuhi ruang benak Anrey.
"Oh, hanya sedikit pusing. Tapi tidak apa-apa." Balas sang gadis.
"Aku akan mengantarkan mu ke ruang kesehatan." Tawar Anrey.
"Tidak perlu. Aku bisa ke sana sendiri." Menolak lebih baik ketimbang menimbulkan huru-hara yang tidak diinginkan Tessa selama ini. Itu sangat mengganggu.
Kepala Anrey mengangguk paham, saat ingin memungut buku-buku itu pandangannya tidak sengaja bertemu dengan manik mahoni sangat menenangkan jiwanya.
"Kenapa dia harus ada di sana?" Batin Anrey merasa gelisah sendiri.