Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Sepatu Lusuh dan Sebuah Pelindung
Udara pagi di rumah kontrakan berukuran empat kali enam meter itu terasa lembap dan pengap. Aroma minyak goreng yang dipanaskan berulang kali menguar dari area dapur yang hanya dipisahkan oleh tirai kain kusam dari ruang depan. Di atas wajan yang pantatnya sudah menghitam, Pak Dirga membalik sebutir telur mata sapi yang pinggirannya mulai gosong.
Anandara yang kini berusia tiga belas tahun dan duduk di bangku kelas satu SMP, duduk di kursi plastik yang salah satu kakinya sudah diikat kawat agar tidak goyah. Ia menatap kosong ke arah meja kayu yang taplaknya sudah penuh bercak noda yang tak bisa hilang. Wajahnya datar. Matanya yang tajam tidak memancarkan emosi apa-apa, sebuah kebiasaan yang ia bangun sejak malam kehancuran keluarganya tiga tahun lalu.
"Nanda," suara parau Pak Dirga memecah keheningan yang menyesakkan itu. Pria itu meletakkan piring berisi nasi putih hangat dan telur mata sapi yang dibagi dua ke atas meja. "Makanlah. Bapak cuma bisa goreng telur hari ini. Uang dari proyek mandor kemarin belum cair sepenuhnya."
Anandara menarik piring itu mendekat tanpa protes. Ia mengambil sendok, menatap telur yang kuningnya sudah matang keras itu sejenak. "Tidak apa-apa, Pak. Nanda suka telur."
"Maafkan Bapak, ya, Nduk." Pak Dirga duduk di seberang putrinya. Gurat kelelahan tercetak jelas di wajahnya. Rambutnya yang dulu selalu tersisir rapi kini mulai diselingi uban, padahal usianya belum menginjak kepala lima. "Seharusnya anak seusiamu sarapan bergizi sebelum ke sekolah. Bukan makan makanan seadanya seperti ini setiap hari."
"Ini bergizi, Pak. Ada proteinnya," jawab Anandara singkat, menyuap nasi ke dalam mulutnya. Nada bicaranya selalu terdengar seperti orang dewasa yang sedang membaca laporan, terlalu rasional dan minim intonasi.
Pak Dirga tersenyum getir. Ia menatap sepatu sekolah Anandara yang tergeletak di dekat pintu. Sepatu hitam itu warnanya sudah pudar menjadi abu-abu kusam, dan bagian sol kanannya sudah mulai menganga, menampakkan lem yang sudah mengering dan tak lagi rekat. Hati Pak Dirga mencelos melihatnya.
"Sepatumu... solnya sudah lepas lagi, ya?" tanya Pak Dirga dengan suara tertahan. "Bapak janji, Nanda. Kalau uang dari Pak Yanto turun minggu depan, kita beli sepatu baru. Di pasar malam ada yang murah tapi lumayan awet. Kamu jangan malu, ya, di sekolah?"
Anandara mengunyah makanannya dengan pelan sebelum menelan. Ia mendongak, menatap mata ayahnya dengan sorot yang terlampau tenang. "Nanda tidak pernah malu, Pak. Malu itu kalau kita mencuri atau berbohong. Sepatu rusak tidak membuat otak Nanda jadi tumpul. Bapak tidak perlu memaksakan diri membelikan sepatu baru. Ini masih bisa diikat pakai karet gelang hitam, tidak akan terlalu kelihatan."
"Nanda..." Mata Pak Dirga berkaca-kaca. Putrinya terlalu pengertian, dan hal itu justru semakin menyayat hati nuraninya sebagai seorang ayah. "Kamu tidak seharusnya memikirkan hal-hal seperti ini. Kamu itu masih kecil."
"Nanda sudah SMP, Pak. Nanda bukan anak kecil yang menangis karena mainan," potong Anandara, meletakkan sendoknya. Ia menghabiskan air putihnya dalam satu tegukan. "Bapak fokus saja sama kerjaan. Jangan pikirkan hal yang tidak penting. Nanda berangkat dulu. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu balasan panjang, Anandara menyandang tas punggungnya yang ritsletingnya sudah rusak separuh, lalu mengikat sol sepatunya yang menganga dengan dua helai karet gelang tebal. Ia mencium tangan ayahnya dengan kaku dan melangkah keluar menuju gerimis pagi.
Suasana SMP pagi itu cukup riuh. Siswa-siswi berseragam putih biru berlarian di koridor, bercanda, dan mengobrol di depan kelas. Anandara berjalan menunduk, bukan karena malu, melainkan karena ia tidak ingin bersinggungan pandang dengan siapa pun. Baginya, interaksi dengan manusia adalah sebuah transaksi yang membuang-buang energi.
Namun, sebaik apa pun ia mencoba menjadi bayangan, selalu saja ada yang mencoba mencari masalah dengannya. Terutama Jesica, teman sekelasnya yang ayahnya adalah salah satu pejabat daerah. Jesica selalu merasa terancam dengan kehadiran Anandara karena gadis pendiam itu selalu merebut peringkat pertama di kelas tanpa terlihat berusaha keras.
Saat Anandara hendak masuk ke kelas, langkahnya dihadang oleh kaki Jesica yang sengaja dijulurkan. Beruntung Anandara memiliki refleks yang bagus, ia berhasil menghindar, meski keseimbangannya sedikit goyah.
"Ups, sori. Kirain nggak ada orang. Abisnya lo kayak setan, sih, nggak bersuara," ejek Jesica, dilanjutkan tawa melengking dari dua teman di sampingnya, Kiera dan Ami.
Anandara membenarkan letak tasnya. Ia menatap Jesica dengan ekspresi datar yang justru membuat Jesica semakin kesal. "Permisi. Saya mau lewat."
"Buru-buru amat, sih, si jenius gembel ini," Kiera menimpali. Matanya yang jeli langsung menangkap sesuatu di bagian bawah tubuh Anandara. "Eh, Jes, lihat deh. Itu sepatu apa mulut buaya? Nganga banget minta dikasih makan! Dih, diiket pakai karet gelang pula. Lo nggak mampu beli lem alteco, ya? Atau bapak lo yang kuli bangunan itu udah miskin banget sampai sepatu rongsokan masih lo pakai?"
Mendengar kata 'bapak', rahang Anandara mengeras. Ia bisa menerima hinaan apa pun yang ditujukan kepadanya, tapi tidak untuk ayahnya. Tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia menatap tajam ke arah Kiera. "Jaga bicaramu."
"Wah, dia bisa marah juga ternyata!" Jesica bertepuk tangan dengan gaya teatrikal. "Kenapa? Kenyataan, kan? Bokap lo bangkrut, nyokap lo kabur sama om-om. Pantesan aja lo suram begini. Udah miskin, ditinggal emak lagi—"
Brak!
Sebelum Jesica bisa menyelesaikan kalimat beracunnya, sebuah buku tebal melayang dan mendarat dengan suara nyaring di atas meja tepat di sebelah Jesica, membuat ketiga gadis genit itu terlonjak kaget.
Dari ujung koridor, seorang gadis dengan rambut sebahu yang dikuncir kuda, jepit rambut warna-warni, dan seragam yang sedikit berantakan berjalan dengan langkah lebar menghampiri mereka. Matanya menyalang marah. Itu adalah Sinta. Gadis paling bawel, paling hiperaktif, dan paling tidak kenal takut di kelas mereka.
"Mulut lo tuh yang nganga minta disumpal pakai penghapus papan tulis!" seru Sinta dengan suara lantang yang mengundang perhatian beberapa siswa di koridor. Ia berdiri tepat di depan Anandara, memasang badan seperti induk ayam yang melindungi anaknya.
"Eh, Sinta! Lo ngapain sih ikut campur? Orang gue ngomong fakta!" balas Jesica tak mau kalah, meski nyalinya sedikit ciut melihat Sinta yang sudah menggulung lengan seragamnya.
"Fakta mata lo peyang!" Sinta menunjuk wajah Jesica tepat di depan hidungnya. "Sepatu Nanda jebol karena dia rajin jalan kaki buat sekolah nuntut ilmu! Lah lo? Sepatu lo mahal, dianter jemput naik mobil, tapi otak lo jongkok! Ulangan matematika kemarin aja lo dapet tiga koma lima, kan? Masih mending sepatu Nanda yang nganga daripada otak lo yang kosong melompong!"
Beberapa siswa yang menonton mulai terkikik geli. Wajah Jesica memerah padam menahan malu dan amarah.
"Udah, ah! Males gue ngeladenin orang barbar!" dengus Jesica, menarik tangan Kiera dan Ami. "Cabut, guys!"
Sinta mencibir ke arah punggung ketiga gadis itu. "Huuu! Dasar mental kerupuk, beraninya keroyokan!"
Setelah Jesica dan gengnya menjauh, Sinta membalikkan badannya menghadap Anandara. Wajahnya yang tadi garang seketika berubah menjadi senyuman lebar yang memperlihatkan gigi gingsulnya. "Lo nggak apa-apa, Nanda? Mereka emang mulutnya belum pernah disekolahin. Nggak usah didengerin, ya."
Anandara menatap Sinta dengan tatapan tidak terbaca. Alih-alih berterima kasih, ia malah menggeser tubuhnya untuk melewati Sinta. "Aku tidak minta dibela."
Langkah Anandara tertahan saat Sinta tiba-tiba menarik tali tasnya dari belakang. "Eits, tunggu dulu, Nona Es! Lo itu kebiasaan banget, deh. Ditolongin malah jutek. Bilang makasih, kek!"
"Terima kasih." Anandara mengucapkannya dengan nada sedatar papan tulis, lalu berusaha melangkah lagi.
Tapi Sinta tidak menyerah. Ia menyejajarkan langkahnya dengan Anandara yang berjalan menuju bangku di sudut belakang kelas. "Lo kenapa sih suka banget mojok sendirian? Udah kayak nungguin angkot tahu nggak. Istirahat nanti makan bareng gue, ya! Nyokap gue bawain bekal nasi goreng sosis kebanyakan. Gue bisa gendut kalau makan semuanya sendirian."
"Tidak usah repot-repot. Aku bawa bekal sendiri," tolak Anandara dingin sambil mengeluarkan buku pelajarannya.
"Alah, bohong. Lo tadi pagi nggak bawa kotak bekal, gue lihat dari gerbang," sahut Sinta sambil menarik kursi di sebelah Anandara dan duduk tanpa dipersilakan. Padahal itu bukan tempat duduknya. "Pokoknya istirahat nanti lo makan sama gue. Titik, nggak pakai koma, apalagi tanda tanya!"
"Kenapa kamu bersikeras sekali?" Anandara akhirnya menoleh, menatap mata Sinta dengan serius. "Kita tidak akrab. Aku tidak punya apa-apa untuk ditawarkan padamu. Dan aku tidak suka keributan."
Sinta menopang dagunya dengan kedua tangan, membalas tatapan tajam Anandara dengan senyum polos tak berdosa. "Karena gue mau temenan sama lo. Gampang, kan, alasannya? Lo itu pintar banget, Nanda. Gue salut. Terus, walau lo diam terus, gue tahu lo aslinya baik. Ingat nggak minggu lalu pas lo diam-diam nutupin contekan Doni pas guru lewat? Lo nggak cepu, padahal lo anak emasnya guru. Dari situ gue mikir, ah, nih cewek asyik juga buat dijadiin bestie."
Anandara menghela napas panjang, merasa lelah berdebat. "Terserah kau saja."
Kata 'terserah' itu dianggap sebagai undangan terbuka bagi Sinta. Sejak hari itu, Sinta benar-benar menempel pada Anandara seperti perangko.
Teng! Teng! Teng!
Bel istirahat berbunyi nyaring. Seperti janjinya, Sinta langsung menyeret meja dan kursinya untuk bergabung dengan meja Anandara. Ia mengeluarkan kotak bekal Tupperware berukuran besar dan membukanya. Kepulan asap tipis dan aroma sedap nasi goreng mentega menguar, membuat perut siapa pun yang menciumnya berbunyi, tak terkecuali perut Anandara, meski gadis itu berusaha keras menyembunyikannya.
Sinta menyodorkan sebuah sendok plastik baru ke arah Anandara. "Nih! Makan. Awas aja kalau lo nolak, gue suapin paksa pakai corong!"
Anandara ragu sejenak. Ia melihat nasi goreng yang penuh dengan potongan sosis, telur orak-arik, dan kacang polong. Sangat kontras dengan sarapannya yang hanya nasi dan setengah telur gosong. Rasa lapar mengalahkan gengsinya. Ia mengambil sendok itu. "Terima kasih... Sinta."
"Nah, gitu dong!" Sinta tersenyum puas, mulai menyuap makanannya sendiri. Sambil mengunyah, mulutnya tidak berhenti berbicara. "Lo tahu nggak, Nanda? Tadi pagi gue hampir aja telat karena kucing gue, si Belang, muntah di sepatu sekolah gue. Bayangin coba! Gue terpaksa nyuci sepatu subuh-subuh sambil nangis bombay."
Anandara makan dalam diam, hanya mendengarkan ocehan Sinta yang sepertinya tidak butuh tanggapan.
"Terus ya," Sinta melanjutkan setelah menelan makanannya, "Nyokap gue tuh ngomel panjang banget kayak kereta jurusan Jakarta-Surabaya. Katanya gue nggak becus ngurus kucing. Padahal kan yang muntah kucingnya, masa gue yang dimarahin? Lo sering diomelin nyokap lo juga nggak, sih, Nanda?"
Gerakan sendok Anandara terhenti di udara. Pertanyaan itu sederhana, pertanyaan biasa di antara anak remaja. Namun bagi Anandara, pertanyaan itu seperti jarum yang menusuk tepat di luka lamanya yang belum mengering.
Keheningan yang canggung tiba-tiba menyelimuti meja mereka di tengah riuhnya kantin kelas. Anandara meletakkan sendoknya. Ia menatap kotak bekal Sinta tanpa minat lagi.
"Ibuku sudah tidak ada," jawab Anandara dengan suara pelan namun terdengar sangat dingin.
Sinta terkesiap. Matanya membulat dan tangannya otomatis menutup mulutnya sendiri. "Astaga... Nanda, maafin gue. Ya ampun, sumpah gue nggak tahu. Maafin gue yang mulutnya ember ini, ya. Gue... gue turut berduka cita."
"Dia belum mati," ucap Anandara datar, menatap langsung ke mata Sinta. "Dia pergi meninggalkan aku dan ayahku demi laki-laki lain yang lebih kaya. Jadi, tolong jangan bahas tentang ibu denganku. Aku membencinya."
Ruang kelas serasa membeku bagi Sinta. Ia melihat kekosongan yang mengerikan di mata Anandara. Tidak ada air mata, tidak ada kesedihan yang wajar, hanya ada kemarahan yang membatu dan rasa hampa yang pekat. Saat itu juga, Sinta menyadari bahwa gadis di depannya ini memikul beban yang terlalu berat untuk bahu sekecil itu.
Bukannya menjauh karena ketakutan atau merasa canggung, Sinta justru melakukan hal yang tidak terduga. Ia menggeser kursinya lebih dekat ke Anandara, merangkulkan satu tangannya ke bahu gadis yang kaku itu, lalu menepuknya pelan.
"Oke. Kita skip soal ibu," kata Sinta dengan nada yang tiba-tiba berubah sangat lembut, menghilangkan segala keceriaan konyolnya sesaat. "Mulai sekarang, kalau lo butuh cerita, butuh ngamuk, atau cuma butuh orang buat duduk diam di sebelah lo, lo cari gue. Gue bakal jadi pelindung lo, Nanda. Kalau ada yang berani nyakitin lo lagi, entah itu Jesica, teman-teman sekelas, atau masa lalu lo, mereka harus hadapin gue dulu."
Anandara menatap tangan Sinta yang melingkar hangat di bahunya. Tubuhnya menegang, tidak terbiasa dengan sentuhan afeksi dari siapa pun selain ayahnya. Ia ingin menepisnya, ia ingin mengatakan bahwa ia tidak butuh siapa-siapa. Namun, ada sesuatu yang tulus dalam tatapan Sinta, sesuatu yang membuat dinding pertahanan Anandara sedikit retak.
"Kau aneh," gumam Anandara pada akhirnya, mengalihkan pandangannya kembali ke nasi goreng, tidak menepis tangan Sinta.
"Biarin. Yang penting gue baik hati dan tidak sombong," cengir Sinta, kembali ke mode cerewetnya. "Ayo dihabisin! Kalau nggak habis, nanti nangis nasinya. Eh, ngomong-ngomong, nanti pulang sekolah mampir ke koperasi yuk, gue beliin lem sepatu yang kuat. Biar sepatu lo besok nggak mangap lagi."
"Tidak usah."
"Bawel ah, harus mau! Gue maksa!"
Perdebatan kecil itu berlanjut, namun untuk pertama kalinya sejak malam kelam bertahun-tahun lalu, sudut bibir Anandara berkedut, nyaris membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis. Di tengah hatinya yang hampa, Sinta perlahan mulai meletakkan fondasi untuk menjadi sebuah "rumah" tempat Anandara bisa berteduh.
Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur kota. Suara rintik yang menghantam seng atap kontrakan biasanya selalu membawa memori buruk bagi Anandara. Namun malam ini, suara itu tertutupi oleh ketukan pintu yang tergesa-gesa.
Anandara yang sedang mengerjakan PR matematika di ruang depan segera membuka pintu. Pak Dirga berdiri di sana, basah kuyup namun dengan senyum paling lebar yang pernah Anandara lihat dalam tiga tahun terakhir. Di tangan kanannya, ada kantong kresek putih yang menggembung.
"Bapak pulang!" seru Pak Dirga dengan napas terengah namun penuh semangat. Ia masuk, melepaskan jaket basahnya sembarangan, lalu meletakkan kresek putih itu di atas meja. Aroma harum manis martabak cokelat kacang keju memenuhi ruangan, mengusir bau apak kontrakan.
"Bapak... beli martabak?" tanya Anandara, matanya menatap kresek itu dengan sedikit takjub. "Uangnya dari mana, Pak? Bukannya uang proyek baru cair minggu depan?"
Pak Dirga berjongkok di depan Anandara, menggenggam kedua bahu putrinya dengan tangan yang kasar dan kapalan. Matanya berbinar-binar memancarkan harapan.
"Nanda, dengarkan Bapak," suara Pak Dirga bergetar karena haru. "Tadi siang, Bapak tidak sengaja bertemu dengan Pak Mirza, teman kuliah Bapak dulu. Dia sekarang jadi kontraktor besar. Dia lihat gambar desain yang Bapak iseng buat waktu istirahat kerja kuli."
Anandara mendengarkan dengan saksama. "Lalu?"
"Dia suka gambarnya, Nanda! Dia bilang insting dan akurasi desain Bapak masih tajam seperti dulu," tawa renyah lolos dari bibir Pak Dirga. "Dia menawarkan Bapak pekerjaan. Bukan sebagai kuli atau mandor lapangan, tapi sebagai kepala tim drafter dan perencana struktur di perusahaannya! Dan... dia memberikan uang muka hari ini juga. Cukup untuk bayar tunggakan listrik, sewa rumah, beli sepatu barumu, dan tentu saja... martabak kesukaanmu."
Mata Anandara sedikit melebar. Ia melihat ayahnya yang selama ini punggungnya selalu membungkuk karena beban hidup, kini tegak kembali. Ada cahaya kehidupan yang kembali menyala di mata Pak Dirga.
"Benarkah, Pak? Bapak kembali mendesain bangunan?" tanya Anandara memastikan, ada nada lega yang tidak bisa ia sembunyikan dalam suaranya yang biasa datar.
"Benar, Nduk. Doamu terjawab," Pak Dirga menarik Anandara ke dalam pelukannya. Pelukan hangat seorang ayah yang berjanji akan memperbaiki semuanya. "Kita akan bangkit perlahan-lahan. Bapak janji, suatu hari nanti, Bapak akan buka perusahaan Bapak sendiri lagi. Bapak akan buat kamu bangga. Kamu tidak perlu lagi menahan lapar atau memakai sepatu rusak."
Di dalam pelukan ayahnya, Anandara memejamkan mata. Ia mencium aroma keringat dan air hujan dari kemeja ayahnya. Entah mengapa, hari ini terasa sedikit berbeda. Tadi siang ia mendapat seorang teman yang berisik namun protektif, dan malam ini ayahnya mendapatkan kembali mimpinya yang sempat mati.
"Bapak makan martabaknya duluan. Nanda mau ambil piring," ucap Anandara setelah melepaskan pelukan itu. Ia berbalik menuju dapur, menjauh dari ayahnya.
"Loh, kenapa nggak makan bareng?" tanya Pak Dirga keheranan.
Di balik tirai dapur yang remang-remang, Anandara berhenti sejenak. Ia menyentuh dadanya sendiri. Ada denyut hangat yang aneh di sana, sesuatu yang ia pikir telah mati bersama kepergian ibunya.
"Nanda akan segera menyusul, Pak," jawab Anandara dengan suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya.
Malam itu, ditemani manisnya martabak dan hangatnya teh manis buatan Anandara, mereka berdua mengobrol panjang lebar di ruang tamu yang sempit. Pak Dirga bercerita dengan antusias tentang rencana proyek barunya, tentang beton, baja, dan arsitektur gedung yang akan ia rancang.
Anandara duduk mendengarkan, sesekali memberikan tanggapan yang cerdas dan logis, menanyakan detail tentang efisiensi biaya dan perhitungan struktur, sesuatu yang tidak biasa dibicarakan oleh anak SMP, namun membuat Pak Dirga tertawa bangga.
"Kamu ini, masih SMP tapi bicaranya sudah seperti insinyur sungguhan saja," kekeh Pak Dirga sambil mengusap puncak kepala Anandara. "Suatu saat nanti, kalau perusahaan Bapak sudah berdiri besar, kamu yang harus meneruskannya ya, Nanda. Kamu yang jadi bosnya."
"Tentu," jawab Anandara singkat namun penuh keyakinan. "Nanda akan belajar dengan giat. Nanda akan pastikan tidak ada seorang pun yang bisa menghancurkan usaha kita lagi."
Siapa pun itu, batin Anandara menambahkan. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan menjaga ayahnya, ia akan sukses, dan ia tidak akan pernah membiarkan kelemahan emosional seperti cinta menghancurkan apa yang susah payah mereka bangun kembali.
Di luar, hujan perlahan mereda. Awal kebangkitan itu telah dimulai. Dan tanpa Anandara sadari, fondasi hidupnya kini tidak lagi hanya ditopang oleh kebencian, melainkan ada tiang kecil bernama harapan yang dibawa ayahnya, dan sebongkah batu bata persahabatan yang diletakkan secara paksa oleh Sinta siang tadi.
Bersambung... !
pengamat Senja_