NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34| Please Be Mine

Aluna mengedipkan kedua kelopak matanya, masih berdiri kaku di depan pintu masuk kamar presidential suite. Matanya terlihat menyapu keseluruhan kamar, Gavian duduk bersandar di sandaran sofa menghadap ke arah Aluna yang masih tak beranjak. Sebelah alis mata tebal Gavian ditarik tinggi ke atas, merasa ditatap Aluna melirik ke arah sofa.

"Masuk!" seru suara serak Gavian mengalun.

Aluna meringis, "Lo seriusan nih, ngajakin gue ketemuan di kamar hotel?"

Gavian menyeringai nakal, menjilat permukaan bibirnya dengan gerakan slow motion.

"Why?" Gavian memiringkan kepalanya. "Apa yang ada di otak kecil lo itu, hm?"

Aluna membuang muka, tangannya menggenggam erat tali tas tupperware. Awalnya ia pikir setelah mengemas rujak untuk Gavian, ia cukup menitipkan saja di resepsionis hotel. Sayangnya pria yang kini meliriknya dengan tatapan menggoda itu malah memberikan perintah agar Aluna mengantarkannya langsung ke kamar yang ia tempati, setelah pintu dibuka. Gavian sama sekali tidak mengulurkan tangannya menerima rujak yang diinginkannya, ia malah melangkah menuju sofa dan melirik ke arah pintu yang terbuka lebar.

"Eee..., gue harus balik cepat. Gue nggak mau Nyokap sama Bokap gue khawatir," sahut Aluna tanpa melirik ke arah Gavian.

"Iyakah?" tanya Gavian memastikan, "kenapa gue ngerasa nggak kayak gitu ya. Lo kayak anak ayam yang takut salah masuk kandang, kayak si tudung merah yang takut diterkam serigala, Aluna."

Kepala Aluna sontak saja menggeleng cepat, dan menjawab, "Nggak! Siapa bilang gue takut. Nih, gue masuk."

Kedua tungkai kakinya melangkah memasuki ruangan kamar hotel, Gavian memperhatikan setiap gerak-gerik Aluna. Gadis itu membungkuk meletakkan tas tupperware di atas meja, ia kembali berdiri dan berbalik. Telapak tangan Gavian lebih gesit, ia mencengkram pergelangan tangan Aluna dan menariknya ke belakang.

"Akh, uh. Gavian!" Aluna terjerembab jatuh ke pangkuan Gavian hanya dengan satu kali sentak, mata Aluna melotot.

Gavian menyeringai, tangan kirinya melingkar di pinggang ramping Aluna. Memenjarakan gadis cantik itu di pangkuannya, tangan kanannya bergerak menggenggam tangan Aluna. Semburan napas hangat menerpa leher jenjangnya, dagu Gavian bertengger nyaman di atas bahu kanan Aluna.

"Jangan asal gerak, Sayang. Adik gue berdiri entar," celetuk Gavian ketika Aluna meronta-ronta ingin lepas dari pangkuan Gavian.

Bulu mata lentik Aluna berkibar saat ia berkedip dua kali, ia membeku tak berani bergerak. Kedua sisi sudut bibir Gavian naik tinggi ke atas, manik mata hitam legamnya menatap intens ke arah wajah cantik Aluna. Aroma parfum manis terhirup samar di saat puncak hidung mancungnya bergesekan dengan pipi Aluna, degup jantung Aluna bertalu-talu.

"Bisa nggak sih kalo lo jadi milik gue aja?"

Aluna tertegun, dari ekor matanya ia melirik ekspresi memelas Gavian. Aluna tak berani berbalik menoleh ke arah wajah Gavian, deru napas hangat yang terus menyemprot ke wajahnya membuat saraf-saraf otot wajah Aluna terasa tegang.

"Kalo lo jadi milik gue, semua yang lo mau gue turutin apapun itu," sambung Gavian kembali mengalun.

'Ugh..., gila ini benar-benar gila. Apa yang harus gue jawab coba? Ditolak taruhannya nyawa. Di 'iyain' malah gue yang berabe, secara dia ini kepribadian Gavian bukan Gavino.' Aluna termenung dilanda dilema.

"Dengan lo yang selalu di sisi gue. Gue punya kesempatan terus ada, terus sadar," gumam Gavian serak matanya masih fokus pada wajah cantik Aluna.

Jari jemari panjang tangannya menelusup, memasuki ruas-ruas jemari kosong tangan Aluna. Telapak tangan Aluna tampak tenggelam dalam telapak tangan besar Gavian, Aluna melirik kembali Gavian dari ekor matanya.

"Gimana kalo Gavino sadar? Secara lo dan dia nggak mungkin hadir di saat bersamaan," balas Aluna pada akhirnya menyahut.

"Gavino," ulang Gavian dengan nada pelan dan dalam.

Ada perasaan tak terlukiskan di hati Gavian saat nama itu muncul dipermukaan, perasaan nyeri tanpa bisa ia jelaskan. Gavian menarik wajahnya ke belakang, hingga Aluna bisa menoleh ke samping kanan dengan nyaman tanpa takut akan terjadi kecelakaan bibir yang berbenturan.

"Dia mencintai Zea, dia menginginkan Zea. Saat dia sadar, kalo lo ada. Dia pasti bakalan ngambil sikap, buat ngilangin lo. Kepribadian lain dari dirinya," tutur Aluna, harap-harap cemas bisa mengalihkan pemikiran Gavian.

Kepala Gavian menggeleng, "Emang dia berani? Jika dia tau ada gue. Gue rasa dia bakalan ngalami hari-hari yang suram. Karena sebagian dari dirinya juga diri gue. Kami satu namun, tak akan bisa menyatu itu saja."

Aluna mengerutkan dahinya, kata-kata ambigu apa pula ini. Gavian menyeringai ganjil, tangannya beranjak dari pinggang Aluna. Mengusap lembut dahi Aluna yang berlipat, Aluna tersentak dengan tindakan Gavian.

"Ada beberapa hal yang nggak gue maupun Gavino ketahui, gue dan dia berada di sisi berlawanan. Dia ngelupain gue sepenuhnya, sementara gue mengingat tentang kami berdua sebagian. Potongan yang nggak utuh, anehnya setiap gue dekat sama lo. Gue sadar seutuhnya, karena itu Aluna. Please be mine, hm."

'Gue benar-benar jadi nggak waras kalo kek gini, maksud hati ngejauh dari semua tokoh di buku ini. Sialnya gue malah kejebak pula di posisi sulit.' Aluna mengulas senyum paksa, mengeram dalam diam tanpa bisa bersuara.

"Gue...."

...***...

Tubuh Aluna berguling-guling di atas ranjang kamarnya, pembicaraan di hotel empat jam yang lalu masih terngiang di otaknya. Pada akhirnya Aluna hanya bisa mengulur waktu, meminta waktu untuk memikirkan jawaban yang akan ia berikan pada Gavian. Ketukan di pintu menyentak Aluna dari keresahan tak berujung, ia membawa atensinya ke arah pintu.

"Masuk!" seru Aluna mengeraskan suaranya.

Pintu kayu itu berderit, Sonya masuk dengan membawa nampan berisikan sepiring cemilan dan segelas susu putih hangat. Pintu ditutup perlahan Sonya melanjutkan langkahnya mendekati ranjang, Aluna tersenyum sumringah.

"Mom!" seru Aluna ceria.

Sonya meletakkan nampan di atas permukaan ranjang, Aluna perlahan duduk bersila di atas ranjang menghadap ke arah Sonya-ibu angkatnya. Setidaknya sampai detik ini status yang ia tahu hanyalah sebatas hubungan yang dibentuk tanpa ikatan darah, dengan wanita yang tampak mirip dengannya ini.

"Gimana sekolahnya belakang ini? Apa yang ngeganggu pikiranmu, Sayang?"

Tangan Sonya terangkat menyentuh sebelah sisi wajah cantik Aluna, ibu jarinya mengusap pipi Aluna dengan gerakan lembut.

"Aman kok, Mom. Nggak ada masalah, Mommy sendiri 'kan tau. Siapa sih yang bisa ngeganggu aku kalo di sisiku ada Karina," jawab Aluna mengingatkan Sonya seberapa galak dan cerewetnya Karina.

Sonya terkekeh dan mengangguk, tangannya bergerak mengusap lembut puncak kepala Aluna.

"Baguslah kalo gitu," gumam Sonya terdengar lega, meskipun awalnya ia sedikit waspada dengan Karina.

Gadis remaja seusia dengan putrinya ini terlihat terlalu galak, nyatanya persahabatan mereka malah bertahan bertahun-tahun.

"Mom," panggil Aluna pelan, menatap lambat wajah Sonya.

Sonya menarik kembali tangannya, "Ya ada apa, Sayang?"

Aluna tampak ragu-ragu, genggam di tangannya menyalurkan kehangatan tersalurkan langsung ke hati. Aluna merasakan ketenangan batin, hanya dengan genggaman lembut Sonya.

"Mommy bisa janji dulu jangan marah sama apa yang mau aku omongin," tuntut Aluna meminta jaminan saat mata mereka berdua bertemu.

Sonya tertegun, perasaannya terasa mulai tak enak. Apalagi tatapan rumit di mata Aluna-putrinya, kepala Sonya mengangguk perlahan.

"Dia datang," ucap Aluna nyaris berbisik, "perempuan yang melahirkanku, dia datang ke sekolah. Menemuiku, Mom."

Pupil mata Sonya melebar, tubuhnya mendadak tegang. Ujung jari jemari Sonya terasa dingin, degup jantungnya berdebar keras. Perasaan cemas menelusup di dadanya, genggam di tangan Aluna terasa mengeras.

"Aku menolak kedatangannya secara tegas, aku nggak akan pernah kembali padanya. Aku memang selalu ngehindar ketika kita obrolin topik Ibu kandungku tapi, aku pikir kini saatnya aku terbuka sama Mommy dan Daddy. Aku anak seorang pel*cur aku anak har—"

"Nggak, Sayang! Nggak. Kamu bukan anak seorang pelacur apalagi anak haram, kamu anak Mommy dan Daddy. Kamu sama sekali bukan anak orang itu." Sonya memeluk Aluna membuat gelas susu di atas ranjang tumpah ke atas ranjang, Aluna terperanjat dengan pelukan tiba-tiba Sonya.

Deru napas Sonya memburu, pelukannya pun terasa amat erat. Seakan-akan sedikit saja Sonya melonggar pelukannya maka Aluna akan direbut darinya. Aluna pikir reaksi Sonya hanya karena takut kehilangannya, dan ia ingin menjelaskan secara terbuka.

"Mom! Lepas dulu, dengerin apa yang mau aku omongin," ujar Aluna mencoba melepaskan pelukan Sonya.

Kepala Sonya menggeleng keras, menolak melepaskan putrinya. "Sayang, jangan dengarkan wanita itu. Kamu putri Mommy dan Daddy, hanya anak kami berdua."

"Iya aku tau ak—"

"Nggak kamu nggak tau, kamu yang nggak tau. Kamu anak kami, dia tak punya hak mengambilmu lagi. Tidak akan pernah Aluna...." Sonya kembali memotong perkataan Aluna dengan panik.

Aluna menarik dan menghembuskan napas kasar, reaksi Sonya terkesan berlebihan dan aneh. Seolah-olah ia terus mengklaim jika dirinya adalah anak dari wanita yang memeluknya erat satu ini, napasnya terdengar memburu.

'Kenapa Mommy jadi kayak orang trauma gini, tubuhnya bahkan bergetar napasnya tersengal-sengal. Apa Mommy punya trauma kehilangan anak sebelumnya?' Aluna mengangkat tangannya mengusap lembut punggung belakang Sonya dan mengusap-usapnya lembut, mencoba menenangkan Sonya yang panik.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!