NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ifra Sulistya

“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: INSPEKSI MENDADAK SANG PENGACARA

Kegelapan perpustakaan semalam masih membekas di benak Alesha, namun realitas pagi ini jauh lebih mendesak.

Belum sempat ia mencerna abu dari kain berdarah Kiara, Villa Al-Ricci sudah kedatangan tamu yang paling tidak diinginkan, Signor Moretti.

Pria tua dengan kacamata berbingkai perak itu adalah pengacara kepercayaan mendiang kakek Matteo, penjaga gerbang sah bagi warisan Al-Ricci yang bernilai miliaran Euro.

"Sesuai klausul 14-B dalam wasiat, Nyonya-ah, maaf, Nyonya Al-Ricci," ucap Moretti sambil menyesap kopinya di ruang tamu,

"pernikahan ini harus merupakan persatuan yang nyata. Bukan sekadar tanda tangan di atas kertas untuk formalitas publik. Saya di sini untuk melakukan audit... domestik."

Alesha melirik Matteo yang duduk tenang di seberang Moretti. Pria itu memberikan kode lewat tatapan mata yang tajam, sebuah perintah bisu untuk mengikuti permainannya.

"Audit domestik?" Alesha bertanya dengan nada yang dibuat semanis mungkin.

"Maksud Anda, Anda ingin memeriksa apakah kami benar-benar berbagi sikat gigi?"

"Lebih dari itu, Nyonya. Saya ingin memastikan bahwa kehidupan pribadi Anda dan Tuan Matteo mencerminkan stabilitas yang diinginkan mendiang kakeknya," Moretti berdiri, tas kulitnya tersampir di bahu.

"Mari kita mulai dari kamar utama."

Kepanikan dalam diam pun terjadi. Dalam waktu kurang dari lima belas menit, di bawah instruksi cepat Marcello, pelayan-pelayan Villa memindahkan beberapa koper besar Alesha dari kamarnya ke kamar pribadi Matteo di lantai atas.

Kamar Matteo adalah sebuah ruang yang mencerminkan pemiliknya, sangat luas, dingin, didominasi warna abu-abu arang dan kayu gelap, dengan ranjang berukuran super king yang tampak cukup untuk menampung empat orang.

Tidak ada sentuhan feminin sedikit pun, sampai akhirnya barang-barang Alesha "menyerbu" masuk.

"Terlalu rapi," bisik Alesha saat mereka berdiri di depan pintu kamar sebelum Moretti masuk.

"Kamar pria yang baru menikah tidak mungkin seperti ini."

Matteo menggerakkan kursi rodanya masuk, wajahnya datar.

"Lakukan apa pun yang harus kau lakukan. Tapi jangan berlebihan."

Alesha tersenyum miring.

"Kau tidak tahu definisi 'berlebihan' bagiku, Matteo."

Moretti masuk ke dalam kamar, matanya yang tajam memindai setiap sudut. Ia memeriksa meja rias yang kini dipenuhi botol parfum Alesha, lalu berjalan menuju lemari besar yang seharusnya berisi pakaian mereka berdua.

"Kalian berbagi lemari, tentu saja?" tanya Moretti sambil memegang gagang pintu lemari.

Alesha melihat Matteo sedikit tegang. Pria itu benci jika privasinya diusik, apalagi jika orang asing menyentuh barang-barangnya.

Saat Moretti membuka pintu lemari, ia melihat barisan tuksedo hitam Matteo yang tersusun rapi seperti tentara.

Namun, di sisi lain, gaun-gaun berwarna mencolok milik Alesha tergantung secara acak.

Moretti tampak belum sepenuhnya yakin. Ia mulai menggeser gantungan baju, mencoba melihat apakah ada tanda-tanda sandiwara.

"Hanya pakaian luar? Keserasian suami-istri biasanya terlihat dari hal-hal yang lebih... personal."

Alesha tahu ini saatnya bertindak "bar-bar".

Ia melangkah cepat ke arah sebuah koper kecil miliknya yang belum sempat dirapikan Marcello. Di dalamnya terdapat beberapa prototipe pakaian dalam dari koleksi terbarunya, rancangan yang ia buat untuk butik, namun dengan sentuhan yang sangat berani dan provokatif.

"Oh, Tuan Moretti, Anda tidak perlu repot mencari ke sana," seru Alesha dengan nada menggoda yang sangat dibuat-buat.

Dengan gerakan cepat dan tanpa rasa malu, Alesha meraih sehelai lace hitam tipis dengan aksen sutra merah yang sangat "berani" dari kopernya.

Sebelum Matteo sempat bereaksi, Alesha melemparkan pakaian dalam itu ke arah pangkuan Matteo.

Pluk.

Kain tipis itu mendarat tepat di atas paha Matteo. Tak berhenti di situ, Alesha menyambar sepotong lagi, sebuah Lingerie transparan dan menyampirkannya di bahu kursi roda Matteo seolah-olah pria itu baru saja membantu melepaskannya.

"Matteo sayang, bukankah aku sudah bilang jangan meninggalkan barang-barang 'nakalku' berserakan saat ada tamu?" Alesha mengerling ke arah Matteo, lalu berjalan mendekat dan merangkul bahu suaminya dari belakang.

Ia bisa merasakan tubuh Matteo menegang seperti beton di bawah sentuhannya.

Wajah Matteo berubah dari pucat menjadi merah padam. Matanya berkilat marah, namun ia harus menelan semua makiannya saat melihat Moretti yang kini terbatuk-batuk kecil karena canggung.

"Ah... saya lihat... ya, ini sangat... intim," Moretti dengan cepat menutup pintu lemari, wajahnya ikut memerah.

Ia menyesuaikan kacamatanya, merasa bahwa ia telah melihat lebih banyak daripada yang seharusnya.

"Saya rasa, tidak perlu ada keraguan lagi mengenai kehangatan hubungan kalian berdua."

Alesha mengusap rambut Matteo dengan lembut, memberikan kecupan ringan di pelipisnya yang membuat pria itu hampir meledak.

"Kami memang sangat hangat, bukan, Sayang? Kadang-kadang bahkan terlalu panas untuk ukuran villa sedingin ini."

"Keluar, Moretti," suara Matteo terdengar rendah, bergetar menahan geram.

"Auditmu sudah selesai."

Pengacara itu segera mengangguk patuh.

"Tentu, Tuan. Saya sudah mendapatkan semua informasi yang saya butuhkan untuk laporan bulanan kakek Anda. Selamat siang."

Begitu pintu kamar tertutup dan langkah kaki Moretti menjauh, suasana di dalam kamar berubah drastis dari sandiwara romantis menjadi medan perang yang sunyi.

Matteo dengan kasar menyentakkan pakaian dalam hitam itu dari pangkuannya dan melemparkannya ke lantai. Ia memutar kursi rodanya untuk menghadap Alesha.

"Apa-apaan itu tadi?" desis Matteo, suaranya seperti desis ular.

Alesha hanya mengangkat bahu, tampak tidak berdosa. Ia mulai membereskan pakaian-pakaian beraninya ke dalam laci.

"Itu disebut improvisasi. Moretti tidak akan percaya jika dia hanya melihat gaun malam yang sopan. Dia butuh bukti visual bahwa kau bukan hanya pria yang duduk di kursi roda, tapi juga seorang suami yang... aktif."

"Kau mempermalukanku di depan pengacaraku sendiri!"

"Aku menyelamatkan warisanmu, Matteo!" balas Alesha, suaranya tak kalah tajam.

"Jika dia melapor bahwa pernikahan ini palsu, kau akan kehilangan segalanya, termasuk kemampuanmu untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Kiara. Jadi, simpan amarahmu."

Matteo terdiam, napasnya memburu. Ia menatap kamar yang kini dipenuhi oleh aroma parfum Alesha, aroma bunga sedap malam yang manis namun liar.

Kamar yang selama ini menjadi benteng kesunyiannya kini telah tercemar oleh kehadiran wanita ini.

"Marcello sudah membawa semua barangmu ke sini," ucap Matteo setelah jeda yang panjang.

"Kau tidak bisa kembali ke kamarmu malam ini. Moretti sering meninggalkan asistennya di Villa untuk memantau aktivitas kita selama beberapa hari."

Alesha terhenti. Ia menoleh ke arah ranjang raksasa yang berada di tengah ruangan.

Selama ini, ia hanya berpikir tentang sandiwara di depan orang lain. Ia tidak pernah berpikir bahwa sandiwara ini akan membawanya ke ranjang yang sama dengan pria yang baru saja membakar pesan darah semalam.

"Satu kamar?" tanya Alesha, suaranya sedikit mengecil.

"Satu kamar. Satu ranjang," sahut Matteo, matanya menatap Alesha dengan tantangan.

"Bukankah kau yang ingin kita terlihat intim? Sekarang nikmati konsekuensinya."

Alesha menelan ludah.

Ia menatap ranjang itu, lalu menatap Matteo. Pria itu tampak tidak peduli, namun Alesha bisa melihat ketegangan di bahunya. Malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang.

"Jangan berpikir kau bisa mengambil keuntungan dariku," ucap Alesha, mencoba mengembalikan keberaniannya.

Matteo mendengus sinis.

"Di mataku, kau adalah gangguan yang harus kutoleransi demi tujuan yang lebih besar, Alesha. Tidurlah di sisi kanan. Jangan melewati batas tengah, atau kau akan tahu mengapa mereka menyebutku monster."

Alesha berjalan menuju sisi kanan ranjang, melepaskan sepatu botnya dengan gerakan yang kaku. Saat ia merangkak ke bawah selimut sutra yang dingin, ia bisa merasakan kehadiran Matteo yang masih duduk di kursi rodanya di sisi ranjang, menatap kegelapan di luar jendela.

Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di kediaman Al-Ricci, Alesha merasa sangat rapuh. Ia berada di jantung wilayah musuh, berbagi napas dengan pria yang tidak ia kenal, sementara rahasia tentang Kiara dan noda darah itu terus menghantuinya.

Namun, saat ia memejamkan mata, ia sadar akan satu hal, ia tidak akan bisa mundur lagi. Perang ini sudah dimulai, dan malam ini, di dalam kamar yang dingin ini, garis antara musuh dan sekutu mulai menjadi sangat kabur.

1
Ani Basiati
lanjut thor
Yoyoh Rokayah
double up thor
partini
Ale be smart main yg halus jangan gedebak gedbuk kaya lain ga seru
lyfyah
saya suka dengan karyanya. Tidak pasaran.
partini
alasan buat kamu hidup dan bucin akut,kamu terlalu sombong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!