Violet Aolani, mahasiswi tengil yang tak kenal kata mundur, nekat mengejar Arden Elio Bayu, CEO kaku yang hidupnya sedingin es. Di mata Arden, Violet hanyalah anak kecil yang mengganggu; namun bagi Violet, Arden adalah takhta yang harus ia taklukkan. Ini adalah kisah tentang "badai" muda yang meruntuhkan tembok beku sang penguasa korporat dengan keberanian yang nyaris lancang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamitnya sang mentari
Gosip di pantry karyawan menyebar lebih cepat daripada aroma kopi pagi.
"Kalian lihat Nona Violet? Kayaknya dia beneran dicampakkan Pak Arden setelah kejadian di Bali itu," bisik salah seorang staf administrasi. "Dulu kan nempel terus kayak perangko, sekarang kalau papasan sama Pak Arden cuma nunduk formal. Dingin banget!"
"Iya, denger-denger Pak Arden nggak mau sama anak kecil. Mungkin Nona Violet sadar diri kalau dia cuma jadi beban di sini," timpal yang lain.
Violet yang kebetulan lewat untuk mengambil air mineral, mendengar semua itu. Namun, bukannya melabrak seperti biasanya, ia hanya melempar senyum tipis yang penuh wibawa—sebuah senyum yang ia pelajari dari ibunya. Ia tetap berjalan tegak menuju ruangan Arden untuk terakhir kalinya.
Ruang CEO - Konfrontasi Terakhir
Di dalam ruangan, Arden sedang menatap jendela besar yang menghadap gedung-gedung Jakarta. Pikirannya kalut. Ia sudah mendapatkan ketenangan yang ia minta, tapi kenapa rasanya sepi ini justru mencekik?
Tok! Tok!
Violet masuk. Ia meletakkan sebuah map kulit di meja Arden. "Pak Arden, ini laporan akhir magang saya. Semuanya sudah saya selesaikan, termasuk revisi konsep taman untuk proyek Bali."
Arden berbalik, matanya menatap Violet yang tampak sangat dewasa dengan pakaian formalnya. "Laporan akhir? Bukankah masa magangmu masih tersisa dua minggu lagi?"
"Saya memutuskan untuk menyelesaikannya lebih cepat," jawab Violet tenang. "Papa sudah bicara dengan saya. Beliau setuju kalau saya sebaiknya fokus pada kuliah saya. IPK saya sedikit menurun karena terlalu sibuk... mengejar hal yang tidak pasti."
Arden terdiam. Kata-kata "mengejar hal yang tidak pasti" terasa seperti tamparan pelan di wajahnya. "Jadi, kamu berhenti?"
"Bukan berhenti, Pak. Saya hanya kembali ke tempat yang seharusnya. Seperti kata Bapak, saya ini anak kecil yang dunianya adalah kampus dan bersenang-senang. Saya tidak ingin merusak tatanan kantor Bapak yang sempurna dan kaku ini lebih lama lagi."
Violet melangkah mundur satu langkah, lalu membungkuk sopan—sebuah gestur formal yang sangat asing bagi Arden. "Terima kasih atas bimbingannya selama ini, Tuan Bos. Mulai besok, Anda tidak perlu lagi khawatir soal 'gadis berisik' yang mengganggu ketenangan Anda."
Tanpa menunggu balasan dari Arden, Violet berbalik dan keluar. Kali ini, ia tidak menoleh lagi.
Di Luar Kantor - Geng Cegil Beraksi
Di parkiran, mobil sport ungu Violet sudah menunggu. Evara, Avyanna, dan Lavanya sudah berdiri di samping mobil dengan ekspresi wajah yang beragam.
"Beneran lo berhenti, Vi?" tanya Evara, wajahnya tampak sedih. "Terus gimana sama misi kita? Masa kita kalah sama si Kulkas?"
Violet melepas blazer navy-nya, menyisakan kemeja tipis, lalu mengikat rambutnya asal menjadi cepol. "Kita nggak kalah, Va. Kita cuma pindah medan perang. Di sini, Arden punya kuasa karena ini wilayah dia. Tapi kalau di luar? Dia nggak punya kontrol atas gue."
"Bener!" sahut Avyanna sambil menunjukkan layar ponselnya. "Dan gosip soal lo dicampakkan sudah mulai panas di forum kampus. Si Arjuna juga makin berisik, dia posting foto-foto galau seolah-olah lo bakal balik ke dia sekarang karena udah putus sama Arden."
Violet memakai kacamata hitamnya. "Biarkan saja. Mulai besok, kita kembali ke kampus. Gue bakal jadi mahasiswi paling berprestasi sekaligus paling 'mahal' yang pernah ada. Biar Arden tahu kalau dia bukan satu-satunya pemilik dunia ini."
Seminggu Kemudian - Kehampaan Arden
Kampus mulai sibuk dengan semester baru. Violet benar-benar menepati janjinya. Ia kuliah dengan rajin, aktif di organisasi, dan fotonya saat memenangkan lomba debat bisnis nasional muncul di berbagai media sosial.
Di sisi lain, Arden duduk di ruangannya yang sunyi. Ia memegang kaktus kecil yang ditinggalkan Violet di mejanya. Berkali-kali ia memeriksa ponselnya, berharap ada pesan tengil masuk, tapi hasilnya nol.
Danantya masuk ke ruangan tanpa mengetuk. "Gimana, Den? Enak ya kantornya tenang sekarang? Nggak ada yang teriak 'Calon Suami' lagi?"
Arden melempar pulpennya ke meja. "Danan, jangan mulai."
"Gue dapet info, Violet makin populer di kampusnya. Banyak cowok yang antre, termasuk anak pemilik bank swasta yang setipe sama dia. Dan jangan lupa, Arjuna makin gencar mendekat karena dia pikir lo udah nggak mau sama Violet," Danantya tersenyum licik. "Selamat ya, keinginan lo terkabul. Lo bebas dari 'bocah ingusan' itu."
Arden tidak menjawab. Ia menatap kaktus itu lagi. Kaktus itu kecil, berduri, tapi bunganya baru saja mekar berwarna ungu—sama seperti gadis yang baru saja ia usir dari hidupnya.
"Gadis itu... benar-benar berhenti mengejarku?" gumam Arden saat Danantya sudah keluar.
Hatinya mulai mengakui sesuatu yang selama ini ia sangkal: Ketenangan tanpa Violet ternyata adalah jenis kesunyian yang paling menyakitkan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...