NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13.

Dunia punya hukum yang tak tertulis, hukum yang lebih kuat dari kekuatan manusia mana pun: Siapa yang menggali lubang, dia sendiri yang akan jatuh ke dalamnya. Siapa yang menyiapkan senjata, dia sendiri yang akan terkena ujung runcingnya.

Tragedi kolam renang menjadi perbincangan hangat seantero sekolah. Bukan hanya dari kalangan siswa, para petinggi sekolah ikut menyikapi serius peristiwa ini.

Beberapa polisi menyelidiki, dan semua siswa yang terlibat di tempat kejadian tak akan lepas untuk di interogasi.

Sedangkan kondisi korban saat ini, terbaring lemah di rumah sakit. Ia tak berdaya, kandungan racun pelan-pelan merusak sel tubuhnya.

Jantungnya berdebar tak beraturan, antara efek kerusakan dan penyesalan. Keringat dingin mengalir di dahinya, ia menangis tanpa suara, dengan mata menguning yang kian lama semakin buram.

"Bagaimana ini pak? Saya tidak terima anak saya diperlakukan seperti ini. Setiap bulan saya rutin menyuntikkan dana ke sekolah ini, tapi apa balasannya? Anak saya malah mendapatkan perlakuan seburuk ini"

"Pokoknya sampai kapanpun saya tidak ikhlas. Pelakunya harus mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Saya berjanji tidak akan pernah melepaskan orang itu...!" ucap ayah Lena kala itu.

Lena, sang korban, adalah anak dari salah satu donatur sekolah. Orang tuanya cukup berpengaruh dan punya kuasa, tak heran anaknya selalu aman walau kelakuan tidak benar.

...****************...

"Tuntaskan semuanya!" ucap dingin sosok berkacamata. Pandangan menatap ke satu arah, dengan wajah datar yang sulit dicerna.

Dalam benaknya, ia mengutuk penjahat yang diam-diam mengusik miliknya. Rahangnya mengeras, kedua tangan mengepal kuat.

Dalam emosi yang hampir memuncak, hanya ada satu obat. Kekasih hatinya, yang diam-diam ia puja, yang diam-diam ia jaga, yang diam-diam ia kagumi tanpa kata.

Ia membuka ponselnya, mengawasi rekaman CCTV yang tersambung disana. Perasaan sejuk mengalir indah dari mata sampai hati, tepat ketika ia menyalakan tayangan CCTV.

Ia tersenyum hangat begitu melihat gambar tercinta tengah mondar mandir di kamar miliknya, mengenakan baju miliknya, berpose lucu di kaca miliknya, dia tak marah karena gadis itu memang miliknya.

"Cantik...!" pujinya jujur. Ia terhanyut dalam pesonanya. Sensasi hangat menjalar di seluruh tubuhnya. Masuk ke aliran darah, hingga ke jantung yang terus berdenyut kuat tanpa henti.

"Sengaja banget, dasar nakal..." ia memalingkan wajahnya. Tersenyum salah tingkah ketika menyadari gadisnya tertidur di atas sofa dengan pose menggoda.

Ia mengalihkan pandangan pada burung-burung beterbangan. Menghirup udara segar, untuk membebaskan rindu yang tiba-tiba menyerang.

Dalam lamunan, langkah kaki terdengar samar. Semakin mendekat, semakin jelas. Ia kembali memasang topeng dingin. Berbalik arah, berlakon seperti biasa.

"Lo manggil gue?" ucap gadis berkepang dua, wajahnya menunduk malu, dengan senyum kecil yang menghiasinya.

...****************...

Suara gemericik air mengusik tidur nyenyak nya. Naysilla membuka mata dengan kantuk yang masih merayu manja. Ia mengucek matanya pelan, menyingkap kain yang menyelimuti tubuhnya yang setengah terbuka.

"Momon..." ucapannya reflek ketika cowok itu baru keluar dari kamar mandi.

Aroma sabun tercium samar. Ia menghirup lamat-lamat kesegaran disaat ia masih bau bantal. Lalu fokusnya jatuh pada tubuh basah cowok itu yang hanya dibalut handuk sebatas pinggang ke bawah.

Malam membawa pesona luar biasa. Naysilla terdiam menyaksikan pemandangan tak biasa. Momon nya yang selalu berpenampilan Cupu dengan kacamata tebal, kini ia bak seorang pangeran idaman.

"Hanya aku yang bisa menikmati ketampanan ini. Hanya aku yang boleh melihatnya, tidak untuk orang lain" ucapnya dalam hati.

"Dasar cewek mesum" ujar Mohan frontal. Tentu saja gadis itu tak terima. Sorot matanya tajam, yang semula penuh kekaguman kini dihinggapi kabut kemarahan.

"Apa lo bilang? Gue nggak ngapa-ngapain lo yah" jawabnya asal, yang malah semakin membuat cowok itu geleng-geleng kepala menghadapi sikapnya.

"Ketauan banget saltingnya" batin Mohan.

"Lo liatin gue sambil senyum-senyum, pasti lagi bayangin jorok" ucapnya santai dengan senyuman miring.

Fokus mata terkunci. Langkahnya mendekat, semakin mengikis jarak, hingga napas gadis itu tercekat.

"Sok tau, otak lo tuh yang jorok" jawabnya tak mau diam, seperti debaran jantungnya yang tak bisa tenang.

"Oh yah?"

Semakin menipis jarak, semakin kuat debaran yang dirasa. Mohan menangkap sinyal salah tingkah di wajahnya. Membuat ia semakin bersemangat menggodanya.

"Lo mau apa Momon? Ngapain sih deket-deket" ia kembali menarik selimutnya sebatas perut.

"Suka-suka gue dong. Na, gue mau itu!" jarinya menunjuk tepat di depan area dada.

"Hah..." ia terkejut bukan main. Matanya membulat sempurna, dengan ketakutan yang tiba-tiba menyerang tanpa peringatan.

"Ja-jangan Momon, gue ngga siap" ia menyilang kan tangan ke depan. Memblokir habis area terlarang agar sulit terjangkau.

"Gue mau sekarang, Na" ucapnya lembut, nadanya seperti terhanyut.

Gadis itu menutup matanya, antara takut dan penasaran, ia mengintip lewat sela-sela jarinya.

"Na, Nasa. Agak kesini dikit, gue nanti susah pegangnya"

"Apaan sih momon, awas iiiih...!" tangannya mengibas asal ke udara. Tapi dengan mudah, Momon berhasil menangkap tangan mungil itu, lalu mengikatnya kuat.

"Kenapa? Lo nggak mau? Tapi gue mau"

Tubuh besarnya mengukung gadis kecil yang meringkuk lemah. Tetesan basah mendarat tepat di dahinya. Mengantar kesejukan, yang merambat ke sekujur badan.

"Momon..." bisiknya lirih, ia diam tak bergerak menatap tubuh setengah telanjang yang terpampang nyata di depan matanya, karena cowok itu hanya memakai handuk sebatas pinggang ke bawah.

"Iya, Na" jawabnya lembut, dengan mata sayu memandang wajah indah di depannya.

Satu tangan mengikat erat kedua tangan kecil gadis itu, dan tangan satunya terulur ke depan, begitu pelan.

Naysilla memejamkan mata tepat ketika Mohan berhasil menyentuh sesuatu yang ia inginkan. Ia tersenyum penuh kemenangan, sedangkan gadis itu berteriak histeris sangat kencang.

"Aaaaah... Momon nyebeliiiiin...! Iiiiiihh...!"

Bantal bantal melayang di udara. Ia terkekeh geli sambil menyisir rambutnya. Menutupi sesuatu gejolak yang sebenarnya ada, tapi ia menjaganya.

"Kenapa, Na? Tegang amat, orang gue cuma pengen ambil sisir" ucapnya santai dengan tawa tak tertahankan.

"Ya lo ngapain pake nunjuk-nunjuk itu gue segala"

"karena sisirnya ada di samping itu lo"

"iiiiih... Nyebelin...! Sana lo pake baju! Dikira bagus apa, pamerin badan segede gapura kabupaten gitu"

"Iya, iya. Pilihin baju, Na!"

"Ambil ajah sendiri. Tuh yang paling pinggir sebelah kanan, yang warna biru kaya gini" ucapnya sewot, sambil mencubit kaos yang ia kenakan.

Mohan membuka lemari, padahal yang diketuk pintu hati. Diam-diam ia menyentuh dadanya yang berdebar, tapi tersamarkan.

Darahnya mengalir deras ketika mengenakan pakaian pilihan Naysilla. Hatinya menghangat, ia merasa aman dan nyaman, dan enggan terlepas.

Sejak kecil, ia hidup dalam aturan. Ia nurut bukan karena patuh, tapi karena sudah menjadi kewajiban.

Tapi di samping Naysilla, walau gadis itu banyak maunya, walau gadis itu banyak tingkah, ia merasa nyaman dan dengan senang hati mengikutinya.

"kamu bukan hanya obat yang menyembuhkan luka. Kamu adalah canduku, kekuatanku, matahari yang aku butuhkan sinarnya setiap hari. Kehadiran mu menenangkan, sinarmu menghangatkan, dan tanpamu aku membeku"

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!