NovelToon NovelToon
Ku Pilih Takdirku Sendiri

Ku Pilih Takdirku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Sintia Arunika, wanita yang harus berjuang dalam bahtera rumah tangganya bersama Alfiandi Rian Mahesa. 7 tahun pernikahan mereka seolah tak berarti apa pun karena Sintia tidak kunjung hamil dan puncaknya intervesi keluarga Rian membuat Rian bercerai dari Sintia. Bukan perpisahan yang membuat Sintia sakit, tapi Rian yang rupanya diam-diam menikahi Suci Wahyuni, wanita yang ia kenal baik bahkan dengan Suci rupanya Rian memiliki seorang anak berusia 6 tahun! Sintia memilih pergi dan saat itulah ia bertemu dengan pria bernama Kenzi Hutama yang mengubah hidup Sintia selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fakta Di Ruang Sidang

Saat kedua kubu saling berpapasan di depan pintu ruang sidang utama, langkah mereka sempat tertahan. Mata Rian langsung tertuju pada Sintia. Ada kilat keterkejutan di sepasang mata pria itu. Ia nyaris tidak mengenali wanita yang berdiri di hadapannya. Sintia tampak begitu asing, begitu anggun, dan memancarkan aura kemewahan yang belum pernah ia lihat selama tujuh tahun pernikahan mereka.

Suci yang menyadari perubahan tatapan Rian segera merapatkan tubuhnya ke bahu pria itu. Ia menatap Sintia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan senyum sinis yang mengembang penuh ejekan.

"Wah, lihat siapa yang datang," sindir Suci, suaranya sengaja dikeraskan agar memancing perhatian orang-orang di koridor. "Hebat ya, Mas Rian... Wanita mandul yang sudah dibuang ternyata masih punya modal untuk beli baju baru. Atau... itu baju sewaan demi menutupi rasa malunya?"

Sintia sama sekali tidak menoleh. Sepasang matanya menatap lurus ke depan, ke arah pintu kayu ruang sidang yang masih tertutup. Wajahnya datar, seolah suara Suci hanyalah deru angin kotor yang berembus di tengah pasar. Di mata Sintia saat ini, Suci tidak lebih dari seonggok bayangan hitam yang tak memiliki wujud nyata. Kosong. Tak berharga.

"Abaikan saja, Bu Sintia. Sidang akan segera dimulai," bisik Bramantyo dengan nada profesional yang tenang.

Sintia hanya mengangguk kecil, lalu melangkah masuk begitu pintu ruang sidang dibuka oleh petugas, meninggalkan Suci yang wajahnya mendadak merah padam karena merasa diabaikan sepenuhnya.

"Kurang ajar wanita itu! Dia pikir dia siapa, hah?!" umpat Suci berbisik kepada Rian, dadanya naik turun karena emosi.

"Sudahlah, Suci. Jaga sikapmu, kita sedang di pengadilan," tegur Rian pendek, walau fokus matanya sendiri masih terpaku pada punggung tegak Sintia yang kini sudah duduk di kursi penggugat.

****

Persidangan berlangsung dengan tensi yang teramat tinggi, meskipun tidak ada satu pun kata yang terlontar langsung antara Sintia dan Rian. Keduanya duduk berseberangan, dipisahkan oleh meja kuasa hukum masing-masing, bertindak seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang tidak pernah berbagi ranjang dan janji suci selama 2.555 hari.

Ketukan palu hakim ketua memecah keheningan ruang sidang.

Tok! Tok! Tok!

"Agenda sidang hari ini adalah pembacaan gugatan cerai talak dari pemohon, saudara Alfandi Rian Mahesa, sekaligus penyampaian replik dan gugatan rekonvensi dari termohon, saudari Sintia Arunika," ujar Hakim Ketua dari balik meja tingginya.

Pengacara Rian maju dengan percaya diri, membacakan poin-poin permohonan cerai yang intinya menyudutkan Sintia. Mereka menggunakan dalih "perselisihan yang terus-menerus" dan secara implisit menyinggung ketidakmampuan termohon dalam memberikan keturunan sebagai alasan utama keretakan rumah tangga.

Rian duduk dengan dagu terangkat, merasa di atas angin. Di galeri penonton, Suci tersenyum lebar, bahkan sempat melirik Sintia dengan tatapan yang seolah berkata: Kamu selesai, Sintia.

Namun, senyum di wajah kubu Mahesa tidak bertahan lama. Saat giliran Bramantyo bangkit dari kursinya, atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah mencekam.

Namun, senyum di wajah kubu Mahesa tidak bertahan lama. Saat giliran Bramantyo bangkit dari kursinya, atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah mencekam.

"Yang Mulia Majelis Hakim," suara Bramantyo menggelegar, tenang namun sarat akan tekanan intimdatif. "Kami tidak keberatan dengan permohonan cerai ini. Klien kami, Ibu Sintia Arunika, juga menginginkan hubungan pernikahan yang beracun ini segera diakhiri. Namun, kami mengajukan gugatan rekonvensi terkait pembagian harta bersama dan pengembalian aset."

Bramantyo membuka sebuah bundel berkas tebal yang dilapisi sampul hitam berlogo firma hukum mereka.

"Kami membawa bukti-bukti otentik berupa rekening koran, surat perjanjian asuransi, serta manifes aliran dana selama tujuh tahun terakhir. Faktanya, perusahaan konveksi dan distribusi milik pemohon, PT Mahesa Perkasa, dibangun sepenuhnya menggunakan modal dari dana asuransi kematian ayah klien kami, ditambah seluruh penjualan perhiasan pribadi klien kami senilai 1,2 miliar rupiah pada tahun kedua pernikahan."

Wajah Rian mendadak memucat. Ia menoleh dengan cepat ke arah pengacaranya, namun sang pengacara juga tampak terkejut melihat tebalnya dokumen bukti yang dibawa oleh kubu Sintia.

"Tidak hanya itu, Yang Mulia," lanjut Bramantyo tanpa ampun. "Rumah tinggal yang saat ini ditempati oleh pemohon di kawasan Jakarta Selatan, dibeli dengan sistem uang muka yang 80 persennya berasal dari rekening pribadi Ibu Sintia Arunika sebelum mereka menikah. Oleh karena itu, kami menuntut pengembalian seluruh modal usaha beserta bunganya, serta penyitaan aset rumah tersebut sebagai hak mutlak klien kami. Kami juga menuntut nafkah mut'ah dan iddah sebesar 5 miliar rupiah atas kerugian imaterial yang diderita klien kami akibat perselingkuhan terencana yang dilakukan pemohon dengan saksi, saudari Suci Wahyuni, yang telah menghasilkan anak di luar pernikahan sah selama tiga tahun lalu."

"Keberatan, Yang Mulia!" pengacara Rian langsung berdiri dengan panik. "Itu tidak ada hubungannya dengan pokok perkara cerai talak!"

"Semua bukti perselingkuhan dan penyelewengan dana telah kami lampirkan secara sah, Yang Mulia. Termasuk bukti pernikahan siri pemohon," potong Bramantyo dingin, lalu menyerahkan berkas-berkas tersebut kepada majelis hakim.

****

Rian merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Ia menatap Sintia dengan pandangan tak percaya. Bagaimana bisa wanita yang dulunya begitu penurut, wanita yang selalu menyerahkan seluruh uangnya tanpa pernah bertanya, kini berbalik menyerangnya dengan kalkulasi yang begitu mematikan? Dari mana Sintia mendapatkan pengacara sekelas Bramantyo yang tarif per jamnya saja tidak akan mampu ia bayar?

Di sudut kursi penonton, Suci tidak lagi tersenyum. Wajahnya pucat pasi, jemarinya mencengkeram erat tas jinjingnya hingga kuku-kukunya memutih. Skenario indah tentang menguasai rumah mewah dan harta Rian mendadak goyah, terancam runtuh sebelum ia sempat menikmatinya secara sah.

Setelah memeriksa berkas sejenak, Hakim Ketua kembali mengetuk palunya. "Sidang ditunda dua minggu ke depan untuk agenda pembuktian dari pihak pemohon dan jawaban atas rekonvensi. Sidang hari ini ditutup."

****

Sintia bangkit dari tempat duduknya tanpa menoleh sedikit pun pada Rian yang masih terpaku di kursinya. Ia menjabat tangan Bramantyo dengan tenang. "Terima kasih, Pak Bram."

"Sama-sama, Bu Sintia. Ini baru permulaan. Kita akan buat mereka mengembalikan setiap perak yang mereka curi dari Anda," jawab Bramantyo dengan senyum profesional.

Sintia berjalan keluar dari ruang sidang. Begitu kakinya menginjak koridor utama gedung pengadilan, langkahnya kembali dihadang. Rian dan Suci bergegas mengejarnya, wajah mereka dipenuhi sisa-sisa ketegangan dari dalam ruangan tadi.

"Sintia! Tunggu!" bentak Rian, suaranya parau oleh amarah yang bercampur dengan rasa panik. "Apa-apaan semua tuntutan itu, hah?! 5 miliar? Penyitaan rumah? Kamu mau membuatku bangkrut?!"

Sintia menghentikan langkahnya, membalikkan badan dengan keanggunan seorang ratu yang sedang menghadapi pemberontak. Ia menatap Rian dengan pandangan mata yang begitu kosong, seolah pria di hadapannya tak lebih dari sekadar pajangan dinding yang usang.

"Itu bukan membuatmu bangkrut, Rian," sahut Sintia, suaranya terdengar begitu tenang namun menusuk hingga ke hulu hati. "Itu hanya mengambil kembali apa yang memang menjadi hakku. Kamu membangun istanamu di atas darah dan air mataku, dan sekarang... aku datang untuk meruntuhkan fondasinya."

"Sintia, kamu keterlaluan!" teriak Suci, tidak bisa lagi menahan kedengkiannya. Ia melangkah maju, menunjuk wajah Sintia dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Kamu itu wanita mandul yang egois! Kamu sudah tidak bisa memberikan Mas Rian anak, sekarang kamu mau merampas masa depan Arka?! Kamu benar-benar wanita jahat!"

Sintia menatap jari telunjuk Suci, lalu beralih menatap wajah sahabat lamanya itu. Untuk pertama kalinya hari ini, Sintia menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman yang penuh dengan penghinaan yang teramat dalam.

"Jaga bicaramu, Suci," ucap Sintia lirih, namun getaran suaranya membuat Suci menarik kembali jarinya dengan ngeri. "Masa depan anakmu bukan tanggung jawabku. Nikmatilah rumah itu selagi kamu bisa, karena sebentar lagi... kalian berdua harus mencari kolong jembatan yang cukup luas untuk menampung kesombongan kalian."

"Sintia—"

Kalimat Rian terputus saat mereka tiba di lobi utama gedung pengadilan yang berbatasan langsung dengan area parkir VIP.

Sebuah mobil mewah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam terparkir tepat di depan pintu lobi, menghalangi pandangan kendaraan lain. Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam langsung membuka pintu belakang mobil tersebut begitu melihat Sintia keluar.

Dan dari dalam mobil, turunlah seorang pria.

1
Arieee
bagus,, 👍👍👍👍👍👍👍👍
Serena Muna: terima kasih kak
total 1 replies
Ma Em
Si Suci sdh gila otaknya konslet mau berbuat apa saja demi menyingkirkan Sintia agar Suci bisa bersama Kenzi , semoga Sintia selamat dan minuman yg sdh ada racun nya tersenggol atau gimana asal tdk diminum oleh Sintia .
Anonim
BUNUH ANAK HARAM ITU SINTIA.. KELAK DIA YANG AKAN MEMBALAS KAN DENDAM PADAMU
Ma Em
Semoga tdk berhasil Suci jebak Kenzi cepatlah orang datang keruangan Kenzi untuk menolong Kenzi dari jerat licik si Suci , lalu Suci jebloskan saja ke penjara .
Ma Em
Kesombongan Rian dan gundiknya runtuh setelah pengacara Sintia membacakan tuntutan dari Sintia , makanya kalau Rian kalau usaha modal dari itu jgn merasa berkuasa diambil sama yg punya Rian bisa bangkrut baru Rumah an baru sadar dan menyesal .
Ma Em
Semangat Sintia rebut kembali harta dan uang yg sdh dipakai membangun rumah dan uang untuk membantu Rian kuras habis jgn sampai tersisa buat Rian dan Suci juga Bu Ane jadi gembel .
Ma Em
Seru Thor , ditunggu balas dendam untuk Rian, Suci juga Bu Ane dari Sintia buat mereka menangis darah Sintia , buat Rian hdp nya jadi gembel agar Sintia puas melihat Rian dan Suci hdp nya menderita .
Serena Muna: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!