NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 23 Ibu yang Akan Melindungi Anaknya

Malam festival masih terdengar ramai dari kejauhan saat Ravin membawa Arum berjalan melewati taman belakang kediaman selir Ratih. Cahaya lampion memantul lembut di jalan batu yang mereka lewati.

Arum masih memegang ujung gaunnya sambil sesekali tersenyum kecil mengingat suasana festival tadi.

“Aku masih mau lihat pertunjukan sebenarnya…” gumamnya pelan.

Ravin mendengus kecil.

“Acara istana selalu membosankan.”

Arum langsung menatapnya tidak percaya.

“Bagi pangeran mungkin biasa, tapi bagiku itu indah.”

Ravin hanya tersenyum tipis melihat mata Arum yang masih berbinar bahagia.

Begitu sampai di depan kediaman selir Ratih, Ravin berhenti lalu menoleh pada Arum.

“Tunggu sebentar di sini.”

“Mau kemana?”

“Aku ambil sesuatu di dalam.”

Arum mengangguk pelan.

Ravin masuk ke dalam rumah sementara Arum berdiri sendiri di bawah lampion taman yang bergoyang tertiup angin malam.

Namun tak lama kemudian…

suara langkah pelan terdengar dari belakang.

Arum menoleh dan sedikit terkejut melihat cenayang kerajaan berdiri tidak jauh darinya dengan jubah gelap yang bergerak pelan tertiup angin.

“Cenayang…”

Wanita tua itu menatap Arum dalam-dalam.

“Aku perlu bicara denganmu.”

Suasana malam tiba-tiba terasa lebih dingin.

Arum sedikit bingung namun tetap mengikuti cenayang beberapa langkah menjauh dari rumah.

Sementara di dalam rumah, Ravin baru saja keluar kembali saat menyadari Arum sudah tidak ada di tempatnya.

“Arum?”

Tatapannya langsung berubah waspada.

Ia segera berjalan cepat mencari gadis itu di sekitar taman.

Di sisi lain taman, cenayang memandang Arum dengan wajah serius yang tidak biasa.

“Kau harus membantu Pangeran Aruna pergi dari istana.”

Arum langsung mengernyit bingung.

“Pergi?”

“Secepat mungkin.”

Tatapan cenayang terlihat penuh kecemasan.

“Kurang dari tiga puluh hari dari sekarang.”

Jantung Arum langsung terasa tidak nyaman.

“Ada apa sebenarnya?”

Cenayang menggenggam tongkatnya lebih erat.

“Jika Pangeran Aruna tetap berada di dekat istana sebelum pernikahan putra mahkota dan Ajeng… nyawanya akan berada dalam bahaya.”

Mata Arum langsung membesar.

“Apa?!”

Angin malam berhembus lebih kuat membuat lampion bergoyang pelan.

Arum mulai panik.

“Bahaya apa? Kenapa pangeran harus pergi?”

“Aku tidak punya banyak waktu menjelaskan.”

Nada suara cenayang terdengar mendesak.

“Tolong lindungi dia. Bawa dia pergi sejauh mungkin dari kerajaan ini.”

Arum benar-benar tidak mengerti.

Semua terasa tiba-tiba dan menakutkan.

“Kenapa aku…?”

“Karena hanya kau yang bisa membuatnya pergi.”

Kalimat itu membuat Arum terdiam.

Namun sebelum cenayang sempat bicara lagi—

“ARUM!”

Suara Ravin terdengar keras dari kejauhan.

Arum langsung menoleh.

Ravin berjalan cepat menghampiri mereka dengan wajah penuh kemarahan dan kekhawatiran.

Begitu sampai, Ravin langsung berdiri di depan Arum seolah melindunginya.

“Apa yang kau lakukan padanya?” nada suaranya dingin tajam.

Cenayang memandang Aruna beberapa detik dengan tatapan rumit.

“Yang Mulia—”

“Aku sudah bilang jangan mendekati Arum lagi.”

Tatapan Ravin benar-benar penuh amarah kali ini.

Arum bahkan sedikit terkejut melihatnya.

“Kalau kau mengganggunya sekali lagi, aku tidak akan diam.”

Cenayang akhirnya menundukkan kepala pelan.

Tatapannya sempat kembali pada Arum seakan ingin mengatakan sesuatu lagi.

Namun wanita tua itu akhirnya memilih pergi perlahan masuk ke kegelapan taman.

Ravin langsung menoleh cepat pada Arum dengan wajah khawatir.

“Kamu tidak apa-apa?”

Tangannya memegang pundak Arum pelan.

“Apa yang dilakukan cenayang gila itu?”

Arum sedikit terdiam.

Kata-kata cenayang tadi masih memenuhi kepalanya.

Bahaya.

Kurang dari tiga puluh hari.

Pangeran Aruna harus pergi.

Namun Arum tahu jika mengatakan semuanya sekarang… Ravin pasti akan semakin marah atau malah nekat mencari tahu sendiri.

Akhirnya Arum memaksakan senyum kecil.

“Tidak apa-apa.”

Ravin masih terlihat tidak percaya.

“Dia bilang apa?”

Arum menunduk sesaat lalu berbohong kecil.

“Dia cuma… menawarkan aku jadi calon cenayang.”

Ravin langsung mengernyit jijik.

“Hah?”

“Aku juga bingung kenapa tiba-tiba bilang begitu.” Arum tertawa kecil canggung. “Tapi aku sudah menolak.”

Ravin akhirnya menghela napas lega.

“Syukurlah.”

Tatapannya melunak sedikit.

“Kamu tidak perlu jadi cenayang.”

“Kenapa?”

“Profesi itu menyeramkan.”

Arum hampir tertawa kecil mendengar nada serius Ravin.

“Masih banyak pekerjaan lain yang lebih bagus dan lebih terpandang daripada hidup sendirian membaca takdir orang.”

Arum memandang Ravin diam-diam.

Sementara pria itu masih mengomel pelan tentang cenayang kerajaan.

Namun di balik itu…

hati Arum justru mulai dipenuhi ketakutan.

Karena untuk pertama kalinya…

ia merasa cenayang tadi tidak sedang bercanda.

Malam itu taman belakang istana terasa begitu sunyi.

Kabut tipis turun perlahan di sekitar kolam kecil dan gazebo tua yang jarang digunakan orang.

Hanya suara dedaunan tertiup angin malam yang terdengar samar.

Selir Ratih sudah duduk lebih dulu di sana dengan wajah tegang dan mata yang sejak tadi tidak tenang.

Tangannya menggenggam cangkir teh yang mulai dingin tanpa benar-benar diminum.

Tak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat.

Raden Wijaya datang dengan wajah berat lalu membungkuk hormat pelan.

“Yang Mulia.”

Ratih langsung menatapnya dalam.

“Katakan padaku dengan jujur.”

Nada suaranya rendah namun penuh tekanan.

“Apakah Shima benar-benar akan melakukan ritual itu?”

Suasana langsung terasa lebih dingin.

Raden Wijaya terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan—

“Aku yakin… iya.”

Jawaban itu membuat Ratih perlahan menutup matanya.

Seolah selama ini dirinya masih berharap semua hanya ketakutan kosong.

Namun ternyata benar.

“Jadi dia benar-benar ingin menjadikan Aruna tameng pondasi…”

gumam Ratih lirih penuh luka.

Raden Wijaya menunduk berat.

“Ratu ingin memastikan pernikahan Putra Mahkota berlangsung sempurna.”

“Dan dalam tradisi kerajaan…”

Tatapannya perlahan naik.

“…darah kerajaan dari Aruna adalah yang paling cocok.”

BRAK.

Ratih langsung meletakkan cangkir tehnya keras di meja sampai airnya sedikit tumpah.

“Tidak akan kubiarkan.”

Tatapannya berubah tajam penuh amarah.

“Aku tidak peduli tradisi apa pun!”

Suara Ratih mulai bergetar menahan emosi.

“Tidak seorang pun berhak menyentuh anakku!”

Angin malam berhembus lebih kuat membuat ujung pakaian Ratih bergerak pelan.

Aura lembut yang selama ini dimilikinya perlahan menghilang.

Yang muncul sekarang adalah sosok mantan ratu yang dulu pernah ditakuti seluruh istana.

Raden Wijaya hanya diam memandang wanita itu.

Karena ia tahu—

tidak ada ibu yang lebih mencintai anaknya sebesar Ratih mencintai Aruna.

“Aku sudah menyerahkan tahtaku.”

Suara Ratih perlahan melemah namun justru terasa lebih menyakitkan.

“Aku rela hidup sebagai selir…”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“…rela melihat wanita lain duduk di posisi yang dulu milikku.”

Tatapannya perlahan berubah dingin.

“Semua demi Aruna tetap hidup dengan aman.”

Ratih mengepalkan tangannya kuat-kuat.

“Tapi kalau sekarang mereka ingin menjadikan anakku tumbal…”

Air mata akhirnya jatuh perlahan dari matanya.

“…aku tidak akan diam.”

Suasana gazebo benar-benar sunyi.

Bahkan suara malam terasa seperti berhenti.

Raden Wijaya akhirnya berkata pelan—

“Karena itu Arum pasti memilih menjadi cenayang.”

Ratih langsung sedikit membeku.

Tatapannya perlahan berubah sedih dan penuh rasa bersalah.

“Anak itu…”

Suaranya melemah.

“…dia memilih jalan itu demi Aruna.”

Raden Wijaya mengangguk pelan.

“Dia rela mengorbankan hidupnya sendiri.”

Ratih langsung menunduk menahan air matanya.

Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang melindungi Aruna sebesar itu selain dirinya.

Dan sekarang…

Arum melakukan hal yang sama.

Ratih perlahan mengusap air matanya lalu kembali mengangkat wajahnya.

Namun kali ini tatapannya jauh lebih dingin dan tegas.

“Kalau Shima mulai bergerak…”

Nada suaranya berubah pelan namun penuh ancaman.

“…maka aku juga akan bergerak.”

Raden Wijaya langsung memahami maksud itu.

Ratih benar-benar serius.

Bahkan jika harus menghancurkan istana sekalipun…

wanita itu tidak akan membiarkan Aruna disentuh siapa pun.

“Aku sudah kehilangan terlalu banyak.”

Tatapan Ratih perlahan mengarah ke istana utama yang berdiri megah di kejauhan.

“Dan yang tersisa sekarang…”

Tangannya perlahan mengepal di dada.

“…hanya anakku.”

Angin malam kembali berhembus pelan.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun—

Raden Wijaya kembali melihat sosok Ratu Ratih yang dulu pernah membuat seluruh istana tunduk dalam ketakutan dan hormat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!