NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 7 (Sisa Rasa di meja Makan)

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden abu-abu yang sengaja dibuka separuh. Arini terbangun dengan jantung yang langsung berdegup kencang saat kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia menoleh ke sisi kanan kasur. Kosong. Adrian sudah tidak ada di sana. Guling pembatas yang semalam sempat terabaikan kini tergeletak pasrah di lantai bawah ranjang.

Arini menyentuh bibirnya pelan. Sisa kehangatan dan intensitas napas Adrian semalam seolah masih tertinggal di sana, membuat pipinya seketika merona merah bahkan saat ia sendirian di kamar.

Setelah mandi dan mengganti pakaiannya dengan setelan kasual yang rapi, Arini melangkah menuju ruang makan dengan perasaan campur aduk. Di balik meja marmer, Adrian sudah duduk dengan setelan jas kerja tiga potong berwarna biru gelap yang sempurna. Tidak ada rambut berantakan, tidak ada keringat dingin, dan tidak ada sisa kerapuhan semalam. Pria itu kembali menjelma menjadi CEO Wijaya Group yang kaku dan tidak tersentuh.

“Duduk," titah Adrian tanpa mengalihkan pandangan dari tablet yang menampilkan grafik saham pagi ini.

Arini menarik kursi di ujung meja, sengaja mengambil jarak paling jauh yang dimungkinkan oleh meja makan panjang tersebut. "Selamat pagi, Tuan Adrian."

Adrian menghentikan gerakan jarinya di atas layar gawai. Ia mendongak, menatap Arini dengan mata elangnya yang tenang namun tajam. "Aturan nomor 56: di area rumah ini, panggil aku Adrian. Jangan membuat pelayan harian yang mengantar sarapan curiga dengan panggilan formalmu."

“Baik... Adrian," ucap Arini canggung, lidahnya terasa aneh menyebut nama itu tanpa embel-embel jabatan.

Seorang pelayan harian berseragam rapi datang menyajikan dua piring roti panggang alpukat dan telur setengah matang, lalu mengundurkan diri dengan membungkuk hormat. Suasana di antara mereka kembali sunyi, hanya diramaikan oleh denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.

“Tentang semalam..." Arini akhirnya membuka suara, tidak tahan dengan gajah besar yang tidak kasatmata di dalam ruangan ini. Logika akuntansinya menuntut transparansi agar tidak ada salah paham di kemudian hari.

"Tidak terjadi apa-apa semalam," potong Adrian cepat, suaranya sedingin es kutub utara seperti biasanya. Ia meletakkan cangkir kopi hitamnya dengan ketukan pelan yang tegas. "Aku mengalami mimpi buruk akibat kelelahan pasca-konferensi pers, dan kamu hanya menjalankan tugas kemanusiaan darurat. Jangan mengaburkan batas antara pekerjaan dan kenyataan, Arini.

“Kalimat lugas dan dingin itu terasa seperti siraman air es yang mendadak membangunkan Arini dari fantasi sesaatnya. Harga diri Arini sebagai sarjana cum laude seketika terusik. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap Adrian dengan pandangan yang tidak kalah tajam.

"Tentu saja, Adrian. Anda tidak perlu khawatir," balas Arini dengan senyuman formal yang dipaksakan. "Saya sangat memahami isi Pasal 4 kontrak kita. Saya hanya ingin memastikan bahwa Anda tidak akan mengunci pergelangan tangan saya lagi seperti semalam jika mimpi buruk itu datang kembali. Itu cukup mengganggu kenyamanan tidur saya."

Adrian sedikit mengernyitkan dahi mendengarkan balasan menohok dari Arini. Ada kilatan emosi yang tertahan di matanya, namun ia dengan cepat menguasai diri kembali. Pria itu berdiri, merapikan kancing jasnya, lalu mengambil tas kerja kulitnya dari atas kursi.

"Bagus kalau kamu paham," ucap Adrian datar sebelum melangkah pergi. "Nanti sore, sekretarisku akan menjemputmu. Kakek meminta kita hadir di rapat evaluasi kuartal Wijaya Group. Siapkan otak akuntasimu, karena Baskoro pasti akan mencari celah dari laporan keuangan yang kamu sebutkan di restoran kemarin."

Setelah langkah kaki Adrian menghilang di balik pintu lift pribadi, Arini mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Ia menatap piringnya yang masih tersisa separuh. Sandiwara ini baru berjalan beberapa hari, namun energinya sudah terkuras habis menghadapi dinding es yang sangat dinamis itu.

1
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!