Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Mimpi Apa?
Zivanna terbangun. Dia gelagapan, tidak bisa bernafas. Rasanya air itu benar-benar mengguyur kepalanya.
Rani segera berlari begitu mendengar majikan kecilnya terbatuk-batuk tanpa henti. "Kenapa, Non?" tanyanya panik.
"Nggak tahu, Mak. Tiba-tiba batuk begini," jawab Zivanna. Padahal dia tahu betul alasan dirinya terbatuk-batuk adalah karena sensasi air cucian yang terasa masuk sampai ke paru-parunya.
Apakah ini juga hanya mimpi belaka? Bagaimana cara mencari tahu kebenarannya? Atau cukup acuhkan saja?
Rani memberikan segelas air putih. Zivanna meminumnya beberapa teguk lalu mengembalikannya pada Rani. "Ini jam berapa? Mamak nggak pulang?"
"Ini baru jam 7. Mamak nunggu mamamu datang. Kalau Mamak pulang nanti nggak ada yang jagain Non Ziva."
"Mama mau datang???"
"Iya." Rani mengangguk cepat, "sudah dalam perjalanan. Sebentar lagi sampai."
"Kalau mamak mau pulang, pulang saja. Aku nggak apa-apa. Kan ada nenek?"
"Ibu pusing. Mungkin hipertensinya kumat. Tadi malam nggak tidur jagain Non Ziva, terus tadi siang juga nggak bisa istirahat karena ngantar ke puskesmas."
Zivanna menunduk, sedikit merasa bersalah karena telah membuat neneknya sakit.
"Non Ziva mau makan malam? Biar Mamak siapkan."
"Nggak usah, Mak. Aku mau tidur lagi saja."
"Apa pusing lagi?" Zivanna menggeleng, matanya kembali terpejam. Rani meraba kening gadis itu. Tidak terasa panas, suhunya normal hanya saja dia terlihat begitu pucat.
"Perasaan tadi siang pulang dari puskesmas baik-baik saja," gumamnya lalu pergi menuju kamar majikan satunya. Malam ini dia harus mondar mandir karena memiliki dua "pasien" yang harus dirawat.
Waktu belum menunjukkan pukul delapan ketika Anita tiba. Hanya Rani yang menyambut perempuan itu karena dua penghuni rumah ini sedang sakit.
"Gimana keadaan Zizi?" tanya Anita begitu melihat Rani.
"Gitu deh, kamu lihat sendiri saja."
"Ibu dimana?"
"Ibu juga sedang tidak enak badan. Sepertinya hipertensinya kumat karena kurang istirahat."
Anita yang tadinya hendak menuju kamar Zivanna berhenti. Satu anak, satu lagi mertua. Mana yang harus di utamakan? "Baiknya aku lihat siapa dulu?"
"Mending lihat Non Ziva dulu, barusan dia bangun mungkin sekarang masih terjaga. Ibu baru saja tidur, habis minum obat. Kasihan kalau dibangunkan."
"Kalau kalian terus memanggilnya "Non" berarti kalian juga harus memanggilku "nyonya"," gerutu Anita. "Jangan terlalu memanjakannya!"
"Baik, Nyonya," jawab Rani sambil membungkukkan badannya dengan gestur bercanda.
Rani dan Anita seusia. Hubungan mereka sudah seperti sahabat. Anita tahu Rani sudah mengabdi pada ibu mertuanya sejak dia masih belia. Rani sudah dianggap keluarga di rumah itu. Dia memanggil Minah dengan sebutan ibu, dan memanggil Anita dan Wisnu dengan namanya tanpa embel-embel apapun.
Sementara Rani dan Budi memanggil Zivanna dengan sebutan "Non" karena sudah menjadi kebiasaan mereka. Zivanna kecil sangat menggemaskan, mirip dengan Noni Noni Belanda, karena itu mereka memanggilnya Non Ziva.
"Ya sudah, Aku lihat Zizi dulu." Anita melanjutkan langkahnya menuju kamar Zivanna. Sampai di kamar dia melihat anaknya itu sudah terlelap. Akhirnya dia lalu keluar mendatangi Rani yang tengah duduk di ruang tengah yang diapit oleh kamar Minah dan kamar Zivanna.
"Malam ini kamu nggak usah pulang, Ran. Disini saja temani aku. Nggak apa-apa, kan? Atau mau pamit Budi dulu?" katanya sambil mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Tidak perlu. Budi tahu kondisi Non Ziva dan ibu. Dia pasti mengerti kalau aku tidak pulang malam ini."
"Kemarin aku dan Wisnu sudah sangat lega ketika mendengar Zivanna sudah tidak bermimpi lagi. Tetapi kenapa jadi seperti ini? Apa yang terjadi?"
Sementara itu dalam kamar,
Zivanna tertidur pulas. Di dalam mimpinya di melihat seorang gadis terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya pecah-pecah. Badannya sangat kurus hingga hanya menyisakan kulit dan tulang, mungkin dia sudah sakit cukup lama.
Gadis itu terlihat begitu menderita. Dia sendirian. Tidak ada sanak saudara yang menemaninya.
Pintu kamar terbuka. Dua orang perempuan beda usia yang terlihat seperti ibu dan anak masuk lalu menghampiri gadis yang sedang terbaring lemah. Tidak tampak raut sedih atau kasihan di wajah keduanya. Hanya ada tatapan sinis dan muak seperti berharap gadis itu segera menghilang dari kehidupan mereka.
Perempuan yang lebih muda, gadis dengan tahi lalat di dekat hidungnya memberikan selembar kertas kepada gadis yang tengah sakit itu dan meminta untuk segera menandatanganinya.
Suci mengatakan beberapa hal dan Ayu mendengarkannya. Tidak ada ekspresi apapun di wajah Ayu ketika mendengar Suci berbicara. Sementara Ida hanya manggut-manggut dan beberapa kali ikut bersuara.
Entah karena terlalu lemah hingga tidak kuat membaca atau karena dia sudah terlalu pasrah dengan nasibnya, Ayu menerima kertas itu lalu menandatanganinya tanpa banyak tanya. Dia hanya menatapnya sebentar lalu mengembalikannya pada Suci.
Ayu sudah menerima jika mungkin hidupnya akan berakhir seperti ini. Kalau memang ini yang terbaik yang bisa dia lakukan sebelum meninggal, maka dia akan melakukannya.
Suci dan ibunya tersenyum puas. Mereka berdua tidak berkata-kata apa-apa lagi dan langsung pergi meninggalkan Ayu sendirian di dalam kamar.
Zivanna tetap di sana, menemani gadis malang yang bahkan tidak tahu keberadaannya. Cairan bening terlihat meleleh dari sudut mata gadis yang tengah sekarat itu. Hanya dengan melihatnya dada Zivanna terasa sesak dan matanya ikut berkaca-kaca.
Entah berapa lama Zivanna berada di sana, memandangi dengan seksama gadis yang menangis tanpa suara seperti sedang mengadu kepada sang pencipta. Kesalahan apa yang telah dia lakukan hingga dia harus menderita bahkan sampai di akhir hidupnya.
Zivanna menangis. Seandainya bisa, dia ingin memeluk gadis itu, memberinya kekuatan dan mengatakan jika gadis itu tidak sendirian. Dia ada di sana menemaninya. Tetapi, tidak ada yang bisa dia lakukan.
Semakin lama gadis itu terlihat semakin lemah. Tatapan matanya terlihat kosong, nafasnya tersengal hingga perlahan hilang.
Zivanna berteriak histeris. Dia berlari menuju pintu untuk memanggil perawat, tetapi pintu itu tidak mau terbuka. Macet, terkunci atau rusak entah apa sebabnya pintu itu tidak mau terbuka, sedangkan dua perempuan jahat tadi bisa membukanya dengan mudah.
"Tolong...!!! Suster, dokter !!!! Siapapun tolong selamatkan dia!!!" Itu yang Zivanna coba teriakkan, tetapi suaranya seperti tidak mau keluar.
Zivanna kembali menghampiri gadis yang terbaring dengan mata menatap kosong ke atas, bingung harus berbuat apa. Tak berselang lama, seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi gadis itu dan terkejut menemukan ternyata pasiennya sudah tidak bernyawa.
Ayu meninggal tanpa ada seorangpun di sisinya.
Anita dan Rani segera berlari begitu mendengar suara Zivanna. Kedua perempuan itu mendapati Zivanna menangis pilu dalam tidurnya. "Zi... Bangun. Kamu mimpi apa sampai seperti ini?"