Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.
Sampai suatu malam…
orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.
Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.
Namun di malam yang sama—
dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.
Lorenzo Moretti.
Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.
Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.
Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—
dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.
Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.
Dia salah.
Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.
Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Lelaki yang Tidak Bisa Dipahami
Bab 17 — Lelaki yang Tidak Bisa Dipahami
Malam mulai turun perlahan di desa kecil tempat Amelia tinggal.
Udara terasa lebih dingin dibanding biasanya. Lampu-lampu rumah warga mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana hangat yang sangat berbeda dari kota Palermo.
Di dalam rumah kecil Nenek Hana, suasana makan malam berlangsung cukup canggung.
Amelia duduk di tengah-tengah seperti seseorang yang terjebak di antara dua dunia berbeda.
Di sisi kanan ada Raka Pradipta, teman masa kecilnya yang hangat dan sederhana.
Dan di sisi kiri…
Lorenzo Moretti.
Pria dingin yang auranya saja cukup membuat seluruh ruangan terasa menekan.
Nenek Hana sebenarnya mencoba mencairkan suasana dengan berbicara ringan, tetapi ketegangan di antara dua pria itu terlalu terasa.
“Lorenzo, silakan tambah sayurnya,” ucap Nenek Hana ramah.
Marco yang duduk dekat pintu langsung hampir tersedak.
Karena pemandangan seorang bos mafia besar duduk makan di rumah desa kecil sambil ditawari sayur terasa sangat tidak nyata.
Namun yang lebih mengejutkan—
Lorenzo benar-benar mengambil sayur tersebut.
“Terima kasih.”
Marco sampai menatap langit-langit rumah sebentar.
Ia mulai yakin dunia akan kiamat.
Amelia diam-diam juga terlihat kaget.
Biasanya Lorenzo begitu dingin dan sulit didekati.
Namun di depan neneknya…
pria itu sedikit lebih sopan.
Raka yang memperhatikan semuanya justru semakin curiga.
“Jadi, Lorenzo bekerja di Palermo?” tanyanya.
“Iya.”
“Bisnis apa?”
Lorenzo meminum airnya pelan sebelum menjawab,
“Ekspor.”
Marco langsung menunduk menahan tawa.
Secara teknis memang ada bisnis ekspor.
Hanya saja sebagian besar barang yang dipindahkan keluarga Moretti tidak legal.
Raka masih belum terlihat puas.
Tatapannya tajam memandang Lorenzo.
“Bisnis Anda pasti besar.”
“Lumayan.”
“Karena itu Anda membawa banyak pengawal?”
Lorenzo akhirnya mengangkat pandangan.
“Karena banyak orang ingin membunuhku.”
Kalimat itu diucapkan begitu tenang hingga membuat suasana makan langsung sunyi.
Sendok Amelia hampir jatuh.
Sementara Raka membeku beberapa detik.
Marco langsung memijat pelipisnya sendiri.
Bosnya memang tidak pernah tahu cara berbicara normal.
“A-anda bercanda…?” tanya Raka pelan.
“Tidak.”
Amelia cepat-cepat menyela sebelum suasana makin aneh.
“Raka, makan saja…”
Namun Raka justru semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan Lorenzo.
Dan instingnya mengatakan pria itu berbahaya.
Sangat berbahaya.
Setelah makan malam selesai, Amelia membantu neneknya mencuci piring di dapur.
Sementara di ruang depan…
Raka dan Lorenzo kembali berada dalam suasana sunyi yang tidak nyaman.
Marco bahkan memilih berdiri di luar rumah karena malas terjebak di tengah perang dingin mereka.
Raka akhirnya membuka suara lebih dulu.
“Apa tujuan Anda mendekati Amelia?”
Tatapan Lorenzo tetap tenang.
“Aku menyelamatkannya.”
“Itu bukan jawaban.”
Sunyi beberapa detik.
Lalu Lorenzo berkata pelan,
“Aku belum punya tujuan tertentu.”
Raka mengernyit.
“Namun?”
Tatapan Lorenzo perlahan berubah lebih dingin.
“…aku tidak suka orang lain terlalu dekat dengannya.”
Jawaban itu membuat rahang Raka mengeras.
“Amelia bukan barang yang bisa dimiliki.”
“Aku tahu.”
“Tapi cara Anda memandangnya tidak seperti itu.”
Lorenzo tidak membantah.
Karena bahkan dirinya sendiri mulai menyadari sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Ia tidak suka melihat Amelia dekat dengan pria lain.
Tidak suka saat gadis itu tersenyum terlalu lepas pada orang lain.
Dan perasaan itu semakin kuat meski ia belum mengerti apa artinya.
“Aku tidak peduli siapa Anda,” ucap Raka serius, “tapi kalau suatu hari Anda menyakitinya, aku tidak akan diam.”
Biasanya ancaman seperti itu akan membuat Lorenzo marah.
Namun kali ini…
ia justru merasa sedikit kagum.
Karena pria desa sederhana ini benar-benar tulus melindungi Amelia.
Dan itu membuat Lorenzo sadar—
Amelia memang dicintai oleh orang-orang di sekitarnya.
Berbeda dengan dirinya yang hidup dalam dunia penuh ketakutan.
“Aku tidak akan menyakitinya,” jawab Lorenzo akhirnya.
Namun jauh di dalam hati…
Lorenzo tahu dunia gelapnya cepat atau lambat akan melukai Amelia.
Sementara itu di dapur…
Amelia masih mencuci piring sambil melamun.
Nenek Hana memperhatikannya diam-diam sebelum tersenyum kecil.
“Kau menyukai pria itu?”
Amelia langsung tersedak.
“Nenek!”
“Aku hanya bertanya.”
Wajah Amelia langsung merah.
“Aku tidak menyukainya!”
“Kalau begitu kenapa wajahmu semerah itu?”
“Aku hanya malu…”
Nenek Hana tertawa pelan.
“Lorenzo memang terlihat menakutkan.”
Amelia langsung mengangguk cepat.
“Benar sekali.”
“Tapi dia terus memperhatikanmu.”
Gerakan tangan Amelia perlahan berhenti.
“Memperhatikan?”
“Iya.”
Nenek Hana tersenyum lembut.
“Orang tua sepertiku masih bisa melihat hal seperti itu.”
Jantung Amelia mulai berdetak tidak tenang.
Ia langsung menggeleng pelan.
“Itu tidak mungkin…”
Namun bayangan tatapan Lorenzo tadi siang kembali muncul di pikirannya.
Cara pria itu memandangnya.
Cara pria itu melindunginya.
Dan cara Lorenzo menjadi dingin saat Raka mendekatinya.
Amelia cepat-cepat membuang pikiran itu.
Tidak.
Tidak mungkin.
Pria seperti Lorenzo tidak mungkin menyukai gadis desa biasa seperti dirinya.
Malam semakin larut.
Karena kondisi jalan desa cukup gelap dan berbahaya di malam hari, Lorenzo memutuskan mereka menginap semalam di rumah Amelia.
Keputusan itu langsung membuat Amelia panik.
“Rumah kami kecil…”
“Itu tidak masalah.”
“Tapi tidak ada kamar cukup…”
“Aku bisa tidur di mana saja.”
Marco yang mendengar itu langsung melotot.
Bos mafia paling ditakuti di Palermo rela tidur di rumah kayu kecil?
Ini benar-benar gila.
Akhirnya, setelah banyak perdebatan, Lorenzo dan Marco tidur di ruang depan rumah.
Sementara Amelia tidur bersama neneknya seperti dulu.
Namun Amelia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak malam itu.
Pikirannya terlalu penuh.
Ia perlahan bangun lalu keluar rumah untuk mencari udara segar.
Langit malam desa terlihat indah dipenuhi bintang.
Amelia duduk di kursi kayu depan rumah sambil memeluk lututnya.
Angin malam bertiup pelan.
Dan untuk beberapa saat…
ia merasa damai.
“Aku pikir kau takut gelap.”
Suara berat itu membuat Amelia menoleh kaget.
Lorenzo berdiri di dekat pintu rumah sambil memandangnya.
“Aku hanya tidak bisa tidur.”
Lorenzo berjalan mendekat lalu berdiri di sampingnya.
Suasana malam terasa sunyi.
Namun kali ini tidak menegangkan.
“Apa kau menyesal ikut denganku?” tanya Lorenzo tiba-tiba.
Amelia terdiam cukup lama.
Kalau ia jujur…
hidupnya memang berubah sejak bertemu pria ini.
Menjadi lebih rumit.
Lebih berbahaya.
Namun juga…
lebih berwarna.
“Aku tidak tahu,” jawab Amelia pelan.
Tatapan Lorenzo tertuju pada wajah gadis itu.
“Aku takut padamu.”
“Aku tahu.”
“Tapi…” Amelia menggigit bibir pelan, “aku juga tidak bisa membencimu.”
Kalimat itu membuat Lorenzo sedikit membeku.
Sudah lama sekali tidak ada orang yang mengatakan hal seperti itu padanya.
Orang-orang biasanya hanya takut.
Atau membencinya.
Namun Amelia…
gadis itu selalu melihatnya dengan cara berbeda.
“Amelia.”
“Hmm?”
“Jangan terlalu percaya padaku.”
Amelia mengernyit bingung.
“Kenapa?”
Tatapan Lorenzo perlahan berubah gelap.
“Karena aku bukan orang baik.”
Jantung Amelia terasa sesak mendengar nada suara itu.
Untuk pertama kalinya…
ia mendengar sesuatu seperti kesepian dalam suara Lorenzo Moretti.
Dan tanpa sadar…
Amelia mulai ingin memahami pria itu lebih dalam.