"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Akhirnya, tidak ada seorangpun yang berani mendekati Limah.
Pada saat itu, tiba-tiba sebuah mobil Inova berhenti di dekat Limah dan Kaenan.
Dari dalam mobil, keluar seorang pria paruh baya, mengenakan baju gamis dan sorban putih, bersama seorang gadis kecil yang sangat cantik, berusia lima tahun.
"Lihat Abi, adik itu kasihan bi, mungkin lapar" teriak gadis kecil berhidung mancung ala wanita mesir itu.
"Iya ayi, abi lihat kok, ayi tunggu di sini ya" ujar pria paruh baya berjalan kearah Limah yang duduk bersandar ke arah tembok pagar pesantren.
"Assalamualaikum ibu!" sapa pria paruh baya itu ramah.
Limah tidak menjawab, hanya menatap kearah wajah pria paruh baya itu dengan tatapan nanar.
Secara ajaib, Limah tidak mengamuk saat di dekati pria paruh baya itu.
Dari pakaian dan penampilan nya, pria paruh baya itu tahu, jika wanita muda di hadapan nya ini mengalami gangguan jiwa.
"Ibu sudah makan?" tanya pria paruh baya itu ramah.
Limah hanya menggelengkan kepala nya, sambil tangan kirinya mendekap Kaenan dan tangan kanan nya memegang karung berisi sampah plastik.
"Kae tidak makan!, Kae tidak makan! Kae lapar!" ujar Limah mempererat pelukan nya pada tubuh Kaenan.
"Boleh saya gendong putra nya bu?" tanya pria paruh baya itu lagi dengan ramah.
"Tidak!, tidak!, tidak!, tidak boleh, tidak boleh ambil Kae!, Kae anak Limah!" ucap Limah semakin erat memeluk tubuh kecil Kaenan, kali ini sambil menangis.
"Namanya Kae?" tanya pria paruh baya itu lagi.
Limah menganggukkan kepalanya, "ya!, ya!, Kae anak Limah" jawab nya sambil tertawa geli.
Gadis kecil tadi berjalan kearah Abi nya, menatap wajah Kaenan kecil.
"Bi! Abi, ambil adik itu untuk adik Ayi!" pinta nya merengek pada Abi nya.
Pria paruh baya itu tersenyum ramah menatap kearah putri kecil nya itu, "bibi ini ibunya adik Kae, sama bibi ini kita tidak boleh mengambil putranya" ....
"Tapi abi!, kasihan adik itu, Ayi ingin punya adik!" rengek nya mulai menangis.
"Kalau Ayi mau adik itu, boleh kok, tapi kita tidak punya hak mengambil nya nak, kasihan ibu nya, lihat betapa sayang ibu nya pada adik itu, ambil nasi bungkus di mobil nak, kasih adik Kae" pria paruh baya itu berusaha membujuk Aisyah putri nya.
Pria paruh baya ini bernama Kiai Nuruddin, pengasuh pondok pesantren Al Ilmi, seorang lulusan sebuah pondok pesantren ternama di Jawa Timur, lalu kuliah di universitas sunan Ampel dan melanjutkan kuliah es dua di universitas Al Azhar Mesir.
Saat kuliah di Mesir, dia bertemu dengan seorang gadis asli Mesir bernama Nazeha, lalu mereka menikah dan memiliki tiga orang anak, dua laki laki dan satu orang perempuan. Putra Yang tertua bernama Salafudin, yang kedua bernama Nasirudin, dan yang paling bontot bernama Aisyah atau dipanggil Ayi.
Setelah pulang ke Indonesia, Kiai Nuruddin mendirikan pondok pesantren yang bernama Al Ilmi.
Aisyah menyerahkan dua bungkus nasi dan dua gelas air mineral kepada Kiai Nuruddin.
Sebelum menyerahkan air mineral kemasan kecil kepada Limah, terlebih dahulu Kiai Nuruddin membaca bacakan doa doa, lalu meniup kan ke arah kedua gelas plastik air mineral itu.
Limah menerima dua bungkus nasi itu, lalu menyerahkan kepada Kaenan yang sudah dia dudukan di depan antara dia dan Kiai Nuruddin.
"Lihat abi!, adik ini sangat tampan sekali, Ayi suka adik ini, kita ambil yok bi, ambil dong bi!" rengek Aisyah lagi, kali ini sambil menangis.
"Aisyah sangat menyukai putera mu bu, bolehkan untuk adiknya Aisyah?" tanya Kiai Nuruddin dengan suara lembut.
Entah karena wibawa Kiai Nuruddin yang luar biasa, tiba-tiba Limah menganggukkan kepalanya, "boleh sekolah, tapi pulang tempat Limah!" ....
Rupanya rasa kasih sayang limah pada Kaenan begitu besar nya, sehingga dia tidak rela berpisah lama dengan putra nya. Meskipun akal nya sudah tidak berfungsi, tetapi naluri dan kasih sayang seorang ibu, tidak pernah lenyap begitu saja.
Kiai Nuruddin meletakan telapak tangan kanan nya diatas kepala Kae, lalu setelah membaca beberapa ayat bacaan, dia berucap "Ya gulam, sammaituka wa sammakallaju fi azalihi Muhammad Kaenan.
Bacaan itu dia baca tiga kali, sebagai pertanda mulai saat itu, nama Kae adalah Muhammad Kaenan.
Ibu Limah, karena keterbatasan akal nya, dia tidak pernah mempersoalkan tentang nama putra nya itu.
Rupanya Tuhan memilih dan mempercayai Kiai Nuruddin sebagai pengasuh Kaenan kecil, maka semenjak saat itu, jika pagi tiba, bu Limah mengantarkan Kaenan kedepan pondok pesantren, lalu pergi memulung, pulang saat sore hari, menjemput Kaenan yang sudah rapi.
Saat mulai sekolah, Kaenan sekolah di Madrasah ibtidaiyah pondok pesantren Al Ilmi, menghabiskan waktu empat tahun dari seharusnya enam tahun, dan menjadi penghafal Al Qur'an termuda, itu karena dia jamping kelas dua kali, sekali saat kelas dua, langsung melompat ke kelas empat, lalu saat kelas lima, dia ikut ujian kelulusan anak kelas enam dan lulus dengan nilai terbaik.
Karena pondok pesantren tidak memiliki sekolah Sanawiah dan Aliyah, maka oleh Kiai Nuruddin, dia dimasukan ke SMP Kebangsaan.
Nah saat di SMP Kebangsaan inilah perundungan mulai di rasakan oleh Kaenan.
Dua tahun sekolah di SMP Kebangsaan, karena nilai nya diatas rata rata, oleh kepala sekolah SMP Kebangsaan, dia di ikutkan ujian akhir, meskipun baru kelas delapan. Dan tanpa di sangka sangka, Kaenan lulus dengan predikat terbaik satu, mengalahkan Syafea yang selama ini, semenjak kelas satu, selalu menjadi bintang kelas pemegang rangking pertama.
Setelah kelulusan itu, perundungan, hinaan dan caci maki, sering diterima oleh Kaenan, baik dari Syafea sendiri, ataupun dari anak yang lain. Hingga puncak nya tadi pagi, saat secara tidak sengaja, karena kaki nya di kait oleh Jhonatan dari belakang, membuat tubuh Kaenan tersungkam kedepan hingga mencium bibir Syafea, membuat gadis cantik itu murka dan menghajar Kaenan habis habisan.
Kaenan masih terisak di sudut sekolah, kepala nya terasa remuk setelah dihajar Syafea dibantu oleh Jhonatan tadi. Ingus bersama darah, masih mengalir dari hidung dan bibirnya.
"Tuhan!, tidak banyak yang hamba pinta, hanya kuatkan hati hamba, dan bimbing langkah hamba, agar hamba bisa sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini, hamba ridha dengan takdir yang telah engkau tetapkan untuk hamba, maka hamba mohon ridhai pula hidup hamba!" ucap Kaenan disela Isak tangis pilu nya.
Tiba-tiba hentakan hak sepatu pantofel terdengar di belakang Kaenan.
"Kae!, kau sudah ke ruang UKS nak?" terdengar sapaan suara lembut di belakang nya.
Kaenan menoleh, terlihat bu Maya, wanita cantik usia paruh baya berdiri di belakang nya.
"Ya Allah nak!, kasihan sekali kau nak!" ucap wanita itu seraya memeluk tubuh Kaenan, air mata nya jatuh mengalir membasahi pipi putih nya.
Kaenan menggosok kedua pipinya dengan ujung jari nya, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
"Kalau kau tidak mau ke ruang UKS, pulanglah nak, hari ini kau istirahat saja di rumah, itu ijin dari kepala sekolah, ini ambilah sekedar membeli obat!" bu Maya meletakan selembar uang berwarna pink ketangan Kaenan.
Mata Kaenan membulat menatap selembar uang berwarna pink itu, kepalanya menggeleng, "tidak!, tidak bu!, terimakasih" ujarnya seraya berlari keluar sambil menggendong tas lusuh di belakang nya.
Bu Maya melongo, tidak pernah dia bertemu dengan seorang anak orang miskin yang tidak mau di beri uang.
Dengan langkah terseok seok, setengah menyeret kaki kirinya yang terkena tendangan kaki Syafea tadi, Kaenan berjalan keluar dari lingkungan sekolah.
Baru sekitar dua kilometer dia berjalan, dia bertemu dengan seorang wanita berpenampilan tidak karuan, yang berjalan dengan menyeret karung berisi sampah plastik.
"Bu!" ....
Teriakan Kaenan membuat wanita itu menghentikan langkah kaki nya.
"Kae?, Kae?" suara wanita itu bergetar menatap wajah putra nya yang biru lebam.
Kaenan berjongkok sambil memeluk kedua kaki wanita itu, di benamkan nya wajah nya di paha wanita itu, seraya bahunya kembali berguncang turun naik, menahan isak tangis nya.
Diletakan nya karung bawaan nya diatas trotoar, lalu tangan nya mengangkat wajah Kaenan, menatap remaja itu dengan sedih.
Meskipun akal nya mengalami gangguan, naluri kasih sayang seorang ibu tetap melekat erat di hati Limah.
"Kae sayang ibu, pulang!, pulang!" ....
"Tidak bu!, hari ini biar Kae temani ibu memulung ya bu? ....
"Tidak!, tidak!, tidak boleh!, Kae pulang!, pulang!" tegas bu Limah dengan mata melotot. Diletakan nya selembar uang lima ribuan hasil nya memulung tadi di telapak tangan Kaenan.
"Ini untuk mu saja bu, Kae tidak butuh!" tolak Kaenan.
"Tidak!, tidak!, ibu cari untuk Kae… pulang!" ujar bu Limah.
Meskipun Kaenan tahu ibunya mengalami gangguan jiwa, namun dia tidak pernah berani melawan kata kata wanita itu.
Sambil menyeret kaki kirinya, Kaenan melangkah pergi, dengan uang lima ribuan tergenggam di tangan nya.
Air mata membasahi kedua pipi Kaenan, dia tahu, meskipun otak ibu nya mengalami gangguan, namun kasih sayang nya melebihi orang yang masih waras.
Sebuah sepeda motor metik singgah di depan Kaenan, diatas sepeda motor itu seorang gadis berjilbab dan mengenakan helm tertutup.
"Ya Allah dik!, apa yang telah terjadi?, kenapa sampai seperti ini?" tanya pengendara sepeda motor itu dengan suaranya yang bergetar.
"Tidak kak, aku hanya keserempet motor saat di sekolah tadi" jawab Kaenan tidak ingin bercerita kepada Aisyah.
"Ayo naik!, kita pulang!" ajak Aisyah.
"Kakak saja, biar Kae jalan saja kak!" tolak Kaenan.
"Tidak!, tidak!, tidak!, tidak ada penolakan, ayo naik di belakang kakak, sekarang!" bentak Aisyah marah.
Dengan keterpaksaan, Kaenan duduk di belakang Aisyah. Dan Motor Aisyah pun melaju kearah pondok pesantren Al Ilmi.
Rumah tempat tinggal Kiai Nuruddin, tepat berada di depan pondok pesantren Al Ilmi.
Saat Aisyah dan Kaenan tiba, Kiai Nuruddin baru saja datang dari dalam pondok, memberikan sedikit arahan kepada ustadz dan ustadzah pondok.
"Ada apa ayi?" tanya Kiai melihat putri nya datang bersama Kaenan.
Aisyah turun dari motornya, meletakan helm nya diatas stang motor, lalu membantu Kaenan turun dari motor.
"Ada apa Ayi?" pak Kiai Nuruddin mengulangi pertanyaan nya, seraya menatap kearah wajah Kaenan yang bengkak biru lebam.
...****************...