kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Keesokan harinya, asap kemenyan di rumah dukun Jaka belum padam.
Pak Samsul dan Sitoh datang lagi sebelum subuh. Di atas tikar usang ada dua helai kain putih. Di atasnya tergeletak foto Midah dan foto Ayu, masing-masing ditusuk jarum karat. Di sampingnya ada bubuk hitam bercampur tanah kuburan dan rambut.
"Yang satu untuk Midah biar cepat mati dan Yang satu untuk Ayu, agar dia juga cepat menyusul ibunya dan aku akan semakin kaya".ucap samsul sambil menyeringai. "Kalau dua perempuan itu mati, mereka tidak akan merasakan lagi yang namanya kelaparan," Samsul tersenyum Sinis, lalu melanjutkan,"bukankah aku baik."
Wak Jaka mengangguk pelan, lalu meniupkan nama mereka ke bubuk hitam itu. Santau dilepas dan kali ini dua sekaligus, dikirim lewat angin malam dan lewat makanan yang diletakkan diam-diam dapur rumah Kardi.
Badan Ayu semakin hari semakin kurus, kulitnya kuning, perutnya sering kejang seperti ditusuk ribuan jarum dan di telapak kakinya sering merasakan sakit. seperti rohnya akan dicabut keluar dan saat dibawa kerumah sakit, dokter hanya mengatakan,"ayu terkena asam lambung".
Yang orang kampung tidak tahu, Ayu masih bisa bertahan karena ada sesuatu yang menjaganya. Kakeknya dulu seorang dukun besar yang terkenal di kampungnya dan memiliki penjaga 7 harimau. Sebelum meninggal, ia titipkan khodam penjaga pada Ayu.
"Selama kau tidak mencabut sendiri perjanjian ini, kau tidak akan mati," kata suara tua itu setiap kali Ayu hampir putus asa.
Tapi perjanjian itu ada harganya. Ayu tidak bisa mati, tapi ia akan terus merasakan sakitnya santau selama bertahun-tahun. Hidupnya jadi seperti di antara hidup dan mati.
Malam itu santau baru masuk lagi. Tubuh Ayu melengkung, keringat dingin mengucur. Tapi ia tidak mati dan Ia hanya meraung pelan, memegang bantal untuk meredakan sakitny
"ya Allah... aku capek..."
Di kamar sebelah, Midah juga menggeliat. Berbeda dengan Ayu, Midah tidak punya penjaga. Selama ini ia hanya mengandalkan pak Syukri yang sering datang mengobatinya
Pak Syukri duduk di sampingnya, tasbih di tangan berputar cepat.
"Keluar kau, jin laknat! Dengan nama Allah, keluar dari tubuh hamba-Nya!"
Midah muntah darah hitam, matanya mendelik dan Ia sudah tiga kali diobati, tapi santau kali ini dicampur tanah kuburan Safri. Lebih berat dan Lebih dalam.
Kardi memeluk kepala istrinya, suaranya pecah. "Tahan Midah...? Pak Syukri di sini."
Pak Syukri menatap Kardi sebentar, lalu berbisik pelan. "Pak Kardi, kalau istri bapak masih bisa dengar...! bacakan syahadat di telinganya."
pada saat menjelang subuh pukul 3 pagi
Midah berhenti kejang dan Napasnya pelan, lalu putus.
"Midah!" teriak Kardi dan Anak-anaknya yang mengintip dari balik pintu langsung menangis histeris.
Pak Syukri menutup mata Midah dengan tangannya sendiri. "Sudah lepas Pak Kardi. Santau itu terlalu kuat dan in syaa Allah, dia pergi dalam keadaan husnul khotimah. Tadi sempat menyebut nama Allah sebelum pergi."
Di kamar sebelah, Ayu tiba-tiba diam. Sakit yang menusuk perutnya mereda sedikit. Suara kakeknya berbisik lagi:
"Dia sudah pergi dan Bebanmu berkurang satu, tapi perjanjian tetap berlaku. Kau akan hidup Ayu...? Sampai waktumu sendiri yang datang."
Ayu menangis tanpa suara. Ia tidak tahu harus senang atau sedih. Ia sendiri tetap hidup tapi ibunya telah pergi dan akan terus menanggung sakit yang tidak ada ada habisnya.
dan malam itu dirumah pak Kardi, duka menyelimuti keluarga pak Kardi atas meninggalnya Midah dan ke 7 anaknya hanya bisa menahan sakit dan dendam dengan kepergian ibu mereka dengan secara tidak wajar.