Keluarganya di rampok oleh pemdekar Aliran hitam, ayah dan ibunya terbunuh sedangkan ia terjatuh di lembah Bangkai, Seekor Elang hitam raksasa menyelamatkan nya, di bawah asuhan Elang Hitam Dia tumbuh menjadi pendekar sakti dan menumpas kejahatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlatih Panahan
Di hutan Jaka mulai berlatih menggunakan busur itu
Syuuut
Traaaak
Jaka mencoba memanah seekor Burung yang sedang bertengger di dahan pohon, namun anak panah yang di lepaskan meleset dan mengenai batang pohon membuat burung itu terbang menjauh
Jaka terus berlatih hingga sore hari, kini walau tak terlalu tepat sasaran namun sudah mendekati, ia yakin jika berlatih keras selama beberapa hari lagi ia bisa mahir menggunakan busur itu, jadi tak memalukan jika melatih para warga desa
selama beberapa hari ia berlatih sendiri , kini kemajuannya sangat pesat dalam membidik sasaran dengan anak panah, setiap kembali ke desa ia membawa hewan buruan, kelinci ayam hutan bahkan pernah membawa babi walau matinya babi hutan yang lumayan besar
tepat sepuluh hari pak sastra selesai membuat selusin panah dan satu panah besi yang cukup berat, ia juga membuat lingkaran untuk sasaran latihan memanah
" Paman, yang ini buat siapa?"tanya Jaka saat memegang busur besi itu, dengan kondisi warga yang hanya orang biasa busur itu tentu tak bisa mereka gunakan
" Itu saya buat khusus untuk nak Jaka, cobalah" Pak Sastro memberikan anak panah yang di pegangnya, saat Jaka melihat ternyata anak panah itu juga terbuat dari besi
" Kalian pasang sasaran ini dengan jarak empat tombak" Ucap Pak sastro pada warga , warga segera memasang sesuai yang di perintah pak sastro
setelah papan sasaran di pasang Jaka mencoba membidik
" syuut"
Clap
Anak Panah besi itu melesat dan mengenai lingkaran tengah
" Yeeeeeey" para warga bersorak ,
" sebelumnya maaf, kalian tak bisa silat, untuk belajar membutuhkan waktu lama, untuk sementara kalian gunakan busur ini untuk melindungi desa, nanti secara perlahan kalian belajar ilmu silat" ucap Jaka
" Terima kasih nak jaka" kepala desa dan pak sastro berkata dengn serempak
" Sama sama paman" jawab Jaka
Jaka mengajari mereka menggunakan busur itu, malam harinya jaka mengajari mereka berlatih silat di depan pelataran rumah kepala desa
siang itu seperti biasa Jaka mengajak mereka berlatih memanah kali ini mereka berlatih di pinggiran hutan
" Siaaaap"
" Tembak"
" Syuuuut"
" Syuuuuut"
delapan anak panah melesat menuju sasaran, hasilnya semua hampir tepat sasaran hanya di lingkaran kedua
Grooooog
Groooooog
saat mereka akan mengambil anak panah yang tertancap di papan sasaran , terdengar suara ngorok keras dari dalam hutan
" Hati hati babi hutan!" teriak warga , mereka berlari serabutan, Jaka yang melihat itu menggelengkan kepala , ia mengambil busur nya dan bersiap
Tak lama seekor Babi hutan besar keluar
" Syuuuut"
" Claaaap"
Grooooooog
Babi itu langsung mati di tempat saat anak panah yang di lepas Jaka menancap di kepalanya babi itu
" Lain kali kalian kalau menghadapi situasi seperti ini jangan panik" ucap Jaka sambil berjalan mendekati babi hutan itu
" Maaf nak jaka , kami belum terbiasa" salah satu warga berkata sambil tersenyum malu
" Tak apa paman kalian belum terbiasa, nanti setelah berlatih paman sekalian juga mempunyai ketenangan" Ucap Jaka
Setelah mereka sembuh dan bisa menggunakan panah dengan cukup baik, Jaka memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya
" Nak jaka, kenapa kamu tidak di sini saja, kami semua pasti kehilangan jika nak Jaka pergi" Ucap kepala desa saat Jaka berpamitan
Sekar yang mendengar Jaka akan pergi berlari dan memeluk Jaka
" Kak jaka, bisakah kau membawaku" pinta sekar
" Maaf sekar bukan perjalananku penuh dengan bahaya, dan aku harus pergi, keluargaku belum ketahuan di mana keberadaannya, aku harus mencarinya" sahut Jaka, ia memang belum tahu apa itu namanya cinta , dari usia sepuluh tahun ia di asuh oleh Elang Hitam, namun ada getaran yang ia rasa setiap dekat dengan Sekar, jantungnya berdetak beberapa kali lebih kencang,dan ada perasaan ingin melindungi
" apa kak jaka akan kembali?" tanya nya sambil menunduk , matanya sedikit sembab karena menangis
" aku pasti kembali jika telah menemukan orang tuaku" sahut Jaka pasti
" kak jaka hati hati di jalan , aku akan selalu menunggumu di sini" dengan menekan perasaan sedih nya Sekar berkata, ia tahu jaka sedang mencari keberadaan kedua orang tuanya, jadi ia hanya bisa merelakan orang yang ia sayangi
Jaka melambaikan tangan saat akan memasuki hutan, para warga desa ikut mengantar ke pinggir hutan
setelah masuk ke dalam hutan Jaka dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya ia melesat dari satu pohon ke pohon yang lain, di punggungnya pedang Kepala Elang tersampir, di tangannya busur besi .
setelah seharian melewati hutan kini Jaka sampai di sebuah kadipaten, ia masuk ke sebuah kedai makan karena perutnya sudah seharian tak di isi, kedai itu cukup ramai karena menjadi tempat singgah bagi para pedagang dan juga pendekar yang sedang berkelana. jaka mempunyai sedikit uang dari hasil ia berburu dan juga pemberian dari kepala desa
" paman nasi satu dengan teh manis yah" jaka duduk dan memesan makanan
" Ya tuan , tunggu sebentar aku " sahut pemilik kedai
tak menunggu lama seorang pelayan wanita datang dengan membawa pesanan Jaka
" Tuan silakan " ucapnya sopan sambil meletakan makanan yang ia bawa
" Tuan kasihani kami, sudah dua hari kami tak makan" tiba tiba seorang lelaki tua mendatangi jaka dan meminta sedekah, baju yang di pakainya penuh dengan tambalan, tetapi bersih
" Paman duduklah, ini makan lah dulu" Jaka tersenyum dan menyuruh pengemis tua itu untuk makan
" Ini pesanan tuan , aku tak berani memakannya" tolak pengemis itu
" Makanlah paman , aku akan memesan lagi" sahut jaka ia memanggil pelayan wanita yang tadi mengantarkan pesanannya dan memesan makanan yang sama
' Tapi ..apa tuan tak risih dengan penampilan saya" ucap Pengemis itu ragu untuk duduk di meja yang sama dengan Jaka
" Paman duduk saja, lihat bajuku malah lebih lusuh dari mu" sahut jaka sambil menunjukan bajunya yang sedikit kotor karena ia habis berjalan jauh dan belum sempat ia ganti pakaian , apalagi pakaiannya pemberian dari warga desa
" terima kasih tuan" ucap pengemis itu , ia duduk sedikit canggung
" tak lama pellayan wanita itu datang kembali
" ayo paman kita makan" aJak Jaka karena pengemis itu belum menyentuh makanannya, seperti menunggu Jaka makan duluan
benar saja setelah melihat Jaka makan ia juga makan dengan lahap
" He he he , ada dua pengemis yang sedang pesta rupanya" baru makan beberapa suap, dari arah belakang terdengar ejekan pada mereka berdua
Saat jaka akan menimpali , kakek pengemis di hadapannya mencegahnya
" Biarkan saja itu membuktikan jika baju yang kita pakai lebih baik dari mulutnya" ucap pengemis itu sambil tersenyum, mendengar ucapan kakek pengemis itu, Jaka meneruskan makannya, dalam hatinya ia mulai merasa jika kakek pengemis yang di hadapannya bukan pengemis biasa