NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Bunga Desa

Terjerat Pesona Bunga Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss DK

Lyodra, bunga desa Wonosobo menanam tanaman herbal langka khas dataran tinggi. Namun, warga desa yang mayoritas petani tembakau tidak menyukainya. Karena tanaman tersebut memiliki manfaat yang membuat orang berpikir negatif. Afrodisiak pada akarnya. Padahal di dunia tehnologi modern, tanaman herbal ini dapat dimanfaatkan sebagai obat anti kanker dan anti bakteri yang berdaya jual tinggi.

Kemarahan warga makin menjadi-jadi setelah mendapati Lyodra bersama pria asing di lumbung desa. Warga menuduh mereka berbuat mesum.

Kesalah pahaman membuat kepala desa terpaksa meminta pria asing itu untuk menikahi Lyodra. Agar tidak mencoreng nama baik Lyodra. Namun, sebuah rahasia malah terkuak.

Rahasia apakah itu? Apakah rahasia itu akan mempengaruhi kisah cinta Lyodra ke depannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

She is Coming

Samar-samar, Lyodra mendengar suara ketukan di pintu. Makin lama suaranya makin keras. Membuat Lyodra langsung membuka mata bulatnya. Mengerjab kaget luar biasa. Ia tak sadar sudah tertidur di dalam bath up air hangat. Entah berapa lama.

Lyodra melangkah keluar dari bath up. Dengan sigap menarik kimono putih tebal yang sudah disiapkan sebelum berendam.

Lyodra segera memakainya, mengikat pitanya secara sembarangan. Asal terikat. Terburu-buru bergerak cepat ke arah pintu kamar mandi yang masih terkunci dari dalam.

Klik!

Begitu pintu kamar mandi terbuka, tubuh langsing Lyodra langsung ditarik ke depan. Masuk ke dalam dekapan seseorang.

Membentur dada yang bidang dan perut six pack atletis dimana tangan berotot langsung memeluknya begitu erat. Begitu hangat.

Tubuh Lyodra serasa melunglai. Kakinya lemas tak sanggup menopang tubuhnya lagi.

Sejak kecil Lyodra hanya memiliki ibu. Ayahnya meninggal saat ia dilahirkan. Ia tak pernah mengenal sosok ayah.

Selama ini, Lyodra begitu mendambakan pelukan dan dekapan hangat seorang ayah. Kepala keluarga yang mengayomi dan melindunginya.

"Lily, syukurlah kau selamat!"

Suara Edward yang semula panik, sekarang sudah kembali tenang. Napasnya juga sudah tidak memburu seperti tadi. Sepertinya akal sehatnya sudah kembali begitu Lyodra keluar dari kamar mandi dengan rambut basah dan hanya dibalut kimono.

"Memang ada apa?" tanya Lyodra dengan suara parau, masih tersesat dalam euforia putri yang butuh kasih sayang seorang ayah.

Edward mengelus pucuk kepala Lyodra dengan lembut. Menyusupkan jemari tangannya ke sela-sela rambut panjang Lyodra yang masih basah. Wangi shampoo vanila yang dipakai Lyodra menguar di udara. Begitu manis hingga bibir Edward tanpa sadar mengecup lembut kepala Lyodra.

Lyodra menengadahkan kepalanya. Dengan wajah polos tanpa rasa bersalah, Lyodra kembali bertanya, "Ada apa?"

Edward menelan ludahnya, membuat jakunnya bergerak naik turun berulang kali. Lidahnya kelu, tak bisa berkata apa-apa. Bunga desa yang sangat menawan dengan wajah natural tanpa make up sedikit pun, nampak begitu polos suci dan sangat menggoda.

"Ehm ... Eeee ...." Edward kembali mendekap Lyodra lebih hangat. Membelai rambut panjangnya dengan lembut. Edward tak ingin si bunga desa melihat rona wajahnya yang berubah menjadi merah merona. Malu karena tunduk terpesona oleh kepolosan bunga desa.

Lyodra membisu kembali hanyut dalam euforia manis yang diciptakan Edward.

***

Beberapa menit yang lalu.

Clep! Clep! Clep!

Sol sepatu boot hitam yang tingginya hampir 10 cm, menancap di atas karpet merah tebal yang terbentang di sepanjang koridor hotel bintang mewah.

Seorang perempuan dengan jaket kulit warna hitam dengan bulu hewan asli berwarna cokelat yang dipadu dengan rok pendek warna hitam, berjalan cepat di atas karpet sambil mengibaskan rambut panjang pelanginya ke kanan dan ke kiri.

Di belakangnya, nampak seorang pria dan seorang wanita mengikutinya.

Si pria nampak kerempongan membawa kamera yang terkenal memiliki auto fokus yang tajam dan kualitas video yang fleksibel.

Sementara si wanita, nafasnya ngos-ngosan mengikuti langkah pemimpinnya. Ia terpaksa setengah berlari agar tidak tertinggal jauh dari pemimpinnya.

"Kamar nomer berapa tadi?" tanya perempuan dengan riasan tebal pada asisten wanita. Suaranya terdengar penuh ledakan emosi. Seperti sudah siap untuk menggerebek suami yang ketahuan sedang selingkuh.

Asisten wanita langsung berhenti di tempat. Jemari tangannya terlihat gugup. Segera menekan layar ponselnya. Membuka pesan yang dikirim detektif swasta beberapa menit yang lalu.

Suaranya mencicit ketakutan. "1055, Nona Sherena. Kalau kamar yang Nona Sherena pesan itu nomer 1077."

"Okay. 1057." Sherena kurang fokus karena ada dua nomer yang disebutkan asistennya

"Hei kamu, pastikan kameramu sudah on ya. Jadi kamu tidak tertinggal moment-moment pentingnya," ujar Sherena pada asisten pria yang membawa kamera.

Asisten pria itu mengangguk. "Siap, Nona Sherena. Satu dua tiga, action!"

Tanpa basa-basi, Sherena langsung menghambur ke depan pintu kamar yang menurutnya bernomer 1055. Menggendor daun pintunya seperti kesetanan sambil berteriak-teriak, menjerit, menangis kecewa mirip istri yang diselingkuhi. Padahal nikah saja belum.

"Edward, keluar kau! Keluar! Jangan sembunyi di kamar hotel bersama wanita lain. Cepat keluar! Kalau kamu jantan, tunjukkan keberanianmu, Edward. Ayo, hadapi aku! Jangan jadi pecundang kamu ya!" Sherena memukul, meninju, menendang daun pintu itu dengan brutal. Namun, penghuni kamar 1055 tak kunjung keluar dan membuka pintu.

Karena terlalu berisik, beberapa penghuni kamar yang ada di lantai sepuluh, akhirnya keluar dari kamar. Mereka terlihat bingung dengan aksi yang dilakukan perempuan berambut rainbow. Apalagi mereka baru saja tertidur pulas, terbangun kaget karena suara teriakan Sherena yang tiada henti.

Bahkan ada penghuni kamar yang segera menelepon receptionist agar membawa tim security untuk naik dan menenangkan situasi.

Tak berapa lama staf receptionist, manager dan tim security datang.

Tim security bergerak cepat, segera mencekal lengan tangan Sherena. Membawanya menjauh dari daun pintu kamar hotel. Karena khawatir sedikit lagi, pintu kamar jebol.

Sherena tidak terima diperlakukan tidak sopan. "Lepaskan! Lepaskan! Kalian menyakitiku! Aku tuntut kalian semua biar tahu rasa! Aku akan miskinkan kalian semua. Aku akan buat kalian semua jobless selamanya."

Manager langsung berusaha menengahi dan meminta security untuk menjauh dari Sherena.

"Tenang, Kak. Tenang. Sebagai tamu hotel yang budiman, kami harap kakak menjaga ketenangan saat hari sudah larut malam. Tamu hotel yang lain butuh ketenangan dan istirahat, Kak." Manager hotel berusaha menasehati Sherena agar tidak terbawa emosi.

"Kami mohon untuk tidak membuat dan menyebarkan konten yang dapat mencemarkan nama baik tamu hotel kami, Kak." Manager hotel meminta asisten pria untuk berhenti mendokumentasikan aksi gila Sherena.

Namun, mata bulat Sherena melotot, menghardik keras asisten pria agar tidak mengikuti permintaan manager hotel.

"Tidak usah ikut campur ya kamu! Kamu itu tidak tahu apa-apa. Laki saya itu sudah kelewatan. Dia tidak bisa dihubungi. Detektif swasta yang saya sewa mengatakan kalau laki saya booking hotel bersama wanita lain. Dasar wanita murahan! Tidak tahu malu, suka merebut laki orang! Ini tidak bisa didiamkan, ini harus digrebek, saya harus punya bukti kalau laki saya selingkuh. Biar semua netizen tahu kalau laki saya tukang selingkuh. Biar dia dan wanitanya malu. Lalu laki saya kembali pada saya." Sherena menunjuk-nunjuk ke arah manager hotel dan pintu kamar hotel.

"Semuanya bisa diselesaikan dengan damai, Kak. Kalau anda terus berbuat keributan seperti ini, kami terpaksa harus melibatkan pihak berwenang agar masalah ini diselesaikan lewat jalur hukum," ucap manager yang bertugas malam ini.

Sherena yang sedang berada di puncak tidak terima dengan ucapan manager hotel. Dia melepas sepatu bootnya dan langsung melemparkannya ke arah manager hotel.

Manager hotel yang usianya sudah hampir separuh baya sepertinya kurang gesit dalam menghindari bahaya.

Duak!

Sol sepatu boot setebal 10 cm berhasil melukai dahi manager hotel. Darah pun mengucur membasahi wajah manager hotel.

"Astaga, Nona! Tolong hentikan, Nona!"

"Darah! Darah!"

Staf receptionist wanita berteriak khawatir membuat situasi makin mencekam.

Lalu staf receptionist wanita itu pingsan, jatuh terkapar di karpet hotel. Suara jatuhnya membuat penghuni hotel terlonjak kaget.

"Ini tak bisa dibiarkan! Usir mereka dari hotel." Penghuni hotel bersatu dengan tim security untuk mengusir Sherena dan dua stafnya. Menarik paksa Sherena ke dalam lift yang membawanya ke basement tempat parkir hotel agar tidak mengganggu pengunjung hotel yang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!