NovelToon NovelToon
TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

TEN DYNASTY LEGEND ( Sepuluh Dinasti Legendaris )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Epik Petualangan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: muhammad rivaldi

Chapter 1-20= Prologue & Origin Arc (Arc Pembuka dan Asal-usul)

Chapter 21- 35 = Sura Training Arc (Arc Latihan di Desa Sura)

Chapter 36 - 45 = Road to Tianjian Capital Arc ( Arc Perjalanan Menuju Ibu Kota Tianjian )

Chapter 46 - ? = Ten Dynasties Tournament Arc ( Arc Turnamen Sepuluh Dinasti )

Di tengah perang besar, seorang bayi misterius diselamatkan dari kejaran pasukan kerajaan. Bertahun-tahun kemudian, bayi itu tumbuh menjadi pemuda bernama Cang Li, yang hidup sederhana di sebuah desa kecil tanpa mengetahui masa lalunya.
Namun hidupnya mulai berubah ketika kekuatan aneh dalam dirinya bangkit sedikit demi sedikit. Kilatan petir ungu, rahasia kalung misterius, dan bayangan masa lalu perlahan membuka kebenaran tentang asal-usulnya.
Tanpa ia sadari, Cang Li adalah pusat dari rahasia besar yang dapat mengguncang dunia.
Kini, di tengah bahaya, pengkhianatan, dan kekuatan yang terus terbangun, Cang Li harus mencari tahu siapa dirinya sebenarnya… sebelum semuanya terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12— Rahasia di Balik Topeng

Cang Li terbaring lemah di atas kasurnya di rumah kecil Desa Jianxin.

Napasnya masih terasa berat.

Dadanya naik turun perlahan, sementara rasa panas dan nyeri di bagian ulu hati belum juga hilang. Bekas serangan petir ungu dari pria berjubah hitam tadi masih terasa jelas di tubuhnya.

Di samping tempat tidur, Ye Ruoxi berdiri dengan wajah tegang.

Tatapannya tertuju pada sosok berjubah hitam yang baru saja membawa pulang Cang Li dan meletakkannya dengan hati-hati di atas ranjang.

Suasana di dalam ruangan itu terasa sunyi, tetapi penuh tekanan.

Beberapa detik berlalu.

Lalu pria berjubah hitam itu perlahan mengangkat tangannya dan membuka tudung di kepalanya.

Wajah yang selama ini tersembunyi akhirnya terlihat.

Rambutnya kini sedikit memutih, seolah waktu telah meninggalkan jejak yang berat di dirinya. Namun sorot matanya masih sama—tajam, dingin, dan sulit ditebak.

Ye Ruoxi langsung menegang.

Matanya membesar.

“Ye Chen?!”

Nada suaranya penuh keterkejutan, tapi juga kemarahan yang selama ini tertahan.

“Kenapa kau baru muncul setelah sembilan tahun... lalu hal pertama yang kau lakukan justru menghajar keponakanmu sendiri sampai pingsan?” suaranya bergetar. “Apa kau sudah kehilangan akal?”

Ye Chen tidak langsung menjawab.

Ia hanya menatap kalung perak yang kini berada di tangannya.

Kalung itu tampak sederhana.

Namun bagi orang-orang yang mengetahui rahasia di baliknya, benda itu jauh lebih berbahaya daripada pedang mana pun.

Akhirnya, Ye Chen berkata pelan,

“Ini satu-satunya cara, Ruoxi.”

Ye Ruoxi menatapnya dengan napas tertahan.

Ye Chen mengangkat kalung itu sedikit.

“Kalung ini bukan hanya tanda pengenal,” ucapnya dengan suara berat. “Benda ini seperti jejak yang bisa digunakan untuk menemukan keberadaan Cang Li.”

Ye Ruoxi mengerutkan kening.

“Maksudmu...?”

“Moonlight Shadow Guild.”

Begitu nama itu keluar dari mulut Ye Chen, suasana ruangan terasa semakin dingin.

“Mereka masih memburu anak itu sampai sekarang,” lanjut Ye Chen. “Selama kalung ini terus berada di lehernya, mereka punya kemungkinan untuk melacak keberadaannya.”

Ye Ruoxi menatap kalung itu dengan wajah pucat.

“Jadi selama ini... dia berada dalam bahaya hanya karena menyimpan benda itu?”

“Bukan hanya karena benda itu,” jawab Ye Chen. “Tapi karena nama yang terukir di atasnya.”

Tatapan Ye Ruoxi perlahan berubah.

Ia menoleh ke arah Cang Li yang masih tak sadarkan diri di atas ranjang.

Wajah pemuda itu terlihat tenang saat tidur, tetapi kenyataannya, hidupnya sudah dikejar bahaya bahkan sejak ia masih bayi.

Ye Chen menghela napas pelan, lalu melanjutkan,

“Selama sembilan tahun ini aku tidak menghilang tanpa alasan.”

Ia melangkah ke dekat jendela, menatap malam di luar rumah.

“Aku pergi jauh... sangat jauh. Sampai ke Benua Jue Wang.”

Ye Ruoxi sedikit terkejut.

“Itu tempat yang sangat berbahaya...”

Ye Chen mengangguk pelan.

“Di sana ada sebuah wilayah bernama Lembah Keputusasaan. Tempat itu dipenuhi aura gelap, monster buas, dan orang-orang yang hidup di luar aturan dunia biasa.”

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara yang lebih serius.

“Di sanalah aku menemukan sesuatu yang tidak boleh diremehkan.”

Ye Ruoxi menatap punggung kakaknya.

“Dinasti Cangmo sedang bergerak.”

Hening.

Nama itu saja sudah cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Dinasti Cangmo adalah salah satu dinasti paling berbahaya di dunia—sebuah tempat yang dikenal karena teknik gelap, senjata terlarang, dan ambisi yang tidak mengenal batas.

Ye Chen menatap ke luar jendela dengan sorot mata dingin.

“Kaisar mereka, Zhu Ge Ling, sedang mencari sebuah artefak kuno.”

“Artefak?” tanya Ye Ruoxi.

Ye Chen mengangguk.

“Namanya Tongkat Kegelapan.”

Ia menoleh perlahan.

“Menurut informasi yang kudapat, artefak itu disembunyikan di Benua Tian Zhu.”

Ye Ruoxi langsung memahami maksudnya.

“Jadi... mereka akan datang ke sini?”

“Bukan mungkin lagi,” jawab Ye Chen tegas. “Mereka pasti akan datang.”

Suaranya semakin berat.

“Dalam lima tahun ke depan, pasukan Dinasti Cangmo kemungkinan besar akan menyisir seluruh wilayah ini. Mereka akan mencari tanpa peduli siapa yang harus disingkirkan.”

Ye Ruoxi menelan ludah.

“Kalau begitu... bukankah Cang Li akan berada dalam bahaya yang lebih besar?”

“Karena itulah dia harus menjadi kuat sebelum hari itu tiba.”

Jawaban Ye Chen keluar tanpa ragu.

Ye Ruoxi menatapnya beberapa saat.

Lalu, dengan suara yang lebih pelan, ia berkata,

“Kalau begitu, kenapa kau tidak menemuinya saat dia sadar?”

Ye Chen terdiam.

Ye Ruoxi melanjutkan, kali ini suaranya jauh lebih lembut.

“Sejak kejadian di Sword Academy... Cang Li sudah berubah.”

Ia menatap wajah Cang Li yang tertidur.

“Dia tidak lagi seperti dulu.”

Ada kesedihan yang jelas di matanya sekarang.

“Dia menjadi lebih pendiam. Lebih tertutup. Dia masih tersenyum sesekali, tapi aku tahu... dia tidak benar-benar baik-baik saja.”

Ye Chen tidak bergerak.

Namun tangannya yang memegang kalung itu sedikit mengencang.

Ye Ruoxi menunduk pelan.

“Kalau dia tahu kau masih hidup... mungkin hatinya akan sedikit lebih ringan.”

Untuk sesaat, tidak ada yang bicara.

Ruangan itu kembali sunyi.

Namun sunyi kali ini terasa jauh lebih berat.

Akhirnya, Ye Chen memejamkan mata sejenak sebelum berkata,

“Tidak.”

Jawaban itu sederhana.

Namun nadanya begitu tegas hingga tak memberi ruang untuk dibantah.

Ye Ruoxi menatapnya.

Ye Chen perlahan membuka mata.

“Jika aku terus berada di sisinya, dia akan selalu bergantung padaku.”

Nada suaranya rendah, tapi penuh keyakinan.

“Dia akan selalu merasa bahwa selama aku ada, dia akan aman.”

Ye Ruoxi menggigit bibirnya.

“Bukankah itu hal yang wajar? Dia masih—”

“Tidak,” potong Ye Chen sekali lagi. “Bukan untuk anak seperti dia.”

Tatapannya berubah tajam.

“Cang Li bukan anak biasa. Dunia tidak akan memberinya waktu untuk tumbuh dengan tenang.”

Kalimat itu membuat Ye Ruoxi terdiam.

Ye Chen melanjutkan dengan suara berat.

“Jika dia ingin bertahan hidup... jika dia ingin melindungi dirinya sendiri... jika dia ingin menghadapi takdir yang menunggunya... maka dia harus belajar berdiri dengan kakinya sendiri.”

Ia menatap Cang Li sekali lagi.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, ada sesuatu yang samar terlihat di matanya.

Sesuatu yang sangat mirip dengan rasa bersalah.

“Aku tidak bisa selalu menjadi pelindungnya.”

Ye Ruoxi menunduk pelan.

Ia tahu.

Ia tahu bahwa semua yang dikatakan Ye Chen benar.

Namun sebagai seseorang yang selama ini membesarkan Cang Li, hatinya tetap sulit menerima cara sekeras itu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Ye Chen kembali mengenakan tudung hitamnya.

Wajahnya sekali lagi tenggelam dalam bayangan.

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Ye Chen.”

Langkah pria itu berhenti.

Ye Ruoxi menatap punggung kakaknya dengan mata yang mulai memerah.

“Kau benar-benar akan pergi lagi?”

Beberapa detik berlalu.

Lalu Ye Chen menjawab tanpa menoleh.

“Untuk saat ini... ya.”

Nada suaranya tenang, tetapi justru itulah yang membuat perpisahan itu terasa lebih menyakitkan.

“Jaga dia baik-baik.”

Setelah mengatakan itu, Ye Chen melangkah keluar.

Sosoknya segera menghilang ke dalam gelapnya malam, seolah ia memang ditakdirkan untuk selalu hidup di balik bayang-bayang.

Yang tertinggal hanyalah angin malam... dan perasaan hampa yang pelan-pelan memenuhi ruangan.

Kalung yang Hilang

Beberapa jam kemudian, Cang Li mengerang pelan.

Kelopak matanya bergerak.

Lalu perlahan, ia membuka mata.

Langit-langit kamar yang familiar langsung menyambut pandangannya.

Ia berkedip beberapa kali.

Wajahnya terlihat bingung.

“...rumah?”

Dengan susah payah, ia mengangkat tubuhnya sedikit.

Rasa sakit di ulu hatinya langsung menyambar, membuatnya meringis.

Ye Ruoxi yang sejak tadi duduk di dekat jendela segera menoleh.

“Cang Li! Jangan bangun terlalu cepat.”

Cang Li menatap sekelilingnya dengan napas pendek.

“Bibi...?”

Suaranya masih lemah.

“Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?”

Lalu tiba-tiba, seolah baru menyadari sesuatu, tangannya langsung naik ke lehernya.

Kosong.

Matanya langsung membesar.

“Kalungku—!”

Ia langsung duduk lebih tegak meski tubuhnya belum pulih.

“Kalung itu... hilang!”

Wajahnya berubah tegang.

“Itu dicuri!”

Ye Ruoxi buru-buru duduk di tepi ranjang dan menahan bahunya.

“Tenang dulu, Cang Li.”

“Bagaimana aku bisa tenang?” balasnya cepat. “Itu peninggalan Paman! Itu satu-satunya petunjuk yang kumiliki!”

Napasnya mulai tidak teratur.

Matanya dipenuhi campuran marah, bingung, dan cemas.

Ye Ruoxi tahu ia harus sangat berhati-hati sekarang.

Karena satu jawaban yang salah bisa membuka terlalu banyak hal yang belum waktunya diketahui.

Cang Li menggertakkan gigi.

“Orang itu...”

Tatapannya menajam.

“Dia menggunakan petir ungu.”

Ye Ruoxi membeku sesaat.

“Tekniknya... sangat mirip dengan milik Paman Ye Chen.”

Ia menatap bibinya lurus-lurus.

“Bibi... apakah Paman punya kerabat lain?”

Pertanyaan itu membuat Ye Ruoxi terdiam beberapa saat.

Di dalam hatinya, ia tahu bahwa Cang Li tidak bodoh.

Semakin besar, semakin tajam instingnya.

Semakin sulit pula menutup semua rahasia di sekelilingnya.

Namun pada akhirnya, ia tetap tidak bisa mengatakan kebenaran.

Belum.

Belum sekarang.

Ia tersenyum tipis, meski senyum itu terasa berat.

“Dunia ini sangat luas, Cang Li.”

Suaranya lembut, berusaha terdengar setenang mungkin.

“Banyak kultivator di luar sana yang menggunakan elemen petir. Bukan hal aneh jika ada orang lain yang memiliki teknik serupa.”

Cang Li menatapnya tanpa berkedip.

Jelas terlihat bahwa ia belum sepenuhnya percaya.

Namun Ye Ruoxi melanjutkan sebelum ia sempat memotong.

“Yang lebih penting sekarang bukan siapa dia.”

Ia menatap mata keponakannya dalam-dalam.

“Tapi apa yang akan kau lakukan setelah kalah darinya.”

Kalimat itu membuat Cang Li sedikit terdiam.

Tangannya perlahan mengepal di atas selimut.

Ye Ruoxi melanjutkan dengan suara lembut namun tegas.

“Kalau kau ingin merebut kembali apa yang hilang... kalau kau ingin mencari jawaban... maka satu-satunya jalan adalah menjadi lebih kuat.”

Ruangan itu kembali hening.

Cang Li menunduk.

Beberapa saat kemudian, ia mengepalkan tinjunya lebih erat.

Sorot matanya perlahan berubah.

Bukan lagi sekadar bingung.

Melainkan tekad.

“Aku gagal menjaganya...”

Suaranya pelan, tetapi penuh penyesalan.

“Itu adalah amanah dari Paman.”

Ia mengangkat kepalanya perlahan.

Tatapannya kini jauh lebih mantap.

“Tapi aku bersumpah... suatu hari nanti, aku akan menemukan kalung itu kembali.”

Ye Ruoxi menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Di satu sisi, ia merasa sedih.

Namun di sisi lain, ia juga tahu—

bara di dalam diri Cang Li mulai bangkit lagi.

Dan kali ini, mungkin akan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Markas Besar Dinasti Tianjian

Sementara itu, jauh dari Desa Jianxin, ibu kota Dinasti Tianjian tengah berada dalam suasana yang sangat ramai.

Jalan-jalan utama dipenuhi kereta bangsawan, pasukan pengawal, dan utusan dari berbagai wilayah.

Bendera-bendera besar berkibar di sepanjang gerbang kota.

Hari itu bukan hari biasa.

Hari itu adalah hari dilaksanakannya Rapat sepuluh Kaisar, pertemuan besar yang hanya diadakan setiap delapan tahun sekali.

Di sinilah para penguasa dari berbagai dinasti akan berkumpul untuk membahas urusan yang bisa mengubah keseimbangan dunia.

Di depan gerbang markas utama, sebuah kereta mewah berhenti perlahan.

Dari dalamnya, turun seorang pria berwajah dingin dengan jubah kebesaran berwarna cokelat emas.

Ia adalah Kaisar Chu Yu dari Dinasti Huangtu.

Di belakangnya, seorang pria bertubuh besar berjalan dengan langkah mantap.

Wajahnya keras.

Tatapannya tajam.

Dan di balik pakaiannya, tersembunyi bekas luka panjang di bagian dada—luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

Ia adalah Han Li, panglima perang Dinasti Huangtu.

Luka itu bukan luka biasa.

Itu adalah bekas tebasan dari pertarungannya melawan Ye Chen bertahun-tahun lalu.

Han Li menatap bangunan besar di hadapannya.

“Tempat ini masih semegah dulu,” gumam Chu Yu sambil melangkah masuk ke dalam aula utama.

Han Li tidak menjawab.

Ia hanya mengikuti dari belakang.

Namun saat keduanya melewati lorong utama yang panjang dan sunyi, langkah mereka tiba-tiba terhenti.

Dari arah berlawanan, seseorang sedang berjalan mendekat.

Langkahnya tenang.

Teratur.

Tidak cepat.

Tidak lambat.

Namun entah kenapa, setiap langkahnya membuat udara di sekitar lorong terasa lebih berat.

Chu Yu sedikit menyipitkan mata.

Han Li ikut mengangkat kepala.

Lalu mereka melihatnya.

Seorang pria tinggi dengan jubah kebesaran berwarna gelap.

Wajahnya tertutup sepenuhnya oleh topeng perak yang dingin dan tanpa ekspresi.

Aura yang keluar dari tubuhnya terasa aneh.

Tenang... namun menekan.

Diam... namun berbahaya.

Orang itu terus berjalan hingga akhirnya berhenti tepat di depan Chu Yu dan Han Li.

Lorong itu mendadak terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya.

Lalu, dari balik topeng perak itu, terdengar suara berat yang pelan namun jelas.

“Sudah lama kita tidak bertemu...”

Ia berhenti sejenak.

Lalu melanjutkan dengan nada yang membuat jantung Han Li berdetak lebih keras.

“Kaisar Chu Yu. Panglima Han Li.”

Tubuh Han Li langsung menegang.

Matanya sedikit melebar.

Suara itu...

ada sesuatu dari suara itu yang terasa sangat familiar.

Terlalu familiar.

Seolah ia pernah mendengarnya di tempat lain.

Di masa lalu.

Di medan perang.

Di antara kilatan petir dan reruntuhan tanah yang hancur.

Dan yang paling mengganggu adalah satu hal—

suara itu seharusnya milik seseorang...

yang menurut keyakinannya...

sudah mati enam belas tahun yang lalu.

End Chapter 12

1
KETUA SEKTE
Jelek👍
KETUA SEKTE
👍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!