NovelToon NovelToon
SANG PERWIRA

SANG PERWIRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pengantin Pengganti
Popularitas:162.7k
Nilai: 5
Nama Author: Penapianoh

Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.

Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...

Penasaran dengan alurnya? yukk baca...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANG PERWIRA 15

"Nenek bilang jam berapa? Kunaon jam segini sudah datang, hah?" Dengan nada pelan namun penuh penekanan sang nenek berujar, tatapan tajam pun ia berikan pada ke tiga bersaudara itu.

"Maaf, Nek ...." selina berujar dengan nada penuh rasa bersalah.

Sadar akan kesalahan waktu yang mereka lakukan.

"Siapa Bu Hasna? Anaknya Asri, cucu Bu Hasna?" tanya seseorang dengan tampilan mentereng sembari terus menatap sinis penampilan selina dan ke dua adiknya.

Kemudian mereka saling berbisik satu sama lain. selina hanya bisa menghela napas dalam. Menambah kesabaran yang lagi dan lagi harus diuji karena perbedaan kasta.

Hasna adalah ibu dari Asri, ibu dari ke tiga anak yang kini seolah sedang diadili karena penampilan mereka, keluarganya terpandang.

Hasna memiliki tiga orang anak perempuan yang berbeda kehidupannya dari segi ekonomi.

Terutama Asri yang memilih untuk menjadi buruh cuci demi menikah dengan pujaan hati. Harun.

Pernikahan Hasna dan Harun sempat menjadi pertentangan karena status Harun yang hanya seorang cleaning service.

Sementara menantunya yang lain justru menjabat sebagai manager di tempat yang sama, dan menantu satunya lagi adalah perwira polisi di kampung mereka.

"Saya tinggal dulu, ya. Sok atuh dinikmati jamuannya," ucap Hasna tanpa menjawab pertanyaan tamunya tersebut.

"Sini, kalian!" ujar Hasna setengah berbisik, namun begitu penuh penekanan.

Setelahnya ia menggandeng Rara dan selina ke luar.

Sementara Dito terus mengikuti dengan perasaan marah yang ia tahan sedemikian rupa.

Sesekali ia meremas kuat ke dua tangannya, menatap punggung sang nenek dan ke dua saudarinya secara bergantian.

Ingin ia mendorong wanita tua yang tampak kasar di hadapannya itu kala melihat adik dan kakaknya diperlakukan kasar, namun, ia tahu akan berakhir bagaimana jika ia tak bisa mengendalikan diri.

"Diam di sini. Reni, Veni," ujar Hasna pada ke tiga cucunya sesampainya di pintu dapur yang ada di bagian samping, kemudian Hasna berteriak memanggil ke dua anak perempuan yang selalu dipuja karena memiliki suami ber-uang itu.

Melihat kedatangan ke duanya semakin porak porandalah hati selina dan Dito. Bagaimana tidak, mereka sama-sama anak, tapi sang ibu sama sekali tidak diikut sertakan bahkan datang atau tidak seolah tak penting bagi Hasna.

"Kenapa, sih, Bu?" tanya Reni begitu ia sampai.

"Ini, kalian urus selina sama adiknya. Di suruh datang jam 9 malah belum ada jam 8 udah datang. Kumaha!Bikin malu wae!" omel sang nenek kemudian bergegas meninggalkan mereka dan kembali ke ruang tamu.

Selina memegang lengan ke dua adiknya, tahu bahwa Dito sedang menyimpan amarah dan ia tak ingin merusak suasana karena hanya akan mempermalukan keluarga dan ke dua orang tuanya jika sampai itu terjadi.

"selina, biarkan Rara main sama Vira. Kamu bantu kupas bawang di belakang sama mbak-mbak. Kamu Dito, angkat kardus air ini masuk, kebetulan belum ada orang laki-laki." Dengan senyum kemunafikan Reni berujar sembari terus menatapi pakaian yang di kenakan para keponakannya itu.

"Kamu nanti nggak usah keluar, di dalam aja. Kami nggak bawa baju ganti untuk kamu, lupa," timpal Veni.

Dito hendak maju menampar wanita paruh baya itu, tapi dengan cepat selina memegangi pergelangan tangan Dito.

"Hem, iya, Uwa. selina teh ngerti." Dengan suara sedikit bergetar selina menjawab.

Pakaian yang dikenakan sudah yang terbaik menurut mereka, namun masih saja dipermasalahkan.

"Ya sudah. Buruan, gih."

Selina mengangguk.

"Heran, kok, bisa Dimas lebih milih selina daripada Ayu. Jelas-jelas Ayu lebih segalanya."

"Halah, kayak nggak tahu jamannya Asri sama Harun aja. Pastilah ilmu peletnya si Harun diturunin sama selina."

Percakapan kedua wanita bergelar Bude itu masih jelas terdengar meskipun langkah mereka semakin menjauh masuk ke dalam dan meninggalkan ke tiga keponakan yang masih berdiri tegak di depan pintu.

"Kita pulang aja, Teh," putus Dito.

"Rara, mau main sama Kak Vira. Mainannya pasti bagus-bagus," rengek Rara sembari memegangi ujung jilbab selina dan ujung kemeja Dito, lalu tanpa menunggu jawaban ia berlari masuk ke dalam rumah.

"Sebentar saja, kasihan Rara." selina mengusap punggung sang adik.

Ia tahu benar apa yang dirasakan Dito tak jauh berbeda darinya. Tapi di sisi lain ia tak mau membuat Rara menangis dan merengek minta mainan pada ibunya setelah pulang nanti.

Seperti perintah Budenya, selina bergegas ke dapur dan membaur bersama para tetangga yang membantu hajatan.

Sementara Dito melakukan apa yang diperintahkan meski hatinya menyimpan kesal, bahkan saking dongkolnya kadang kardus air mineral ia letakkan setengah membanting.

Di dapur selina bekerja sambil mengawasi Rara yang tampak begitu senang bermain boneka-boneka milik Vira.

Vira adalah cucu dari Rani yang rumahnya bersebelahan dengan Hasna.

Memiliki nenek yang berkecukupan dan merupakan cucu pertama membuat Vira dilimpahi kenyamanan dan kasih sayang.

Terlebih kedua orang tuanya yang merupakan sepupu selina memiliki pekerjaan yang mapan. Membuat Reni dan Hasna semakin memanjakan Vira.

Vira juga merupakan cicit pertama Hasna sehingga Hasna begitu menyayanginya.

"Eh, neng selina, kamu, kok, masih berkeliaran?" tanya Bu Erna, seketika selina yang menatap Rara mengalihkan pandangan pada tetangga yang cukup dekat dengan keluarga selina tersebut.

"Iya, pamali, atuh," imbuh Bu Weni di sebelah Bu Erna.

"Saya nggak berkeliaran, cuma ke rumah nenek aja, Bu." Begitu santun selina menjawab.

"Ya, tetap saja atuh, neng selina, jalan ke sini kan melewati lahan kosong, takutnya ...."

"Insyaallah Allah melindungi saya," sergah selina yang mulai tak tahan.

"Ya iya lah, Bu kalau selina nggak datang kan sayang oleh-oleh dari nenek pasti sangat diharapkan dan berharga. Iya, kan selina?" celetuk seseorang yang terdengar tiba-tiba.

Mereka pun menoleh ke arah suara yang berasal dari belakang selina.

"Eh, Neng Ayu. Mau makan, Neng?" tanya Bu Erna pada Ayu yang datang dengan pakaian dan penampilan paripurna.

Di sinilah semua topeng mulai ditampakkan. Di mana yang kaya dipuja dan yang tak punya mulai dihina.

"selina, kamu kok diam aja. Kasih kakak kamu kue atau apa, kek?"

"Bukannya Teh Ayu datang lebih dulu?" jawab selina.

"Nggak usah, Bu. Lebih baik kue dan makanannya untuk selina aja. Kasihan pasti jarang makan enak," ujar Ayu dengan nada menghina.

Seketika selina menatap tajam pada Ayu yang merupakan kakak sepupu, anak dari Veni.

Entah apa yang membuat Ayu begitu membenci selina.

Namun banyak yang mengatakan bahwa selina telah merebut Dimas dari Ayu.

"Dipanggil nenek tuh. Hei Dito, Rara, Vira. Ke depan semua," seloroh Ayu kemudian melenggang pergi ke ruang tamu.

Tepat pukul 9 di mana selina dan yang lain dipanggil oleh Ayu.

Ruang tamu terlihat sudah kosong. Ke dua anak Hasna beserta anak mereka sudah duduk di sofa.

Dito dan Rara tampak begitu senang ketika terdapat banyak tas dan bungkusan di atas meja. Inilah saat yang mereka tunggu.

"Ini untuk Alya dan Gery. Ini untuk kamu Veni dan Reni. Yang ini untuk Ayu. Dan ini untuk Vira," ujar Hasna sambil memberikan bingkisan satu per satu.

"selina, ini untuk kamu dan adikmu. Bilang sama ibu dan bapak kamu nanti malam nggak usah ke sini karena nenek mau menjamu tamunya Uwa Veri dan Uwa Hendro. Nenek takut kalau nanti bapak dan ibu kalian nggak nyaman karena ...."

Derajat mereka tidak setara, ya selina yang sudah banyak mendengar dan melihat bagaimana perilaku neneknya pada ke dua orang tuanya itu bisa menerka apa kelanjutan dari kalimat yang menggantung itu.

"Kami paham, Nek." Tak mau berdebat selina memilih untuk menutup percakapan.

"Ya sudah, sok atuh pada di buka bingkisannya," ucap Hasna tersenyum senang.

Detik selanjutnya saat semua sibuk membuka tiba-tiba Rara bergegas dan berlari ke belakang, matanya berkaca.

Entah apa yang terjadi selina dan Dito hanya bisa mengejar.

"Kunaon tuh anak? Hei kalian nanti kalau pulang bawa makanan untuk ibumu, minta sama Mbak yang ada di belakang sana," teriak Hasna pada kedua cucu yang berlari mengejar sang adik.

1
Fazira Fazira
di kirain g'di lanjutin lagi Thor,💪semangat yaaa,..sehat selalu
Yanti Octavia
Masya Allah luar biasanya karyamu Thor, tetap semangat berkarya semoga sukses selalu,,di tunggu up gandanya selalu ya Thor😘😍🥰
bude gemoy
lanjutkan Thor.....💪💪💪💪💪
Danny Muliawati
sebel ya klo ga jelas gini
Reni Anggraeni
kangen Ama serina
Ai Oncom
kapan up lg kak..?
Reni Anggraeni
kk kmana TDK up torr
Sami asih
og gk lanjut lanjut sich...😭
Andri Yukarthi
kak knp ga lanjut...ceritanya aq suka banget /Cry/
ysl
kapan Up lagi
Neneng Sunengsih
lama ga up bolak balik tp blum ada 🤭
Nurhayati Lubis
di tunggu kelanjutan nya thor
Fera
lanjut thor
mimma
Luar biasa
mimma
Lumayan
Putri Sri Berganti
kenapa gak Update lagi ??
bude gemoy
double up Thor
Tak tunggu ya.....
aliyya
akhirnya up lg thor,,,
pasti selina hamil,,,
mama
kmn aj kak,kirain udah berhenti tak tunggu2 gk nongol2😍
Reni Anggraeni
makasih udah up tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!