Halo semuanya...
Ini karya novel pertamaku.
Isekai biasanya tertabrak mobil atau truk sedangkan aku cuma ketiduran. Aku Lisa Aspasa harus mengalami isekai. Aku terbangun dalam sebuah novel dimana tubuh inilah tokoh villiannya. Seorang villian dipastikan akan berakhir kematian. Kematian yang mengerikan bagi siapapun yang melihatnya.
Akankah aku bisa menghindari takdir kematian?
Akankah aku mendapatkan kebahagiaan?
Pada pertengahan perjalan jiwa pemilik asli tubuh ini datang.. apa yang ia inginkan? akankah dia mau membantuku atau sebaliknya?
Berlahan tapi pasti sesuatu yang tidak terungkap dalam novel mulai muncul kepermukaan...
Apakah itu?
Penasaran... langsung baca saja
27 Oktober 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Miring Petagon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
WARNING TYPO BERTEBARAN
***
Melisa POV
Hari ini pelajaran free anak-anak diminta untuk belajar sendiri untuk mempersiapkan ujian minggu depan. Suasana dikelasku ramai dengan berbagai aktivitas ada yang belajar, bermain game atau bergosip seperti yang kulakukan sekarang.
“ Tempatnya beneran angker” kata Rini mengidik ngeri.
“ Bisa jadi itu hanya konten supaya viral” kataku menyanggah perkataan Rini.
“ Masak sih vidionya terlihat beneran” kata Rini tidak mau kalah.
“ Sekarang orang-orang sudah pandai editing” kataku menyanggah ucapan Rini
“ Bener kata gadis beruang kita tidak boleh percaya akan hal-hal yang belum terbukti benar” kata Alex
dengan bijak.
‘Sok bijak padahal kau datang kemari gara-gara rumor’ kataku mengejek dalam hati. “ Berhenti memanggilku gadis beruang” kataku kesal. Semenjak kejadian aku minta uang Alex memberikan julukan kepadaku.
“ nama itu sangat cocok denganmu gadis berpikiran uang yang disingkat gadis beruang” kata Alex santai.
Aku tidak menanggapi Alex yang akan memicu perdebatan tidak berguna. PLUKK sebuah ponsel bermerek ipone keluaran terbaru berwarna hitam mendarat di depanku. Aku menoleh kepada orang yang telah melempar ponsel mahan didepan mataku ‘apakah anda beniat memberikan padaku? Dengan senang hati aku menerimanya’. Aku menatap mata setajam elang sedang menatapku dengan aura dingin sedingin es kutup. Aku sedikit merapatkan kedua tanganku untuk mendapatkan kehangatan.
“ Buka vidio itu” kata Elgartara dingin sambil menunjuk ke ponsel ipone hitam.
Aku mengambil ponsel hitam. Aku membuka lock screen yang bergambar sebuah gitar. Layar ponselnya menampilkan sebuah kata sandi. “ tanggal lahir ibuku” bisik Elgartara tepat ditelingaku. Aku merinding mendengar suara berat Elgartara. Aku sedikit mengelengkan kepala mengusir pikiran negatif yang hinggap diotakku. Aku membuka kunci sesuai password yang diberikan. Aku tidak mengalami kesusahan dalam mencari Vidio yang Elgartara maksud karena terletak dipaling atas. Setelah itu aku mengklik tanda putar untuk menonton isi vidio.
---<\ data-tomark-pass \ data-tomark-pass >---
Vidio segera berputar menampilkan lokasi di sebuah ruang ganti. Isi vidio itu memperlihatkan Cika yang masuk bersama Sarah. Seragam Cika yang berlumuran jus strawberry berwarna merah pada episode 10. Aku melihat Cika memukul lemari seragam dengan sangat keras sampai berbunyi BUKK. Cika diselimuti amarah mengambil baju ganti dengan kasar. Kemudian pergi kebilik ganti. Dua anak buahnya diam membisu dengan gemetar.
Cika selesai berganti seragam bersamaan masuknya satu anak buahnya yang bernama Rumi. Dia tampak terburu-buru menemui Cika.
“ Bagaimana keadaan Kaka ?” tanya Cika
“ Dia dirujuk kerumah sakit kata bu Rana kaki kaka mengalami keretakan dilihat dari bengkak yang ditimbukan” kata Rumi menjelaskan keadaan Kaka
“ Melisa akan aku balas berkali-kali lipat” kata Cika marah.
“ Bagaimana caranya kita membalas Melisa menginggat dia sangat berkuasa” kata Sarah binggung.
“ Elgartara” kata Cika dengan sudut bibir terangkat. Aku melihat anak buahnya saling menatap tidak paham dengan ucapan Cika.
“ Memang apa yang kita lakukan pada Elgartara” kata Rumi penasaran terhadap rencana Cika.
Cika tersenyum “ kita buat Elgartara seakan-akan terlihat berselingkuh didepan Melisa sehingga Melisa akan terbakar api cemburu. Selanjutnya aku akan mendekati Melisa membujuknya melakukan hal yang kuinginkan” kata Cika menjelaskan rencananya.
“ Lalu siapa yang menjadi selingkuhannya Elgartara?” tanya Rumi
“ Gadis miskin itu” jawab Cika dengan keyakinan seratus persen.
“ Memangnya Olivia bisa mendekati Elgartara?” tanya Rumi
Cika memandang teman-temannya “ Tidak, tapi kita akan mendekatkan Mereka yang akan diketahui Melisa” jelas
“ Cika kau jenius sekali. kau bisa membalaskan dendam pada Melisa dan kehancuran Olivia emm tapi kapan kita akan melaksankannya?” kata Rumi dengan antusias
Cika tersenyum senang mendengar pujian yang dilontarkan “ Ulang tahunku”
“ itu sebentar lagi” kata Sarah menghitung jumlah hari ini sampai ulang tahun Cika.
“ itu benar maka dari itu aku akan memberikan tugas pada kalian berdua sebagai perancang dekorasi serta eksekusi sementara aku akan manarik Melisa dan Olivia kedalam perangkap kita” kata Cika dengan seringai.
“ baik” kata mereka bersamaan lalu mereka tertawa mengerikan diruang ganti yang sunyi.
>----<
Vidio berhenti berputar. Aku meletakkan ponsel hitam diatas meja. Aku melirik Rini memberinya sebuah kode. Aku berdiri membawa ponsel berjalan menuju kelas XI D tempat Cika berada.
Aku mendobrak pintu kelas XI D hingga terbuka dengan keras. Mataku setajam elang dengan ekpresi kejam. Aku menghampiri tempat duduk Cika. Aku menjambak rambut Cika dengan kasar. Aku bisa mendengar rintihan seperti tikus kejepit “ Apa maksudmu beraninya kau memanfaatkanku” kataku dingin. Tangan kiriku memutar vidio yang Elgartara berikan untuk ditonton Cika.
Cika melotot sempurna mengetahui kejahatannya terungkap. Aku menjabak Cika kebelakang “ Gara-gara kau aku dan Elgartara bertengkar!” Bentakku.
Cika merintih kesakitan kedua tangannya memegang rambutnya yang aku jambak “Kau membuat tulang Kaka retak...” kata cika lirih dengan air mata mengalir.
Aku melepaskan jambakan pada Cika “Itu karena ulahmu” kataku dengan Ekspesi datar. Aku medekatkan pada
telinganya “ Terima saja akibatnya” kataku dengan lembut. Aku meninggalkan Cika dalam keadaan menangis ‘seumur hidupnya Cika tidak pernah dipermalukan seperti ini’.
Aku keluar kelas XI D menuju ke taman. Aku melihat Rini menugguku disana. Sebelum itu, aku sudah memberi pesan kepada seseorang disebrang sana. Aku menghampirinya “ cari tahu bagaimana bisa Elgartara mendapatkan bukti ini” kataku sambil memainkan ponsel Elgartara. Rini menangguk mengerti sambil mengalihkan pembicaraan. Kami berjalan ke kantin untuk membeli minuman rasa mint untuk Elgartara sebagai permintaan maaf. ‘Sebenarnya aku tidak mau tapi melihat dari sudut mata penonton aku yang salah’ kataku dalam hati.
Aku masuk kekelas dengan berjalan pelan. Aku melihat Elgartara sedang sibuk belajar. Aku mengambil kertas menulis perkataan maaf. Aku memberikan minuman yang sudah tertempel tulisan maaf dimeja Elgartara. ‘ itu menurutku hemat energi’ kataku dalam hati menyetujui tindakan yang kulakukan. Aku menghabiskan waktu dengan mengobrol hal-hal yang tidak berguna bersama Rini yang akan ditimpali oleh Alex atau Rio.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Aku membereskan bukuku kedalam tas “Melisa” suara berat milik Elgartara membuatku berhentikan aktivitas yang kulakukan.
“ Ayo kita pulang bersama” ajak Elgartara dengan ekpresi datar.
“ Tidak, Mel harus membantuku mencari buku diperpus” kata Rini dengan tatapan tajam kearah Elgartara “ Mel
kau sudah janji” kata Rini dengan rengekan.
Aku menggangguk ‘akting Rini benar-benar bagus kebohongannya natural’ kataku sambil memberikan nilai 100.
Aku akan membuka mulut “ Aku duluan” kata Elgartara yang sudah berjalan sebelum aku mengeluarkan satu
katapun.
Suasana sekolah tampak sepi sebagian besar murid dan guru meninggalkan sekolah. Aku dan Rini pergi keatap sekolah. Kami melihat Cika menangis sendirian. Sayup-sayup kami mendengar suara Cika “ ayah kita tidak mungkin bangkrutkan?”. Kemudian tangis Cika pecah seraya ponsel yang mati. Cika terlihat frustasi aku menghampiri Cika.
“Aku bisa membantumu” kataku dengan suara merdu. Suara yang sama saat Cika menghampiriku episode 14. Aku merasa menjadi Malaikat untuk menolong orang lain yang sedang kesusahan.
Cika memandangku dengan amarah “UNTUK APA KAU DATANG KEMARI” teriak Cika bersama hembusan angin. Aku diam tidak membalas perkataannya. “TIDAK PUASKAH KAU MEMPERMALUKANKU” teriak Cika frustasi “mengapa kau membuat keluargaku bangkrut...” kata Cika lirih yang menampulkan ekspresi putus asa.
Aku menatap Cika dengan tatapan mengejek “ Aku melakukan apa yang aku lakukan padaku” kataku santai. Aku bisa melihat Cika sedang berpikir keras. Kepalanya yang menunduk kembali terangkat menatapku dengan begitu lama. Ada kemarahan, putus asa, kesedihan, dendam yang tercampur dimatanya.
“ apa yang harus aku lakukan?” kata Cika yang akhirnya membuka mulutnya dengan air mata menetes.
Aku menyeringai “ Ternyata kau pandai” kataku memuju Cika yang dibalas tatapan datar. Aku mengambil foto episode 11 didalam saku dan memperlihatkannya. Mata Cika membulat sempurna “ Apa yang kalian rencanakan” kataku dingin.
Sorot mata cika kosong “ Aku akan mengatakan semuanya tapi selamatkan perusahanku” katanya memohon kepadaku.
“ tentu” kataku lembut dengan senyuman. Aku bisa melihat sedikit harapan dimata Cika.
Cika mengumpulkan semua ingatannya. Berlahan Cika membuka mulutnya “ Kami kerja sama” Kata Cika memberi jeda untuk mengatur setiap kata yang diucapkan “ Aku menginginkan kehancuran gadis miskin itu karena sudah merebut kasih sayang dan perhatian kedua orang tuaku terutama ayah. Dia sangat menyayangi gadis miskin itu dibandingkan anaknya sendiri” kata Cika dengan amarah dan tangis. Aku tahu perasaan Cika saat ini antara cinta dan benci terhadap ayahnya.
“ Aku bertemu dengan kak karan saat aku kesal ayah memuji Olivia karena hasil ulangan kami. Aku sudah berusaha keras belajar untuk mendapatkan nilai tertinggi tapi...” kata Cika lirih. Cika menarik nafas mengendalikkan diri “ tapi nilaiku selalu dibawahnya” kata Cika putus asa. ‘Cika jangan salahkan dirimu salahkan penulis s**lan yang membuatmu seperti ini’ kataku menenangkan Cika dalam hati.
“ kak karan memberikan solusi untukku dengan berkerja sama dengannya. katanya aku bisa melihat kehancuran Olivia melalui Melisa. Awalnya aku binggung kemudian kak karan menelfon seseorang. Setelah itu kak karan memintaku untuk mengunci Olivia digudang. Setelah itu Melisa akan cemburu dan akan memusuhi Olivia dengan cara memperlihatkan kemesraan Elgartara dan Olivia. Itu yang dikatakan kak Karan.” Kata Cika sambil mengingat setiap detail kejadiannya. Mata cika membuka lebar sepertinya ia menginggat hal penting “ Ahh...Aku baru ingat kak karan yang akan membuat Elgartara datang menyelamatkan Olivia” lanjut Cika. Aku diam tidak menangapi Cika ‘kenapa seperti rencanakan seseorang’.
Aku menutup mataku berlahan merasakan hembusan angin spoi-spoi. Semua informasi yang baru saja aku dapatkan membuat otakku buntu. Sampai suara jeritan dan pelukan erat dari gadis berambut pajang membuatku sesak. “ terimakasih Melisa kau memang penyelamatku” kata Cika memujiku. Aku memutar bola mata basan.
“ Cika aku ingin kau awasi pemuda bernama karan dan geng BS” perintahku kepada Cika “ Satu lagi kalau kau berkhianat kau dan seluruh keluargamu akan hancur” kataku mengancam.
Cika tersenyum senang “ tentu saja” katanya sambil mengacungkan jempolnya. Cika kembali fokus keponselnya dengan senyum merekah padahal tadi dia nangis parah ‘dasar labil’.
Rencanaku berjalan dengan lancar. Kemarin aku memerintahkan anak buahku untuk menanam modal pada perusahan Prodex bangkrut atas nama Melisa. Alasan Melisa menanam saham karena Melisa salah paham pada Cika. Padahal Cika berniat menolong Melisa. Aku tersenyum ‘kata menolong’ dijadikan alibi dalam menghancurkan dan memperbaiki ‘Aku sudah gila’.
“ Bagaimana hasilnya?” tanya Rini penasaran.
“ Ada yang merencanakan semua ini” kataku dengan wajah berpikir.
“ semua kejadian ini?” tanya Rini dengan ekspesi tidak percaya. Aku mengangguk Rini menarik nafas kasar
dengan tangan yang memijat kepalanya.
Selama perjalanan menuju gerbang kami diam sibuk dalam pikiran kami. Aku dan Rini berusaha memecahkan teka-teki ini. ‘Aku tahu semua ini rencana penulis tapi siapa? Siapa yang dijadikan kartu as oleh penulis? Dalam novel hanya empat tokoh dominan Melisa, Elgartara, Alex dan Olivia. Pasti salah satu dari kami memegang kartu as kecuali aku’ kataku dalam hati.
Aku memandang Rini yang sibuk dengan pikirannya “Rin” panggilku. Rini menoleh kearahku “ Awasi pergerakan Alex dan Elgartara” perintahku.
Rini tampak tidak paham atas perintahu “ Kalau Elgartara aku tahu alasannya tapi kenapa Alex?”.
Aku mendekatkan ke telinga Rini “ Bukankah aneh seseorang yang sekolah di delton pindah kemari?” bisikku. Rini tanpa berpikir kemudian menyetujui ucapanku.
“ Serahkan padaku” kata Rini sombong. Aku hanya bisa memutar mataku melihat tingkah laku sahabatku. Kami berpisah saat sudah sampai gerbang. Rini pulang kerumah dan aku harus les bersama kak Elisa.
Les bersama kak Elisa dapat membantuku dalam mengalihkan pikiranku. Selesai les aku merasa lapar. Aku berjalan kedapur membuat omelatte yang mudah dibut hanya telur dicampur dengan isian yang diinginkan. Kemudian digoreng sudah siap. Aku makan sambil menonton komedi situasi DREETT bunyi telepon masuk “ ada apa?”
“ Maaf nona Melisa kami tidak dapat membeli rumah sakit tempat nenek karan Sendurna itu dirawat” kata orang
sebrang sana.
“ Mengapa? ” tanyaku dingin.
“ karena keluarga Sebastian tidak akan menjual rumah sakitnya kepada kami padahal kami sudah melakukan segala upaya” jawab orang disebrang sana. ‘ pantas’ keluarga Sebastian tidak akan melepaskan rumah sakit yang dimikinya kecuali kalau dalam keadaan bangkrut total. Aku tidak bisa membuang uangku untuk membuat keluarga Sebastian bangkrut menginggat keluarga Sebastian memiliki kekayaan yang setara dengan keluarga Pramudja dan kekayaanku jauh dibawah mereka.
“ Ambil pembukuan dana dan transaksi rumah sakit itu” perintahku kepada anak buahku.
“ baik nona” kata orang disebrang sana dengan patuh.
Aku menutup telepon secara sepihak merasakan ada hal yang aneh dikepalaku. Berlahan aku berlahan menutup mataku merasa diriku yang sedang berbaring diatas padang rumput. Aroma wangi bunga dari berbagai jenis tercium oleh hidung kecilku. Aku membuka mataku dengan berlahan.
***
Episode ini sangat panjang jadi dilanjut episede 16