Rasa putus asa menyelimuti Jessica Zhou saat hakim menjatuhkan vonis hukuman mati atas dirinya karena dituduh membunuh kedua orang tuanya demi warisan.
Bandingnya ditolak. Harapan seakan habis.
Hingga kasus itu sampai ke tangan Hakim Li—Adrian Li—yang dijuluki “Hakim Gila” karena ketegasan dan caranya yang tak biasa dalam mencari kebenaran.
Adrian, yang selama ini hanya fokus pada pekerjaannya, dicintai oleh dua wanita: Jessica Zhou dan Holdie Fu. Holdie berambisi tinggi dan berusaha mendapatkan hati pria dingin itu, sementara Jessica memilih memendam perasaannya setelah cintanya ditolak sepuluh tahun lalu.
Kini, nasib Jessica berada di tangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pukul empat pagi, lorong penjara masih gelap dan sunyi. Hanya suara langkah sepatu yang bergema di antara dinding-dinding dingin. Pintu sel Jessica terbuka dengan bunyi berderit kasar.
Dua petugas masuk tanpa banyak bicara. Mereka langsung menarik Jessica dari tempat tidurnya, memborgol kedua tangan dan kakinya dengan kasar.
“Kalian ingin membawaku ke mana?” tanya Jessica dengan suara gemetar, matanya masih setengah terjaga namun penuh kewaspadaan. Ia mencoba menahan langkah, tetapi cengkeraman mereka terlalu kuat.
“Waktu eksekusi telah tiba. Cepat jalan!” jawab salah satu petugas dengan nada dingin. Tangannya mencengkeram lengan Jessica begitu keras seolah takut kehilangan buruannya.
Jessica membelalak. Jantungnya berdetak liar. “Apa? Bukankah belum tiba waktunya? Apakah Pengadilan Tinggi Provinsi S sudah menandatangani? Apakah suratnya sudah sampai ke pengadilan dalam negeri? Kalau belum, kalian tidak bisa melaksanakan eksekusinya!” suaranya meninggi, bercampur antara panik dan kemarahan.
Petugas itu mendengus sinis. “Jessica Zhou, kau menjadi tersangka membunuh kedua orang tuamu. Putusan sudah dijatuhkan. Kenapa harus menunda?”
“Tidak! Aku ingin bicara dengan Hakim Li! Kalian tidak bisa membuat keputusan sendiri!” teriak Jessica, meronta sekuat tenaga. Borgol di pergelangan tangannya beradu keras, menimbulkan bunyi logam yang menyakitkan.
“Diam! Di sini Hakim Chen yang berkuasa, bukan Hakim Li,” balas petugas itu tajam.
Langkah mereka semakin cepat. Lorong panjang terasa seperti tak berujung.
“Hakim Chen yang mengatur semua ini? Siapa yang memintanya melakukan ini padaku? Dia tidak berhak sama sekali!” suara Jessica pecah, antara amarah dan ketakutan.
“Diam!” bentak petugas itu, lalu mendorong Jessica ke sebuah ruangan gelap di ujung lorong.
Lampu menyala redup. Di tengah ruangan, kursi listrik berdiri seperti bayangan kematian yang menunggu.
“Aku tidak mau! Aku tidak bersalah sama sekali! Aku ingin bertemu dengan Hakim Chen!” teriak Jessica Zhou histeris saat tubuhnya dipaksa duduk di kursi itu.
Petugas-petugas itu mengikat kedua tangan dan kakinya dengan sabuk kulit tebal. Setiap tarikan terasa seperti menghancurkan sisa keberaniannya. Napas Jessica memburu, matanya memandang ke sekeliling ruangan, mencari secercah harapan yang tak kunjung datang.
Di balik pintu baja yang tertutup, pagi belum sepenuhnya tiba. Namun bagi Jessica, detik-detik itu terasa seperti akhir dari segalanya.
“Aku dijebak! Aku bukan pembunuh! Kalian adalah polisi, tapi melindungi pelakunya! Pelakunya ingin aku mati untuk menutupi kesalahannya! Lepaskan aku!” teriak Jessica.
Suaranya menggema di ruangan eksekusi yang dingin. Air matanya mengalir deras, napasnya tersengal karena panik dan ketakutan. Sabuk kulit yang mengikat tubuhnya terasa semakin menyesakkan, seolah setiap detik mendekatkannya pada kematian.
Petugas di balik kaca hanya saling pandang, tanpa menunjukkan belas kasihan. Mesin mulai dinyalakan perlahan. Suara dengungnya terdengar mengerikan di tengah kesunyian subuh.
Di sisi lain kota, mobil pasukan melaju cepat menuju penjara wanita. Jalanan masih gelap, hanya lampu-lampu jalan yang menerangi aspal basah oleh embun dini hari.
Max menatap jam di tangannya dengan rahang mengeras.
“Sudah lewat pukul empat. Kita harus cepat,” katanya tegang.
“Tenang saja, kita tidak akan terlambat,” jawab rekannya yang menyetir sambil menekan pedal gas lebih dalam. Mesin meraung, memecah kesunyian pagi.
***
Sementara itu, di kantor ketua petugas penjara wanita, telepon berdering keras memecah kesunyian.
Seorang wanita paruh baya berseragam resmi mengangkat gagang telepon dengan alis berkerut.
“Ya, ini kantor ketua petugas penjara,” ujarnya tegas.
“Dalam lima menit, aku ingin melihat Jessica Zhou di hadapanku.”
Suara pria itu terdengar tegas dan dingin melalui sambungan telepon, tanpa sedikit pun keraguan.
Ketua petugas penjara wanita mengerutkan keningnya. Nada angkuhnya masih tersisa saat ia menjawab, “Anda siapa? Jessica adalah tahanan kami. Tidak bisa bertemu dengan siapa pun saat ini.”
Di luar gerbang penjara, seorang pria berdiri tegap dengan mantel panjang yang tertiup angin subuh. Tatapannya tajam menembus pagar besi tinggi di hadapannya.
“Aku Adrian Li, dari Pengadilan Tinggi Provinsi S,” jawabnya datar namun penuh tekanan. “Jika dalam lima menit dia tidak muncul di hadapanku, kalian semua siap menghadapi tuntutan di pengadilan.”
Ucapan tersebut membuat wajah ketua petugas wanita itu seketika pucat. Tangannya yang memegang gagang telepon bergetar tanpa sadar. Nama itu bukan nama sembarangan.
“A-Adrian Li…?” gumamnya pelan, matanya membelalak.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia menoleh ke arah lorong yang menuju ruang eksekusi. Mesin mungkin sudah disiapkan. Proses mungkin sudah hampir dimulai.
Jantungnya berdegup kencang.
Jika pria itu benar-benar Adrian Li dari pengadilan tinggi, maka perintah eksekusi yang dipercepat ini bisa menjadi bencana besar bagi seluruh pihak penjara.
Ketua petugas itu menjatuhkan gagang telepon hampir tanpa sadar. Ia langsung berlari keluar dari ruangannya, langkahnya tergesa di lorong panjang yang dingin.
“Cepat! Hentikan eksekusinya!” teriaknya dengan suara lantang, memecah kesunyian subuh.
Para petugas yang berjaga di depan ruang kontrol saling menoleh kebingungan.
“Ada apa, Ketua?” salah satu dari mereka bertanya panik.
“Hakim Li ada di luar! Cepat hentikan semuanya!” perintahnya tegas, wajahnya terlihat sangat cemas.
Petugas di ruang kontrol segera menghentikan prosedur. Tangan yang tadi hampir menekan tombol utama kini membeku di udara. Mesin yang sudah menyala perlahan dimatikan. Dengung listrik yang mencekam berhenti seketika.
Di dalam ruang eksekusi, Jessica masih meronta-ronta, napasnya tersengal dan air matanya membasahi wajahnya.
“Lepaskan aku! Kalian akan menerima akibatnya! Siapa pelakunya? Siapa yang menyuruh kalian?!” teriaknya histeris.
Sabuk kulit masih mengikat pergelangan tangannya dengan erat. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, waktu yang hampir merenggut nyawanya baru saja dihentikan.
Pintu ruang eksekusi tiba-tiba terbuka dengan keras.
“Lepaskan dia! Sekarang juga!” bentak ketua petugas.
Para petugas di dalam ruangan terdiam sesaat sebelum akhirnya bergegas membuka ikatan Jessica.
Tubuh gadis itu lunglai ketika sabuk terakhir dilepas. Ia masih terisak, napasnya tak teratur.
“Kenapa… kenapa kalian melakukan ini padaku…?” suaranya melemah, namun amarah dan ketakutan masih bercampur di dalamnya.
Di luar gedung, langkah kaki berat terdengar mendekat.
Adrian Li telah masuk melewati gerbang penjara.
Dan suasana yang tadinya dipenuhi bayangan kematian kini berubah menjadi badai yang jauh lebih besar.