NovelToon NovelToon
Memorable Love

Memorable Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Selingkuh / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Eva Hyungsik

Siapa yang sanggup menjalani sebuah hubungan tanpa cinta? Apalagi pasangan kalian masih belum usai dengan masa lalunya. Dua tahun Janice menjalani hubungan dengan seorang pria yang sangat ia cintai, dan hidup bersama dengan pria tersebut tanpa ikatan pernikahan. Selama dua tahun itu Stendy tidak pernah membalas cinta Janice. Bahkan Stendy sering bersikap dingin dan acuh pada Janice. Sampai akhirnya wanita di masa lalu Stendy kembali, hingga membuat Janice terpaksa mengakhiri hubungannya dan melepaskan pria yang selama ini sangat ia cintai. Semua Janice lakukan, hanya untuk membuat Stendy bahagia bersama wanita yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Hyungsik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CYTB 15

Janice tersenyum tipis dan menjawab, "Aku hanya ingin kembali melanjutkan gelar S2, Tuan Owen. Kalau soal cocok tidak cocoknya dengan Stendy itu bukan urusan kau atau siapapun. Karena aku hanya ingin mencari yang lebih baik dari pria masa laluku itu,” 

Owen mengangkat satu alisnya, "Oh, jadi kamu sudah punya calon lain. Maka dari itu kau meninggalkan Stendy,” 

Janice tersenyum lagi, walau hatinya sudah sangat kesal dengan ucapan Owen. "Perlu kau ingat, Tuan Owen. Aku tidak meninggalkan sahabatmu itu.  Tapi, dia-lah yang telah membuatku pergi jauh dari kehidupannya,” 

“Ah, iya, aku dengar orang tuaku akan menjodohkan aku dengan putra dari sahabatnya itu. Putra dari keluarga Wister. Aku yakin kamu sudah tahu soal itu,” sambung Janice. 

Owen terkejut, namun hanya sebentar saja. Karena ia mampu menetralkan ekspresi wajahnya. “Lalu, apakah kamu akan menerima perjodohan ini?” tanya owen seperti sebuah tantangan. 

Janice mengangguk dan tersenyum sinis, "Tentu saja aku akan menerimanya,” 

Owen tersenyum tam kalah sinis dari Janice. “Kamu serius?” tanya pria itu dengan nada meremeh.

Janice menaikkan dagunya. “Aku sangat serius, Tuan Owen. Aku ingin mencoba sesuatu yang baru, dan aku yakin aku akan sangat bahagia dengan pilihan orang tuaku,” balas Janice yang seakan tidak takut dengan tatapan Owen. Selama ini dirinya sangat takut saat Owen menatap dirinya, namun tidak kali ini. 

Entah apakah yang dikatakannya barusan akan berakhir seperti apa, yang Janice tahu saat ini adalah menyudahi berbincang lama dengan pria dingin di hadapannya ini.

Owen menggelengkan  kepalanya, "Aku tidak bisa percaya. Kamu selalu menjadi orang yang memiliki obsesi tinggi, Janice. Aku pikir kau akan berubah, tapi ternyata tidak sama sekali,"

Janice tertawa hambar, “Orang lain tidak akan melihat saat kita sabar, tapi orang lain akan melihat kita saat melawan. Bukan begitu, Tuan Owen,” sahut Janice penuh makna. 

Owen terdiam, ia paham dari tiap kata yang Janice lontarkan. Sementara itu Janice masih tertawa kecil, membuat Owen kembali tertegun saat melihat tatapan penuh luka yang berusaha di tutup rapat oleh wanita itu. 

Owen tersenyum miris, dan berkata dalam hatinya. “Aku tahu saat kamu sedang menyembunyikan luka itu di depan orang lain. Tapi tidak denganku, aku tahu apa yang kamu rasakan.” 

Owen pun, tertawa kecil dan mengangguk paham. “Baiklah,” Owen mengulurkan tangannya. “kalau begitu aku juga akan setuju dengan perjodohan ini. Apakah kamu bersedia menjadi partner dalam pernikahan ini?” tanya Owen. 

Janice menatap uluran tangan Owen, dengan wajah pongah ia pun membalas uluran tangan pria itu. 

“Setuju,” 

Owen mengajak Janice kembali kedalam, setelah mereka berkeliling taman. Kedatangan mereka kembali di sambut oleh kedua orang tua mereka. Janice mengambil duduk di antara Riana dan Naomi. Sementara Owen mengambil duduk di seberang Janice, mata coklatnya terus memperhatikan Janice yang berada di seberang sana. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wanita itu, yang terlihat sangat cantik dan elegan dalam gaun malamnya.

Tapi, Owen tidak hanya memperhatikan kecantikan fisik Janice. Dia juga memperhatikan bagaimana Janice bergerak dengan anggun, bagaimana dia berbicara dengan kedua orang tua mereka dengan ramah, dan bagaimana dia tersenyum lembut ketika dia merasa nyaman.

Owen telah mencintai Janice secara diam selama bertahun-tahun, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Dia tahu bahwa Janice tidak memiliki perasaan yang sama, karena di hati Janice saat itu hanya ada Stendy.  Sementara Owen tidak ingin merusak persahabatannya bersama Stendy.

Tapi, hari ini, Owen berjanji akan selalu melindungi dan mencintai Janice. Owen akui malam ini ia melihat sesuatu yang berbeda pada Janice. Dia melihat kesedihan di mata wanita itu, kesedihan yang dia coba sembunyikan dari orang lain. Owen ingin mendekatinya, ingin membantunya untuk melepaskan beban yang dia bawa, dan ia juga sangat ingin memeluk wanita itu. Tapi, apa daya, dirinya harus menahannya sampai waktu itu tiba. Waktu dimana Janice akan menjadi istrinya. 

Owen hanya bisa duduk di sana, dengan sesekali menimpali pertanyaan dari Jason, dan Leo. Owen terus memperhatikan Janice dari jarak yang cukup dekat, dan berharap bahwa suatu hari nanti, Janice akan merasa cukup kuat untuk membuka hatinya dan membagikan luka hatinya dengan dirinya. Dan mungkin, dia akan menjadi orang yang dia percayai untuk mendengarkan dan membantunya.

Tanpa Owen sadari, Leo pun memperhatikan apa yang dilakukan Owen sejak tadi. Perlahan ia menggeser pelan  kursinya dekat Owen dan berbisik.

“Mengapa kamu terus menatap Janice seolah dia ada di menu makanan yang siap kau santap?” tanya Leo dengan tatapan tajamnya. “Awas kau! jika berpikir yang aneh-aneh mengenai Janice,” sambung ucapnya penuh ancaman. 

Owen memejamkan matanya sejenak dan menoleh ke arah Leo. “Dia calon istriku, Pa. Apa aku salah jika terus  memperhatikannya?” jawab Owen tak mau kalah. 

Leo berdecak kesal, “Dasar kau ini!  kemarin saja kau mengeluh soal perjodohan ini. Tapi lihatlah dirimu sekarang, malah mengakui Janice calon istrimu,” Leo tak habis pikir dengan pola pikir putra sulungnya itu. 

Owen hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang papa. Tatapannya kembali ke arah wanita yang akan menjadi calon istrinya itu. Tanpa sengaja tatapan mereka, pun bertemu dan mengunci sesaat. Sebelum Janice memutus tatapan mereka terlebih dahulu. 

Owen kembali menyunggingkan senyumannya, dan berkata dalam hati. “Ketika pertama kali melihatmu, hal pertama yang membuatku menyukaimu  karena senyum tulus darimu, Janice. Senyum kamu yang secerah matahari pagi, wajahmu yang seindah langit di angkasa. Namun entah mengapa, kamu seperti teka-teki yang sulit dipecahkan, Janice. Seperti fatamorgana yang terlihat nyata tapi tidak dapat ku sentuh untuk saat ini. Semuanya membuatku semakin percaya bahwa kamu adalah Anagata ku,” 

Bayang-bayang saat pertama kali Owen melihat Janice untuk pertama kalinya, kembali terngiang di benaknya. Dimana  Janice menjadi siswa baru di sekolah mereka. Semenjak itu Owen terus memperhatikan Janice, namun wanita itu tidak pernah menoleh ke arahnya. Karena saat itu Janice hanya melihat ke arah Stendy. Semenjak saat itu, Owen mulai kesal pada dirinya sendiri. Sebab tidak setampan dan sehebat Stendy, namun dalam hati kecilnya ia selalu ingin dekat dan melindungi Janice diam-diam tanpa wanita itu tahu. 

Owen sempat menyerah, ketika Janice dan Stendy bertunangan. Ia merasa sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mendapatkan hati wanita itu. Namun, takdir berkata lain. Tuhan masih mendengar doa dan berbalik memihak dirinya, agar semua doa yang ia sering sematkan dapat terwujud. 

“Aku akan membalut semua luka yang masih berada di hatimu itu dengan cinta tulusku. Aku akan memperjuangkan dirimu, sampai kamu mencintaiku. Aku sudah berjanji pada diriku untuk selalu melindungi, menyayangi, dan mencintaimu hingga maut memisahkan kita,” Owen kembali berbicara dalam hatinya. 

Di negara seberang, Stendy dan Rodez terlihat sedang berada di sebuah club malam. Padahal kemarin pria itu baru saja keluar dari rumah sakit. Akan tetapi Stendy tidak peduli, yang terpenting dirinya dapat melepas semua pikiran yang membuatnya harus berpikir keras. Harisa datang menyusul bersama Yohan. Wanita itu langsung duduk di sebelah Stendy dan bergelayut manja di lengan Stendy. 

Malam itu, Stendy, Rodez, Yohan, dan Harisa berada di sebuah club malam yang populer di kota. Mereka semua mengenakan pakaian yang stylish dan siap untuk bersenang-senang.

“Mengapa kamu tidak mengabari ku, kalau akan ke sini, sayang?” Harisa mengerucutkan bibirnya, suaranya pun terdengar sangat manja. 

Stendy tersenyum, tangan kanannya mengusap kepala wanita yang masih dicintainya itu. 

“Maafkan aku! Aku lupa mengabari,” jawab Stendy bernada lembut. 

Kemudian Stendy berdiri dari duduknya, tangannya memegang botol bir dan sesekali meminumnya langsung dari botol itu. 

"Yeaah, malam ini kita harus benar-benar bersenang-senang!" seru Stendy, sambil mengangkat gelinya.

"Setuju!" jawab Yohan, sambil menari-nari di atas meja.

Rodez hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, tapi ia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut bersenang-senang.

Mereka semua menari-nari dan bernyanyi bersama, menikmati musik yang keras dan suasana yang meriah. Stendy bahkan meminta DJ untuk memainkan lagu favoritnya, dan mereka semua bernyanyi bersama.

Tapi, di tengah-tengah kesenangan, Stendy tiba-tiba berhenti dan melihat ke arah pintu. "Janice…?" katanya, sambil menunjuk ke arah seseorang.

Rodez mengikuti arah pandang Stendy dan melihat seorang wanita cantik yang baru saja masuk ke dalam club. "Itu bukan Janice,” sahut Rodez, sambil mengangkat alis.

Stendy hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak. Tadi aku benar melihatnya masuk. Aku harus mengejarnya dan harus mencegahnya pergi,” Stendy berjalan sedikit sempoyongan.

Rodez sudah melihat ke arah wanita itu dan mereka berdua saling menatap. Jelas itu bukan Janice, tapi memang perawakannya saja yang hampir mirip. Harisa yang mendengar itu pun langsung mengejar dan mencegah Stendy. 

“Kamu mau kemana, Stendy?” tanya harisa dengan suara agak kencang, mengingat musik dalam club itu sangat kencang. 

“Aku harus mengejar Janice! Aku tidak terima dia memutuskan hubungan kami sepihak,” seru Stendy yang terlihat sudah mabuk. 

Harisa menggeleng cepat. “Kamu tidak boleh kemana-mana. Lagipula Janice tidak akan mungkin datang ke  club ini,” cegah Harisa sedikit memaksa. 

Yohan dan Rodez saling menatap, kemudian Yohan membantu Harisa untuk mencegah Stendy, agar tidak pergi. Sementara Rodez hanya diam memperhatikan, namun dalam hatinya tertawa melihat apa yang dirasakan Stendy saat ini. 

“Hilang baru dicari, ada tak disyukuri. Dasar manusia!” Rodez mendesah kasar, dan berjalan mendekat ke arah Stendy yang terlihat sudah pingsan. 

“Apa kita harus membawanya ke rumah sakit? Aku takut dia kenapa-kenapa,” kata Harisa. 

“Tidak perlu! Biar aku yang urus,” tolak Rodez, kemudian pandangannya beralih pada Yohan. “Tolong bantu aku membawanya ke mobil!” pintanya, yang dibalas anggukan oleh Yohan. 

Saat tubuh Stendy dibopong keluar club, pria itu masih terus meracau. Memanggil nama Janice, dan membuat Harisa kesal. 

“Tidak akan aku biarkan kamu terus mengingat wanita sialan itu lagi. Malam ini akan aku pastikan kamu menjadi milikku seutuhnya,” Harisa tersenyum smirk, ide licik sekilas melintas dalam pikirannya. 

Wanita itu pun, terpaksa mengikuti Rodez dan Yohan untuk menuju villa milik Stendy. Karena selama ini, ia memang tidak mengetahui dimana villa itu. Bagi Harisa ini adalah kesempatannya, dan dia akan membuktikan bahwa Stendy memang sudah ditakdirkan menjadi miliknya. 

Rodez mengerutkan alisnya saat melihat Harisa ikut masuk ke dalam mobil milik Stendy. 

“Mengapa kau ikut?” tanya Rodez penuh curiga. 

“A-aku hanya ingin memastikan Stendy baik-baik saja saat di villanya nanti. Karena setahu aku Bibi Jane bekerja hanya sampai jam 5 sore saja,” Harisa menjawab sambil menutupi rasa gugupnya. 

Rodez masih menatap wanita itu dengan curiga, namun Yohan kembali menenangkan suasana. 

“Sudahlah Rodez, sebaiknya kita segera bawa Stendy pulang,” usul Yohan. 

Rodez tak menjawab, ia pun segera menyalakan mesin mobil dan segera melajukan kendaraan besi roda empat itu. 

Dalam perjalanan Stendy kembali tersadar, namun ia masih dalam kondisi mabuk dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Yohan, Rodez, dan Harisa membawanya ke villa yang terletak di pinggiran kota, dengan harapan dia bisa tidur dan pulih dari mabuknya.

Saat mereka membawa Stendy ke dalam villa, dan hendak menuju kamar Stendy niat jahat Harisa kembali muncul. Dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menjebak Stendy dan membuat dia jatuh ke dalam perangkapnya.

"Rodez, Yohan, aku akan membantunya untuk tidur," kata Harisa, sambil mencoba untuk mengambil alih.

Tapi, Rodez tidak percaya dengan niat Harisa. Dia melihat ke arah Yohan dan menggelengkan kepala. "Tidak perlu, kami akan membantunya," katanya, sambil mengambil alih Stendy dari Harisa.

Harisa mencoba untuk memprotes, tapi Rodez tidak mau mendengarkan. Dia mengusir Harisa dari villa, sambil mengatakan, "Kamu tidak perlu ikut campur, Harisa. Aku bisa menangani ini sendiri."

Harisa merasa marah dan frustasi, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia meninggalkan kamar Stendy dengan wajah yang merah dan mata yang berkedip-kedip.

Rodez memilih untuk tinggal sejenak  dan menjaga Stendy agar tidak terjadi apa-apa. "Aku akan menjaganya, Yohan. Kamu bisa pergi sekarang. Ajak juga wanita itu pergi dari villa ini," katanya dengan wajah datar dan dingin. 

Yohan mengangguk dan meninggalkan villa, meninggalkan Rodez yang menjaga Stendy dengan waspada. 

Saat menuruni anak tangga, Yohan melihat Harisa masih duduk di ruang tamu. Pria itu pun, mendekat. “Ayo, aku antar kamu pulang!” ucap Yohan. 

Wajah kesal masih terlihat jelas di wajah wanita itu. Matanya melirik ke lantai atas dimana kamar Stendy berada. 

“Aku ingin disini saja. Aku mau menjaga Stendy,” tolak Harisa, dengan keras kepalanya. 

Yohan mendesah kasar. “Kau dengar sendiri ‘kan, tadi Rodez meminta kamu untuk pulang. Ayolah, Harisa, jangan seperti anak kecil begini! Kau bisa kembali kesini esok pagi,” bujuk Yohan. 

Harisa menimang apa yang barusan Yihan katakan. Akhirnya wanita itu pun, memilih menuruti Yohan untuk pulang. Dia akan kembali besok pagi sambil membawakan sarapan untuk Stendy. 

Di dalam kamar Stendy masih terus meracau memanggil nama Janice. Rode hanya bisa menggeleng melihat kelakuan Stendy, yang sepertinya sudah menyesal karena kehilangan Janice. 

“Seandainya kau masih disini, mungkin kau yang akan mengurusnya. Tapi, syukurlah kau tidak disini, Janice. Dengan begitu kau tidak kelelahan mengurus bayi tidak tahu diri ini,” ujar Rodez, sambil mendesah kasar. 

Rodez meraih ponselnya dari dalam saku celana. “Halo, Bibi Jane. Maaf mengganggumu malam-malam begini. Bisakah kau datang ke villa Margonda sekarang?” 

“Ada apa, Tuan? Apakah terjadi sesuatu pada Tuan Stendy?” 

“Seperti malam kemarin, Bi.” 

“Mabuk lagi?” tanya Bibi Jane seakan tahu apa yang terjadi. 

“Hmmm,” 

“Baiklah, Tuan. Bibi akan datang kesana setelah membuatkan sup untuk Tuan Stendy.” 

“Iya, Bi. Aku akan menunggumu,” 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!