Demi mendapatkan pembayaran SPP yang tertunggak dan kesempatan ikut ujian akhir, Ayu terpaksa mengikuti saran temannya mencari Sugar Daddy di sebuah kelab malam. Ia membutuhkan solusi instan—seorang pria kaya yang bersedia membayar mahal untuk kepatuhannya.
Sialnya, bukan Sugar Daddy impian yang ia dapatkan, melainkan seorang pria dominan berwajah tampan yang, ironisnya, tak punya uang tunai sepeser pun di dompetnya. Pria itu adalah Lingga Mahardika, CEO konglomerat yang penuh rahasia.
Lingga, meskipun kaya raya, ternyata adalah "Sugar Daddy Kere" yang sebenarnya—ia hanya bisa membayar Ayu dengan jaminan masa depan, martabat, dan pernikahan siri. Transaksi mereka sederhana: Ayu mendapatkan perlindungan dan status, sementara Lingga mendapatkan kepatuhan spiritual dan fisik untuk memadamkan hasratnya yang membara.
Akankah Cinta akan hadir diantara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Sugar Daddy KR
Dua hari tanpa Ken, Ayu tidak bekerja maksimal. Ia kesal karena aturan Lingga yang sangat mendominasi. Ia sedikit tertekan dengan aturan-aturan aneh yang dipaksakan oleh sang CEO.
Pagi itu, di penthouse yang sepi tanpa Ken, ketegangan antara Lingga dan Ayu terasa begitu tebal. Setelah perdebatan logis Ayu tentang 'kesehatan mental' dan 'efisiensi kerja', Lingga akhirnya mengizinkan Ayu keluar—dengan batas waktu sangat ketat.
"Terimakasih tuan," ucap Ayu dengan senyum diwajahnya. Lingga tak menjawab dan hanya kembali menatap layar laptopnya.
Ayu berjanji akan kembali dalam satu jam, segera setelah membeli buku. Namun, begitu ia mengenakan jeans belel dan t-shirt lamanya, ia menyadari bahwa satu jam tidak akan cukup untuk menebus semua kebebasan yang hilang.
Aku butuh lebih dari satu jam. Apa bedanya satu jam dan empat jam jika aku sudah melanggar batas kenyamanan Lingga? pikir Ayu, mendapati dirinya menjadi lebih berani.
Ayu tiba di mall dan langsung bertemu Vera. Pertemuan itu begitu hangat sehingga semua perhitungan logis Ayu langsung lenyap.
Mereka berdua segera duduk di kafe, disusul oleh beberapa teman lama.
"Astaga, Ayu! Lo makin kurus aja," komentar Vera, menatap Ayu dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Tapi style lo udah kayak model gini, pakai t-shirt doang tapi auranya beda."
"Halah, t-shirt murah, Ver. Aku lagi hemat," elak Ayu, sambil berusaha terlihat biasa saja.
Vera mendekat, suaranya pelan. "Lo masih marah sama aku soal malam itu?"
Ayu tahu Vera mengacu pada malam di The Abyss, saat Vera meninggalkannya sendirian. "Udah, nggak usah dibahas, Ver. Itu masa lalu."
"Baguslah," Vera menghela napas lega. Lalu, Vera mengubah topik ke kehidupannya yang sekarang.
"Lo tahu, Yu? Gue sekarang lagi sama sugar daddy yang oke banget. Orangnya kaya, berkuasa, dan yang penting: nggak posesif," bisik Vera dengan bangga.
Vera mulai bercerita blak-blakan tentang gaya hidup barunya, tentang pria kaya yang membiayainya, dan detail-detail intim yang membuat Ayu tersipu malu dan sangat tidak nyaman.
"Semalam, dia ajak gue ke suite di hotel bintang lima. Gila, Yu. Ranah pribadinya itu beda banget. Lo tahu, ya, kalau cowok-cowok kaya itu di ranjang tuh punya... kebiasaan aneh," Vera tertawa, lalu melanjutkan detail yang sangat vulgar.
Ayu menatap Vera dengan mata melebar, berusaha mencerna semua informasi itu. Ia yang polos dan baru lulus SMA, merasa shock mendengar pengakuan terbuka Vera.
"Ver, udah deh. Stop. Itu privasi kamu," potong Ayu.
"Ih, kenapa sih lo jadi sok suci gini, Yu?" Vera menyipitkan mata. "Dulu aja lo nggak sebegini kaku. Gue curiga, lo bohong soal kerja freelance."
Vera mendekat, berbisik lagi. "Malam di The Abyss itu, lo kan ditarik cowok kaya. Dia mabuk, tapi kayaknya dia somebody deh. Lo nggak coba manfaatin dia? Duitnya banyak lho."
Jantung Ayu mencelos. Kecurigaan Vera menghantamnya. Ayu tahu ia harus mengakhiri percakapan itu.
"Nggak, Ver. Aku cuma ketemu cowok iseng, nggak ada apa-apa," jawab Ayu, berusaha meyakinkan. "Aku harus pergi sekarang. Deadlineku udah lewat. Lain kali kita ketemu ya."
Ayu berusaha bangkit, tetapi Vera menahan tangannya.
"Tunggu, Yu, dengerin gue sebentar," desak Vera, matanya penuh hasrat. "Lo nggak ngerti. Pria kaya itu bukan cuma soal uang, tapi kekuasaan. Mereka membuat lo merasa diinginkan, dihargai dengan cara yang nggak bisa lo dapatkan dari cowok biasa. Mereka tuh tahu cara memuaskan. Lo nggak perlu kerja keras, cuma perlu sedikit 'melayani'."
Vera terkekeh. "Apalagi kalau cowoknya tampan, berotot kayak yang semalam itu, pasti ranahnya luar biasa, Yu. Siapa tahu, bos yang lo bilang itu, yang lo layani sebagai freelancer, ternyata juga punya hasrat yang sama. Bayangin aja, Yu, tampan, berkuasa, dan lo adalah satu-satunya yang bisa menyentuh sisi liar itu. Rasa disentuh dengan dominasi, itu nikmat banget lho!"
Ayu merasakan bulu kuduknya berdiri tegak. Perutnya mual mendengar kata-kata Vera, tetapi pikirannya secara liar justru memvisualisasikan Lingga. Lingga yang tampan, Lingga yang berotot dibalik jubah tidurnya yang ia lihat semalam. Perasaan jijik dan sedikit getaran aneh bercampur aduk, membuatnya merinding hebat.
Tidak, aku tidak boleh memikirkan Lingga seperti itu, bentak Ayu dalam hati, menolak keras imajinasi liar yang dipicu oleh Vera. Ia harus pergi sekarang juga.
"Cukup, Ver. Aku beneran harus pergi. Aku udah janji cuma satu jam," potong Ayu tegas, menarik tangannya dan bangkit dari kursi.
"Dih, lebay lo!" cibir Vera, tapi Ayu sudah tidak peduli.
Ayu bergegas keluar dari kafe. Ia menyalakan ponselnya, dan jantungnya langsung mencelos.
12 Panggilan Tak Terjawab.
Semuanya dari Lingga Mahardika.
Ayu panik. Ia melihat jam di ponselnya. Pukul 04.30 sore!
Ia sudah melanggar batas waktu Lingga bukan hanya satu jam, tapi berjam-jam. Ia telah menghabiskan waktu tujuh jam di luar penthouse, tenggelam dalam kebebasan dan kengerian cerita Vera.
Ayu berlari meninggalkan mall. Rasa panik mengalahkan rasa malu atau kelelahannya.
Ayu tiba di Mahardika Tower pada pukul 05.00 sore. Ia masuk ke lift pribadi, napasnya tersengal-sengal.
Begitu pintu lift terbuka di Lantai 30, suasananya sangat sunyi. Lingga Mahardika duduk di mejanya, mengenakan jas tiga potongnya. Di depannya, tablet terbuka, dan ia tampak sedang menelepon seseorang dengan nada yang sangat tenang, tetapi itu adalah jenis ketenangan yang mematikan.
"Ya. Batalkan semua pertemuan besok," kata Lingga ke telepon. "Aku akan mengurus ini secara pribadi. Pastikan tim keamanan... menemukan apa yang mereka cari."
Lingga menutup telepon dan perlahan memutar kursinya, menatap Ayu. Matanya gelap, dan ekspresinya lebih dingin daripada yang pernah Ayu lihat sebelumnya.
"Pukul 05.02 sore, Ayu," kata Lingga, suaranya rendah dan penuh bahaya. "Kau berjanji satu jam. Kau menghilang tujuh jam."
Ayu berdiri di ambang pintu, tidak berani bergerak. "Maafkan saya, Tuan Lingga! Saya... saya bertemu teman lama. Saya kehilangan jejak waktu."
"Kehilangan jejak waktu?" Lingga bangkit, berjalan mengitari meja. "Kau adalah kunci rahasia Mahardika. Kau tahu apa yang terjadi jika rahasia ini bocor. Dan kau pergi ke keramaian, bertemu teman lama? Teman lamamu yang tadi siang bercerita vulgar tentang sugar daddynya?"
Ayu terkejut. "Anda... Anda tahu?"
Lingga tersenyum dingin. "Tentu saja. Ken meninggalkan dua anggota tim keamanan untuk memantau sekitar gedung. Mereka melihatmu berinteraksi. Mereka melaporkan semua percakapanmu melalui rekaman jarak jauh."
Ayu merasa tubuhnya membeku. Lingga tidak hanya mengawasinya, ia mendengarkan percakapan pribadinya. Kecerdasan Lingga membuatnya merasa bodoh dan sangat terperangkap.
"Apa yang mereka dengar, Tuan?" tanya Ayu lirih.
"Mereka mendengar kau membual tentang freelancer data entry," kata Lingga, perlahan mendekat. "Mereka juga mendengar temanmu, Vera, bertanya apakah kau mendapatkan sugar daddy dari malam di klub itu. Dan kau, Nona Ayu, tidak bisa meyakinkannya."
Lingga berhenti tepat di depan Ayu. "Kau telah melanggar protokol keamanan. Dan kau telah membahayakan kontrak kita."
Lingga menatap Ayu tajam. "Sekarang, aku ingin kau katakan padaku, apa hukuman untuk pelanggaran kontrak ini, Ayu?"
***
pasti bulu bulunya berdiri....
upssss 🤭🤭🤭
bulu yang mana ea bun
..????
Halah mas mas senyum aja gengsiiii
jadi lingga lagi tak bermoral donk bunda....?
nty mlm kamu cari kotoran sapi lalu timpuk ke wajah lingga.... di jamin deh kamu puas.... cobain dehhhh
mending langsung sat set antrin itu si baby kucing.... 😀😀😀
karna yang kau pandang lurus lurus sudah manis..
jadi pahit itu sudah tak terasa lagi saat memandang ayu
srius tanya dengan nada halus sehalus sutra.....