Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguntit
Mengendap-endap seperti akan menangkap sesuatu. Itu membuat Mahen kebingungan, menengok kanan kiri mengikuti apa yang Naya lakukan.
"Apa kau melihatnya?" tanya Mahen.
Mahen mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Hanya ada orang-orang yang sedang menikmati makanannya dan pelayan yang lalu lalang.
"Hehhh ... Jawab dong? Kok diam?" ujar Naya.
"Tunggu ... Bahkan kamu belum mengatakan apa yang sedang kita lihat? Siapa yang sedang kita awasi?" tanya Mahen.
Naya mengerjapkan matanya sejenak lalu menarik Mahen duduk di meja agak pojok.
"Ada apa sih, jelasin dulu dong. Udah jadi kayak orang dongo!" ketus Mahen.
"Oke. Kamu lihat pria dan wanita yang lagi makan itu?" tunjuk Naya. "Meja keempat dari sini," jelasnya.
"Terus?"
"Keluarkan kameramu, keluarkan!" titah Naya.
"Haduh ... Bisa gak jelaskan dulu duduk permasalahannya. Mereka siapa? Ada hal apa? Biar aku paham. Apa jangan-jangan itu gebetanmu?" ujar Mahen.
Naya menatap Mahen dengan tegas. "Pria itu paman saya, tapi perempuan yang bersama dia itu bukan istrinya. Sekarang paham apa yang harus kamu lakukan?"
"Oh, kamu mau ngelabrak pamanmu toh, bilang dong dari tadi!" ucap Mahen.
"Gak akan ngelabrak. Cuman mau ambil gambar saja, mungkin suatu saat di butuhkan untuk bukti!" jelas Naya.
"Ya, aku paham sekarang."
"Kalau paham, kenapa diem aja? Buruan ambil gambarnya sebelum mereka pergi. Gitu aja lelet banget sih!" gerutu Naya. "Jangan sampai ketahuan dan jangan terlalu mencurigakan!" pesannya.
"Oke bos!" Mahen mengangkat kameranya dan dengan diam-diam mengambil gambar mereka. Lalu menunjukkannya pada Naya. "Nih, sudah cukup belum?"
"Aghh oke bagus. Cukup ... Cukup ..." sahut Naya. "Tolong cetakkan untuk saya, besok bawa ke kantor dan file-nya jangan lupa kirim juga" sambungnya.
"Siap bos!"
"Tenang saja, nanti saya kasih imbalan. Ayo pulang ..." ajak Naya.
"Aduh Naya ... Udah tanggung ini di restoran, makan dulu kek. Laper nih," rengek Mahen.
Naya juga merasa lapar karena memang sudah masuk jam makan malam dan setuju untuk memesan makanan terlebih dahulu.
"Pamanmu beraninya selingkuh di tempat terbuka seperti ini. Apa tidak takut ketahuan?" tanya Mahen seraya menikmati makanannya.
"Hmmm emang gak punya malu!" sahut Naya.
"Apa kamu akan memberikan foto-foto ini pada istrinya?" tanya Mahen lagi.
"Sebenernya kelakuan paman Bagas dari dulu begitu. Doyan selingkuh, gonta ganti cewek dan istrinya selalu memaafkan saking baiknya. Belum lagi kakek saya selalu membelanya! Bukti itu cuman alat yang siapa tahu suatu hari di butuhkan," jelas Naya.
"Hmmm ... Kasihan sekali yang jadi istrinya," ucap Mahen.
"Tante Gita memang terlalu baik untuk pria brengsek seperti itu. Mungkin dia nunggu sampai titik terlelahnya saja! semua pria memang sama saja. Bisanya cuman nyakitin!"
"Hehh ... Hehhh tolong ralat ucapanmu itu. Aku tidak begitu ya!" protes Mahen.
"Halah ..." ledek Naya.
"Papamu termasuk dong kalau kaya gitu?"
"Ya enggaklah, amit-amit. Papa saya pengecualian tidak termasuk!"
"Tolong tambahkan aku dalam daftarmu itu. Aku pria baik, setia, rajin, tidak suka selingkuh ..." ujar Mahen.
"Hehhh ... Yang menilai perilakumu itu orang lain. Kamu tahu, kasus yang lagi rame, mantan walikota dengan branding penyayang istri, setia pada istri dan keluarga, taunya punya selingkuhan artis terkenal yang seksi. Pria itu tidak ada yang bisa di percaya apalagi kalau membanggakan diri dengan branding setia! Cuiihhh ..." tutur Naya.
"Hehh ... Hehhh ... aku gak kayak gitu!" elak Mahen. "Segitunya menyamakanku."
Mahen bisa melihat kalau apa yang terucap dari mulutnya itu adalah rasa trauma yang mungkin pernah Naya alami. Lalu ingatannya kembali pada pagi di hotel itu, dimana Naya mengenalkannya pada sang mantan yang kemungkinan berselingkuh.
"Makanya keputusan saya untuk tidak menikah, itu sangat benar!" cetus Naya.
Dengan cepat Mahen menutup mulut Naya dengan telapak tangannya. "Naya, jangan bicara seperti itu!"
Mata mereka saling melihat beberapa saat. Lalu Mahen tersadar dan menurunkan tangannya. "Jangan bicara seperti itu. Aku yakin kok kamu bakalan dapat pasangan yang baik. Jangan jadikan masa lalumu sebagai trauma sampai tidak mau menikah, Tuhan baik membuka itu saat kamu belum menikah dengannya. Pasti Tuhan menyiapkan yang terbaik untukmu," tuturnya.
"Misalnya aku gituh ..." sambung Mahen diiringi tawa kecil.
"Dihhh ..." Naya mendelikkan matanya.
"Bercanda kok. Sudah sudah ... Makan lagi ... Kita harus segera pulang, langit sudah mulai mendung!" ujar Mahen.
Naya menatap Mahen dan senyuman tipis terukir di bibirnya itu. Ia merasakan hal yang berbeda dari Mahen, menyenangkan dan terlihat tulus.
Naya menundukkan wajahnya saat melihat Paman Bagas keluar dari restoran itu.
"Kayaknya langsung cek ini deh," tebak Mahen.
Naya hanya mengangguk.
Selesai makan, mereka bersiap untuk pulang. Mahen memberikan helm-nya pada Naya. "Terima kasih, ya, sudah mentraktirku. Kapan-kapan aku yang traktir," ucapnya.
"Apa motormu baru beli? Kayaknya dari kemaren-kemaren gak lihat kamu pakai motor ini," tanya Naya.
"Oh ini, motorku dari lama kok. Cuman kemaren gak di pake karena lagi di bengkel," jawab Mahen asal.
"Hmmm ... Kayaknya Mahen memang berbeda. Di lihat dari motornya yang agak usang, pasti dia setia!" batin Naya.
Saat akan menaiki motor Mahen, tiba-tiba suara tidak asing memanggil Naya dan itu membuat Naya mengurungkan niatnya menaiki motor itu.
"Ya ampun, gak salah ini Ranaya Aurora?" cetusnya dengan tawa ejekan.
"Hmmm ada apa sih Yuna?" tanya Naya.
"Naya, kamu malu-maluin keluarga banget deh!" timpal Riri–ibu Yuna.
Naya hanya menghela nafas perlahan. Paling malas menghadapi dua orang resek itu.
"Ma, ini kalau keluarga besar tahu kalau pacar Naya cuman cowok kere, pasti bakalan malu banget. Wah berita bagus nih ..." ujar Yuna.
"Bener banget, ternyata calon menantu Ilham dan Suci cuman cowok kere!" Riri semakin mengejeknya.
"Hehhh ... Kalian tuh kenapa sih? Bebas dong aku mau jalan sama siapapun! Kok kalian yang repot," ujar Naya.
"Siapa mereka?" bisik Mahen.
"Hehh cowok miskin, saya ini tantenya Naya. Kok kamu berani banget sih deketin Naya, gak tahu diri banget!" cetus Riri.
"Urusannya sama kalian apa? Gak usah pake hina-hina orang segala deh!" ujar Naya terdengar begitu membela Mahen.
"Ya gak ada urusan apa-apa sih. Hehh Naya, kamu tuh kalau cari pacar yang bener dong, contoh nih Yuna. Dia akan menikah dengan putra keluarga Nugroho, anak dari keluarga kaya raya dengan bisnis dimana-mana. Kamu kok malah milih sama cowok miskin, tapi cocok sih," ujar Riri.
"Hahhh putra keluarga Nugroho? Siapa? Gak mungkin aku! Dihh ogah banget nikah sama cewek modelan begitu. Masa kak Bastian? Kak Bastian udah nikah sama kak Rania dan dia bucin banget, mana mungkin berpaling pada cewek gesrek ini!" batin Mahen bermonolog.
"Ciiihh ... Belum jadi aja udah sombong. kalau mau sombong tuh nanti kalau Yuna sudah bersanding di pelaminan dengannya! Lagi pula terserah kalian, itu bukan urusanku. Tolong jangan ganggu aku!" tegas Naya.
Kemudian ia bergegas naik ke motor Mahen. "Ayo pergi ah!"
"Oke." Mahen melajukan motornya dengan cepat.
"Hehhh ... Kita belum selesai ngomong. Hehh jangan pergi dulu!" teriak Yuna.
"Sudah, biarkan dia pergi. ini akan jadi berita heboh di keluarga dan pasti kak Ilham akan malu banget," ujar Riri merasa menang.